
"Aku pulang, apa kalian sudah baik-baik saja?."
Alex sedikit terkejut melihat orang tuanya yang sudah sadarkan diri sedang duduk di atas sofa menikmati beberapa cemilan di sana. Mereka juga terlihat santai ketika melihat anaknya sudah datang.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini diluar?."
Ibunya sedikit penasaran dengan perubahan yang terjadi pada anaknya itu. Ia juga sangat ingin mengetahui semua detail keseluruhan tentang sesuatu hal yang membuat mereka mendadak menjadi orang kaya raya seperti ini.
"Tolong Alex ceritakan semuanya pada kami, dimana kamu mendapatkan semua harta ini?."
"Oh kebetulan sekali. Ibu dan ayah perkenalkan dia adalah asistenku mulai sekarang?."
"Perkenalkan nama saya Sebas asisten bos besar, eh maksudnya asisten baru tuan muda Alex."
"Ayo duduk dulu, kamu pasti sudah capek-capek kesini iyakan."
Ayahnya Alex mencoba akrab dengan pria yang terlihat hampir seumuran dengannya. Ia juga mencoba merangkul leher Sebas agar bisa mengenal satu sama lain. Sebas juga sedikit bingung kenapa mereka tampak biasa saja ketika melihatnya, padahal di kota ini tidak ada orang yang tidak mengenali Sebas sebagai pengusaha besar di kota.
"Mungkin mereka juga orang hebat, bagaimana mungkin bos besar ( Alexander yang dulu ) memilih mereka tanpa alasan apapun. Aku harus bersikap baik, jika tidak nyawaku akan berakhir."
Dengan terlihat takut Sebas mencoba sopan dengan kedua orang tua Alex saat ini. Ia juga takut kalau mereka adalah orang-orang pilihan bos besar. Sepertinya Sebas masih salah paham dengan keluarga ini, karena bos besar memberikan semua hartanya kepada keluarga Alex sekarang. Bisa di bilang Sebas belum mengetahui bos besarnya telah bereinkarnasi. Alex yang melihatnya sedikit bingung tidak biasanya Sebas menjadi sopan kepada orang yang tidak dikenalinya.
"Kita langsung ke intinya saja. Sebas tolong jelaskan semuanya kepada mereka tentang hak waris tersebut jangan ada kekurangan apapun. Sampai mereka benar-benar percaya semuanya. Oh iya jelaskan secara perlahan soalnya mereka gampang pingsan. Aku mau ke atas dulu jadi selamat berjuang."
Ia meninggalkan mereka pergi di ruangan tamu. Ia ingin beristirahat di kamarnya karena sudah seharian ia terus berolahraga. Sebas juga sudah mempersiapkan semua berkas dan surat-surat yang akan ia jelaskan kepada kedua orang tua Alex tentang harta yang akan mereka terima nanti.
Keesokan paginya...
"Uwah. Sekarang sudah jam berapa ya?."
Jam telah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Alex yang baru bangun tidur bergegas menuruni tangga melihat keadaan orang tuanya terlebih dulu. Namun hal yang tidak terduga Sebas begitu terlihat lemas dengan kantung mata yang sangat besar terlihat begitu jelas. Alex yang melihatnya langsung tertawa dengan terbahak-bahak mengejek Sebas yang dari semalam tidak tidur bertugas menjelaskan semua detail tentang semua harta yang di miliki Alex.
"Haha. Apa yang sudah terjadi kepadamu Sebas?."
"Mereka terus pingsan setelah mendengar satu anak perusahaan saja. Kita memiliki ratusan anak perusahaan? Bagaimana mereka begitu lemah mendengar ini semua. Mana pingsannya lama lagi, tapi sekarang penjelasannya sudah berakhir. Apakah aku bisa istirahat sekarang bos?."
"Baiklah. Terimakasih untuk semuanya."
