Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 34 Hubungan Pertemanan



Beberapa bulan kemudian...


"Suster, tolong ambilkan jarum."


"Baik."


Terlihat Alex sedang menjalankan sebuah operasi untuk menyelamatkan seorang pria tua yang mengalami pembuluh darah yang tersumbat. Ia berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menyelamatkan pria tua itu dengan di bantu dengan seorang dokter lainnya.


Mereka dengan begitu hati-hati mengoperasi tubuh pria tua itu dengan arahan yang di berikan Alex, mereka sangat senang arahan yang Alex pimpin begitu lancar dan mudah untuk di ikuti. Mereka sangat senang bisa memiliki pemimpin yang baik mau mengajarkan mereka.


Beberapa jam kemudian...


"Akhirnya selesai juga."


"Profesor kondisi pasien sudah membaik."


"Baguslah, aku senang mendengarnya."


"Ini semua berkat anda profesor."


"Tidak, ini semua kerja sama kita."


Mereka begitu bahagia karena bisa melaksanakan operasi tanpa ada masalah. Mereka saling memuji satu sama lain merayakan keberhasilan untuk kesekian kalinya mengoperasi seorang pasien.


Alex juga senang karena memiliki teman-teman baik di sekitarnya. Setelah operasi berhasil meraka terlihat keluar ruangan dengan wajah bahagia. Keluarga pasien juga sedikit bingung melihat mereka.


"Bagaimana dok? Keadaan ayah saya?."


"Tenanglah, ayahmu baik-baik saja. Kami akan memindahkannya keruangan perawatan untuk merawatnya lebih lanjut."


"Terima kasih dok!."


"Sama-sama, aku pamit dulu."


"Baik dok."


Alex segera meninggalkan keluarga pasien yang masih terlihat masih sangat senang. Ia juga bahagia karena bisa menggunakan keahliannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan perawatannya.


Ia juga merasa bingung dengan kekuatan yang berada dalam dirinya membuatnya tidak merasakan kelelahan setelah operasi tadi yang hampir memakan waktu yang berjam-jam tanpa istirahat sama sekali. Ia bisa dengan fokus mengoperasi pasiennya tanpa terganggu.


Semakin lama ia menyadari kekuatan yang ia miliki saat ini, dengan kekuatan itu ia dapat dengan mudah membuat semua luka yang dimiliki pasien, sembuh dengan sangat cepat, tapi tidak dengan luka yang di sebabkan dengan sengaja olehnya. Ia hanya bisa mengobati luka yang tidak ia buat dengan kesengajaan.


Jika luka yang di buatnya seperti membelah kulit atau menjahit luka yang ia buat sendiri maka luka itu tetap sembuh tapi dengan waktu yang cukup lama dari pada luka yang tidak ia buat. Luka dari pasien seperti kecelakaan, tertusuk, atau luka apapun itu maka Alex dengan mudah menyembuhkannya dengan sedikit memberikan obat luar saja, dengan sentuhan tangannya maka luka itu akan segera sembuh dengan sendirinya dengan sangat cepat.


Kekuatan lainnya juga ia dapat dalam 7 tahun ini, ia dapat mengetahui letak penyakit yang di derita pasiennya tanpa di periksa dengan alat canggih (modern). Ia hanya menggunakan matanya dengan sendirinya ia akan menemukan semua rinciannya dan beserta dengan cara mengobatinya yang langsung tersimpan di dalam otaknya.


Meskipun ia masih belum percaya dengan kekuatannya, ia tahu manfaat yang di berikan kekuatan itu sangat membantunya untuk menyembuhkan pasiennya. Ia juga senang bisa menggunakan kekuatannya dengan baik, tapi ia juga takut meskipun dengan kekuatan yang di milikinya, suatu saat nanti pasti akan menghadapi hal yang tidak bisa ia tangani seperti di kehidupannya dulu.


*****


"Hai!! Senior!."


"Oh! hai! Alena, kenapa kamu berada di luar?."


