Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 30 Kesedihan



"Lulu apa kamu menemukannya?."


"Maafkan aku mah, aku tidak menemukannya."


"Nomornya juga sudah tidak aktif."


"Bagaimana dengan Sebas? Kita tanya saja dengannya."


"Baiklah nanti mama tanya."


Lulu terlihat begitu tidak semangat lagi karena Alex sudah pergi meninggalkannya. Ia padahal sudah ingin mengatakan perasaannya yang sudah lama ia pendam (simpan) untuk Alex.


"Lulu kenapa kamu begitu sedih?."


"Mah sebenarnya aku sangat-?."


"Papa pulang. Siapa yang sudah kangen sama papa."


Tiba-tiba ayahnya masuk kedalam rumah dengan wajah gembira, ia sangat senang karena perusahaan yang ia jalankan begitu banyak mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari biasanya, ia ingin memberi kabar gembiranya itu untuk keluarganya di rumah.


"Kenapa kalian terlihat sedih berada di ruang tamu ini?."


Ayahnya sangat kebingungan melihat kedua ekspresi mereka begitu sangat sedih seperti kehilangan sesuatu. Ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada mereka. Ia juga bingung biasanya mereka begitu ceria di dalam rumah.


"Alex pergi keluar negeri."


"Oh, itu saja."


"Hah? Kenapa kamu begitu tidak khawatir dengannya?."


"Tadi dia datang ke kantor untuk berpamitan kepadaku. Katanya ingin kuliah di luar negeri, jadi setelah selesai kuliah mungkin dia akan pulang. Anak kita sudah besar dia pasti bisa jaga dirinya, mengapa kalian begitu khawatir?."


Ayahnya menjelaskan secara perlahan untuk mencoba menenangkan mereka berdua, ia tahu bahwa istrinya dan Lulu pasti menghawatirkan Alex yang berada di luar negeri sendirian. Tapi ia ingin anak laki-lakinya itu bahagia dengan bebas mengikuti keinginannya.


"Dimana kakak Alex pergi?."


"Papa lupa untuk menanyakan itu, nanti papa mencoba meneleponnya."


"Nomornya tidak aktif lagi pah?."


"Benarkah."


Ayahnya mulai berpikir mungkin Alex mempunyai sedikit masalah yang harus ia selesaikan sendiri. Ia tidak mau melihat Alex sedih karena melarangnya pergi. Ia juga tahu bahwa wajah Alex saat berpamitan tadi begitu terlihat kecewa.


"Percayalah, kakakmu pasti baik-baik saja."


Ayahnya terlihat memeluk Lulu dan mengelus-elus kepalanya, ia tahu bahwa Lulu sangat menghawatirkan Alex, ia juga mulai sedikit merasakan bahwa Lulu mempunyai perasaan yang lebih untuk Alex.


"Tenanglah, dan kita tunggu saja kabar darinya. Papa tahu Lulu sangat menghawatirkan kakak Alex, papa yakin Alex baik-baik saja di sana. Mungkin setelah ia mulai tenang pasti dia menghubungi kita lagi."


"Benar apa yang di bilang papamu, kita beri waktu untuk Alex dulu saat ini."


Terlihat Ayah dan ibunya memeluk Lulu agar bisa membuatnya tenang. Ibunya mulai mengetahui bahwa Lulu memiliki perasaan yang lebih dari seorang adik. Namun ibunya tidak mau membicarakannya ia ingin nanti mendengarkannya sendiri dari Lulu.


*****


"Lulu kemana kakakmu? Apa dia terlambat lagi?."


"Ini semua gara-gara kamu yang selalu mengganggu kakakku."


"Kenapa aku? Aku bahkan tidak mengganggunya."


"Kalau tidak mengganggunya kenapa dia selalu pergi ketika melihatmu?."


Silva sedikit bingung kenapa Lulu begitu marah kepadanya, ia hanya penasaran kenapa Lulu datang sendirian ke kampus. Ia juga kaget melihat wajah Lulu yang penuh emosi kepadanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?."


"Eh Alice dan Alin."


"Alena. A-L-E-N-A!!."


"Hehe..maaf aku susah mengingatnya kalau kalian kembar seperti itu."


"Kenapa Lulu marah kepadamu? Apa kamu jahat kepadanya. Awas ya kalau kamu berani-berani berbuat jahat."


"Emmm..Ti-tidak jahat kok, aku hanya menyapanya saja ketika kami bertemu di depan pintu kelas ini."


"Oh, benarkah? Sangat mencurigakan sekali sikapmu itu."


Terlihat Alena mengitari Silva dengan tatapan yang sedikit menyeramkan untuk membuat Silva takut. Alice juga mulai menyudutkan Silva ke dinding di dekat pintu kelas mereka.


"Wah mesra sekali. Bolehkah aku foto?."


"[Foto kepalamu!!]."


"Siapa sih kamu datang-datang ganggu saja hubungan orang lain."


"Romantis dari mana Jumailah!!."


Alice sudah mulai kesal dengan gadis yang sedikit terlihat gila, dengan tingkah laku yang sangat suka dengan adegan yang terlihat romantis seperti yang mereka lakukan saat ini. Alice juga menjauh dari Silva dan segera memasuki kelas karena sudah tidak bersemangat lagi untuk memberi pelajaran kepada Silva karena sudah di ganggu oleh gadis yang tiba-tiba datang entah darimana.


"Hei..aku belum puas memfotonya!."


"Hei anak ayam!! Dengar ini ya baik-baik, jika kau tidak pergi dari sini akan ku siksa kamu bersama dengan gadis itu nanti." Sambil menunjuk ke arah Silva berdiri, Alena mencoba mengancam gadis itu.


