Riyan & Vania

Riyan & Vania
35. Hal Gila?



***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi lebih dari lima menit yang lalu. Para murid sudah berhamburan dari kelasnya. Termasuk, anak-anak kelas XII ipa lima.


"Van, lu balik sama gue yah? " tawar Arka berjalan beriringan di sebelah Vania.


"Gak deh, aku mau ke perpustakaan bentar. Ada buku yang aku cari. " kilah Vania lembut.


"Gue temenin yah? "


"Enggak usah deh Ka. Mending kamu pulang, istirahat, lagian catetan kamu sendiri juga banyak kan. "


Arka mengangguk mengerti. Semua yang Vania katakan ada benarnya.


"Oke deh, gue balik duluan. Kalo lo ga nemu taxi nanti, atau angkot. Telpon gue aja. Ntar gue yang bakal jemput. "


Vania mengangguk pasti sambil tersenyum. Arka menepuk kepala Vania pelan. Orang itu berjalan lebih cepat.


---


Arka sudah memakai helmnya, bersiap menaiki motornya melaju di jalanan.


"Lu suka kan sama Vania? Ngaku aja deh ka? " ujar Sandy spontan dari sebelah Arka. Membuat telinganya panas. Arka membuka lagi helmnya, menatap Sandy serius.


Sungguh! Kali ini Arka tidak tau mau jawab apa. Dulu dia menolak perasaan nya karna penyakitnya, namun sekarang? Arka sudah sembuh. Masih kah harus dia menahan perasaan nya untuk Vania?


Di balik itu semua masih ada fakta yang tak bisa di tolak atau di hilangkan. Faktanya, bahwa Sandy memang lebih dulu menyukai Vania. Artinya, Arka kan, yang menyukai gebetan sahabat sendiri?


Arka tau benar bahwa itu salah, itu sangat salah dan di sudah bersikap egois. Namun?


"Kalo seandainya gua sama Vania udah jadian. Saat ini tangan gua udah melayang di pipi lo Ar. Tapi, berhubung gua dan Vania belum jadian. Fix, mari bersaing secara sehat. " Sandy mengepalkan tangannya yang di ulurkan ke udara. Memberi tos?


Arka tersentak halus. Dia tau Sandy baik. Namun, Arka tidak pernah tau Sandy seseportif ini. Dia bisa dengan lapang dada menerima hati egoisnya Arka.


"Yoi, kita bakal berjuang tanpa ada yang curang. " Arka membalas tos sandy yang mengudara.


"Gua balik luan yah. " Sandy memakai helmnya, menaiki motornya melaju di jalanan yang ramai itu.


Gue gak tau San, ternyata lo bisa bersikap sedewasa itu. Gue pikir, pemikiran lo masih aja kayak bocah.


Makasih, makasih karna udah mau tetep jadi temen gue. Walaupun gue mengincar cewek yang sama.


Oh iya juga. Si Sandy kan anak Volley. Biasa mah anak olahraga mainnya jujur-jujur. Sportifitasnya tinggi.


Arka tersenyum lega, tak di pungkiri hatinya bergetar terharu. Dia bahagia bisa mengenal seorang seperti Sandy.


***


Semua sibuk untuk pulang, tapi tidak untuk Riyan. Kali ini dia sedang berkutat serius pada laptop kesayangannya. Namun, tanpa Riyan sadari pintu ruangannya sedikit terbuka.


Vania yang memang mau ke Perpustakaan juga harus melewati lorong itu.


Saat mata Vania melihat pintu yang sedikit terbuka itu, dia tidak tahan untuk tidak penasaran. Seolah kakinya melangkah sendiri mendekat ke arah pintu. Matanya ia buka lebar-lebar untuk menyaksikan apa yang terjadi di dalam, hanya dari celah pintu itu.


"Sejak kapan aku mengajari mu untuk mengintip, dan ingin tau dengan urusan orang lain. "


Karna ucapan Riyan yang spontan itu, membuat Vania gelagapan. Gerakannya tidak terkontrol dan mengakibatkan gadis itu kejedut pintu. Kasihan sekali, semoga Vania gak pikun.


"Siapa yang ngintip. Vania cuma ga sengaja lewat tau. " bela gadis itu, jujur?


"Orang bodoh mana yang akan percaya dengan alasan seperti itu. " Tentu saja Riyan yakin karna Vania memang tidak bakat dalam memata-matai.


"Oke oke Vania ngaku. Vania emang ngintip, tapi kan itu iseng doang. Vania cuma penasaran, ini udah jam pulang. Kenapa bapak masih di sini? "


"Kenapa kau juga masih di sini? Menunggu ku? Atau tumpangan dari ku? "


"Dih najis. Aku cuma lewat doang. Aku mau ke perpustakaan sekolah. " tutur Vania jujur.


Riyan menghela napasnya, dia menunda segala pekerjaannya menutup laptopnya dan menarik tangan gadis polos itu.


"Aku akan mengantar mu ke perpustakaan, agar kau tak tersesat dan malah mengintip seseorang dari celah pintu... Lagi." Riyan menatap Vania penuh maksud.


"Iyah iya. Vania tau Vania salah. Vania minta maap. " gadis mungil itu hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Riyan.


***


Riyan langsung memilih tempat duduk saat sampai di perpustakaan. Perpustakaan itu benar-benar sepi. Bahkan yang datang tidak lebih dari sepuluh orang.


Vania juga segera bergerak mencari buku mana yang akan di pinjamnya. Vania harus belajar keras saat ini, tentu agar bisa masuk ke Universitas pilihan nya.


Riyan membuka Laptopnya.


Aku benar-benar tidak percaya, aku berpindah tempat, hanya karna gadis ini. Aku akui aku memang suka Vania. Tapi, mana aku tau akan sebesar ini. Kedepannya, entah hal gila apa yang akan aku lakukan untuknya.


Riyan menatap punggung mungil yang tengah mencari buku itu.


Vania sudah melangkah bolak balik di daerah lemari itu. Namun, spertinya dia belum menemukan buku yang cocok.


"Kemana yah? Perasaan buku kemarin ada di sini. Kok gak ada sih? " Gumam Vania, dia sudah mencoba melihat seteliti mungkin.


"Nyari ini? " tiba-tiba buku itu sudah menggantung di udara tepat di depan mata Vania. Vania menoleh ke kiri. Melihat, siapa sebenarnya yang meminjam buku iti lebih dulu darinya.


"Rayden? " bisik Vania pelan.


"Iyah ini gue. Lo mau buku ini kan? Buku yang bagus. Selera pelajaran lo lumayan lah di banding anak-anak lainnya. " Rayden mengangguk congkak.


"Terus? " Vania memutar bola matanya jengah. Sungguh! Vania memang tidak pernah suka akan Rayden.


"Gua bakal kasih lo buku ini kalo lo pura-pura jadian sama gue? Gimana?"


Vania menaikkan sebelah alisnya.


Syarat macam apa ini! Mana buku itu penting banget lagi. Arghhh! Rayden sialan! Ketua Osis kurang kerjaan! Kan banyak sih cewek yang ngejar-ngejar dia! Kenapa harus aku sih! Kayak niat banget!


Umpat Vania dalam hati.


***


Arka is my mine 😾✊😸