
"Kenapa Silva keluar bukankah pelajaran kedua akan segera di mulai?."
Alice kebingungan kenapa Silva terlihat kecewa setelah meminta maaf, ia juga bingung tidak biasanya Silva bersifat seperti itu. Alena hanya bisa diam melihat pertengkaran Silva dengan Lulu sebagai temannya, ia juga sedikit kecewa tidak bisa bertemu dengan Alex lagi.
"Biarkan saja, dia akan kembali lagi nanti kalau sudah baikan."
Lulu sedikit merasa bersalah karena sudah bersifat yang tidak baik kepada Silva, ia seharusnya tidak saling menyalahkan atas perginya Alex. Ia hanya pasrah dengan apa yang sudah terjadi kini, ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang menunggu kedatangan Alex suatu saat nanti.
7 tahun sudah berlalu...
"Pah, mah! Jaga kesehatan kalian ya? Lulu kerja dulu."
"Iya, hati-hati di jalan ya?."
Sekarang Lulu sudah resmi menjadi seorang dokter ahli di bidangnya, ia kini sudah tumbuh menjadi wanita cantik, banyak sudah laki-laki datang ke rumah untuk mencoba melamarnya, namun semua lamaran itu langsung di tolak dengan mentah-mentah tanpa alasan apapun dari Lulu.
Sekarang Lulu sudah berusia 26 tahun, ia memutuskan untuk selalu menunggu kedatangan Alex yang belum ada kabar dalam 7 tahun ini. Alex menghilang begitu saja tanpa kabar, banyak usaha dari keluarganya untuk mencari keberadaannya di luar negeri namun semuanya sia-sia mereka tidak menemukan sedikitpun jejak kedatangan Alex di luar negeri manapun.
Perasaan Lulu tetap sama kepada Alex, ia terus menunggu Alex untuk pulang ke rumah dan berkumpul lagi bersama seperti dulu, ia juga sudah tidak ingin mengungkapkan perasaan cintanya itu, ia sudah sadar jika perasaannya hanya menjadi perusak hubungan keluarganya. Ia hanya ingin keluarganya utuh seperti pertama kali ia datang ke keluarga ini.
Lulu juga terpisah dengan teman-temannya terutama dengan Tiara dan Alena. Tiara sekarang sudah memiliki suami seorang guru juga, mereka sudah memiliki dua orang anak dan sangat sulit untuk keluar bersama-sama lagi seperti muda dulu. Sedangkan Alena ia di tugaskan ke Amerika dan harus berpisah dengan Alice yang berada di Indonesia bersama Lulu.
Lulu juga mulai sedikit sibuk dengan pekerjaannya. Ingin mengobrol dengan Alice saja terlalu sulit, padahal mereka berada di rumah sakit yang sama. Semua itu membuat Lulu sedikit pusing memikirkannya, ia hanya ingin bersantai bersama dengan temannya namun terhalang dengan banyaknya pekerjaan.
*****
"Selamat datang dokter Alena."
Staf rumah sakit Amerika memberi sedikit hormat kepada dokter Alena yang baru saja bergabung di rumah sakit mereka. Alena sebagai ahli operasi yang berada di Indonesia sedang menjalani pertukaran sementara untuk menambah lagi pengalaman dan pengetahuan tentang operasi, ia harus di pindahkan ke luar negeri mencari pengalaman itu.
"Apakah profesor masih sibuk?."
"Kemarin malam beliau sudah datang, sekarang dia berada di ruangan pribadinya. Nanti saya hubungi jika dokter Alena ingin bertemu."
"Iya, tolong hubungi! setelah jam kerja aku ingin menemuinya."
"Baik dok!."
Sebagai dokter baru di rumah sakit Amerika. Ia terlihat sudah begitu lancar berbahasa Inggris, ia juga sudah berada di Amerika sekitar 5 bulan lamanya. Ia ingin sekali bertemu dengan profesor yang juga menjabat sebagai pimpinan rumah sakit Yellow Flower Light (nama rumah sakitnya).
