Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 24 Sebuah Takdir



"Aduh sakit sekali kepalaku?."


"Alex! Apa kamu sudah bangun?."


"Aku di mana mah?."


"Kamu di rumah sakit? Kamu pingsan di kamar mayat. Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?."


"Berapa jam aku pingsan?."


"Sudah 3 hari kamu pingsan. Kami sangat khawatir denganmu tapi kata dokter kamu hanya kelelahan saja?."


Alex sangat terkejut bahwa ia pingsan begitu lama, ia juga sedikit khawatir karena tidak masuk sekolah padahal ini baru awal masuknya. Ia juga terlihat mencoba bangun karena ia sudah tidak merasa enak jika terus berada di rumah sakit ini.


"Alex mau kemana kamu? Lebih baik kamu istirahat dulu."


"Tapi mah, aku tidak mau berada disini terlalu lama."


"Tubuhmu masih belum pulih."


Alex tidak begitu mendengarkan perkataan ibunya, ia juga terlihat begitu memaksakan dirinya untuk segera bangun dari tempat tidur. Ia juga tidak tau kalau tubuhnya masih lemah.


"Argh!!."


"Mama sudah bilang, tubuhmu masih lemah."


Tiba-tiba Alex terjatuh karena kakinya yang belum kuat untuk menopang seluruh tubuhnya itu, ia sangat bingung kenapa tubuhnya yang sudah sehat kenapa semakin melemah seperti kekurangan banyak energi.


"Sebentar mama panggilkan dokter dulu?."


Ibunya terlihat pergi setelah membantu Alex untuk naik ke atas kasur, ibunya juga memaksa Alex untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dulu. Alex terpaksa mengikuti apa yang ibunya katakan.


"Apa jangan-jangan ini gara-gara aku membaca pikiran mayat pria itu?. Lain kali aku harus hati-hati menggunakan kekuatan ini, bisa-bisa aku berakhir di ruangan rumah sakit lagi. Energiku sangat terkuras habis, tapi aku bingung bagaimana caranya aku bisa menambah energiku ini agar bisa kembali pulih, apa yang harus aku lakukan, apa aku harus tidur."


Ia bingung dengan kekuatan yang di milikinya saat ini, ia juga terlihat begitu penasaran mengapa bisa kekuatan seperti itu bisa ia miliki, ia juga terlihat begitu lemah terbaring di atas kasur seperti orang yang memiliki penyakit parah.


"Apa lagi nanti kekuatan yang aku dapatkan, apa aku juga bisa terbang nanti. Sepertinya itu seru deh."


"Alex! Apa yang kamu gumamkan dari tadi."


"Ti-tidak ada apa-apa kok mah."


"Ini dokter yang akan memeriksa kondisimu."


Terlihat seorang dokter wanita bersama dengan ibunya memasuki kamar Alex. Dokter itu juga segera memeriksa keadaan Alex namun keadaan tubuhnya tetap baik-baik saja seperti biasa. Alex juga bingung ia merasa sengat lelah bahkan berdiri saja masih kesulitan.


"Kamu harus banyak istirahat saja, nanti juga akan kembali pulih lagi."


"Apa benar tubuhku baik-baik saja dok?."


"Tentu, tidak ada penyakit sama sekali."


"Makasih dok."


"Saya pamit dulu ya, masih ada pasien di ruangan lain."


"Iya dok."


Alex masih belum bisa percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia juga terlihat mencoba untuk menggerakkan kaki dan jari-jari tangannya agar lebih cepat kembali seperti biasa. Ia sekarang sedikit senang karena kakinya sudah mulai kembali normal. Ia mencoba mengistirahatkan tubuhnya terlebih dulu agar bisa kembali normal.


"Alex mau tidur dulu ya mah."


"Iya, lebih bagus kamu istirahat dulu. Lagi pula Lulu juga akan kesini setelah dia pulang sekolah nanti."


"Baiklah."


"Cepatlah istirahat, agar kamu bisa cepat sembuh."


