
***
Masa berbaris telah selesai, semuanya di bubarkan. Doyok, salah satu guru unggulan di SMA Merah Putih menghampiri kepala sekolah di ruangannya.
"Maaf pak, bukannya saya tidak sopan. Hanya saja, siapa orang yang mampu mengolah anak-anak kurang ajar itu pak? " tanya pak Doyok yang sudah duduk di kursi depan Kepsek.
"Memang benar mereka itu bandal sekali, bahkan pak Doyok juga kewalahan di buat mereka. " sahut kepala sekolah setuju.
"Bukankah sudah saya katakan sejak awal pak, biarkan saya yang menjadi wali kelas mereka sejak kelas satu. Ini semua karna bapak membiarkan pak Ghani yang mengurusnya, mereka jadi manja dan sulit di kendalikan. Dan terbawa sampai kelas tiga. "
"Saya tidak berpikir begitu pak, saya malah berpikir pak Ghani itu luar biasa. Dia mampu menghadapi berbagai macam murid. Benar-benar guru terbaik. Lagipula, dia lah yang biasa mengurus kelas legenda IPA Lima. Membuat kelas bobrok itu menjadi kelas dengan penuh potensi yang sudah di kembangkan. " sahut kepsek membolak-balikan atlas yang di lihatnya.
Tampak pak Doyok mengeram kesal. Dia mengepalkan tangannya di bawah meja. Kepsek benar-benar memandang pak Ghani si guru tua.
"Maaf pak, bukan maksud saya. Hanya saja, lihatlah. Saat pak Ghani sudah pensiun kita juga yang sulit mengurus anak-anak berandalan itu. Cara terbaik adalah memisahkan mereka. Mereka itu terlalu kompak, kalau kita pisahkan mereka, mungkin lebih mudah mengaturnya. " Protes pak Doyok.
"Kita yang tidak mengerti anak-anak itu, bukan berarti mereka berandalan. Memisahkan mereka di kelas tiga juga merupakan tindak kejahatan. Mereka sudah bersama-sama sejak kelas sepuluh, jangan di pisahkan. " Kekeuh pak Kepsek.
"Tapi pak, siapa yang bisa mengatur anak-anak itu jika mereka di satukan?"
"Ada, saya sudah menadapatkan gurunya. Saya yakin, dia bisa membimbing anak-anak itu dengan baik. Dan yah pak Doyok, Guru adalah pengganti orang tua. Kalau kita tidak bisa mengerti mereka, jangan salahkan mereka. Barangkali, kita yang memang belum cukup mengerti diri mereka. " Pesan Pak Kepsek, petuah itu cukup lengket di otak Doyok. Dan sebagian besar, itu memaknakan agar Pak Doyok berhenti memanggil anak-anak IPA lima sebagai berandalan.
***
Tampak pria bersetelan formal, berkemeja putih beebalutkan jas hitam. Dengan sepatu mahalnya yang menggiringnya dari lorong menuju kelas legenda itu.
Pria itu dengan tangan kosong masuk ke dalam ruangan kelas legenda itu. Pria jangkung itu dengan santai dan elegannya duduk di kursi guru.
"Perkenalkan, nama saya Riyan Adijaya, usia 20 tahun. Saya adalah wali kelas kalian yang baru. "
***
Vania POV
Aku mengibaskan tangan ku guna menghasillan udara, tak cukup aku merampas buku tulis Disha dan mulai mengipaskannnya lagi. Bukan karna apa, hanya saja hari ini begitu panas. Bukan cuma gerah body, tapi juga gerah telinga. Pagi ini kami benar-benar teraindir habis. Dari awal sampai akhir topiknya full kelas kami.
Wajar, kelas kami juga kelewatan. Baru di tinggal pak Ghani sekitar Dua bulan, namun kami sudah ganti wali kelas sampai dua belas kali. Ikut hitungan yang ini, yang baru. Entahlah, aku gak peduli.
"Ailah, tau gini gue dutay aja di belakang Lab. " Celetuk Sandy dari arah belakang. Wajar, dia kan di belakang ku.
"Tau tuh San, dutay nonton one piece mantab. " sahut Disha. Wajar, mereka satu golongan, WIBU!!
