
"Jangan-jangan kamu hanya mengarang saja! Lagi pula kami baru mengenal beberapa hari ini, dan aku juga belum ingin berhubungan sama siapapun disini."
"Itu terserah kamu saja, tapi jangan buat temanku sedih! Awas saja kalau kamu membuatnya sedih, aku bilangin pamanku nanti."
"Hah! Apa hubungannya dengan pamanmu? Sepertinya kamu ini semakin hari tidak jelas saja?."
"Sudah-sudah nanti kita lanjutkan di apartemenku, hari semakin malam kalau kita terus mengobrol disini?."
"Oh, baiklah! Aku masih banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu?."
"Iya-iya, bawel banget sih seperti cewek saja."
Mereka terlihat berjalan menuju tempat parkiran mobil untuk segera pergi ke apartemen Silva yang baru ia beli. Alex juga masih sedikit memikirkan tentang perasaan Alena yang baru saja di katakan Silva kepadanya, ia masih belum percaya karena Alena menyukainya tanpa ia sadari sampai saat ini.
--
"Kapan kamu akan pulang ke Indonesia? Bukankah keluargamu ada di sana?."
Di perjalanan mereka terlihat satu mobil duduk bersebelahan di kursi belakang, mereka berdua menuju ke apartemen menggunakan mobil pribadi Silva dengan supir pribadinya. Silva juga sedikit mulai khawatir dengan keluarga Alex yang berada di Indonesia, ia menanyakan Alex tentang hal yang masih membuatnya penasaran sampai saat ini, mengapa Alex belum ingin pulang ke Indonesia.
"Ada hal yang masih belum aku bisa lupakan, aku juga bingung bagaimana aku harus melupakan hal ini."
Alex terlihat sedikit sedih memikirkan perasaannya yang belum hilang selama ini, ia tidak tahu harus melupakannya atau tidak, ia mulai sedikit terbuka dengan Silva yang duduk di sampingnya sambil mendengarkannya dengan serius.
"Kalau kamu ingin curhat silahkan saja, kalau aku bisa membantu aku akan sebisa mungkin untuk membantumu nanti! Jadi tenang saja, aku sebagai temanmu tidak akan mengabaikan teman yang sedang kesusahan."
"Terima kasih Silva, maafkan aku selama ini sudah sedikit jahat kepadamu waktu dulu dan sampai saat ini."
"Tidak apa-apa, kita sekarang sudah dewasa dan bisa menyikapi itu dengan kepala dingin."
"Nanti saja aku akan pulang jika pekerjaanku sudah selesai disini."
"Oh iya, aku hampir lupa memberi tahumu! 1 bulan lagi aku dan Alena akan pulang ke Indonesia, apakah kamu ingin nitip sesuatu untuk keluarga kamu?."
Silva secara tidak sadar menyentuh tangan Alex yang berada di atas paha, ia menyentuh tangan Alex dengan leluasa tanpa tahu apa yang di rasakan seorang cowok ketika tangannya di sentuh oleh seorang wanita.
Alex hanya terdiam mendengarkan perkataan Silva, ia juga sedikit merasa tidak tenang karena tangannya di pegang oleh Silva dan bahkan ia mulai merasa gugup memandangi wajah Silva yang berada di sampingnya.
"Oh maaf! Aku tidak sengaja!."
Silva tiba-tiba mulai sadar setelah melihat ekspresi Alex yang sedikit berbeda, ia baru sadar melihat wajah Alex mulai memerah ketika tangannya sedang ia pegang. Ia segera melepaskan tangannya itu dan mulai terlihat malu.
"Tidak apa-apa, lagipula kamu hanya ingin membantuku."
Alex sudah terlihat tenang, ia juga sedikit sedih memikirkan keluarganya yang selama ini ia tidak hubungi, ia juga merasa bersalah meninggalkan mereka selama ini. Namun ia hanya ingin menghilangkan perasaan yang selama ini yang membuat hatinya sakit.
"Apa kamu baik-baik saja?."
Silva sangat khawatir tentang keadaan Alex, ia tidak pernah melihat Alex sesedih itu, ia juga tidak tahu apa yang membuat Alex terlihat sangat sedih ketika membahas tentang keluarganya. Namun ia berusaha mengerti dan tidak ingin membuat Alex sedih lagi.
"Nah ini bangunannya, apartemenku ada di lantai 10."
"Wah, disini pasti orang-orang kaya semua?."
"Haha, tidak kok! Di sini sama saja."
Alex dan Silva terlihat sudah berada di pintu masuk, mereka segera memasuki bangunan untuk menuju lantai 10 ke apartemen Silva. Alex juga sedikit suka dengan suasana bangunannya yang terasa tenang, ia seperti tergoda untuk membeli salah satu apartemen juga di sana, namun ia juga sudah memiliki rumah sendiri.
Satu bulan kemudian...
Negara Indonesia.
"Apa kamu tidak apa ikut aku ke rumah?."
"Iya, lagipula orang tua aku juga sibuk! Aku ingin bertemu kakak kamu juga sudah lama aku tidak melihatnya!."
"Ya sudah kalau begitu."
Terlihat Alena dan Silva sudah berada di perjalanan untuk menuju rumah keluarga Alena. Mereka sudah berada di Indonesia untuk pulang sekali setahun, mereka liburan sekitar 1 bulan, dan mereka memutuskan liburan berada di Indonesia saja. Alena juga sudah kangen keluarga dan kakaknya.
--
"Aku pulang! Kok di rumah sepi sekali kemana mereka? Bahkan pembantu juga tidak ada?."