Sebas langsung merasa senang melihat bos mudanya adalah orang baik, tidak seperti bos terdahulu yang selalu memarahinya bahkan mengucapkan terima kasih saja tidak pernah. Ia langsung tersenyum meninggalkan Alex dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi rasa hormatnya.
"Apa yang terjadi dengannya, kenapa ia malah senyam senyum kek gitu, mungkin otaknya sudah tidak bener. Heh..Apa aku biarkan saja mereka tidur di sofa ini ya?. Oh iya, bukankah aku ingin seorang pembantu ya? Nanti aku akan hubungi Sebas lagi untuk merekomendasikannya. Capek juga kalau merawat rumah sebesar ini kalau hanya kami bertiga."
*****
"Bukankah dia cowok kemarin? Apa ia tidak sekolah?."
"Hei kak? Apa yang membuatmu tidak mendengarkan ucapanku?."
"Uh, eh tidak apa-apa kok!!."
Terlihat Alice dan Alena berada di dalam mobil untuk pergi ke sekolah. Alice sangat terkejut ketika Alena menepuk pundaknya ketika ia tadi sedang melihat cowo yang sedang berolahraga di pinggir jalan. Alena juga bingung kenapa kakaknya tiba-tiba bengong ketika ia sedang mengajaknya bicara.
"Apa ada sesuatu diluar? Apa yang kamu lihat?."
Dengan penasaran Alena langsung bergerak cepat memeriksa keadaan di luar lewat jendela mobilnya yang sedang berjalan menuju sekolahan mereka. Alice juga sedikit merasa sakit karena Alena terus menindih pahanya.
"Eh, cepat menyingkir berat tau?."
"Enak saja, aku ini ringan loh!."
"Nyonya muda kita sudah sampai?."
Salah satu supirnya segera membukakan pintu mobil agar Alice dan Alena bisa keluar. Akhirnya mereka sampai ke sekolah SMP tempat dimana mereka bersekolah. Sekolahan ini juga lumayan besar dan banyak siswa-siswi dari berbagai kalangan baik itu orang kaya maupun orang sederhana. Mereka membuat peraturan agar semua siswa-siswi memperlakukan semuanya secara adil tidak membully satu sama lain. Intinya sekolahan ini terbaik.
"Wah Alice kamu sudah datang. Mana adik kamu apa ia langsung ke kelasnya?."
Salah satu teman kelasnya mengajaknya untuk berbicara. Ia adalah teman akrabnya yang lumayan cantik dengan wajah imut membuat cowok di kelas juga menyukainya ia bernama Tiara lebih muda dari Alice sekitar 5 bulan.
"Iya, ia langsung pergi ke kelas setelah kami sampai disini."
"Ting..ting..ting.."
Bunyi lonceng terdengar keras menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Mereka langsung bergegas masuk kelas dan duduk di kursi masing-masing sambil mengeluarkan buku-buku untuk pelajaran pertama yang akan dimulai.
*****
Di sebuah halaman rumah. Alex terus melakukan olahraganya seperti Push up, Sit up, Back up, Flexibility (kelenturan tubuh), dan lainnya. Setiap hari ia terus melakukannya agar kesehatannya terjaga dan juga olahraga ini juga bermanfaat untuk tubuh agar terhindar dari penyakit.
Beberapa hari kemudian...
"Alex apakah kamu tidak lelah terus olahraga seperti itu."
Ibunya sudah mulai sedikit khawatir melihat anaknya yang terus berolahraga tanpa istirahat seharipun. Alex juga mencoba mengangkat beban di halaman rumahnya alat-alat itu sudah ia keluarkan dari gudangnya beberapa hari yang lalu.
"Tidak, ini sama sekali tidak melelehkan malahan ini sangat menyehatkan bagi tubuh."
"Tapi setidaknya kamu istirahat dulu. Tadi ibu sudah memasak sesuatu buat kamu dan ayah. Jadi kamu nanti menyusul ya."
