
"Mah, dari tadi kakak Alex tidak terlihat kemana dia pergi."
"Katanya ada hal yang mendadak yang ingin dia urus."
"Halo, om dan tante."
"Wah bukankah kalian si kembar yang pernah Lulu ceritakan?."
"Perkenalkan nama aku Alice dan ini adikku Alena."
"Kalau aku Tiara tante."
Mereka saling mengobrol satu sama lain di halaman depan sekolah karena acaranya sudah selesai, mereka juga sudah berjalan keluar untuk segera pulang. Kebetulan juga teman-temannya Lulu berada di sana, mereka sedikit berkenalan dengan ibunya Lulu, karena ia pernah menceritakan pada ibunya bahwa mempunyai teman perempuan kembar dan perempuan sedikit suka bicara.
"Oh kamu yang suka bicara ceplas-ceplos itu ya?."
"Hah? Tiara tidak suka ceplas-ceplos kok tante."
"Heh. Kamu bohong, dia sangat suka ngomongin orang tante."
"Alice ini bisa saja. Tiara baik kok kelihatannya."
"Hehe..maklum Alice suka bercanda mah."
"Kalian mau mampir ke rumah kami?."
"[Apa boleh tante?]."
Mereka sedikit senang karena ibunya Lulu mengajak mereka mampir ke rumah, mereka juga sedikit penasaran bagaimana rumah Lulu. Mobil saja mewah apa lagi dengan rumahnya, mereka sangat ingin mampir untuk melihatnya.
"Tentu saja boleh, iyakan yah?."
"Iya dong. Kalian boleh kapan saja mau mampir dan berteman sama Lulu."
"[Wah kalau begitu kami mau ke sana]."
Mereka sangat senang karena sudah di ajak oleh ibunya Lulu. Alena yang biasa tidak pernah peduli dengan apapun, sekarang ia sedikit penasaran juga tentang kediaman (tempat tinggal) Lulu yang baru ia kenal beberapa bulan ini, ia ingin memastikan bahwa teman kakaknya adalah orang-orang baik. Ia tidak mau kakaknya berteman dengan seseorang yang hanya ingin memanfaatkan kakaknya saja.
"Alena kamu ikut jugakan?."
Lulu juga mencoba mengajak Alena yang masih terlihat diam dari tadi, ia sangat terlihat tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Lulu juga sudah tau bahwa Alena adalah tipe gadis yang tidak banyak ngobrol kecuali tentang kakaknya.
"Kalau Alice ikut, aku juga harus ikut."
"Bagus ayo kita berangkat."
"Eh bagaimana dengan sepedaku?."
"Tenang saja nanti anak buah tante yang mengurusnya, kalian masuk ke mobil yang biasa mengantar Lulu. Tante om dengan mobil lainnya."
"[Iya tante]."
"Aku harus menelepon ibuku dulu agar mereka tidak khawatir."
"Kamu bagaimana Tiara?."
"Kalau aku tidak apa-apa kalau belum sore, soalnya ayahku pulangnya sedikit sore nanti."
"Begitu ya, tenang saja tante dan om akan menjaga kalian semua."
Terlihat mereka sudah memasuki mobil untuk segera menuju rumah besar keluarga Alex. Lulu dan teman-temannya terlihat sangat senang sambil membicarakan tentang rangking yang mereka dapatkan saat di acara kelulusan pagi tadi.
"Lulu kamu ternyata pintar juga ya, tidak nyangka kalau kamu bisa dapat nomor 2 di kelas, kamu bahkan hampir bisa mengalahkan Alice."
"Kamu itu Tiara kenapa tidak ada kemajuan tetap saja mentok di rangking 20-an, emangnya kamu belajar tidak di rumah."
Alice sedikit kesal dengan Tiara yang selalu ingin mengejeknya, bahkan saat berada di mobil ia terus mencoba mengejek Alice. Alena juga sedikit terlihat tersenyum melihat kakaknya yang kesal karena Tiara.
*****
"Nak Alex, apa kamu serius?."
"Iya, ini sekarang toko yang akan dijalankan bapak."
"Beneran."
