Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 40 Pertukaran



Orang tua Lulu hanya terlihat diam setelah mendengar pertanyaan dari Silva. Mereka tidak mampu menjawabnya karena mereka sedikit mulai melupakan Alex karena sudah tidak pulang setelah 10 tahun lamanya.


Mereka juga terlihat memalingkan wajah dan tidak ingin membahas hal yang berkaitan dengan Alex lagi. Alice dan Alena sedikit bingung dengan apa yang sedang Silva bicarakan dengan orang tuanya Lulu.


"Maaf tante dan om, aku pamit pergi sebentar! Ada urusan yang mendadak."


Silva langsung pergi setelah melihat ekspresi kedua orang tua Alex yang sudah mulai menunjukkan kekecewaan kepada anak kandungnya. Bisa di bilang anak durhaka karena sudah pergi meninggalkan keluarganya sendiri begitu lama tanpa ada kabar.


*****


Di dalam kamar hotel.


"Ah! Dimana gantungan kunci rubahku? Perasaan aku menaruhnya di dalam dompet ini? Apa terjatuh di suatu tempat?."


Terlihat Alex sedang sibuk mencari gantungan kunci yang sudah lama ia simpan di dalam dompetnya, ia belum sadar bahwa gantungan kunci itu sudah hilang dan di temukan oleh Lulu.


"Apa jangan-jangan gantungan kunci itu terjatuh di saat aku belanja di mall tadi ya?."


Alex sedikit menyadari hal yang membuatnya janggal (perasaan sesuatu hal). Ia berusaha mengingat-ingat lagi di mana ia menaruh gantungan kunci itu, ia mencoba memikirkannya untuk mengingat terakhir kali ia menaruhnya.


"Ting..tong..ting!!.10x."


Suara telepon Alex berbunyi sangat keras membuat Alex sedikit terkejut. Ia sedikit tidak peduli karena melihat panggilan itu dari Silva, ia hanya sibuk memikirkan di mana ia menghilang barang berharganya itu.


Suara ponselnya terus berbunyi puluhan kali. Membuat Alex sedikit terganggu dan mulai marah kepada Silva karena tidak menyerah untuk menghubunginya.


"Iya! Ada apa?."


"[Ada apa, ada apa! Apa telingamu itu sedang bermasalah atau bagaimana? Bisa-bisanya kamu tidak menjawab teleponku?]."


"Maaf! Aku sedang sibuk?."


"[Sibuk kepalamu!! Kata pamanku kamu juga sedang liburan!!]."


"Iya maaf, ada apa kamu begitu marah kepadaku?."


"[Ini menyangkut hidup dan mati? Apa kamu tidak punya hati?]."


"(Kenapa Silva begitu marah kepadaku? Apa aku mempunyai salah kepadanya?)."


Alex terlihat bingung karena mendengar suara Silva yang terdengar begitu sangat marah kepadanya, ia juga penasaran apa yang sudah ia lakukan membuat Silva marah kepadanya seperti itu, ia bahkan tidak mengingat apapun hal buruk ia lakukan kepada Silva.


"[Heii!! Malah diam saja? Cepat kesini (pulang ke Indonesia) adikmu kritis membutuhkan banyak darah!]."


"Adik-? Apa yang sedang terjadi kepada Lulu?."


"[Tadi siang dia mengalami kecelakaan! Sekarang dia berada di ruangan UGD dan ingin di operasi karena kondisinya sudah kritis dan membutuhkan banyak darah, orang tuamu bilang hanya kamu yang memiliki golongan darah O]."


"Krak!!."


Terlihat ponsel Alex terjatuh dan mengalami kerusakan dan pecah berhamburan di atas lantai. Membuat sambungannya terputus secara otomatis.


--


"Heii! Malah di tutup teleponnya? Apa dia kaget dan segera pulang ya?."


Terlihat Silva sedikit bingung mengapa ponsel Alex tiba-tiba mati. Ia sedikit merasa bersalah karena sudah berkata kasar kepada Alex, namun ia juga tidak menyesali perbuatannya, semua itu karena untuk menyelamatkan teman baiknya.


--


"Aku harus segera ke sana? Tapi rumah sakit mana Lulu di rawat? Jika kecelakaan itu terjadi di dekat mall tadi maka satu-satunya rumah sakit terdekat dan paling berpengaruh hanya di rumah sakit itu."


