Riyan & Vania

Riyan & Vania
12. Rayden si Ketos?



***


Vania berjalan gontai di koridor sekolah. Ingatan kecilnya menghadirkan kenangan manis tentang kisah manis antara Riyan dan Vania dulu.


Yah itu dulu, hanya masa lalu~


Bruakk!!!


Mungkin karna berjalan dengan setengah sadar,  Vania menabrak seseorang. Vania merasa asing tak asing dengan wajah orang ini.


"Kau? Ketua OSIS? " gumam Vania saat dia sadar.


"Aku tak mengenal mu." sahut pria itu singkat.


Oh iya aku lupa, dia adalah Rayden si Ketos dingin. Bagaimana mungkin mengingat aku?! Serah deh.


Batin Vania, dia menarik napasnya panjang.


"Maafin aku, aku ga sengaja, aku yang salah ga liat ajalan, aku bakal gunain kaki ku dengan baik. " ujar Vania, dia sengaja meminta maaf dengan panjang. Tulus, atau menyindir?


Minta maaf aja duluan, daripada recok jadi pusat perhatian.


Vania berjalan melewati Rayden begitu saja. Saat Vania sudah agak jauh, Rayden menoleh ke belakang. Tampak punggung gadis mungil yang berjalan sendirian di koridor sekolah.


"Apa nama di bajunya tadi? Vania? Vania Keyland? Vania, yang itu? Apa benar? " gumam Rayden. Ada perasaan aneh dan penasaran yang mulai muncul dalam diri Rayden.


***


Vania baru saja memasuki kelas legendanya itu. Tentu saja suaranya begitu berisik.


"Arka sama Sandy mana? " tanya Vania pada Disha, yang ikut duduk di bangkunya.


"Biasa, ngegame palingan sih. Kalau gak di parkiran, di belakang laboratorium sih. " sahut Disha enteng.


"Van, kamu tau Rayden? " tiba-tiba Shina si Drakor lovers menarik kursinya dan ikut nimbrung bareng Vania dan Disha.


Rayden panjang umur. Baru juga ketemu, uda bakal di omongin aja.


"Tau sih. Si Ketos dingin kan? " bukannya Vania, malah Disha yang menyahutinya.


"Iyah iya dia! Ganteng yak? Anak orang berada. Tapi, bodoamat sih dia anak orang kaya. Tapi, itu loh ganteng banget. Cool boy gitu ga sih? Anaknya rajin, pinter, cerdas. " begitulah celoteh Shina. Satu dari banyaknya gadis yang mengagumi kharisma seorang Rayden.


"Aku sih gak suka liat dia. Biasa aja sih, anaknya songong begitu. Dingin, gak ada humor-humornya. Gak seru. Lebih baik Sandy, meskipun ada sengklek-sengkleknya tetep aja lawak. " bela Disha.


"Halah kamu mah Dish, belain Sandy juga karna Sandy Kapten Volley kan. Kamu kan suka banget sama Volley. " celetuk Vania.


"Shttt! Jangan bahas Sandy, kita kan bahas Ray--"


Seketika kelas ricuh saat ada dua orang berkharisma itu memasuki kelas XII IPA 5.


Semua perhatian tertuju pada dua orang itu. Vania kenal salah satunya, yah itu adalah dia. Manusia dingin yang baru saja di omongin tadi. Yah, Rayden si Ketos legenda.


"Perhatian! Gue mau ngomong sesuatu ke kalian! Mohon perhatian nya! " Begitulah pembukaan santai ala Rayden.


"Tolong, semuanya duduk di tempatnya. " perkataan Rayden selanjutnya memaksa Shina menggeser kursinya kembali ke tempatnya.


"Nah iya, ya udah ngomong. Cepetan. " celetuk Disha enteng.


Bukan hal baru bagi Disha untuk mengatakan hal itu. Itu adalah kebiasaan mulutnya.


"Apa? Kenapa? Cewek di kelas lo gak ada secantik cewek di kelas gue? Natapin cewek kita gini amat. Iri lo, gak ada yang cantik? " suara lantang bernada santai, di sampaikan ringan oleh satu dari dua orang yang baru saja masuk. Vania kenal dengan mereka. Tentu, keduanya adalah biang keladi XII IPA LIMA. Arka dan Sandy.


