Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 33 Menjaga Identitas



"Kenapa kamu tahu namaku? Bukankah aku belum mengatakannya?."


"Haha.. maksud aku kamu begitu terlihat mirip dengan teman wanitaku yang bernama Silva."


Alex terlihat sangat gugup. Ia mencoba menjelaskannya kepada Silva agar tidak di curigai. Silva juga masih curiga dengan Alex yang terlihat begitu gugup berdiri di dekatnya. Ia tahu pasti ada hal yang di rahasiakan oleh Alex kepadanya.


"Kamu itu gila!! (berbahasa Indonesia)."


Silva dengan yakin menggunakan bahasa Indonesianya untuk memancing Alex untuk mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya, padahal Silva hanya menebak karena melihat tingkah laku Alex yang begitu menjaga jarak dengannya seperti yang di lakukan oleh Alex semasa sekolah SMA dulu.


"Siapa yang gila?."


"Haha..aku tahu siapa kamu?."


Silva tertawa dengan terbahagia begitu yakin bahwa lelaki yang sedang di ajaknya ngobrol ini adalah Alex, ia mungkin tidak salah lagi sekarang ia bertemu lagi dengan Alex setelah 7 tahun lamanya berpisah.


"Kamu jujur saja Alex, kamu pasti sudah mengetahui aku?."


"Aku bukan Alex namaku Andra."


"Haha kamu sangat lucu tidak perlu berakting lagi, aku sudah mengetahui nama aslimu."


Alex sudah merasa tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Silva mengetahuinya, ia berulang kali menjelaskannya agar Silva tidak curiga, namun semakin Alex menjelaskan semakin ia di curigai, ia juga bingung kenapa Silva yang sangat yakin dengan identitasnya.


"Baiklah aku mengaku, tapi kamu harus jaga rahasia ini, aku tidak mau lagi di ketahui oleh siapapun."


"Emmm."


Terlihat Silva memikirkan sesuatu, ia seperti ingin merencanakan sesuatu untuk menjaga rahasia itu, ia tidak tahu kenapa Alex berada di Amerika saat ini. Ia mencoba bertanya tentang alasan Alex memilih pergi ke Amerika.


"Apa yang kamu lakukan di Amerika ini?."


"Apakah kamu tidak tahu, aku sekarang jadi profesor."


"Iya aku tahu itu, tapi mengapa kamu harus pergi meninggalkan orang tuamu?."


"Kamu bukan siapa-siapa aku jadi tidak perlu mengurusi urusanku."


Alex mulai kesal dengan pertanyaan Silva. Ia merasa tidak enak karena Silva terus menanyakan hal yang tidak ingin ia bahas sama sekali. Ia juga terlihat sedikit marah dan memutuskan untuk segera pergi dari ruangan kamar itu.


"Kamu mau kemana, bukankah kamu di tugaskan oleh atasanmu ke sini?."


"Aku tidak peduli lagi, jika aku di pecat itu lebih baik lagi dari pada harus mengobrol denganmu."


Dengan sedikit marah Alex keluar dari kamar hotel, ia langsung pergi meninggalkan Silva yang terlihat berdiri di dekat pintu. Ia hanya tersenyum melihat sifat Alex yang masih sama terhadapnya, ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Alex setelah 7 tahun lamanya mereka berpisah.


Ia sangat senang bisa bertemu dengan Alex, ia juga kepikiran untuk pergi ke rumah sakit tempat Alex bekerja, kali ini ia harus bisa bersama Alex seperti dulu, ia juga ingin minta maaf tentang kesalahannya kali ini, ia tahu mungkin Alex tidak akan memaafkannya dengan mudah tapi setidaknya ia akan berusaha.


*****


Keesokan pagi...


"Aduh mengapa aku terlambat sih."


Alena terlihat begitu terburu-buru setelah keluar dari mobilnya di parkiran rumah sakit, ia takut terlambat dalam mengurus pekerjaannya yang masih lumayan banyak yang harus ia selesai di ruangannya saat ini.