Terlihat Alex terburu-buru keluar kamarnya untuk segera pergi ke rumah sakit. Ia bahkan terlihat masih menggunakan setelan berpakaian seperti seorang profesor dokter terhebat, dan hanya sedikit orang yang dapat memiliki setelan tersebut.


*****


"Selamat datang tuan!."


"(???)."


Alex hanya diam dan tanpa menjawabnya ia langsung masuk kedalam rumah sakit itu! Ia juga terlihat pucat karena menghawatirkan keadaan Lulu yang berada di ruangan UGD. Ia bahkan terlihat begitu cepat berjalan di koridor untuk menuju ruangan UGD.


--


"Apa kalian sudah memiliki darahnya?."


"Maafkan kami dok! Kami belum menemukannya!."


"Bagaimana mana ini! Jika terus menunda seperti ini putri anda tidak akan bisa di selamat lagi!."


"(...)."


Mereka hanya terdiam dan meneteskan air mata setelah mendengar ucapan dokter yang sudah menunggu cukup lama kepada pihak keluarga untuk mencari pendonor. Namun mereka belum menemukan satupun orang yang memiliki darah yang sama. Karena golongan darah O ini terbilang sangat langka dan susah untuk di dapatkan meskipun memiliki koneksi.


"Akhirnya anda datang tuan! Tapi kami belum menemukan pendonor darahnya."


"(???)."


Semuanya terlihat diam karena seseorang yang berpakaian seperti seorang berpangkat tinggi datang secara tiba-tiba dan dokter di sana juga terlihat mengenalnya.


"Di mana pasiennya?."


Alex sedikit bingung sejak kapan ia kenal dengan dokter yang mengajaknya bicara itu, namun ia tidak peduli apapun lagi, prioritasnya hanyalah untuk membantu dan menolong Lulu bagaimanapun caranya.


"Siapa laki-laki tadi? Apa dia orang yang begitu hebat sampai-sampai profesor di rumah sakit ini menghormatinya?."


Alice sedikit penasaran dengan kedatangan seorang laki-laki yang tidak ia kenal sama sekali, tiba-tiba datang dan begitu di hormati. Ia juga sedikit merasa tidak asing namun akibat wajah Alex yang sudah tertutup oleh masker membuatnya tidak mengenalinya.


--


"Ayo kita mulai operasinya."


"Tapi kita tidak memiliki pendonornya Prof?."


Salah satu dokter sedikit khawatir tentang bagaimana mana mereka akan memulai operasinya jika pendonor darah untuk Lulu belum di temukan, operasi tidak akan dapat di lakukan jika Lulu masih kekurangan darah.


"Bagaimana bisa seperti itu?."


Dokter lainnya juga sangat terkejut setelah mendengar ucapan Alex yang berani mengambil resiko demi hanya menyelamatkan pasien yang sudah kritis.


"Tenang saja! Aku bisa mengoperasikannya di saat darahku juga di ambil."


Dengan wajah tenang Alex berusaha meyakinkan dokter lainnya untuk segera memulai operasinya secepat mungkin agar Lulu dapat di selamatkan.


"Anda akan lelah jika melakukannya Prof?."


"Sudah! Lakukan saja! Prioritas kita menyelamatkan pasien ini."


Operasi mulai dilakukan dengan cara yang tidak biasa, operasi ini di lakukan bahkan profesor lainnya tidak dapat melakukan hal yang sama seperti itu. Di saat melakukan operasi darahnya juga terus mengalir mendonorkan ke tubuh pasien (Lulu), keadaan itu cukup berisiko bagi kedua belah pihak.


Mereka tidak dapat membantah atau melarangnya karena itu semua atas kemauan Alex sendiri. Mereka tidak tahu bahwa Alex memiliki kemampuan yang melebihi manusia pada umumnya, ketahanan tubuhnya lebih kuat dari manusia biasa, jadi ia mampu bertahan dengan ke adaan seperti itu.


Beberapa jam sudah berlalu. Keluarga Lulu dan teman-temannya sudah mulai khawatir karena operasinya masih berjalan tanpa istirahat sedikitpun, mereka hanya bisa berdoa agar Lulu dapat di selamatkan.