Ia berulang kali sudah mengkonfirmasi bahwa ingin bertemu dengan pimpinan, namun Profesor terus saja sibuk dengan pekerjaannya, ia hanya ingin belajar ilmu kedokterannya tentang hal yang masih kurang ia pahami.
--
"Ting..tong..ting.."
"Iya hello. Dengan dokter Alena Putriani di sini."
Terlihat Alena sedang menjawab telepon dari asisten profesor yang memberikan kabar bahwa ia bisa menemuinya sekarang di ruangan pribadi. Alena segera ke sana karena sekarang profesor sudah memiliki waktu untuk bertemu dengannya.
"Tok..tok.."
"Silahkan masuk."
Dengan sedikit gugup Alena membuka pegangan pintunya secara perlahan, ia juga sedikit takut bertemu dengan pimpinan rumah sakit yang begitu hebatnya menangani pasien dengan sangat cepat, ia sangat fans berat kepada profesor yang belum pernah ia temui sama sekali.
"Maaf profesor-?."
Setelah pintu terbuka. Alena sedikit termenung karena ia sangat terkejut bahwa profesor yang selama ini ia bayangkan sangat tidak sesuai. Ia mengira profesor di rumah sakit ini sudah ubanan atau juga sangat tua, tapi yang ia lihat ini adalah seorang pria tampan dengan baju putih layaknya seorang dokter muda.
"Kenapa kamu terus berdiri di sana?."
Pria ini sangat kebingungan mengapa dokter Alena termenung kaku setelah membuka pintu ruangannya, ia juga bingung apakah pintu tersebut memiliki sengatan listrik atau bagaimana. Ia dengan sedikit berteriak memanggil Alena agar kembali sadar.
"Ah maaf pak! Eh maaf profesor."
Dengan sedikit gugup Alena mencoba berjalan mendekat dengan bahasa Inggris yang sedikit kacau, ia sangat tidak tahan melihat wajah profesor yang terlihat begitu muda dan tampan.
"Silahkan duduk mengapa kamu terus berdiri di sana?."
"Baik pak! Eh baik profesor."
"Alena Putriani [Kesukaan 70% kagum]."
Ternyata profesor yang begitu terkenal dengan prestasi yang luar biasa dan menjadi pemimpin rumah sakit terbesar di Amerika adalah Alex yang selama ini menghilang dalam 7 tahun sudah lamanya. Ia sekarang berhasil menjadi profesor lagi, bahkan ia sudah melewati pencapaiannya di kehidupannya dulu.
Setelah melihat nama yang berada di atas kepala Alena. Alex teringat bahwa Alena adalah teman adiknya Lulu, ia hampir saja mengatakan namanya kepada Alena, ia sekarang belum bisa kembali ke Indonesia karena pengaruh besarnya di Amerika, akibatnya jika ia pulang sekarang bisa hancur prestasi yang sudah ia bangun sejak lama, jika ia terburu-buru pergi meninggalkan rumah sakit Yellow Flower Light ini.
"Pak! Kenapa anda bengong? Apa anda baik-baik saja?."
"Ah, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit teringat masa lalu saja."
"Baiklah. Oh iya pak! Saya Alena Putriani sebagai dokter ahli spesialis bedah dan saraf. Saya dengar anda begitu banyak menguasai ke ahlian di semua bidang, apakah itu benar?."
"Itu benar, tapi aku lebih pasih (ahli) di bidang yang sama denganmu."
"Wah! Kebetulan saya banyak pertanyaan untuk anda sebagai pembelajaran saya selama berada disini."
"Tentu. Jika aku tidak ada kesibukan kamu bisa datang lagi ke ruanganku."
"Benarkah."