Dan yang baru saja membuka mulutnya, menyampaikan sindiran manisnya itu tentu adalah Arka.


"Tau lo, jangan liatin cewek-cewek kelas kita gitu. Cewek kelas ini, punya cowok kelas ini. Gak ada yang boleh ambil. " tambah Sandy enteng.


"Kalo gue mau ambil yang sudut sana? Yang matanya sinis itu? Emang kenapa? Lo mau marah? " Akhirnya, pria yang bersama Rayden itu membuka mulutnya. Ternyata dia sepertinya sudah tertarik pada Disha yang berwajah dingin, bermulut pedas dan bermata sinis.


"Gak papa sih, cuma lo mau kemana? Rumah sakit apa Kuburan? " sahut Sandy enteng.


Tiba-tiba Shina maju ke depan menarik tangan Sandy dan Arka untuk duduk.


"Dua curut diam aja. PR gak pernah siap aja udah sok mau gelud sama anak OSIS. " omel Shina, yang kemudian duduk di bangkunya, setelah menyeret Arka dan Sandy ke bangkunya.


"Nah Ray, lanjut aja deh. Abaikan gangguan. Anggap aja iklan ga guna. " lanjut Shina menampilkan senyuman terhangatnya.


Jadi Ardi tertarik pada cewek bermata sinis? Enggak biasanya. Dia biasa suka cewek anggun nan feminim. Apa ganti tipe?


Batin Rayden menatap Disha dengan ekor matanya.


Tapi, perempuan di sebelahnya? Vania?


"Oke, gue cuma mau bilang ke kalian beberapa hal. Minggu depan kalian akan adain study wisata kan? Jadi bakal ada beberapa anggota OSIS yang akan berpartisipasi. Ini titah langsung kepala sekolah. Kami OSIS akan melakukan pengawasan terhadap kegiatan ini. " Ujar Rayden, masih dengan ekspresi datarnya.


"Karna kegiatan Study Wisata ini adalah permintaan pribadi dari Pak Riyan, maka kepala sekolah meminta OSIS melakukan pengawasan. Maka dari itu, OSIS akan mengirimkan dua orang. Yang akan pergi adalah aku dan, wakil ku Ardi. Kami mohon kerja samanya. Apa ada yang perlu di pertanyakan? " lanjut Rayden, matanya menyapu seluruh sudut kelas.


Ailah, masalah lagi nih. Shit! Ga bakal tenang deh Study wisata kali ini. Udah ada om galak, ada Arka sama Sandy, di tambah ada orang paranoid ini Rayden. Bisa gak sih Study Wisatanya di batalin aja?!


Batin Vania, dia menguap kesal. Dia melipat tangannya, lalu menenggelamkan wajahnya di sana.


"Savage!!! " Begitulah teriak Sandy tertawa ria dengan Arka dari mejanya. Beberapa murid lain juga sudah tidak mempedulikan Rayden di depan. Bahkan, murid cewek juga sudah berkumpul untuk bergosip. Disha sendiri sudah setia dengan Hpnya menonton anime. Hanya sisa Shina yang masih setia menatap Rayden.


Shit! Dasar murid-murid bandal tidak tau sopan santun! Bagaimana bisa nantinya aku akan study wisata dengan mereka!!!


Umpat Rayden. Urat-urat kekesalan sudah muncul di kepalanya.


***


"Van? Balik sama gue? " tawar Arka.


"Sorry ka, bukan aku gak mau. Mulai hari ini aku pulang pergi bareng pak Riyan. " tolak Vania lembut.


"Ada hubungan apa lo sama Pak Riyan sebenernya? Van? "


Vania diam membeku, tentu karna dia tidak tau jawaban apa yang akan di berikannya.


"Enggak ada jawaban. Udah, aku balik yah. " Vania berjalab menuju mobilnya Riyan.


Arka menatap bingung punggung Vania. Dia tidak tau, tapi entah kenapa dia begitu penasaran dengan rahasia itu.


Apa hubungan lo sama pak Riyan, Van?


***


Vania sudah duduk manis di mobil milik Riyan, hanya tinggal menunggu Riyan datang dan menyetir lalu pulang.