"Dutay nonton School 2017 lebih epic. " sambung Shina ngaco. Biar ku tebak, itu pasti drama korea.
"Apaan sinetron, gak keren. " ledek Disha di tengah panasnya cuaca ini.
"Apaan 2D, gak keren!" ledek Shina tak mau kalah.
"Cukup! Diem deh! Panas tau! "
"Kira-kira wali kelas baru kita gimana yak? Botak? Buncit? Kacamataan, oh itu wajar. " gumam Sandy, aku memegang kening Sandy.
"Waras San? " tanya ku ulang, jarang sekali tau, Sandy itu memakai otaknya.
Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah kelas kami. Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasa berdebar. Aku bahkan belum melihat siapa guru kami. Debaran ini berbeda dari debaran menghadapi guru killer.
Aku berhenti bernafas dalam sekejap, sesaat setelah aku mengenali orang yang melangkahkan kaki jenjangnya di kelas ku.
Aku juga masih diam di posisi ku. Bola mataku bergerak mengikuti langkah kakinya.
"Selamat pagi. Perkenalkan, nama saya Riyan Adijaya, usia 20 tahun. Saya adalah wali kelas kalian yang baru. " katanya dengan suara yang begitu familiar di telinga ku. Suara beratnya.
"Pagi pak!!! " sahut mereka semua serentak. Sedangkan aku masih diam, bibir ku tidak bisa bergerak bahkan saat aku sudah ekstra memaksanya.
Tunggu! Ini pasti bercanda! Mana mungkin! Mana mungkin Om galak ngajar di sini! Ini mimpi, aku yakin ini pasti mimpi! Tidak masuk akal.
"Aku sudah mendengar segala kisah manis kalian selama SMA di sini. Kelas kalian begitu terkenal, dan sangat terkenal. Aku di sini, ingin mengubah kalian. " Lanjutnya lagi berbicara dengan kharismatik.
Aku diam, aku sudah mendengarnya dengan seksama. Dia adalah Riyan Adijaya, om galak. Akh, bukan. Itu sudah menjadi kenangan masa lalu, yang hanya aku sendiri yang mengingatnya.
"Merubah Kami? Jadi apa pak? Power rangers? Ultraman? Emang bapak keturunan nya nenek sihir, bisa ubah orang gitu? " sahut Sandy enteng. Jangan heran, itu emang kebiasannya. Si murid berlambe turah ini.
"Aku tau kamu bodoh, tapi tolong jangan di tunjukkan. " sahut Om galak santai.
"Usia 20 tahun kak? Udah jadi Guru? Huwaaa hebat? Nganggur kak? " tambah Shina, mulutnya sebelas dua belas sama Sandy.
Tok tok tok!
Baru saja om galak ingin berbicara, sudah ada satu makhluk tak tau malu yang mengetuk pintu kelas.
Dia, cowok itu. Arka namanya, dengan santainya masuk. Tanpa menoleh kanan kiri dan langsung duduk di bangkunya, sebelah Sandy.
"Oke, lanjut--" Arka memiringkan kepalanya. "Maaf, lo anak baru? Anak baru gak di sana. Nih belakang kita. Gue pikir guru karna pakaian dan duduknya di meja guru. Taunya murid, muka dia sebaya kita. " kata Arka menepuk pundak Sandy.
Aku ingin sekali menyumpal mulut Arka ini. Enteng sekali cara bicaranya.
"User apa? PUBG? FF? ML? Apa COD? " Tanya Arka lagi santai, mengeluarkan hp nya. Dia juga mengeluarkan earphone dari tasnya.
"Arka! Bro! Selamat yak! Lo baru aja balik dari di rumahkan selama tiga hari. Dan hari ini lo bakal di rumahkan lagi! Nice! Mantab!! " Sandy menepuk pundak Arka bangga.
"Aku pada mu Arka! Nice! Ucapkan kata-kata terakhir. " Tambah Shina dari mejanya.
***
Sebenarnya Aku niat Up besok pagi. Cuma tadi aku baca komen loh, ada yang minta up lagi hari ini. Jadi, aku up lagi lho, Demi Readers^^