Dengan gembira Alena secara tidak sadar menyentuh tangan Alex, ia juga sangat senang karena profesor yang begitu di kagumi banyak orang begitu ramah dan baik. Alex juga bingung kenapa Alena begitu senang dengan jawabannya tadi.
"Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak hal yang saya kerjakan."
Dengan sopan Alena berdiri dan memberi hormat lagi kepada Alex yang masih duduk kebingungan dengan sifat yang Alena tunjukkan kepadanya, ia juga sedikit kangen dengan keadaan keluarganya yang ia tinggalkan selama ini.
"Mah pah, maafkan Alex yang belum bisa pulang. Sebenarnya Alex ingin pulang tapi perasaan Alex sangat sakit 7 tahun yang lalu. Aku tidak sanggup perasaan itu terus menghantuiku. Maaf sekali lagi ya?."
Terlihat Alex sudah mulai menyesali perbuatannya yang telah meninggalkan kedua orang tuanya, ia terlihat memandangi foto keluarga yang berada di ponselnya. Ia juga sedikit menahan air matanya karena merasa bahwa sudah menjadi anak yang tidak berbakti.
"Lain kali aku akan menanyakannya kepada Alena, bagaimana kabar di Indonesia. Oh iya apakah Alena begitu tidak mengenaliku? Sepertinya dia tidak tahu siapa aku sebenarnya."
Alex begitu bingung memikirkan Alena yang sudah melupakannya, ia juga sangat senang karena dengan begitu ia dapat bernafas lega. Ia hanya takut jika suatu saat nanti Alena memberikan kabarnya bahwa ia berada di Amerika. Ia masih belum bisa kembali ke Indonesia, masih banyak hal yang harus ia siapkan untuk bertemu dengan keluarganya lagi.
Keesokan paginya...
"Selamat pagi profesor."
"Pagi, apakah kamu sudah sarapan."
"Belum pak, maafkan saya tadi itu kesiangan bangunnya."
"Tidak apa-apa silahkan duduk."
Alena sedikit gugup. Ia juga bingung kenapa pemimpin rumah sakit memanggilnya secara tiba-tiba. Padahal jam masih menunjukkan pukul 06.20 pagi, ia bingung jam kerjanya biasanya jam 08.00, mengapa ia harus di panggil begitu sepagi ini.
"Saya minta maaf atas semua kesalahannya pak! Lain kali saya akan lebih hati-hati lagi."
"Kesalahan apa? Kamu tidak salah, aku ingin mengobrol sama kamu saja, tentang wawancara yang pernah tertunda karena aku yang masih sibuk waktu itu, dan juga sekarang kamu di liburkan 1 hari ini. Jadi setelah pembicaraan kita selesai kamu bisa istirahat seharian."
Alena sangat senang mendengarnya karena tidak ada kesalahan yang ia perbuat. Ia hanya takut karena tidak tahu mengapa ia di panggil ke ruangan pemimpin. Ia juga bingung kenapa di atas meja profesor begitu banyak makanan.
"Ayo makan bersama. Setelah itu baru kita lanjutkan tentang wawancaranya."
"Emmm..baik pak!."
"Panggil saja aku senior, lagipula umur kita tidak berbeda jauh."
"Baik pak! Eh maksudnya senior. Oh iya nama anda siapa? Saya belum mengetahuinya, oh iya padahal namanya ada di atas meja mengapa aku baru menyadarinya ya?."
"Alexius Chandrawinata".
Alena membacanya dalam hati dan tidak curiga sama sekali dengan nama itu, dalam 7 tahun ini Alena sudah melupakan perasaannya dengan Alex, ia sudah sadar bahwa takdirnya bukan bersama Alex lagi, dan ia memutuskan untuk menyerah.
Terlihat meraka makan bersama di atas meja Alex. Alena juga masih terlihat malu karena ia pertama kalinya makan bersama seorang pria yang tidak ia kenali sama sekali, sekarang ia sedikit menyukai seniornya yang begitu hebat itu.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.