Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 22 Sebuah Hubungan



"Kamu harus pagi-pagi sekali datang besok oke."


"Hah? Kenapa harus pagi datangnya?."


"Katanya mau di maafkan?."


"Iya-iya deh, jam berapa aku harus datang?."


"Emmm..mungkin jam 05.30, harus ada di sekolahan."


"Kenapa pagi sekali?."


"Dah. Sampai jumpa besok."


Silva segera meninggalkan Alex dengan sedikit tersenyum. Ia juga tidak lupa melambaikan tangannya untuk salam perpisahan kepada Alex. Terlihat ia juga begitu sangat senang ketika sudah jauh dari Alex.


"Oh iya. Aku lupa menanyakan namanya."


Silva sudah berada di dalam mobil, ia juga tersadar karena lupa bertanya siapa nama cowok yang di temuinya itu. Ia juga terlihat tersenyum membayangkan ekspresi Alex yang berusaha minta maaf tadi.


"Nona muda, sepertinya sedang bahagia."


Supir pribadinya sedikit merasa senang memikirkan nona mudanya yang sedang tersenyum bahagia saat hari pertama sekolahnya. Ia juga belum pernah melihat nona Silva tersenyum setelah sekian lamanya.


"Nona muda begitu terlihat senang hari ini."


Supir pribadinya sedikit penasaran dengan perubahan yang baru saja terjadi dengan Silva, ia adalah supir pribadi yang begitu setia melayani nona Silva mulai dari kecil. Ia bernama Levy berumur sekitar 28 tahun, ia juga biasa di panggil kakak oleh Silva.


"Emmm..ti-tidak ada kok. Aku cuman senang dengan sekolah baruku."


"Begitu ya, Levy jadi senang mendengarnya."


"Ayo kita pulang, aku sudah lapar nih."


Mobil hitam sudah terlihat pergi jauh dari pagar sekolahan. Alex yang melihat sedikit kesal karena sudah bertemu dengan gadis yang sangat menjengkelkan di hari pertama ia sekolah, padahal ia hanya ingin menikmati sekolah ini dengan begitu damai tanpa ada masalah.


Semua harapan Alex menjadi hancur karena harus membayar kesalahannya kepada gadis yang sedang membencinya, ia berniat jika sudah berhasil menghilangkan rasa bencinya Silva, ia akan segera pergi dan tidak akan lagi mendekati gadis itu bagaimanapun caranya.


"Ah, lebih baik aku pulang saja."


Terlihat Alex masih menunggu taksi di pinggir jalan, karena peraturan SMA ini Alex di larang membawa mobil pribadinya, ia harus di antar oleh supir pribadi, jika tidak mobilnya akan di tahan oleh pihak sekolah. Akibat Sebas tidak memberi tahukannya kini mobilnya di tahan oleh pihak sekolah, ia terpaksa pulang harus menaiki taksi, ia juga lupa membawa ponselnya jadi tidak bisa menghubungi supir pribadi di rumah.


*****


"Selamat datang nona Silva."


"(....)."


Silva terlihat tidak menjawab ucapan dari beberapa pelayan di rumahnya, ia juga tidak begitu akrab dengan pelayan-pelayan yang ayahnya kirim untuk merawatnya. Silva adalah anak seorang pengusaha, ia juga tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, mereka terus sibuk bekerja masing-masing. Ayah dan ibunya bahkan tidak pernah datang di hari ulang tahunnya. Mereka hanya pulang ketika pekerjaan kantor selesai, itupun hanya beberapa hari saja mereka bisa bersama Silva.


Ia sangat membenci kedua orang tuanya yang tidak pernah memperdulikannya dan ia juga tidak di anggap seperti anak kandung. Meskipun apa yang ia inginkan terus terkabul, kecuali keinginan untuk bertemu mereka. Kehidupan Silva begitu mewah namun semua itu tidak bisa menggantikan kasih sayang kedua orang tua.


--


"Tok..tok..tok.."


"Nona makanannya sudah siap."


"Taruh saja di meja itu, aku masih sibuk belajar."


