
"Mah, Lulu?. Dimana kalian?."
Alex memeriksa kamar Lulu dan kamar ibunya namun ia tidak menemukannya, ia juga sudah mencari ke semua ruangan rumah dan masih tidak ketemu dengan mereka.
"Bibi!, Ibu dan Lulu kemana?."
"Kata mereka ingin pergi berbelanja ke luar untuk membeli beberapa makanan, mereka juga berpesan mungkin sekalian mampir kekantor tuan untuk menemui ayah anda."
"Makasih bibi."
Alex terlihat keluar rumah, ia hanya ingin sebentar untuk jalan-jalan saja karena di rumah juga sepi hanya ada beberapa pelayan saja. Ia juga sudah terlihat memasuki mobilnya untuk menuju ke suatu tempat.
--
"Sudah lama sekali aku tidak mampir ke taman ini, mungkin sudah berbulan-bulan aku tidak kesini, hari juga mulai sudah sore namun taman ini tetap saja sepi seperti biasanya."
Alex sedikit terlihat berlari-lari mengelilingi taman depan kaos pendek dan celana panjang, ia juga tidak mengira akan melakukan lari santai ini, ia hanya ingin mengisi waktu luangnya saja sekalian membuat tubuhnya lebih sehat.
Alex terlihat berjalan pulang untuk menuju rumahnya, ia juga mampir di sebuah toko kelontong ingin membeli sebuah minuman, toko ini lumayan sudah jauh dari taman, ia baru teringat bahwa mobilnya ketinggalan di taman tadi. Dompetnya juga ketinggalan di dalam mobil ia meminta izin kepada pemilik toko untuk mengambil uangnya yang ketinggalan itu. Namun pemilik toko sedikit tidak percaya ia takut Alex mencoba untuk kabur dan tidak ingin bayar minuman yang sudah diminumnya.
"Berapa minumannya pak?."
"Rp 10.000 saja."
"Ya sudah ini pak."
Alex merasa tidak enak karena sudah di bantu olehnya untuk membayarnya ia juga ingin membalas itu, ia mencoba mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya. Gadis yang terlihat memakai topi dan masker yang sudah membantunya tadi, namun hal itu membuat Alex tidak bisa mengenalinya.
"Aku akan membayarnya kembali, uangku ada di dalam mobil jika boleh kita ke sana bersama."
Alex mencoba membayar hutangnya dengan gadis sudah membantunya itu, ia juga mengajaknya untuk pergi ke taman yang lumayan jauh dari sini. Namun gadis itu hanya memandang Alex dengan tatapan yang terlihat seperti sedang senyum dari matanya.
"Tidak apa-apa, lain kali saja kamu membayarnya, padahal kalau tidak di bayar juga tidak apa kok."
"Emmm..tapi-?."
"Tidak apa-apa. Aku mau pulang juga rumah aku tidak terlalu jauh dari sini jadi aku duluan ya."
Gadis itu meninggalkan Alex yang masih berdiri di depan toko kelontong itu, ia juga kembali menoleh untuk melihat Alex yang terus memandanginya. Ia juga terlihat sedikit malu karena tidak menyangka bisa bertemu dengan cowok tampan.
"Aduh, aku lupa tanya namanya lagi, bagaimana aku bisa mengenalinya nanti wajahnya saja tidak terlihat sama sekali. Sudahlah nanti juga ketemu lagi kalau ditakdirkan."
Alex berjalan lagi menuju taman, ia juga tidak sengaja menemukan sebuah kalung yang bernama Alena Putriani di depan toko kelontong. Ia juga mengira mungkin kalung gadis itu terjatuh, ia sedikit senang karena menemukan hal yang bisa membuat ia bisa bertemu lagi dengan gadis itu.
*****
"Aku pulang."
"Lama sekali pergi ke warung doang."
"Nih cemilan kamu, jangan banyak omong deh, sudah di belikan juga."
"Eh..kalung aku mana ya?, Perasaan tadi ada?."
"Lupa naruh kali."
"Aku tidak lupa, tadi aku pakai. Apa jangan-jangan kalungku terjatuh di suatu tempat."
"Cari dulu, mungkin dikamar atau dimana saja."
"Kamu itu nyuruh saja, bantu aku carilah."
Alice dan Alena terlihat begitu sibuk mencari kalung yang telah hilang. Alice juga tidak terlalu semangat untuk mencarikannya ia bahkan sambil ngemil cemilan yang baru saja di belikan Alena tadi, ia juga hanya terlihat mondar-mandir tidak begitu peduli dengan kalung itu, karena kalung itu bisa di buat lagi.
"Sepertinya kamu tidak semangat sekali membantunya."
"Itukan hanya kalung, bukankah kita bisa buat lagi?."
"Oh benar juga ya, kenapa tidak bilang dari tadi."
"Kamu saja bodoh."
"Bodoh apaan, kamu taukan aku dapat rangking berapa? saat kelulusan itu."
"Iya-iya, sombong sekali."
"Kek kamu tidak rangking 1 juga, padahal dalam hati pasti senangkan."
Di ruangan tamu terus terdengar suara Alice dan Alena yang terus mengejek satu sama lain, mereka terus saja bertengkar tidak pernah sehari saja tenang di dalam rumah. Ibunya sedikit terlihat kesal karena mendengar suara mereka yang sudah mengganggunya sedang memasak di dapur.
"Hei..kalian bisa diam tidak, jangan sampai mama pukul dengan panci nanti."
Kesabaran ibunya sudah mencapai batasnya, ia sangat kesal kenapa anak-anaknya itu sangat suka bertengkar padahal tidak ada hal penting yang di perebutkan. Hampir setiap hari mereka terus seperti itu membuat ibunya sudah mulai bosan melihat dan mendengar pertengkaran mereka.