"Iya, bapak hanya menjalankan ini dengan sebaik-baiknya, masalah untungnya nanti kita bicarakan secara pribadi, dan masalah modal biarkan aku yang nanggung semuanya."
"Tapi bapak hanya bisa sedikit beberapa menu makanan saja?."
"Tenang saja, aku akan mencari koki masak untuk mengajarkan bapak sampai bisa. Oh iya, bapak juga tidak perlu bekerja setiap hari, kita hanya buka senin-kamis, dan minggu. Tentang gajih tidak akan terpotong dengan hari libur."
Ayahnya Tiara terlihat begitu sedih karena ia memiliki sebuah toko yang sudah di impikannya selama ini. Ia sangat senang karena Alex memberikannya sebuah kerjaan yang bahkan gajinya lebih besar dari kerjaannya dulu. Ia juga memiliki hari libur untuk bersama anaknya. Ia sangat bahagia sampai-sampai ia memeluk erat Alex tanpa sadar.
"Makasih bos Alex."
"Bapak! panggil Aku, Alex saja."
"Tapi-, baiklah."
"Bapak bisa pulang sekarang, soalnya aku masih ada kerjaan di kantor."
"Makasih sekali lagi."
Alex meninggalkan ayahnya Tiara di depan toko baru yang akan di kelola oleh Ayahnya Tiara. Ia sangat senang dengan apa yang sudah Alex berikan kepadanya kali ini, ia sangat bahagia karena bisa memiliki waktu yang cukup banyak untuk bisa bersama dengan putrinya nanti.
--
"Ayah pulang."
Ayahnya Tiara terlihat sedikit kebingungan ketika ia membuka pintu bahwa anaknya belum datang, ia teringat bahwa hari ini ada acara kelulusan di sekolah, ia langsung pergi menyusul Tiara ke sekolah, jam tangan sudah menunjukkan pukul 11.00.
"Pak anda mencari siapa?."
Salah satu paman penjaga sekolahan di sana. Ia sedikit bingung kenapa bapak-bapak pergi ke sekolahan ketika pagar sekolahan sudah tertutup.
"Sekitar 1,5 jam yang lalu selesainya."
"Makasih."
Ayahnya Tiara sedikit khawatir kemana anaknya pergi, ia juga tidak memiliki ponsel untuk menghubungi anaknya itu. Ia juga berusaha mencarinya di sekitar sekolah agar bisa menemukan Tiara.
"Apa dia sekarang bersama teman-temannya? Tapi kemana dia?."
Di perjalanan Ayahnya Tiara terus menghawatirkan putrinya itu. Ia takut terjadi apa-apa dengan anaknya, sekarang ia juga takut kalau Tiara di culik oleh seseorang. Ia juga tidak tau di mana rumah teman-temannya karena Tiara tidak pernah cerita tentang teman-temannya kepada ayahnya.
*****
"Kita sudah sampai silahkan masuk."
Ibunya Alex menyambut kedatangan semua teman-temannya Lulu, ia juga sangat senang karena baru kali ini ia mengajak teman-teman Lulu ke rumah. Lulu juga sangat senang bisa mengajak temannya bisa mampir.
"[Wow??]."
Mereka terus memandangi halaman rumah yang begitu luas bahkan halaman itu terlihat sangat indah karena banyak bunga-bunga yang bermekaran. Pohon-pohon tinggi tersusun rapi membuat halamannya begitu sejuk.
"Apakah ini istana?."
Tiara begitu kagum setelah melihat keindahan yang belum pernah ia lihat sama sekali. Ia juga terlihat begitu menikmati halaman tersebut sambil mencium-cium bebungaan di sana.
"Ini bahkan 2x lipatnya dari rumah yang kami miliki."
Alice juga tidak percaya temannya begitu sangat kaya, ia juga melirik kembali Lulu setelah memandangi halaman itu, ia juga sedikit bingung melihat Lulu yang berpakaian begitu sederhana bahkan tidak terlihat sama sekali kekayaannya.
"Kenapa Alice? Kamu begitunya lihatin aku?."
"Mengapa kamu tidak memakai hal-hal mewah?."
"Emmm..aku tidak terbiasa dengan hal begituan. Aku lebih senang dengan barang-barang sederhana saja."