"Pekerjaanku sudah selesai, apakah operasinya tadi berjalan lancar?."


"Tentu saja, sekarang aku ingin pergi keluar untuk makan."


"Wah kebetulan aku juga mau makan malam? Bagaimana kalau kita makan bersama?."


"Boleh, tapi apakah kamu tidak lelah setelah bekerja malam ini?."


"Tidak, senior aku masih kuat hee!."


"Baiklah kalau begitu, apakah kamu bawa mobil sendiri?."


"Tidak, mobilku masih di bengkel ada apa emangnya?."


"Ya sudah, kamu ikut denganku saja."


"Makasih senior."


Alena sangat senang karena bisa bersama dengan Alex, ia tidak menyangka kerusakan mobilnya juga mendapatkan sebuah keberuntungannya yang tidak terduga. Mereka langsung berjalan ketempat parkiran mobil, sambil berjalan mereka terlihat saling mengobrol satu sama lain.


"Senior maaf sebelumnya, bagaimana hubungan kalian dengan Silva?."


"Haha..kenapa kamu bertanya? Apakah kamu cemburu?."


"Ti-tidak kok, aku hanya bertanya saja?."


Alena sedikit terlihat gugup berjalan berdampingan untuk menuju parkiran rumah sakit. Ia juga kurang berani memandangi wajah Alex, karena wajahnya mulai memerah malu.


"Dia itu hanya temanku saja, dia juga bukan tipeku jadi kamu santai saja oke."


Alex terlihat santai menjawabnya, ia juga merasa senang bisa akrab dengan Alena yang seperti adiknya sendiri, ia tidak sedikitpun tertarik dengan Alena bahkan ia hanya menganggap hubungan mereka sebatas senior dan junior di rumah sakit.


"Apa kamu mau menyetir?."


"Ti-tidak! Senior saja?."


Alena sangat terkejut karena Alex tiba-tiba menawarkannya untuk menyetir mobilnya. Ia masih malu dan merasa senang setelah mendengar penjelasan dari Alex tentang hubungannya dengan Silva. Ia terlihat senyum-senyum ketika masuk kedalam mobil.


--


Di perjalanan sebelum sampai ke tujuan. Alex sedikit penasaran dengan hubungannya dengan adik angkatnya, sudah lama sekali ia tidak mengetahui kabar dari keluarganya, ia yakin Alena pasti sering teleponan dengan teman-temannya di Indonesia.


"Apakah kamu memiliki teman atau sahabat?."


"Tentu saja, aku memiliki 2 sahabat baikku di Indonesia dan 1 kakak tercintaku."


"Kalau boleh tahu siapa nama-nama sahabatmu itu?."


Alex dengan antusias (sangat bersemangat) bertanya, karena ia sudah mengetahui sahabat Alena itu tidak lain adalah Tiara dan Lulu, ia hanya berpura-pura tidak mengetahuinya agar Alena tidak mencurigainya, ia mulai sedikit merayu-rayu Alena agar ia mau menceritakan semua kepadanya.


"Apa kamu mau berkunjung ke Indonesia suatu saat nanti?."


"Haha..tidak ada siapa-siapa juga yang aku kunjungi, kalau punya istri di sana mungkin aku punya alasan untuk pergi."


"Be-benarkah?."


"Tentu saja, masa istriku tidak di kunjungi."


"Tapi mengapa senior tidak menikah sampai saat ini, apakah belum ada yang cocok? Maaf aku sangat penasaran senior."


"Tidak apa-apa, emangnya kamu mau sama aku?."


Alex sedikit mulai bercanda dengan Alena, ia tidak tahu candaannya itu membuat Alena sangat malu. Alena tiba-tiba terdiam kaku dengan wajah yang begitu merah, ia tidak menyangka senior yang ia sukai kini menawarkan dirinya kepadanya.


"Apakah senior be-benar-benar ingin mencari istri?."