"Oke. Setelah Alex menyelesaikan beberapa kali lagi."
Alex dengan semangat dan juga sudah mulai bahagia memiliki sebuah keluarga yang menyayanginya. Ia sangat berterima kasih dengan kesempatan kedua ini. Ia juga berjanji untuk menjaga pemberian ini dengan nyawanya sendiri.
--
"Ayah bagaimana kabarmu? Apa kamu tidak pusing lagi?."
"Aku baik-baik saja. Mungkin ini hanya sakit kepala biasa jadi kamu tidak perlu khawatir. Cepat habiskan makanannya."
Terlihat mereka sudah sarapan di sore hari. Beberapa hari yang lalu ayahnya pingsan karena Alex memberikan sebuah buku tabungan yang isinya lumayan banyak dan membuat ayahnya pingsan tak sadarkan diri dalam beberapa hari. Ia terus merasa pusing ketika mengingat jumlah uang itu membuat Alex sangat merasa bersalah dengannya.
"Apa kalian mau pergi liburan untuk menangkan pikiran? Apa ada tempat yang kalian ingin datangi? Kalian bilang saja maka kita akan pergi ke sana bagaimana?."
Dengan semangat Alex mencoba menghibur dan membangkitkan semangat kedua orangtuanya. Ia juga berusaha membuat ayah dan ibunya kembali tersenyum lagi. Ia tidak mau melihat keluarga barunya ini tidak bahagia, ia berusaha menjadi anak yang akan membuat orang tuanya terus bahagia setiap hari. Dengan tawaran itu mereka langsung tersenyum mendengarnya, mereka langsung berunding, tempat apa yang akan pertama kali mereka akan kunjungi.
"Bagaimana kita jalan-jalan ke gunung saja. Dulu kita sering pergi ke gunung ketika Alex masih berumur 7 tahun. Sudah lama kita tidak pernah ke gunung lagi, bagaimana kalau besok kita akan berangkat ke sana?."
Ayahnya langsung menyarankan sebuah ide untuk mengingat momen dulu ketika Alex masih kecil. Alex yang mendengarnya sedikit penasaran tentang masa lalu hidup mereka apakah itu sangat menyenangkan untuk dilakukan.
"Baiklah kalau begitu kita akan berangkat besok, bagaimana menurutmu Alex apa kamu mau ikut. Kalau kamu tidak ikut maka ibu juga tidak mau?."
"Tentu saja Alex akan ikut. Kita kan keluarga aku juga mau merasakan hidup di dalam hutan bagaimana, apakah banyak hal baru di sana aku sangat menantikannya."
"Bagus, ayah akan menyiapkan barang-barang dan peralatannya nanti untuk persiapan kita selama berada di gunung. Oh iya, bagaimana kita juga akan kemping (tinggal beberapa hari) di sana sekalian?."
Ayahnya sangat bersemangat ketika membahas tentang kehidupan di alam liar. Karena waktu muda dulu mereka sering liburan kedalam hutan bersama-sama. Akibat Alex tidak tahu ia hanya berpura-pura tersenyum dengan kebahagiaan kedua orangtuanya itu.
"Semoga besok sangat menyenangkan bersama keluargaku. Aku tidak tahu bagaimana rasanya liburan bersama keluarga, aku hanyalah anak yatim piatu di panti asuhan. Bahkan aku hidup di panti sampai berumur 25 tahun setelah aku lulus kuliah kedokteran. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga."
Alex hanya terdiam melihat ayah dan ibunya sedang bercerita tentang masa lalu mereka. Tentang keseharian mereka yang sangat menyenangkan bahkan juga ada saat dimana mereka mendapatkan kesialan. Semuanya hal itu Alex dapat rasakan setelah mendengar keseruan keluarganya ini. Ia sangat menantikan liburan mereka besok, ia segera menghabiskan makanannya yang sudah hampir habis.
Bersambung...
...Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya....