Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 35 Percikkan Cinta



"Terima kasih sudah mau mengantarkanku."


"Iya, sama-sama. Lagi pula jalan rumah kita searah."


"Apa senior mau sekalian bermalam disini?."


"Haha..tidak baik satu rumah kalau kita balum menikah."


"Kalau santai-santai minum dulu bagaimana?."


"Emmm.."


"Sudah ikut saja, lagi pula kita hanya sebentar kok?."


Terlihat Alex sedikit malu. Namun Alena terus memaksanya untuk masuk, ia menarik tangan Alex untuk segera masuk kedalam rumahnya. Alena juga beralasan untuk merayakan kembali kesuksesannya karena telah berhasil mengoperasi pasiennya.


Alex tidak bisa berbicara apa-apa lagi karena terus di tarik keruangan tamu. Ia juga di paksa duduk di atas sofa dan menunggu Alena mengambil minuman dingin yang ada di kulkas. Alex sedikit bingung kenapa Alena terlihat memaksanya untuk bersantai, padahal besok masih ada perkejaan yang harus ia selesaikan.


"Maaf membuatmu menunggu."


Terlihat Alena membawa 2 botol minuman keras yang masih baru. Ia terlihat senang bisa membawanya untuk seniornya. Alex sedikit khawatir kalau Alena akan mabuk jika terlalu banyak meminumnya. Ia baru tahu bahwa Alena memiliki minum seperti itu di rumahnya.


"Apakah kamu sering meminum ini?."


Alex segera mengambil salah satu botolnya yang sudah berada di atas meja di ruang tamu, ia sangat khawatir dengan apa yang sudah Alena lakukan selama ini. Ia tahu minuman keras ini sangat tidak baik untuk seorang wanita, apalagi bagi wanita yang masih belum menikah.


Ia juga tahu bahwa di Amerika sangat biasa bagi orang meminumnya, karena ia berada di luar negeri terpaksa ia harus mengikuti apa yang ingin Alena lakukan, ia akan mencobanya sedikit lagi pula di kehidupannya dulu ia juga suka meminum minuman keras untuk menenangkan diri.


"Tidak, aku baru saja ingin mencobanya?."


"Lebih baik kita ganti air minumannya saja, aku takut kamu akan mabuk setelah meminumnya ini?."


"Aku akan meminumnya sedikit saja kok."


"Baiklah, awas saja kamu minum terlalu banyak jika kamu mabuk aku tidak akan bertanggung jawab. Aku akan meninggalkanmu sesegera mungkin."


"Tenang saja senior."


Alena terlihat sudah menuangkan segelas air pertama kepada Alex, ia sangat senang bisa berduaan di dalam rumahnya tanpa ada yang mengganggu mereka. Alena memiliki rumah di luar negeri lumayan besar, namun ia baru beberapa bulan berada di sini, ia belum sempat mencari seorang pembantu, jadi rumahnya masih terlihat sepi.


"Apakah kamu belum memiliki pembantu?."


Sambil meminum air yang di berikan Alena. Alex menanyakan tentang siapa yang akan mengurus semua urusan rumah jika Alena sedang pergi bekerja. Ia juga khawatir siapa yang akan merawat Alena jika berada di rumah sendirian tanpa pembantu seperti itu.


"Aku belum sempat mencarinya, aku baru beberapa bulan disini jadi aku belum ada waktu untuk mengurusnya, apakah senior mau membantuku?."


"Baiklah nanti aku akan membantu mencari beberapa orang pembantu untukmu nanti."


"Terima kasih senior kamu begitu baik kepadaku."


Mereka menikmati minumannya bersama-sama sambil menonton televisi di ruang tamu, tanpa sadar mereka sudah menghabiskan 2 botol minuman keras yang Alena suguhkan tadi. Alex juga sedikit mabuk namun ia bisa menahannya karena memiliki kekuatan yang bisa menghilangkan rasa mabuk di dalam tubuhnya (menetralkan efek mabuk).


Alena yang belum berpengalaman ia sangat begitu mabuk, ia bahkan tidak sadar lagi telah bersifat sedikit agresif kepada Alex, ia terus memeluk Alex dengan sangat erat yang sedang duduk di sampingnya. Ia mulai tertarik dengan tubuh Alex sebagai lawan jenisnya, ia mulai sedikit mengelus-elus dada Alex tanpa sadar.


Alex sedikit mulai merasa sesuatu akan terjadi kepadanya jika Alena terus bersifat seperti itu, ia juga mulai sedikit tidak tahan melihat kancing baju Alena yang sudah terbuka memperlihatkan sedikit belahan dadanya yang putih dan besar.


"Alena!! kamu harus sadar!!."


Ia sedikit menggoyangkan tubuh Alena agar membuatnya sadar. Tapi karena Alena yang begitu mabuk ia begitu terlihat tidak peduli dan tidak mendengarkan perkataannya bahkan ia begitu senang ketika Alex memanggil namanya, ia juga tersenyum gembira ingin memeluk Alex dengan sangat erat.


"To-tolong cium aku senior!!."


Ia menyudutkan Alex dengan membusungkan dadanya ke depan untuk mencoba mencium Alex yang sudah berada di bawah badannya. Alex berusaha menahannya agar tidak menciumnya, ia berusaha mendorong Alena menjauh tapi akibat tangannya yang sedikit berkeringat membuat tangan tergeser dengan tidak sengaja ke bagian dada Alena.


"I-ini ti-tidak se-sengaja A-alena?."


"Ah!! Oh..Se-senior!!."


"Tidak!!!."