"Kenapa kamu harus malu seperti itu, kita ini sudah dewasa. Sebenarnya aku ingin punya istri tapi sekarang tidak lagi, karena aku belum menemukan yang cocok untukku."


"Begitu ya senior?."


"Iya, mungkin nanti aku menemukannya. Kalau aku memilih kamu jangan di tolak ya, hee."


"Haha..senior bisa saja."


Alena sangat senang hari ini bisa bersama dengan Alex, ia juga tidak mengetahui bahwa hari ini benar-benar hari yang sangat menyenangkan untuknya, ia tidak menyangka bahwa senior yang tidak lama ia kenal ini sudah mulai menyukainya, ia juga merasa lega cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dengan seniornya.


"Apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa dia begitu terlihat senang?."


"Alena Putriani [kesukaan 60% suka]."


"Apakah dia menyukaiku? Sepertinya dia sudah salah paham dengan perkataanku tadi. Tapi ya sudahlah aku tidak ingin membuatnya sedih, nanti juga dia akan bosan sendiri jika aku menjaga jarak dengannya."


--


"Wah, apakah senior biasanya pergi makan disini?."


Alena sangat terkejut tempat yang di tuju Alex adalah sebuah restoran yang lumayan kecil dan sederhana, ia tahu Alex adalah seorang profesor dokter yang berpenghasilan besar, ia bingung kenapa Alex memilih ketempat seperti ini di bandingkan ke tempat yang lebih mewah.


"Iya, apakah kamu tidak menyukai tempat ini?."


"Ti-tidak, di manapun senior, aku akan tetap mengikutinya kok."


Alena sedikit terlihat tidak begitu terbiasa, tempat dimana orang-orang kecil makan (rakyat kecil), ia begitu terlihat sangat berhati-hati dalam berjalan menuju tempat duduk bersama Alex, ia juga berusaha untuk beradaptasi dengan kesukaan Alex agar bisa membuatnya terkesan kepadanya.


"Halo pak! Mau pesan apa?."


"Seperti biasa saja. Kalau kamu apa Alena?."


"Aku mau seperti makanan yang kamu pilih saja."


"Baiklah, jadi buatkan 2 ya."


"Baik pak! Minumnya apa?."


"Teh anget saja, apa kamu mau samaan lagi?."


"Iya tentu."


"Tunggu sebentar ya, kami akan segera menyiapkannya."


Alena masih terlihat bingung melihat-lihat sekitarnya, ia juga sedikit gerah (berkeringat) karena ruangan itu tidak memiliki AC dan hanya memiliki kipas angin yang terpasang lumayan jauh dari tempat mereka duduk.


Ia juga sedikit merasa kurang enak melihat meja pelanggan lainnya yang begitu berantakan sedang makan tidak jauh dari tempat mereka duduk. Ia tidak tahu mengapa Alex yang begitu kaya lebih memilih makan di tempat seperti ini.


"Ada apa Alena? Mengapa kamu terlihat tidak begitu nyaman berada di sini?."


"Tidak, aku hanya kagum kamu sudah terbiasa makan di sini? Bukankah kamu bisa makan di restoran yang lebih bersih dari sini?."


"Tentu saja, tapi aku lebih suka berada di tempat dimana masyarakat kecil makan. Karena masakan seperti mereka juga membuatku sangat senang dan kebanyakan dari mereka lebih bisa menghargai orang lain dari pada di restoran besar. Mereka hanya melayani orang-orang yang berpangkat tinggi lebih dulu dari pada masyarakat rendah. Padahal masyarakat kecil lebih dulu datang, itu sangat tidak terlihat adil bagiku."


"Oh begitu ya."


Alena mencoba mengerti dari penjelasan Alex, meskipun ia tidak terlalu mengerti apa yang dari tadi Alex jelaskan kepadanya. Ia hanya tidak mau Alex tidak menyukainya jika ia berprilaku tidak sopan di tempat kesukaan Alex saat ini, ia lebih memilih bersikap baik dan mencoba menjadi seperti Alex.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.