
"Pak tolong berhenti disini saja."
"Baik."
Alex memutuskan untuk berhenti di sebuah taman untuk menenangkan perasaannya. Ia langsung duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon besar setelah membayar ongkos taksinya.
Ia hanya menikmati suasana taman yang adam ayem tanpa di ganggu siapapun, ia juga merasa bersalah karena sudah meninggalkan keluarganya itu, ia juga tidak bisa mengerti apa yang saat ini ia rasakan.
Di sore hari..
Saat Alex ingin pulang ia bertemu seekor burung yang terjatuh dari atas pohon di tempat duduknya. Burung itu mengalami luka di kakinya yang sedikit membuat burung itu tidak dapat berdiri. Alex langsung membawanya pergi, untuk membeli beberapa obat dan perban di apotek terdekat. Setelah membelinya ia langsung mengobati burung itu. Namun keanehan terjadi, seketika burung itu langsung sembuh setelah Alex selesai mengobatinya beberapa menit yang lalu.
Burung yang sudah ia tolong tadi tampak tidak takut bersama dengannya. Burung itu malahan bertengger di atas bahunya dan berkicau-kicau seperti mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya.
Alex masih kebingungan setelah melihat kejadian itu, setelah burung yang baru saja ia obati, dengan cepat terlihat sehat dan langsung bisa terbang dengan leluasa. Padahal perkiraan Alex mungkin sekitar 2-3 hari burung itu bisa kembali normal.
Ia yakin ada yang aneh dengan obat ini, ia juga mencoba melukai jarinya dan mengobati dengan obat yang ia beli tadi. Beberapa menit sudah berlalu ia langsung segera melihat keadaan luka yang di buatnya tapi sama sekali tidak ada perubahan apapun. Ia sangat bingung kenapa tidak berefek pada lukanya ini.
"Emmm..mungkin ini hanya kebetulan saja luka burung itu juga tidak begitu besar."
Alex langsung pulang karena cukup lama ia berada di taman ini, ia juga ingin sekalian minta maaf karena sudah bersifat egois kepada orang tuanya. Padahal hari ini mungkin hari kebahagiaan kedua orang tuanya karena mereka bisa memiliki seorang anak perempuan yang mereka inginkan waktu dulu.
"Aaww!!."
Di perjalanan pulang Alex bertemu dengan seorang anak kecil yang baru saja terjatuh dari sepedanya ia mengalami luka di lututnya membuat ia tidak bisa berdiri. Alex langsung segera membantunya, untungnya ia membawa obat dan perban untuk mengobati luka luar itu.
"Tahan sedikit ya. Ini sedikit perih."
"Iya kak. Tenang saja Nina baik-baik saja kok."
"Aaww!! Aduh."
"Sedikit lagi ya. Sudah selesai."
"Makasih kakak."
"Mau kakak antar pulang?."
"Tidak usah rumah aku dekat kok tuh di sana rumahnya."
Tidak begitu lama gadis kecil itu langsung berdiri dan mencoba mengayuh sepedanya lagi. Tapi tanpa sengaja membuat perban itu jatuh ketanah Alex yang melihatnya sedikit khawatir dengan luka adik kecil itu. Namun tidak di sangka luka itu sudah sembuh total tanpa di sadari gadis kecil itu juga.
Alex segera memeriksa kembali luka yang ada di jarinya tapi tetap saja lukanya belum juga sembuh. Ia semakin bingung dengan obat yang di pegangnya, kemungkinan obatnya ini hanya berefek ketika luka karena ketidak sengajaan.
Setelah itu Ia meneruskan perjalanannya menuju rumah dengan berjalan kaki sekalian membuat tubuhnya lebih sehat meskipun sedikit lama sampai ke rumah. Entah apa yang sedang dipikirkannya ia berusaha membuat dirinya mengalami luka yang tidak di sengaja dipinggir jalan itu.
*****
"Kemana Alex pergi kenapa ia tidak ada di rumah?. Sebas tolong telepon Alex tanyakan dimana ia berada sekarang, hari sudah mulai sore aku takut terjadi apa-apa dengannya."