"Brak!!."


"Aduh!!."


Di persimpangan koridor rumah sakit Alena tidak sengaja menabrak seorang wanita. Mereka terlihat saling kesakitan karena tabrakan yang sedikit lumayan keras. Semua berkas-berkas yang di bawa Alena seketika berhamburan kemana-mana.


"Maafkan aku, aku tadi terburu-buru sekali jadi tidak melihat kamu yang sedang berjalan di depanku."


Alena segera minta maaf kepada wanita itu sambil membereskan berkas-berkasnya. Wanita itu juga membantu mengumpulkan berkas Alena yang sudah mulai berterbangan jauh dari tempat mereka berada.


"Apa kamu baik-baik saja?."


Terlihat Alex yang baru datang membantu Alena membereskan semua berkasnya. Alena sangat malu karena merepotkan seniornya, ia juga tidak menyangka bisa bertemu Alex sepagi ini.


"Hai kita ketemu lagi Ale-?."


"Ssuuttt!!."


Alex seketika kaget karena Silva tiba-tiba mendekati mereka. Ia bingung kenapa Silva berada di rumah sakitnya dan juga terlihat berpakaian seperti seorang dokter. Ia juga menyuruh Silva untuk tidak membuka mulutnya, karena ia takut Alena mengenalinya setelah mendengar nama aslinya itu.


"Hah? Apa yang kamu lakukan di sini Silva?."


"Seharusnya aku yang bilang ke kamu, kenapa kamu terburu-buru dan menabrakku tadi?."


"Oh, tentang itu aku sangat minta maaf."


"Oh kalian saling kenal ya? Ya sudah aku akan pergi."


Alex merasa khawatir jika ia terlalu lama berada di sana, bisa-bisa identitasnya terbongkar jika terus bersama Silva. Ia segera mencoba melangkahkan kakinya meninggalkan Silva dan Alena yang sedang berbicara.


"Oh iya, Alena perkenalkan ini temanku?."


"Kamu mengenali senior Andra ya?."


"Kamu menyebutnya Andra ya?."


"Iya kenapa emangnya?."


"Hei!! Kamu bisa tidak lepas tanganmu ini?."


Sambil berbisik-bisik Alex sedikit tidak enak karena tangan Silva sedang merangkul lehernya. Alena yang melihatnya sedikit kesal karena telah ke duluan lagi untuk mendekati seniornya, ia juga mulai marah dari dulu sampai sekarang Silva terus lebih unggul (pertama) darinya ketika ia mulai menyukai seorang cowok.


"Senior apakah kalian sudah saling kenal?."


"Tidak kok kami bar-?."


"Kalau kamu tidak berkata jujur maka aku akan membongkar rahasiamu ini."


Silva terlihat berbisik-bisik ke telinga Alex untuk mencoba mengancamnya. Alex terlihat sedikit takut karena ia tidak mau Alena mengetahui identitasnya yang sebenarnya, ia juga mulai marah dengan Silva karena sudah berani mengancamnya.


"Ada apa senior?."


"Tidak apa-apa kok? Aku sudah kenal dengan Silva lumayan lama jadi kami sedikit akrab."


Wajah Alex sedikit kesal karena dari tadi tangan Silva masih berada di lehernya, ia perlahan-lahan mencoba melepaskannya karena ingin pergi dari sana secepatnya. Silva juga terlihat sangat menikmatinya karena bisa mempermainkan Alex sesuka hatinya.


"Baiklah, aku pamit dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Alena segera pergi karena perasaan yang mulai sedikit cemburu dengan hubungan yang mereka miliki. Ia tahu hubungannya dengan Alex belum lama seperti Silva, tapi ia kali ini tidak akan menyerah lagi karena pengalaman yang dulu adalah pelajaran baginya saat ini untuk tidak melepaskan seseorang yang sudah ia sukai lagi.