Terlihat Alex sudah berusaha menutup matanya untuk bisa tidur siang. Ia juga ingin memulihkan energi tubuhnya lagi agar bisa secepatnya kembali pulih dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Tanpa waktu lama akhirnya Alex tertidur dengan pulasnya.


*****


"Lulu sepertinya kamu ada yang kamu pikirkan?."


"Iya nih, seperti ada masalah saja."


"Tidak, aku cuman khawatir dengan kakakku saja."


"Kenapa dia? Apa dia sakit?."


Alice dan Alena terlihat begitu penasaran tentang keadaan kakaknya Lulu yang belum pernah mereka lihat, tapi karena mereka tidak ingin melihat Lulu sedih mereka berusaha membuat temannya itu lebih tenang.


Lulu terlihat senang karena memiliki teman yang baik, namun ia juga sedih sekarang mereka tidak satu kelas lagi dengan Tiara. Tapi Lulu juga senang bisa satu kelas dengan Alice dan Alena, ia juga mulai akrab dengan Alena yang biasanya tidak suka mengobrol dengannya dan sekarang tidak lagi.


Lulu menceritakan semua tentang kesehatan Alex, ia juga menjelaskan kenapa begitu khawatir dengan kakaknya itu, ia sangat peduli dengan Alex yang sangat baik terhadapnya, bahkan di saat ia sering menjahilinya, Alex tetap tidak begitu marah dengannya. Mendengar hal itu Alice dan Alena tahu bahwa Lulu mempunyai kakak yang sangat baik. Mereka mau juga ikut menjenguk Alex setelah pulang sekolah nanti.


"Apa tidak apa kalian ikut aku ke rumah sakit?."


"Tidak apa, kami nanti akan memberi tahukan ibu kami nanti."


"Jika kalian tidak apa-apa, aku jadi senang mendengarnya."


Terlihat mereka terus menanyakan tentang kakaknya Lulu, dan apa kebiasaan mereka saat berada di rumah bersama. Lulu juga menceritakan ia sering sekali membuat kesal Alex, ia begitu senang menceritakan kehidupannya bersama Alex. Namun ia juga sedih karena sekolahan mereka berbeda saat ini.


*****


Beberapa jam kemudian...


"Kemana sih cowok itu? Kenapa 3 hari belum terlihat juga masuk sekolah, apa dia takut bertemu denganku."


Silva terlihat kesal karena tidak bertemu dengan Alex sudah 3 hari. Ia juga berusaha mencarinya di sekitar sekolahan namun ia sama sekali tidak menemukannya, ia mulai bingung kemana lagi mencari keberadaan Alex yang belum muncul itu.


"Hei, aku dengar cowok di kelas kita yang tampan itu sakit loh."


"Pantas saja dia belum terlihat 3 hari ini."


Terlihat dua gadis di depan kelas 1 IPA-01 sedang membicarakan seorang cowok yang tidak hadir di kelas mereka sudah 3 hari. Silva yang tidak sengaja mendengarnya segera mencoba menguping pembicaraan itu. Ia juga sedikit penasaran karena cowok yang mereka bicarakan sama persis dengan ciri-ciri cowok yang ia sedang cari.


"Emangnya dia sakit apa?."


"Aku juga kurang tahu, tapi kata guru kita tadi dia hanya kelelahan saja."


"Semoga saja dia besok bisa sekolah, aku ingin terus bertemu dengannya, aku jadi semangat belajar kalau lihat dia."


"Heh? Kamu itu giliran tampan cepat sekali responnya."


"Hei teman-teman."


"[Eh kambing!!. Astoge!!]."


"Hehe."


Silva dengan tidak sabar ia langsung menghampiri dua gadis itu secara tiba-tiba. Dua gadis itu juga terkejut karena Silva entah dari mana langsung mendekat tanpa mereka sadari. Silva hanya tersenyum melihat dua gadis itu terkejut karena ulahnya.


"Siapa sih kamu?."


"Perkenalkan namaku-?."


"Yuk kita ke kelas saja, jangan bersamanya."


"Lah kok ditinggal?."