"Oh, kapan kamu akan menyiksaku. Ah..ah..aku sangat tidak sabar ah..oh..kimochi (enak)." Terlihat gadis itu sedang mengelus-elus tubuhnya dengan sangat bergairah setelah mendengar ancaman dari Alena.


"Hah?."


Alena sangat bingung dan merasa aneh apa yang sudah terjadi dengan gadis itu, ia juga bingung apa yang sudah di makan gadis itu jadi sampai terlihat tidak normal. Alena segera pergi setelah melihatnya, gadis itu seperti penuh nafsu terhadapnya.


"Uh!! Geli-nya merinding bulu tanganku ini." Alena segera menarik tangan Alice sambil berlari masuk kedalam kelas karena sudah merasa ketakutan dan meninggalkan Silva bersama gadis itu yang masih berada di depan pintu kelas.


"Cepat kamu pergi dari sini bukankah pelajaran akan di mulai."


Terlihat Silva berusaha mengusir gadis gila itu yang masih berada di depan pintu kelasnya. Ia juga tidak tahu lahir dari mana gadis ini mengapa ia sangat menyukai hal-hal yang tidak di sukai orang normal lainnya, ia juga sedikit takut dengan gadis itu karena gadis itu mulai memandanginya.


"Apakah kamu ingin ikut menyiksaku juga cantik? Panggil saja aku Victoria ini nomor teleponku jangan lupa hubungi aku kalau kamu butuh teman ya."


"Hei!! Yang suka sama kamu siapa?? Aku itu sukanya sama laki-laki bukan gadis seperti kamu ini?."


"Hei!! Jangan salah, aku ini bisa membuat kamu puas juga loh!!."


"Puas kepala mu, sudah pergi sana. Aku jijik sama kamu mas!!."


"Eh, aku bukan mas-mas lah!!."


"Terus siapa pula?."


"Aku princess dari kayangan (langit)."


"Pantes saja kamu di buang kesini (bumi) karena pihak langit tidak mau merawat kamu lagi!!."


"Hmph!! Kamu tidak seru sama sekali."


Terlihat Viktoria sudah pergi meninggalkan Silva di depan pintu kelasnya. Ia bernafas dengan lega karena dari tadi kakinya sudah gemetaran karena takut berhadapan dengan Victoria yang sedikit tidak jelas asal-usulnya.


"Kenapa dia bisa di terima di kampus seperti ini ya? Apa dia hanya pura-pura saja berperilaku seperti itu atau dia emang dari langit? Hah?? Kenapa aku malah mikirin si Victoria ini sih? Hidupku saja sudah berantakan malah mikirin hidup orang."


Dengan perlahan Silva mencoba berjalan memasuki kelas yang sudah hampir di mulai, padahal ia masih penasaran kenapa Alex tidak terlihat dari tadi, ia ingin bertanya lagi kepada Lulu setelah jam istirahat nanti.


--


"Lulu, aku minta maaf jika punya kesalahan kepadamu."


Silva dengan penuh ketulusan mendatangi ke meja Lulu. Ia juga tidak tahu mengapa Lulu terlihat tidak begitu semangat hari ini, ia bahkan hanya terdiam merenungkan sesuatu. Alice dan Alena juga takut untuk mengajak Lulu berbicara.


"Iya Lulu, apa yang sudah terjadi kepadamu? Ceritakan saja kepada kami."


"(....)."


Lulu sedikit menoleh kepada Alice yang ingin mengajaknya bicara, ia begitu tidak semangat lagi menjalani kuliahnya kali, bahkan ia begitu lemas dengan posisi duduk seperti sedang tertidur di atas mejanya.


"Ayolah ceritakan sama kami, kenapa kamu seperti ini?."


Alena juga mulai merayu Lulu yang masih terlihat lemas di atas mejanya, ia juga terus menggodanya agar mau berbicara dengan mereka, ia tidak mau Lulu terus seperti ini. Mereka juga sangat penasaran tentang Alex yang belum terlihat sampai jam sekarang.


"Kakakku pindah kuliah."


Dengan posisi yang masih sama ia memberi tahukan kepada mereka yang dari tadi terus peduli kepadanya. Ia juga menceritakan bahwa Alex pergi keluar negeri tanpa memberi tahu kemana tujuannya.


"[Hah??]."


Mereka terlihat begitu kaget setelah mendengar perkataan Lulu, mereka juga bingung kenapa Alex tiba-tiba pindah dan tidak mau kuliah di sini. Alena juga sekarang terlihat kecewa karena baru pertama kali mengenal Alex sudah terpisah lagi. Silva juga kaget karena Alex tiba-tiba pergi tanpa memberi kabar kepadanya.


"[Nomor yang anda tuju tidak aktif, mohon hubungi nomor lainnya]."


"Aku sudah bilang kalau kakakku pergi itu gara-gara kamu?."


"Hah? Kenapa gara-gara aku?."


Silva kaget setelah ia mencoba menelepon Alex nomornya sudah tidak aktif lagi. Lulu juga langsung bangun dan memarahi Silva karena gara-garanya Alex pergi. Alice dan Alena juga bingung kenapa Lulu menyalahkan Silva atas perginya Alex.


"Maafkan aku jika semuanya itu terjadi atas kesalahanku."


Terlihat Silva dengan tulus meminta maaf kepada Lulu, ia juga berusaha kuat atas tuduhan itu, padahal ia hanya berusaha akrab dengan Alex dan tidak melakukan hal yang membuat Alex sedih atau menyakitinya. Ia sadar kehadirannya ini membuat Lulu semakin sedih, ia segera pergi meninggalkan Lulu yang masih duduk di kursinya.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.