"Mungkin mereka sedang tidur? Coba kamu cek ke kamar?."
"Hah? Tidur jam segini mana mungkin? Hari sudah mulai sore?."
"Mungkin mereka pergi keluar beli sesuatu? Apa kamu tidak menghubungi mereka kalau mau pulang?."
Alena sudah merasa lelah dan beristirahat duduk di atas sofa di ruang tamu bersama dengan Silva, mereka hanya menunggu keluarganya datang sambil mengobrol-ngobrol tentang hubungan percintaan Alena.
"Apakah kamu sudah mengutarakan perasaan kamu kepada pak Andra?."
"Buru-buru aku mengutarakannya, melihat wajahnya saja aku sudah malu?."
"Haha..Kenapa? Nanti dia di ambil orang lain loh!."
"Tidak mungkin, pak Andra hanya untukku seorang."
"Iya-iya hanya untuk dokter Alena yang cantik."
"Hehe."
Mereka terlihat bercanda satu sama lain di ruang tamu berduaan, sambil mengobrol membahas perasaan satu sama lain. Alena juga masih sedikit bingung kemana keluarganya pergi di saat ia sudah pulang dari pekerjaannya, tidak ada satu orangpun yang menyambut kedatangannya.
"Tok..tok..Ting nong!."
Suara ketukan pintu dan suara bell rumah terdengar di ruangan tamu. Alena dan Silva sedikit terkejut mendengar suara ketukan pintu rumah dan bell itu. Alena segera pergi untuk memeriksanya siapa yang sedang berada di luar itu.
"Selamat datang kembali."
Semua keluarga Alena tiba-tiba berada di depan pintu memberikan kejutan yang tidak terduga. Alice juga memegangi sebuah kue untuk menyambut kedatangan adiknya yang sudah lama tidak bertemu. Lulu juga berada di sana untuk memberikan sedikit hadiah untuk temannya.
"Akhirnya kamu pulang juga Alena, mama sangat kangen kepadamu."
Ibunya langsung memeluk erat Alena di depan pintu kerena rasa kangen yang selama ini ia rasakan, ia jua tidak bisa menahan air matanya yang sudah lama tidak bertemu dengan salah satu putri kesayangannya.
"Hiks..hiks..Papa tidak mau memeluk Alena juga?."
"Iya-iya, papa juga ingin memeluk putri kesayangan yang sudah lama tidak bertemu."
"Hello, om dan tante!."
Silva juga ikut keluar karena mendengar sedikit keributan diluar, ia juga tidak menyangka mereka melakukan penyambutan secara diam-diam untuk Alena. Ia juga sedikit sedih melihat keluarga Alena yang sangat peduli. Sedangkan keluarganya selalu sibuk dengan pekerjaan.
"Hai! Alice dan Lulu."
"[H-hai]."
Alice dan Lulu juga sedikit terkejut karena Silva tiba-tiba sudah berada di dalam rumah, mereka mengira Alena hanya sendirian di dalam rumah. Ibu dan ayahnya Alice juga senang melihat Silva juga berada di sana, mereka segera masuk ke dalam mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Alena.
--
Beberapa jam kemudian...
"Alena bagaimana kabarmu di Amerika? Apakah kamu baik-baik saja di sana?."
"Tentu saja, sepertinya aku akan tinggal di sana lebih lama lagi nanti."
Lulu sedikit penasaran tentang keadaan Alena selama berada di luar negeri, ia sedikit menghawatirkan temannya yang kini tinggal di tempat orang yang tidak di kenal. Ia juga tahu negara bebas sedikit lumayan berbahaya jika tidak berhati-hati saat berada di sana.
"Apa yang membuatmu betah tinggal di sana? Apa jangan-jangan kamu sudah memiliki pacar di sana?."
Alice sedikit curiga dengan raut wajah bahagia yang Alena tunjukkan kepada mereka bertiga. Mereka sekarang berada di ruang tamu duduk mengobrol bersama Alice, Lulu, Alena, dan Silva. Ayah dan ibunya Alice Alena sudah pergi beristirahat karena hari sudah semakin malam.
Kebetulan Silva dan Lulu di izinkan untuk menginap di rumah Alice dan Alena. Lulu juga ingin bersama teman-temannya yang sudah lama tidak kumpul-kumpul lagi seperti jaman kuliah dulu, kali ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama teman-temannya sebelum Alena dan Silva pergi lagi.
"Bilang saja sama kakakmu itu, bukankah kamu menyukai senior kita di rumah sakit?."
"Suttt!!."
Tiba-tiba Alena menyuruh Silva untuk segera diam, ia sangat malu jika membahas hubungannya dengan seseorang yang ia sukai di tempat kerja. Alice dan Lulu juga mulai penasaran setelah melihat tingkah laku mereka yang seperti menyembunyikan sesuatu dari mereka berdua.
"Ada apa Alena? Apa yang terjadi, Apa yang kalian rahasiakan?."
"Tidak ada apa-apa kok kak! Silva hanya bercanda iya kan Silva!."
Terlihat Alena mencubit paha Silva secara diam-diam duduk di sampingnya, ia tidak mau Silva mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan perasaannya dengan Alex. Saat ini ia ingin merahasiakannya terlebih dulu, ia juga belum tahu Alex mencintainya atau tidak.
"Silva! Tolong katakan sesuatu jangan sampai aku marah kepadamu."
Alice sudah terlihat marah melihat keduanya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dengannya, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan adiknya di sana, ia khawatir takut terjadi sesuatu yang buruk dengan adik kesayangannya itu.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.