"Sepertinya tubuhku tidak akan bertahan lagi Prof!."


"Aku juga! Maafkan aku dok!."


Satu demi satu dokter dan profesor lainnya tumbang akibat terlalu memaksakan tubuh mereka untuk mengoperasi tanpa istirahat. Hanya Alex yang masih terlihat melanjutkan operasinya sendirian, ia bahkan tidak terganggu melihat dokter lainnya sudah pingsan di atas lantai. Ia hanya fokus untuk menyelamatkan Lulu.


"Lulu Ayunda [Kesehatan -10%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -9%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -8%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -7%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -6%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -5%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -4%]."


Alex terlihat begitu berkeringat karena melihat keadaan Lulu semakin memburuk, ia mulai menangis karena Lulu belum membaik, padahal ia sudah berusaha mengobatinya dengan kemampuan ajaibnya yang selama ini selalu berhasil mengobati orang lain.


"Lulu Ayunda [Kesehatan -3%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -2%]."


"Apa ada cara lain? Apa yang harus aku lakukan lagi, semuanya akan kuberikan jika berhasil menyembuhkan Lulu, aku tidak mau dia pergi meninggalkanku."


"Ting!!."


"Swiss!!."


Sebuah cahaya kuning seperti ribuan kunang-kunang berterbangan di sekitar tubuh Alex, ia tidak tahu asal dari cahaya itu. Ia hanya pasrah dengan nyawanya demi menyembuhkan Lulu yang terbaring di atas kasur operasi.


"Lulu Ayunda [Kesehatan -1%]."


"Kakak! Apakah kamu sudah pulang?."


"Hah?."


Alex tiba-tiba kaget melihat Lulu sudah sadar dan berusaha berbicara dengannya, ia tidak dapat menahan air matanya yang terus mengalir keluar. Lulu masih terlihat tidak baik-baik saja, ia hanya berusaha sedikit karena ingin menyampaikan perasaannya yang selama ini ia rahasiakan kepada Alex.


"Lulu maafkan aku-?."


"Ti-tidak apa kakak! Ukhuk..!! Kak- ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu- uhuk!!.."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -1%]."


"Lulu kamu jangan berbicara dulu, kamu masih belum pulih! Tolong istirahat ya?."


Alex masih khawatir karena melihat kesehatan Lulu yang masih -1% yang bahkan itu sudah di anggap di ambang kematian bagi seseorang. Lulu malah tersenyum melihat Alex yang sedang mengkhawatirkannya untuk kesekian lamanya.


"Te-rima ka-sih kakak! Ukhuk!! Ak- sangat m-encin-taimu k-a-k-a-k!."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -0%]."


"Lulu Ayunda [Kesehatan -...%]."


"Ti-tidak!!!!!! Aku juga mencintaimu Lulu!! Tolong sadarlah!! Aku minta maaf, aku sangat bersalah kepadamu!! Aku rela kamu membenciku tapi aku mohon kembalilah!!."


Alex terlihat begitu sedih memeluk Lulu yang sudah terbujur dingin tidak bernafas, ia terus berteriak-teriak di dalam ruangan namun ruangan itu memiliki kedap suara dan membuat orang-orang di luar tidak dapat mendengarnya.


"Tolong selamatkan Lulu, tukar saja nyawaku dengannya aku rela. Aku tidak mau kehilangan seseorang yang aku sayangi untuk kedua kalinya seperti ini. Kalau ini benar-benar akhir ceritaku seperti ini, tolong buat seseorang yang aku cintai bahagia."


"Ting!!! Swisss!!."


["Apa kamu benar-benar rela menukar nyawamu?]."


"(???)."


Alex sedikit merasa bingung di mana suara itu, ia berusaha mencari seseorang yang sedang berbicara dengannya di ruangan itu. Ia terus melihat-lihat sekitarnya karena penasaran siapa yang sedang bertanya kepadanya.


["Apa kamu benar-benar rela menukar nyawamu?]."


"Iya aku yakin! Tolong bantu aku!."


Tanpa ada rasa takut Alex berusaha percaya dengan suara itu, ia hanya ingin menyelamatkan Lulu bagaimanapun caranya.


"[Baiklah]."


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.