"Baiklah, aku akan menaruhnya disini."


"Iya."


Salah satu pelayan terlihat mengantarkan sebuah sarapan siang ke kamar Silva. Ia juga sedikit takut jika berbuat salah bisa-bisa ia akan di pecat kalau membuat Silva tidak suka. Biasanya Silva melampiaskan kemarahannya kepada pelayan-pelayan yang di kirim oleh orang tuanya itu.


Silva begitu senang menggambar di sebuah buku tulisnya terlihat seperti wajah laki-laki yang sedikit mirip dengan wajah Alex. Ia juga tidak sabar untuk bertemu dengan laki-laki yang sedikit lumayan menarik menurutnya.


Ia juga terlihat menambahkan kumis dan jenggot di wajah yang telah di gambarnya tadi. Ia begitu senang dan tertawa memikirkan wajah itu. Ia juga terlihat berguling-guling memeluk bantalnya karena tidak sabar untuk mengerjai Alex besok.


"Padahal masih siang? Aku sangat tidak sabar."


Ia terlihat sudah bosan, dan bingung mau melakukan apa di jam segini. Teman saja ia tidak punya, ia hanya di temani oleh pelayan-pelayan yang lebih tua darinya. Hal itu menambahnya semakin bosan berada di rumah.


--


"Nona Silva mau kemana rapi-rapi seperti itu?."


"Ada sesuatu yang ingin aku beli."


"Biar saya saja membelikannya."


"Aku bisa sendiri kok. Kamu jaga rumah saja, lagian aku juga sama Levy."


"Baiklah, hati-hati dijalan nona."


Silva begitu kesal karena terus di ganggu oleh pelayannya, padahal ia sangat ingin bebas melakukan apapun di luar rumah tanpa ada yang mengganggunya. Ia juga bosan kalau terus di kekang (larangan) seperti ini layaknya seperti di penjara saja.


"Kak Levy bawa aku ke mall, aku ingin berbelanja."


"Baiklah."


*****


"Alex, tolong bantu Lulu pergi ke mall."


"Heh? Aku baru juga datang sekolah. Masih capek ini, lagi pula mobilku juga di sekolah."


"Kamu bisa pakai mobil Lulu."


"Itukan sudah ada supir pribadinya."


"Sudah-sudah jangan banyak alasan, mama dan papa ingin bertemu dengan teman nih, kami juga khawatir kalau Lulu kenapa-kenapa kalau sendirian."


Ibunya terus menarik-narik tangan Alex. Ia juga masih terlihat lemas sambil rebahan di atas kasurnya setelah pulang dari sekolahannya tadi. Ia begitu malas untuk bergerak kemanapun, namun karena ia takut kalau ibunya marah terpaksa ia harus mengikuti apa yang di katakan ibunya itu.


"Iya-iya Alex bangun, berhenti mah tarik-tariknya."


"Makanya cepat bangun, sekalian kamu minta maaf juga sama Lulu biar ga marahan lagi."


"Iya-iya mama aku yang super-duper cantik."


"Cepetan!!."


"Makanya jangan malas terus."


"Iya- ampun mah, tolong lepaskan cubitannya dulu, Aa-du-du-duh."


Ia begitu terlihat kesakitan karena ibunya sangat kesal kepadanya karena begitu malas untuk bangun. cubitan yang begitu sangat keras di bagian paha membuatnya teriak-teriak kesakitan minta ampun.


"Aduh sakitnya."


"Dah, mama buru-buru. Awas kalau kamu tidak temenin Lulu belanja."


"Oke siap bos."


--


"Ayo berangkat. Nanti keburu sore."


"Kamu itu ikhlas tidak temenin aku?."


"Tidak, ini karena paksaan mama."


"Hmph."


"Terus saja ngambek, aku tidak peduli."


"Dasar kakak tidak peka (perhatian)."


"Kamu itu sudah besar kenapa masih bersifat manja?."


"Aku tidak manja kok, aku ini anak baik-baik."


"Baik sangat."


"Baaeeek saangaaatt."