"Hei! Lain kali jaga mulutmu itu? Jangan sampai Alena tahu aku sebenarnya."


"Emangnya kenapa kalau dia tahu?."


"Pokoknya jangan sampai tahu, kamu itu di bilangin jangan ngelawan terus."


"Iya-iya profesor Andra."


"Nah gitu dong, aku pergi dulu."


"Siap profesor."


Alex sudah terlihat meninggalkan Silva yang masih memandanginya, ia juga mulai waspada dengan Silva, ia tahu ada sesuatu yang ingin Silva rencanakan kepadanya. Ia lain kali harus lebih berhati-hati lagi agar tidak di curigai oleh Alena tentang identitasnya yang sebenarnya ini.


--


"Tok..tok..tok..!!."


"Silahkan masuk."


Terlihat Silva membuka pintu secara perlahan, ia juga membawa cukup banyak lembaran kertas di tangannya. Alex sedikit bingung apa yang sedang di lakukan Silva ke ruangannya, ia juga sedikit takut tentang apa yang ingin di rencanakan Silva selanjutnya untuk mengganggu kehidupannya.


"Maaf profesor mengganggu waktunya, aku hanya perlu tanda tangan anda. Setelah itu aku akan pergi."


"Baiklah, tinggalkan saja di atas meja ini, nanti aku tanda tangani sesegera mungkin."


"Tapi aku maunya sekarang."


"Kamu tidak lihat aku masih sibuk dengan laptopku?."


"Punyaku tidak terlalu banyak kok, jadi kamu bisa melakukannya."


"Bukankah aku harus membacanya dulu agar tidak ada kesalahan nanti."


"Kalau kamu membacanya nanti semakin lama, bukankah kamu ingin menyelesaikan yang lainnya?."


"Baiklah, sini mana kertas yang harus ku tanda tangani."


Alex terlihat begitu kesal sambil menanda tangani kertas yang di berikan Silva kepadanya. Ia bahkan tidak sempat lagi membaca isi kertas itu karena setelah ia menyelesaikan salah satu kertasnya langsung di ambil oleh Silva.


Beberapa menit kemudian...


"Terima kasih tanda tangannya."


"Iya-iya cepat pergi dari ruanganku, aku jadi kurang fokus mengerjakan tugasku ini."


"Iya profesor yang begitu sibuk."


Silva segera keluar dari ruangan itu, ia begitu senang karena berhasil mendapatkan tanda tangan dari Alex tentang surat perpindahannya, ia berencana pindah ke rumah sakit Alex untuk selamanya. Ia sangat senang bisa bersama Alex lagi seperti sekolah SMA dulu.


--


"Ting..tong..ting..!!."


"Hello, iya ada apa pak?, Oh ia sudah saya tanda tangani semuanya tenang saja."


"Bagus, sekarang kamu sebagai pimpinan di sana ajarkan dia peraturan-peraturan di rumah sakit kita. Ingat perlakukan dia dengan baik karena dia adalah keponakanku."


"Tottt..!!."


Setelah telepon di matikan Alex langsung menggenggam tangannya karena sudah berhasil di permainkan oleh Silva, ia tidak menyangka surat-surat yang baru ia tanda tangani itu adalah surat perpindahannya ke sini. Ia sangat kesal karena di tipu lagi untuk sekian kalinya, ia juga tidak bisa apa-apa karena Silva adalah keponakan dari atasannya (pemilik rumah sakit ini).


"Awas saja kamu Silva, aku akan balas kamu nanti. Akan ku buat kamu tidak betah tinggal di rumah sakit ini hee."


Terlihat wajah Alex yang masih tidak terima karena sudah di permainkan oleh Silva, ia ingin membalas semua yang sudah Silva lakukan kepadanya 2x lipat. Ia berencana untuk membuat Silva tidak bertahan lama berada di rumah sakit yang ia pimpin ini.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.