"Wah teman aku emang yang terbaik."
Tiara tiba-tiba memeluk Lulu ketika ia mendengar ucapan itu, ia juga terlihat menggosok-gosokkan pipinya ke pipi Lulu berulang kali untuk menunjukkan rasa sukanya kepada Lulu semakin bertambah.
"Apaan sih kamu, menjauh dari tubuhku."
"Eh..kamu tega banget deh sama aku."
"Sudah-sudah bercandanya, mari masuk kedalam rumah, tidak enak kalau terus berada di sini."
Ibunya Lulu mencoba mengajak mereka untuk masuk, ia juga tidak enak jika tamu hanya berada di halaman rumah. Ketika teman-temannya Lulu memasuki rumah, mereka sudah di sambut oleh beberapa pelayan di sana yang terlihat begitu cantik.
"Wah kakak-kakak ini sangat cantik? Bolehkah aku berfoto?."
"Kamu tidak punya ponselkan Tiara?."
"Aku bisa minjam ponselnya kamu Alice?."
"Terus fotonya di apakan?."
"Buat kamu agar bisa terus mengingatku."
"Heh? Yang ada aku mimpi buruk kalau lihatin foto kamu."
"Haha..Alice bisa saja bercandanya."
Ibunya Lulu terlihat tertawa melihat Alice dan Tiara sedang mengobrol. Ia juga sedikit bingung kenapa Alice begitu kesal dengan Tiara. Ia sangat mengetahui Tiara begitu bawel namun menurutnya Tiara bersifat seperti itu untuk teman-temannya menjadi nyaman.
"Kebetulan sekali, aku baru ingat rumah kita ternyata tidak terlalu jauh Lulu."
"Wah benarkah Tiara, dimana rumah kamu?."
Tiara menceritakan bahwa rumahnya sering di lalui oleh Lulu ketika ia pergi ke sekolah. Lulu juga merasa senang bahwa rumah mereka tidak terlalu jauh dan lain kali ia bisa bertemu.
Mereka saling membahas tentang tempat tinggal, banyak hal yang mereka bicarakan di ruangan tamu sambil memakan beberapa cemilan yang sudah di siapkan oleh beberapa pelayan tadi.
--
"Aku pulang, wah kenapa ruangan tamu sedikit terlihat berantakan?.
"Tadi teman-temannya nona muda baru saja berkunjung kesini."
Terlihat salah satu pelayan di rumah ini masih membersihkan ruangan tamu itu, ia juga belum bisa beradaptasi karena masih beberapa minggu di terima kerja di rumah ini.
"Oh begitu ya, semangat kerjanya."
"Makasih tuan."
Wanita itu tersenyum merasa senang karena sudah di beri semangat oleh laki-laki yang begitu tampan dan baik hati, ia juga sedikit terpesona dengan majikannya kali ini.
"Eh kamu, bukannya kerja malah lihatin tuan muda."
"Bibi, kamukan lebih lama dari aku beberapa bulan ini, menurut kamu gimana tuan muda?."
"Ia sangat baik, dan juga baik hati. Ia sangat senang membuat adiknya kesal, sepertinya itu saja sih."
"Oh begitu ya, makasih bibi."
"Sama-sama, cepat bereskan ini masih banyak belum rapi."
"Iya-iya."
Pelayan itu masih saja memandangi Alex yang menaiki tangga, sepertinya ia sedikit menyimpan perasaan dengan tuanya kali ini. Pelayan ini adalah seseorang yang pernah Alex tolong beberapa hari yang lalu. Ia hanyalah seorang gadis berumur 16 tahun yang pernah bekerja dengan seorang pria kaya raya, namun ia terus di siksa untuk kesenangan tuannya itu.
Alex bertemu dengan gadis itu ketika pulang dari kantor di tengah malam. Ia melihat seseorang mencoba membuang gadis itu ke jurang di pinggir jalan. Setelah gadis itu di lempar mereka langsung pergi. Alex mencoba melihat keadaan gadis itu, ia mencoba menuruni jurang dengan sebuah tali yang ia punya di dalam mobilnya.
Bersambung...
Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.