Riyan & Vania

Riyan & Vania
50. Waktunya Sandy!



***


Vania menatap langit-langit kamarnya. Ajakan Riyan untuk menikah masih menggema di telinga Vania. Bahkan, harum tubuh orang itu belum hilang dari penciuman Vania.


Apa yang Riyan katakan memang benar. Hanya saja,  Vania yang masih berusia 18 tahun tidak kah terlalu mudah?


Itulah yang di pikirkan gadis itu sekarang. Ah! Vania tau dia harus meminta saran dari siapa.


Vania :


Dish... Kalo kamu online,  jawab dong.


^^^Disha: ^^^


^^^Ada apa Van? Ada masalah kah? ^^^


Vania :


:)


^^^Disha:^^^


^^^What happend? Cerita sekarang! Aku gadang gak papa deh. ^^^


Vania :


Menurut kamu gimana kalau kita nikah usia 18 tahun? Itu kemudaan gak?


^^^Disha:^^^


^^^Ngadi-ngadi kamu Van. Nikah umur 20 kek. Btw, kamu ngapain nanya soal Nikah? Emang kamu mau nikah? ^^^


Awalnya niat Disha bercanda seperti itu, siapa yang tau Vania malah panik dan menanggapinya secara serius.


Vania:


Besok deh aku jelasin.


Vania mematikan ponselnya.


Benar juga, tamat SMA langsung nikah itu kayaknya kemudaan sih. Tapi, gak papa juga. Eh takutnya malah di kira berbadan dua lagi. Apalagi ibu-ibu kompleks ini.


Arghhh, udah deh umur 20 aja nikahnya. Pak Riyan pasti juga bakal ngerti kan? Dia gak akan seegois itu?


Vania menggelengkan kepalanya, ia menarik selimut hingga menutupi lehernya. Memejamkan mata dan otw tidur adalah keputusan terbaik saat ini.


***


"What!!!! Apa Van? Kamu mau nikah sama pak Riyan?!!" Teriak Disha heboh sesaat setelah Vania menceritakan semuanya. Syukurlah di taman belakang itu sepi. Tak ada yang mendengar teriakan makhluk satu ini.


Yah, sejak bel istirahat berbunyi Vania menarik tangan Disha dan Sandy sebagai sahabat nya ke halaman belakang yang sepi. Kali ini Vania bercerita serius. Mulai dari awal dirinya dan Riyan bertemu di rumah sakit. Sampai Riyan melamarnya di rumah sakit juga.


Dan bahkan yang paling penting, paling inti dan paling hangat adalah ajakan Riyan untuk menikah kemarin malam.


"Jadi lo sama pak Riyan udah saling suka? Dan bakal otw kawin?" Celetuk Sandy mengambil kesimpulan setelah dia begitu banyak terngaga akan cerita asam manis kedua insan ini.


"Gak kawin kali, lebih tepatnya nikah. Nikah pake surat, kawin kagak." koreksi Vania.


"Yahuuuuuuuyyy! Ateng teng teng teng nong neng. Asikk yolo yolo yolo yo." Sandy berdiri, badan nya refleks goyang yolo yolo.


Disha sampai harus menepuk jidat menatap orang ini. Disha tak habis pikir. Bagaimana mungkin gadis sewaras dia bisa menyukai Sandy yang di bawah kata stress.


"Kamu kenapa San? Aku lagi stress kamu malah seneng banget?" Vania menatap sinis orang yang tersenyum lebar itu.


"Buat apa susah~ buat apa susah~ susah itu tak ada gunanya~ " Tanpa melihat wajah Vania yang sudah kayak cucian itu Sandy tertawa bahagia.


"..."


"Haha gue seneng Van, karna akhirnya amanah dari sahabat gue otw terlaksana."


"Jadi sebelum Arka meninggal. Dia kasih gue amanah buat bantuin lo sama pak Riyan jadian. Karna menurut Arka, pak Riyan yang terbaik buat lo. Dan sekarang--"


"Dan sekarang kamu mau tunangan sama dia tamat sekolah. Ayaya! Kita seneng lah! Selamat Van selamat!" timpal Disha.


"Iya iya makasih. Tapi shhhtt diam aja. Jangan berisik. Kalian rempong bener."


Vania menarik napasnya panjang, lalu di hembuskan nya bersamaan dengan beban di hatinya.


"Aku udah putuskan, tamat sekolah nanti kita tunangan. Dan nikahnya waktu aku umur 20 tahun."


Keputusan Vania sudah final. Dia sudah yakin akan keputusannya.


"Alasan Van? Ntar pak Riyan kecewa loh?"


"Aku punya alasannya aku yakin dia ngerti. Mental aku belum siap untuk nikah semudah ini. Nikah itu gak gampang, kita harus saling ngerti dan undurin ego masing-masing. Sedangkan aku yang sekarang egonya masih tinggi. Aku gak siap."


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, dan Vania di jemput oleh utusan Riyan. Karna hari ini Riyan sendiri tidak masuk.


"Dish, lo balik bareng gue yah? Gue mau cerita ke elo." Tanpa permisi Sandy menarik tangan Disha gitu aja.


Fix, aku masuk ke dalam friendzone. Calaka~


Disha hanya mengikuti langkah Sandy.


Di atas motor Vario matic itu terjadi obrolan ringan antara dua insan ini. Di temani angin sepoi menghilangkan gerah, tanpa lelah selalu saling sahut-sahutan. Mulai dari topik berfaedah, sampai yang unfaedah pun mereka bahas. Sejak dekat Sandy, fix Disha stress.


"Jadi Dish, menurut lo Vania bagusnya nikah muda apa nunggu 20 tahun?" celetuk Sandy. Akhirnya topik mereka mulai normal.


"Kalau menurut aku sih 20 tahun aja. Tamat SMA juga takutnya jadi bahan gosipan temen-temen seangkatan. Kemarin kan Vania juga ada kasus sama pak Riyan, takutnya mereka malah nambah-nambah kisah. Maklum, netizen."


"Oh yah, kan dulu gue udah janji. Kalo Vania sama pak Riyan jadian, gue bakal nurutin satu permintaan lo. Nah, sekarang lo minta apa?"


Jantung Disha berdetak begitu kencang. Apa ini saatnya? Disha harus mengatakan itu? Apa Sandy bisa menerimanya.


"Aku... Mau--"


"Mau apa Dis? buruan ngomong, santai. Pasti gue turutin kok. Gue udah janji."


Kata-kata ambigu Sandy seolah memberi harapan bagi gadis yang tengah kasmaran ini. Sekarang kah?


Disha menggeleng pelan.


"Aku mau coklat San. Bukan coklat yang di indoapril. Aku mau coklat yang asli dari pohonnya. Berbarengan dengan pap kau manjat pohon coklat kek monkey."


Uhuk!!


Sandy hampir saja tersedak ludahnya sendiri.


"Lo kalo minta jangan ngadi-ngadi Dish. Minta lah yang bener. Lo kan tau pohon coklat sekarang udah langka. Gue nyari di mana cobak? Coklat indoapril aja ya?"


"Aku gak mau tau, aku maunya itu. Kalo kau gak mau, ya gak usah. Gitu aja kok repot."


Sandi mengacak rambutnya frustasi. Permintaan macam apa ini? Nih anak mimpi apaan coba?


"Coklat dari pohonnya beserta pap gue kek monkey? Otw, lo online aja di WA. Ntar gue kirim."


Entah kenapa, hanya hal sederhana itu mampu menarik sudut bibir Disha.


***


Sandy be like :