Sedikit khawatiran, ibunya Alex terlihat begitu gelisah memikirkan anaknya yang belum terlihat sama sekali. Ia juga sangat merasa bersalah karena sudah sengaja membuat anaknya sedih.
"Ting..tong..ting.."
Suara bunyi telepon terdengar jelas di dalam mobil. Sebas langsung segera mengambil ponsel Alex yang ia sengaja tinggal di dalam mobil.
"Ini ponsel Alex, ia meninggalnya di dalam mobil."
"Tolong kamu segera mencarinya Sebas, dimana Alex sekarang saat ini."
"Baik, saya akan segera mencarinya."
Sebas dengan terlihat terburu-buru memasuki mobilnya untuk mencari dimana Alex berada saat ini. Ia juga tidak terlalu khawatir karena ia percaya Alex pasti baik-baik saja.
--
"Kamu harus tenang Alex pasti baik-baik saja. Lagipula Sebas sudah mencarinya jadi kita tunggu saja kabar baik dari Sebas, lebih baik kita masuk dulu."
"Ayu mah kita masuk dulu, ia pasti baik-baik saja. Bagaimana kita siapkan beberapa makanan kesukaannya nanti saat ia sudah pulang."
"Iya juga ya, Alex sangat senang ketika di buatkan makanan kesukaannya."
--
Hari sudah malam Sebas terlihat melihat-lihat kiri dan kanan ia masih berusaha mencari Alex. Sedikit rasa gelisah ia berhenti dipinggir jalan melihat anak muda yang sedikit mirip dengan Alex. Tapi tidak disangka ternyata betul ia berhasil menemukannya.
"Wah Sebas kenapa kamu disini?."
"Itu seharusnya yang aku katakan."
"Haha..aku hanya jalan-jalan saja tidak ada hal lain."
"Jalan-jalan apa ini, hari sudah malam begini apa yang kamu cari sebenarnya?."
"Aku sedang mencari seekor tupai, ia tadi membawa kertas plastikku."
"Emang dalamnya apa?."
"Hanya obat titis dan perban yang aku beli siang tadi?."
"Apa kamu luka?."
"Tidak, aku hanya membelinya ketika ingin mengobati burung saja."
"Oh kamu bisa pergi membelinya lagi."
"Tapi obat dan perban itu sepertinya sedikit spesial."
Sebas hanya tertawa setelah mendengar penjelasan yang ia dengar dari yang diceritakan Alex. Ia berusaha mempercayai ceritanya itu menemukan sebuah obat ajaib yang dapat menyembuhkan luka dengan sangat cepat. Alex yang melihat Sebas yang tidak percaya dengan ceritanya sedikit kesal ia langsung masuk kedalam mobil di kursi belakang dan memaksanya agar Sebas segera mengantarnya pulang.
*****
"Alex mari makan dulu. Ini ada makanan kesukaan kamu?."
"Sebas apa yang sudah terjadi dengannya, kenapa ia terlihat begitu marah ketika pulang?."
"Maaf nyonya. Ini salah saya."
Sebas menceritakan semua hal yang sudah terjadi ketika ia bertemu dengan Alex di pinggir jalan. Mendengar hal itu ibunya langsung ingin menyusul Alex keatas namun ia di cegah oleh suaminya.
"Aku ingin menemuinya. Sayang lepaskan tanganmu."
"Biarkan Alex sendiri dulu, apa kamu mau ia marah lagi sama kita?."
Mendengar hal itu ibunya sedikit tenang dan berusaha mengerti karena anaknya sudah dewasa perlu waktu untuk menenangkan diri terlebih dulu. Mereka sekalian mengajak Sebas makan malam bersama menggantikan Alex.
--
Keesokan paginya...
"Mah Lulu berangkat sekolah dulu ya."
"Apa ibu ikut juga mengantarkanmu di sekolah baru."
"Tidak perlu Lulu bersama papa juga sudah cukup kok. Jika mama ikut bagaimana dengan kak Alex ia pasti mencari-cari nanti."
"Baiklah. Hati-hati dijalan ya."