"Kamu itu sok kenal sama kami."


"Hei tunggu, kalian tau ini,kan!!."


Seketika Silva mengeluarkan jurus andalannya, ia mengeluarkan sedikit uang untuk memancing dua gadis itu. Benar saja dua gadis itu ternyata mata duitan, giliran lihat duit banyak mereka langsung terlihat bersifat akrab dengannya.


"Wah ini teman lama kita."


"Iya, teman kita yang pernah hilang dulu."


"Lah kok hilang, emangnya aku pernah di culik?."


"Maksud kami teman yang selama ini kami cari-cari."


"Oh gitu."


"Btw, ada perlu apa nih sama kami."


"Btw, jangan sok gaul deh, aku tidak paham btw-btw."


Karena Silva anak rumahan ia sangat tidak tahu tentang bahasa modern saat ini. Ia juga bingung apa itu btw-btw, dengan sedikit kesal ia menanyakan hal itu terlebih dulu.


"Btw itu Omong-omong, kek gitu. Kamu itu orang kaya malah tidak tau bahasa anak muda jaman sekarang."


"Aku tidak muda aku sudah tua sekali, berhenti bicara kita langsung pada intinya saja?."


"Oke siap bos."


Silva terlihat memberikan beberapa lembar uang yang ia pegang kepada dua gadis itu, ia juga sekalian menanyakan nama dan di mana rumah sakit cowok yang mereka bicarakan tadi. Beberapa menit kemudian. Ia sekarang sudah tersenyum karena sudah mengetahui dimana Alex berada saat ini. Ia juga berniat setelah pulang sekolah nanti untuk mencoba menjenguknya.


"Dadah, lain kali kalau butuh bantuan datang saja lagi ke kelas kami."


"Iya-iya."


Silva segera meninggalkan dua gadis itu di depan kelas. Mereka juga terlihat begitu senang sambil melambaikan tangan kepada Silva yang sudah terlihat berjalan jauh. Silva juga sedikit senyum karena tidak sabar untuk segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alex.


--


"Levy tolong bawa aku ke rumah sakit Mutiara Nor."


"Apa nona sedang sakit?."


"Tidak, aku ingin menemui temanku di sana."


"Baiklah."


Silva terlihat senang sambil membayangkan ekspresi Alex ketika melihatnya datang untuk menjenguk. Ia juga sangat tidak sabar melihat keadaan Alex yang sudah 3 hari sudah tidak bertemu. Padahal sebelumnya ia sudah ingin mengerjai Alex.


"Kita sudah sampai nona, aku menunggu di luar saja, aku tidak biasa mencium bau obat-obatan di rumah sakit itu, kalau ada perlu apa-apa hubungi saja aku."


"Oke siap."


*****


"[Tolong nomor kamar 107, dimana ya?]."


Secara tidak sengaja Silva, Alice dan Alena bertemu untuk menanyakan hal yang sama kepada petugas di meja loby. Mereka terlihat sama-sama kaget karena tidak mengenal satu sama lain. Alice dan Alena tidak sempat bersama dengan Lulu karena sebelum masuk rumah sakit mereka mampir ke toilet terlebih dulu. Lulu hanya memberi tahukan nomor kamar sebelum berpisah dan segera meninggalkan mereka untuk menemui Alex secepatnya.


Sedangkan Silva mengetahui nomor kamar itu dari bertanya dengan wali kelasnya Alex, ia beralasan untuk bertemu dengan teman baiknya, ia ingin menjenguk temannya itu dan akhirnya wali kelas Alex percaya begitu saja.


"Kita menuju kamar yang sama, bagaimana kita samaan saja pergi ke sana?."


"Baiklah, jika kalian tidak keberatan bersamaku."


Sedikit rasa malu Silva mencoba akrab dengan Alice dan Alena. Ia juga baru menyadari bahwa mereka kembar. Alice dan Alena juga terlihat malu, mereka bahkan tidak mengobrol sama sekali, dan terus melanjutkan langkah kaki mereka menuju ke tempat di mana Alex di rawat.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.