Riyan & Vania

Riyan & Vania
48. Kode?



***


Satu bulan telah berlalu sejak saat kematian Arka. Dan hanya satu bulan lagi dan para Anak kelas tiga ini akan benar-benar lulus.


Sandy berjalan dengan santainya di lorong ruangan, tasnya tentent ke belakang. Biasa berdua,  sekarang sendiri. Ah,  itu takdir.


"Disha!" panggil Sandy,  dia merangkul gadis itu layaknya satu dari banyak teman lelakinya.


"Apaan sih San?"


Kemalangan untuk Disha sepertinya dia sudah terjebak di friendzone. Zona yang berbahaya sekali.


"Gak ada,  cuma mau ngajak lo ke kelas bareng aja. Kita kan sekelas." Sahut Sandy enteng. "Itung-itung lo beruntung lah Dish,  di sepanjang perjalanan lo gak akan kesepian,  dan gak akan di ganggu  anak cowok lain.


Dan yang paling menguntungkan di bandingkan keuntungan yang lainnya,  lo bisa jalan deket sama cowok seganteng gue. Beruntung lo kan punya temen kayal gue." Sandy mengusap miring rambut klimisnya.


"Iihhh apa sih,  Najis kuadrat San. Asli kau itu jadi kayak om om mesum di pasar senayan." Disha berjalan lebih cepat meninggalkan Sandy. Tubuhnya begidik ngeri merespon ucapan alien satu itu.


"Dish--"


Disha menutup mulut Sandy yang hampir berteriak.


"shhttt shtt,  diam, diam. Noh liat Vania sama Rayden lagi ngomongin sesuatu kayaknya." Vania menunjuk menggunkan dagunya. Sandy mengekor arah pandang gadis itu.


Benar saja,  di bangku taman itu sudah ada satu gadis mania yang polos,  dan satu ketua OSISI bagai Rajanya iblis.


"Mereka ngomongin apa? Kayanya serius? Gak gak. Si Rayden gak boleh jadian sama Vania. Vania bolehnya jadian sama pak Riyan! Titik!"


***


Tadi pagi Vania duduk anteng di kelasnya,  membaca materi yang mungkin akan di bahas nanti. Tapi,  keberuntungan jauh darinya. Rayden masuk dan menarik paksa dirinya. Hingga Vania terpaksa ikut.


Dan di sini lah mereka. Di sebuah kursi panjang di bawah pohon taman belakang.


"Jadi kenapa kau bawa aku ke sini?" Vania mengerutkan dahinya tak suka.


"Gue cuma mau nanya. Orang tua lo dulu meninggal karna kecelakaan ya?" Rayden langsung to the poin. Memang anaknya begitu. Gak suka basa basi apalagi banyak bacot kayak tetangga sebelah (Sandy)  dong.


"Urusannya sama kamu apa? Kejadian itu udah lama, jangan di ungkit. Aku aja udah ikhlas."


"Gue denger-denger,  kecelakaannya karna bokap lo bawa mobil ngantuk yah? Atau mabuk-mabukan?!" Rayden berusaha memancing Vania agar bercerita.


"Enggak! Itu semua gak bener! Kecelakaan itu emang takdir! Papah aku tau aturan,  dia gak akan mungkin nyetir kalau dia mabuk ataupun ngantuk!" Bela Vania. Keyakinannya pada papahnya yang patuh akan peraturan. Melebihi keyakinannya pada dirinya sendiri.


"Jadi,  kesalahan nya ada pada mobil lain itu. Mungkinkah pengendaranya ngantuk? Atau ... mabuk?" Suara Rayden sudah terdengar aneh. Matanya seolah mengisyaratkan suatu hal.


"Udah deh gak usah ungkit hal-hal lama. Ya kan? Oke gue pergi dulu. Gue gabut doang tadi, makanya larinya ke elo." Rayden berjalan pergi meninggalkan Vania yang diam mematung.


***


Vania diam mematung di tempatnya. Ingatannya kembali ke kejadian beberapa tahun silam. Dia mana dia menggengam tangan orang tuanya untuk terakhir kalinya.


Ingatan itu begitu pedih dan menyayat hati. Vania sudah tidak bisa menahannya lagi, meskipun itu sekolah. Pada akhirnya Vania tetap meneteskan air matanya.


Sandy dan Disha yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan,  mendadak berlari saat mereka sadar bulir hangat yang berharga itu sudah jatuh dari mata Vania.


"Woy woy Van! Lu kenapa nangis? Si kupret Rayden ada ngomong apa sama lo? Lo di apain sama dia? Bilang ke gue Biar gue penyek penyek tuh muka songong."


"Iyah Van,  kamu kenapa? Rayden ngomong apa sama kamu? Dia jahatin apa?" Timpal Disha.


Menyadari ada dua sahabatnya di sana. Vania langsung mengusap air matanya.


"Aku gak papa kok,  udah yah kuy masuk kelas." Vania mengalihkan topiknya.


"Jujur aja sama kita Van,  si Rayden pasti ada ngomong sesuatu yang buat lo nangis kan. Kenapa? Cinta lo di tolak?"


"Enggak lah! Jangan ngadi-ngadi deh kamu San!"


Vania diam sebentar. Ini masuk akal juga. Selain Riyan dan Arka,  Vania tidak memiliki tenpat curhatnya lagi. Sepertinya Vania memang harus membaginya dengan mereka. Apalagi akhir-akhir ini Sandy dan Disha lebih dekat pada Vania di banding tahun-tahun sebelumnya.


"Oke aku bakal cerita."


Disha langsung mengambil posisi duduk di sebelah Vania. Dan Sandy ambil batu dan duduk di atas batu itu. Dagunya dia sandarkan pada tangannya, seolah bersiap mendengar dongeng panjang.


"Jadi dia itu nanya-nanya soal kejadian kecelakaan papah dan mamah aku. Dan dia bilang mungkin Papah aku mabuk jadi aku marah. Tapi, dia juga bilang. Mungkin aja orag lain itu yany mabuk." itu adalah cerita singkat yang bisa Vania ceritakan.


Kembali lagi soal kecelakaan. Tolong! Sandy saja susah payah untuk bisa kembali normal setelah keterpurukan nya atas Arka.


"Dia ngomong gitu Van? Motifnya apa?" Disha mulai berpikir.


"Udah lah Van, gak usah terlalu lo pikirin. Kali aja si Rayden kurang kerjaan makanya mau gangguin lo." timpal Sandy.


***


Di sepanjang koridor Rayden berjalan dengan sgudang pemikiran di otaknya. Dia benar-benar tidak menghiraukan gadis-gadis yang mengagumi nya dan membicarakan nya.


Bukan rahasia umum lagi jika para murid menyukai kakak ketua osis, apalagi dia tampan dan berprestasi. Tentu idaman sekali! Namun sayang, para gadis itu tidak tau bahwa hati Rayden sudah berlabu pada seorang gadis.


Vania, mungkinkah lo bakal nerima gue setelah lo tau bahwa faktanya, karna bokap gue orang tua lo tiada.


Rayden menghela napasnya kasar. Entah lah, dia hanya bisa pasrah akan masa depan.


***