"[Maaf mah!!]."
Mereka langsung terlihat ketakutan ketika mendengar suara ibunya yang sudah marah-marah. Alice juga terlihat berjalan menuju kamarnya untuk segera bersembunyi. Alena juga masih duduk di atas sofa di ruangan tamu. Ia terlihat senang memikirkan tentang pertemuannya dengan Alex tadi.
"Apa rumahnya juga dekat dari sini? Tapi katanya dia punya mobil. Ah mungkin itu hanya kebetulan saja kita bertemu, mana mungkin dia orang sini, jika betul dari dulu aku juga tidak pernah melihat dia tinggal di sekitar sini."
Alena terus memikirkan Alex yang baru saja ketemu secara tidak sengaja, ia juga merasa ada hal yang sedikit berbeda ia rasakan ketika melihat Alex, ia juga mengira mungkin ia sudah menyukai Alex karena pernah menolongnya yang hampir di tabrak truk saat acara kelulusan.
Ia tidak berhenti memikirkannya, terlihat ia juga sangat malu sampai-sampai ia menutupi wajahnya dengan bantal kecil. Alice yang ingin pergi mandi ia sangat kebingungan melihat Alena seperti sedang kesurupan karena senyam senyum sendiri di atas sofa membuat ia sedikit takut.
"Mah, ada yang tidak beres dengan Alena."
"Tidak tau, mungkin dia lagi kesurupan."
"Mana mungkin kesurupan, hari juga belum malam."
"Emang kesurupan nunggu malam dulu ya mah?."
"Ya mana mama tau."
"Lah tadi bilangnya kek gitu, giliran ditanya malah tidak tau."
Alice dan ibunya sedikit terlihat mengendap-endap untuk memeriksa Alena yang sedang duduk di atas sofa dan benar saja ibunya sedikit terkejut melihat anaknya kini senyam senyum sendirian. Alice terlihat memegangi baju ibunya karena takut, ibunya juga sedikit gugup sambil mengambil sapu mencoba mendekati Alena yang belum menyadari mereka yang sedang mencoba mendekat dari belakang.
"Papa pulang."
"Wah papa sudah pulang, mama kaka papa sudah pul-? Sedang apa kalian?."
Alena sedikit bingung ketika ia ingin berbalik untuk memberi kabar kepada mama dan kakaknya. Ia juga sedikit bingung apa yang ingin meraka lakukan dengan menjadi patung seperti itu.
"Wah kalian sedang bermain ya? Papa mau ikut juga?."
"Oh! mama dan kakak sedang bermain ya?."
"Hehe..iya kami sedang bermain iya kan Alice?."
"Iya benar pah."
"Tapi kenapa mama pegang sapu?."
"Oh ini, permainan nenek sihir."
"Sudah-sudah, kamu mandi dulu sana. Makanan sudah aku siapkan tadi."
"Siap bos."
Akhirnya kesalah pahaman itu dapat terselesaikan dengan ide ibunya yang berhasil mengalihkan pembicaraan. Alice masih sedikit takut tentang apa yang terjadi dengan adiknya itu, ia berusaha mencari di ponsel bagaimana mengusir hal gaib itu dari tubuh seseorang.
--
"Aku harus mengusir setan yang mengganggu adikku itu. Jangan sampai adikku itu kenapa-kenapa."
"Tok..tok..tok!!."
"Buka, tidak di kunci kok?."
"Krik."
"Apa aku menggangu?."
"Tidak, ada apa?."
"Aku cuman ingin memberikan minuman ini?."
"Tapi aku tidak haus?."
"Coba minum sedikit saja?."
"Kenapa? Ada apa sih kamu ini sangat mencurigakan."
"Tidak kok."
Alena sedikit merasa terganggu dengan tingkah lakunya Alice yang tiba-tiba ingin memberinya sebuah minuman. Alice juga terlihat gugup karena Alena sudah mulai mencurigainya tentang memberikan secangkir minyak zaitun.
"Ada apa sih kamu sebenarnya? Apa ada yang salah denganmu?."
"Kamu coba minum dulu agar makhluk jahat tidak mengganggumu."
"Hah? Kamu bilang aku makhluk jahat ya?."
"Kamu itu tadi sore, kenapa senyam senyum sendiri?."
"Oh itu, aku bertemu dengan seorang penyelamat, dia sangat tampan sekali."
"Oh karena penyelamat. Eh? Kamu sedang suka dengan dia ya."
"Emmm..lumayan suka sih, tapi aku belum sempat kenalan sama dia."
Alena menceritakan semuanya tentang hal yang pertama kalinya ia bertemu dengan penyelamatnya yaitu Alex, ia juga sedikit terlihat malu-malu menceritakan itu kepada Alice karena hal ini baru pertama kalinya ia rasakan ketika bertemu dengan seorang laki-laki.
Alice juga sedikit kecewa karena adiknya juga tidak sempat kenalan sama laki-laki itu, ia juga sedikit tenang karena Alena tidak apa-apa ia secara tidak sadar menghabiskan air yang ingin diberikannya tadi kepada Alena.
"Emmm..lumayan enak."
"Hah? Bukankah itu tadi buatku?."
"Oh iya, aku lupa. Kamu soalnya tidak apa-apa jadi aku saja meminumnya sendiri."
Alice juga sudah merasa tenang ia segera pergi karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.25 malam, ia juga sudah sedikit mengantuk karena ia tidak biasa begadang (larut) malam kalau tidak ada hal yang di kerjakan.
Bersambung...
Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.