"Cepat masuk, nanti bibirnya monyong (maju ke depan) kalau keseringan mengejekku."


Alex dan Lulu sudah terlihat memasuki mobil pribadi yang biasa mengantarkan Lulu ke sekolah, mereka sama-sama duduk di kursi belakang karena Alex malas menyetir. Lulu juga senang duduk bersebelahan dengan Alex, ia juga sedikit terlihat malu karena baru kali ini lagi ia begitu dekat dengan Alex.


"Kita mau kemana tuan dan nona?."


"Kita pergi ke mall."


"Baik."


Alex terlihat bingung kenapa dari tadi Lulu terus mencuri-curi pandang kepadanya. Ia juga berusaha tidak memperdulikan itu, dan memutuskan untuk tidur di dalam mobil sambil menunggu mereka sampai ke mall. Lulu sedikit gugup melihat wajah Alex yang tertidur di sampingnya, ia mencoba mendekatinya, sedikit demi sedikit menggeser duduknya.


"Berhentilah mendekatiku, tempatnya jadi sempit."


Alex terlihat kesal, karena merasa terganggu dengan tingkah laku Lulu kepadanya. Ia juga belum terlihat membuka matanya, ia hanya mencoba memarahi Lulu agar tidak dekat-dekat dengannya.


"Heh? Siapa yang mendekat."


Lulu terkejut karena Alex hanya berpura-pura tertidur, ia segera menjauh dari samping Alex karena malu. Ia juga sedikit kesal dan memalingkan wajahnya untuk melihat keluar jendela saja.


*****


"Apa yang kamu beli lagi, padahal ini sudah lumayan banyak?."


"Ini semua buat teman-temanku nanti kalau mereka berkunjung ke rumah."


"Emangnya teman-temanmu itu suka cemilan yang tidak bergizi ini?."


"Terus aku harus beli buah dan sayur gitu?."


"Iya dong. Kalau bisa beli yang banyak vitaminnya biar sehat hee."


"Aku bukan vegetarian (pemakan tumbuhan) ya."


"Yang bilang kamu karnivora (pemakan daging) siapa?


"Dah, bawa ini semuanya? Aku mau beli pakaian dalam dulu ke sana, kamu tunggu saja atau kamu keliling sana."


Lulu meninggalkan Alex pergi di depan toko cemilan ringan, ia juga terlihat malu karena Lulu ingin membeli pakaian dalam. Ia tidak mau Alex melihatnya membeli pakaian itu jadi ia meninggalkan Alex di depan toko cemilan sendiri.


--


"Wah kamu lagi kencan ya?."


"Hah? Kamu? Kenapa kesini?."


"Emangnya ini mall milik kamu? Berani-beraninya melarang aku."


"Yang bilang ngelarang siapa juga sih?."


Alex jadi kesal karena Silva tiba-tiba datang mengejutkannya dari belakang, ia juga kesal mengapa harus bertemu dengan Silva di tempat ini. Silva malah senyum-senyum memandangi Alex seperti mencoba untuk mengejeknya.


"Apaan sih, kenapa terus lihatin aku?."


"Wah! kamu beneran lagi pacaran ya?."


"Siapa yang pacaran bodoh?."


"Kok gitu. Hiks..hiks..!!."


"Ehh,,maaf tadi bercanda kok."


"Nah gitu dong, laki-laki itu selalu harus mengalah sama perempuan."


"Cih, sialan."


Alex hanya bisa tersenyum kesal melihat akting Silva yang begitu hebat di tempat umum ini. Ia sangat ingin marah-marah dengannya namun orang-orang di sekitarnya terus memandangi mereka. Ia takut kalau disangka orang lain telah menyakitinya.


"Dengan siapa kakak itu berbicara? Apa itu kenalannya atau apa? Tapi mereka terlihat begitu akrab."


Terlihat Lulu dari kejauhan melihat Alex sedang berbicara dengan Silva berdua di depan toko cemilan tadi, mereka juga sangat terlihat begitu akrab. Membuat Lulu sedikit cemburu, ia juga ingin segera membawa Alex untuk pulang.


Bersambung...


Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.