Dengan sekuat tenaga Alex langsung mendorongnya, karena mulai tidak tahan dengan posisi yang sedikit membuat burungnya bergetar. Ia segera berdiri dari sofa untuk menjauh dari Alena sesegera mungkin, ia juga terlihat sedang memandangi tangannya yang sudah menyentuh aset berharga Alena dengan tidak sengaja itu.


"Oh! Lumayan besar juga dan sedikit kenyal!. Astaga!! Apa yang sedang aku pikirkan?."


"Oh Astaga!! Kamu muntah?."


Alena tiba-tiba muntah di lantai setelah Alex mendorongnya, ia begitu terlihat sangat mabuk bahkan ia hanya bisa terbaring diam dan tidak bisa bangun. Alex yang melihatnya sedikit kesal karena sudah membuatnya hampir kehilangan jati dirinya sebagai laki-laki yang baik.


"Ih bau sekali? Aku harus melepaskan bajumu kali ini, jadi maafkan aku? Hah? Sudah tertidur?."


Terlihat Alex sedikit kesal karena membuatnya kedalam momen yang sedikit mengganggunya, ia berusaha membawa Alena untuk beristirahat ke kamarnya, ia juga melepaskan semua pakaiannya karena sudah kotor terkena muntahan Alena.


"Argh!!."


Alex tidak sengaja melukai jarinya ketika menaruh Alena ke atas kasur, tangannya tiba-tiba menyentuh anting Alena ketika ia menaruh kepalanya ke atas bantal. Setelah itu ia menutupi tubuh Alena dengan selimut dan pergi meninggalkannya untuk membereskan sisa-sisa yang masih berantakan di ruang tamu.


--


"Oh hampir saja aku kehilangan kendali. Tapi tubuhnya begitu bagus, sampai-sampai hidungku juga hampir mimisan di buatnya, ya mau bagaimana lagi aku harus menjadi pria yang bertanggung jawab dan tidak mengambil kesempatan seperti ini untuk kesenanganku pribadi."


Setelah selesai Alex membereskan semuanya, ia mulai mengantuk dan tertidur di atas sofa dan tidak sempat pulang akibat kelelahan. Ia juga tertidur hanya menggunakan celana panjangnya saja, baju yang ia pakai sudah basah akibat muntahan dari Alena ketika ia membawanya ke dalam kamar. Ia harus mencucinya terlebih dulu sebelum bisa di pakai lagi.


Keesokan paginya...


"Aduh! Kepalaku sakit sekali? Hah? Di mana aku?."


Alena sangat bingung. Ia langsung terbangun dan sedikit terkejut dengan apa yang sudah terjadi kepadanya ia belum mengingatnya dan hanya memandangi langit-langit kamar yang bukan kamar miliknya.


"Argh!!."


Ia langsung berteriak setelah melihat badannya yang hanya memakai pakaian dalam, semua pakaian lainnya sudah berserakan di lantai, ia sedikit mengingat apa yang sudah ia lakukan setelah tadi malam. Ia juga segera berdiri untuk mencari pakaiannya sesegera mungkin.


"Hah? Darah?."


Ia sangat terkejut melihat darah yang berada di atas kasurnya, ia berusaha mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama dengan seniornya, namun ia tidak mengingat apapun. Ia menyelimuti semua tubuhnya untuk pergi keluar.


"Senior? Hah? Dia tidak memakai baju? Apakah malam tadi kita sudah?."


Wajah Alena seketika langsung memerah dan pergi ke kamarnya untuk segera mandi, ia terlihat sangat malu memikirkannya. Ia juga sedikit takut bagaimana jika Alex tidak bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada dirinya, ia juga yakin ini semua kesalahannya karena sudah mengajaknya minum-minum bersama, lagi pula ini negara luar hal seperti itu bebas di lakukan dan pihak perempuan tidak bisa menuntutnya untuk bertanggung jawab karena itu sudah peraturan di negara itu.


--


"Senior! Bangun ini sudah pagi!."


Alena berusaha membangunkan Alex yang masih tertidur, ia juga masih tidak tahan melihat tubuh Alex yang tidak memakai baju. Ia begitu terpesona melihat roti sobek milik Alex dan ia berkeinginan untuk menyentuhnya.


"Arhhh!! Alena apa kamu sudah bangun?."


"Eee..I-ya Se-senior!!."


Alena sangat terkejut ketika Alex yang tiba-tiba terbangun, ia segera menyembunyikan tangannya yang hampir menyentuh perut Alex, ia sedikit gugup untuk berbicara kepada Alex karena ini pengalaman pertamanya.


"Oh! Malam tadi kamu begitu menyebalkan! Kamu membasahi semua tubuhku, sepertinya punggungku juga sakit."


"Ma-maafkan a-aku se-senior!!."


Wajah Alena begitu malu, ia berusaha meminta maaf kepada Alex, apa yang sudah ia lakukan tadi malam. Ia juga tidak sanggup berbicara lagi karena sudah terlalu gugup.


"Lain kali, kalau kamu mau lagi, bilang saja dulu agar aku bisa bersiap-siap."


"Hah? Siapa ya-yang mau la-lagi? Itu pertama kalinya bagiku?."


"Pantas saja kamu masih belum kuat menahannya."


"Sudah-sudah jangan bahas itu lagi! Bukankah kita harus pergi ke rumah sakit."


"Oh iya, tapi sepertinya aku ingin pulang dulu, mau mengganti bajuku ini? Jadi sampai bertemu lagi."


Alex segera berdiri dan pergi keluar dengan memakai bajunya yang masih sedikit basah karena belum kering akibat di cuci tadi malam. Alena juga masih terlihat malu untuk berhadapan dengan Alex, ia tidak tahu harus berkata apa, dengan hubungan yang baru saja terjadi.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.