
***
Arka baru saja di makam kan. Semua orang masih setia di sana. Terutama orang-orangan terdekatnya. Mamah Arka sendiri tak henti menangis sembari memeluk batu nisan anaknya itu. Batu nisan yang berlukiskan nama Arka di sana.
Papah Arka masih setia memeluk tubuh istrinya itu. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa akan tiba saatnya dia melihat nama putranya terlukis di batu nisan secepat ini. Tidak! Ini terlalu cepat. Arka bahkan masih belum menamatkan SMA nya!
Kejam! Tapi, itu lah takdir.
Selain Sandy, orang terdekat Arka selanjutnya adalah Vania. Matanya sudah tidak normal lagi, itu karna sejak kemarin malam Vania terus menangis tak henti.
Bahkan saat ini, di sebelah makam sahabatnya itu, Vania tak bisa henti menitihkan air matanya. Gadis mungil itu hanya bisa menangis diam tanpa suara. Begitu juga dengan Riyan yang sedari tadi menahan isak tangisnya.
Tidak! Saat ini memang Riyan tidak menangis. Tapi hatinya begitu terluka. Dia bahkan sudah susah payah mencari donor untuk Arka. Tapi, tetap saja Arka meninggal dalam usia muda.
Sandy menutup matanya, seakan tak bisa melepas kepergian sahabat baiknya ini.
Doa terbaik untuk Arka mereka salurkan dari hati masing-masing.
Sandy menatap Riyan dan Vania secara bergantian. Dia ingat permintaan Arka yang terakhir kalinya. Untuk mempersatukan kedua insan ini.
Tenang aja Ka, lo tenang aja di alam sana. Gue janji gua bakal satuin mereka berdua. Ini tanggung jawab gue! Amanah lo buat gue kan? !
Sandy menyeka air matanya. Dia pria, pria yang memang tidak pernah menangis karna wanita. Tapi, hari ini Sandy benar-benar terlihat seperti anak kecil.
Sungguh! Kehilangan Arka menurut Sandy bagai kehilangan suaranya. Dia tidak yakin, apakah dia bisa seberisik dulu atau tidak.
Disha yang hari itu juga datang ke pemakaman Arka, menatap Vania seorang diri tanpa ada satu bahupun yang memeluknya. Disha sadar, selama ini hubungan Arka dan Vania begitu dekat. Kehilangan Arka, Vania mungkin benar-benar terpukul.
"Udah Van udah, ikhlasin Arka biar dia tenang di alam sana. Udah, ikhlasin. Mungkin ini memang takdir nya. " Tutur Disha lembut, dia memeluk tubuh Vania yang lemas. Vania bersandar di tubuh Disha, dan menumpah ruahkan tangisannya di sana.
Di saat saat begini. Aku gak boleh jauh dari Vania. Dia butuh seseorang yang bakal ngertiin dia. Dia butuh sahabatnya, yaitu aku.
Batin Disha. Gadis penyuka anime itu sadar, bahwa saat ini dia harus menenangkan Vania. Membuat Vania merasa dia tidak sendiri.
***
Siang itu mereka semua sedang beristirahat di rumah duka, yaitu rumah keluarga Archana. Bahkan, Riyan sebagai wali kelas juga di sana.
"Kalian semua duduk aja dulu, makan kalau lapar. Om sama tante mau ke atas. " Pak Archana menawari mereka dengan sopan. Meski dia rapu di dalam, dia harus tetap kuat dan tegar. Ini semua demi istrinya yang seolah tak memiliki harapan lagi. Itu terlihat jelas dari wajahnya.
Pak Archana menuntun istrinya ke atas dengan perlahan.
Apa? Makan? Sungguh mereka kehilangan gairah untuk makan, bahkan saat mereka sendiri merasa sangat lapar.
Disha melihat Vania yang menyender, matanya ia tutup. Mencoba untuk menenangkan dirinya.
Vania cuma hidup sebatang kara, dan dia udah kehilangan sahabatnya Arka. Dan, kalau sampai aku juga ngejauh dari Vania. Dia bakal kehilangan aku, Kehilangan sahabatnya. Vania bakal merasa dia bener-bener sendiri!
Enggak! Itu gak boleh terjadi! Aku... Aku harus tetep di samping Vania! Apapun yang terjadi! Vania gak boleh ngerasa sendiri.
Batin Disha, matanya tak lepas dari wajah pucat pasih Vania. Tangan Disha perlahan meraih tubuh Vania dan memeluknya.
Maafin aku Van... Maafin aku yang ngejauh cuman gara-gara Sandy. Aku gak bakal ulangin itu lagi. Aku janji sama kamu, aku bakal selalu ada untuk kamu. Aku bakal lupain Sandy, dan ikhlasin dia buat kamu.
Lanjut Disha. Dia juga tidak tau, entah keputusannya benar atau salah.
***
Di sebuah Rumah Sakit mewah, yang tak kan mungkin orang biasa kunjungi, di rawat seseorang yang terluka di sebuah kamar VIP.
"Pah! Papah ini gimana sih! Kan udah Rayden bilang kalau mabuk jangan nyetir! Liat ini pah liat! Liat kejadiannya!" Ujar pria itu frustasi. Dia adalah Rayden, yang sedang menatap pria tua yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
Rayden menunjukkan koran-koran hari ini dan kemarin.
"Arka Archana pewaris tunggal Archana grub meninggal karna kecelakaan, akibat dari mobil yang di kendarai pemabuk tak terkendalikan. " Rayden membacakan judulnya dengan emosi. Dari ekspresi pria itu, kita bisa lihat bahwa Rayden saat ini tengah frustasi.
"Pa.. Pah, gak sengaja Ray." sahut pria itu lemas. Harus di akui, dia memang agak parah saat ini.
"Tapi gak kesengajaan papah itu sudah menghilangkan nyawa orang pah! Nyawa pah! Nyawa Arka, temen satu sekolah Rayden sendiri! Anak tunggal lagi pah! Papah gak mikirin perasaan orang tua nya?!! "
"Ta... Tapi, Ronald udah sembunyiin barang bukti kan? Gak bakal ada yang tau kan bahwa pemabuk itu papah. "
"Benar Tuan, saya sudah membersihkan semua bukti yang mengarah pada anda. Saat ini, lebih baik anda fokus istirahat agar segera sembuh, dan kembali menjadi presdir lagi." sambung orang itu, yah dia Ronald yang baru datang. Ronald adalah asisten papah Rayden.
"Gini aja terus! Abis mabuk nabrak orang terus bersihin nama! Pah! Kita aja masih belum bisa nebus rasa bersalah sama keluarga keyland! Karna ulah papa yang mabuk-mabukan dulu, satu anak Keluarga Keyland jadi yatim piatu pah! Hidup sebatang kara! Dan sekarang, papah renggut anak tunggal dari orang tuanya. Arghhh!!!! Rayden gak perduli lagi! Pokoknya papah harus tanggung jawabin ulah papah ke kantor polisi! "
"Maafin papah Rayden. Papah gak sengaja. Gak akan papah ulangin lagi. Tolong jangan laporin ke polisi. "
***