Lulu dan Ayahnya berangkat ke sekolahan SMP yang ada di kota, karena SMP-nya dulu sangat jauh terpaksa ia harus pindah sekolah. Ia juga sedikit gugup karena ia tidak tahu seperti apa sekolahan barunya nanti.
"Apa kamu gugup?."
"Sedikit. Tapi aku tidak apa-apa kok pah."
"Kamu harus semangat, jangan lupa berteman baik di sana ya."
"Baik pah."
Akhirnya Lulu dan ayahnya sampai ke sekolahan SMP yang akan menjadi sekolah barunya Lulu. Ia sangat gugup ketika memasuki sekolahan itu banyak murid-murid sedang memandanginya namun ia mencoba tetap tenang.
--
Terlihat di sebuah ruangan kepala sekolah Lulu dan ayahnya sedang berbicara dengan kepala sekolah mengurus semua tentang perpindahannya. Semua surat-surat itu sudah di tangani oleh Sebas jadi tidak mungkin tidak di terima di sana. Karena Sebas juga seorang pemilik sekolahan itu.
"Namanya Lulu Ayunda umur 15 tahun pernah sekolah di SMP yang sangat lumayan jauh dari sini, ia mendapatkan nilai yang bagus. Lumayan, ia akan pergi ke kelas 3-A. Ia bisa belajar mulai sekarang."
"Terima kasih kepala sekolah."
"Sama-sama. Semoga kamu betah di sini ya."
--
"Wah siapa itu..apa dia murid pindahan."
"Tolong anak-anak diam sebentar. Perkenalkan teman baru kalian namanya Lulu Ayunda."
"Namaku Lulu Ayunda umur aku 15 tahun. Semoga kita bisa akrab mulai sekarang."
"Wah Alice bukankah ia seumuran denganmu."
Tiara mencoba berbisik-bisik dengan Alice di depannya karena ia sangat penasaran dengan murid pindahan itu. Alice begitu gugup karena bangku kosong itu berada di sampingnya. Ia tidak tahu bagaimana cara memulai obrolan dengan Lulu nantinya.
"Wah ia juga lumayan cantik. Kamu bisa tersaingi dengannya."
"Suttss!! kamu bisa diam ga tiara buat malu saja."
"Hehe..maaf bercanda kok."
"Kamu duduk di samping Alice ya?."
"Baik bu. Alice yang mana ya?."
"Yang namanya Alice tolong acungkan tangannya."
"Sini bu?."
"Nah di sana. Kamu bisa duduk di sampingnya sekarang."
"Baiklah anak-anak karena Lulu masih murid baru kalian bantu dia menyusul ketertinggalan pelajaran kita ya."
"Baik bu."
Dengan sedikit malu ia duduk di samping Alice. Namun Tiara adalah seorang gadis yang tidak tahu malu sama sekali ia langsung mengajak Lulu ngobrol. Lulu sangat terkejut karena tiba-tiba Tiara mendekatinya dari belakang.
"Hehe maaf membuat kamu kaget. Perkenalkan aku temannya Alice namaku-?."
"Tidak usah pedulikan dia. Anggap dia itu angin lalu saja."
"Hah? Kok gitu sih? Kamu tega sekali sama aku Alice."
"Pfft!!.."
Lulu berusaha menahan tawanya karena teman sebangkunya ini sangat lucu. Alice dan Tiara langsung kebingungan melihat Lulu yang begitu terlihat senang mencoba menahan tawanya.
"Nama kamu siapa?"
"Namaku Tiara Dewi. Panggil aku Tiara saja."
"Namaku Lulu Ayunda salam kenal kalian semua. Semoga kita bisa akrab ya."
Mereka saling berkenalan dan saling bercanda bahkan saat istirahatpun mereka mulai bersama. Lulu juga belum sempat ketemu dengan kembaran Alice karena waktu itu Alena masih sibuk dengan tugas yang belum sempat ia kerjakan di kelas. Lulu juga belum mengetahui bahwa Alice memiliki seorang kembaran.
Bersambung...
...Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya....