Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 29 Perpisahan



"Apakah kamu benar-benar lapar?."


"Tentu saja."


"Kita mampir ke toko makanan tempatmu saja, sekalian aku ingin ketemu dengan Tiara."


"Baiklah jika itu kemauan, mu."


Terlihat Alex masih kesal memikirkan tentang pertemuannya dengan Silva, ia juga ingin pindah dari kuliah di sana karena merasa tidak enak kalau harus sekelas dengan Silva yang mulai ia benci. Lulu sangat penasaran kenapa wajah kakaknya terlihat begitu kesal sambil menyetir mobil.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?."


"Sepertinya aku harus pindah lagi kuliah."


"Hah? Kenapa? Bukankah ini satu-satunya universitas di kota kita?."


"Kalau tidak ada lagi disini aku bisa kuliah keluar negeri saja."


"Kalau kamu pergi aku akan ikut denganmu."


Lulu kali ini tidak akan melepaskan Alex lagi untuk kedua kalinya, hatinya sudah sangat yakin untuk selalu bersama dengan Alex. Ia kali ini lebih memilih Alex dari pada teman-temannya, ia merasa cintanya kepada kakak angkatnya itu sudah semakin besar.


"Bagaimana dengan teman-temanmu?."


"Aku tidak peduli lagi, aku hanya ingin bersamamu."


"Dasar adik manja."


"Lulu Ayunda [Kesukaan 88% sangat cinta]."


Alex terlihat sangat senang karena melihat hubungannya dengan Lulu semakin membaik, meskipun ia harus mengorbankan perasaan cintanya itu. Ia juga tidak mau hubungan keluarganya rusak jika ia mengatakan perasaannya kepada Lulu.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri kak?."


"Haha..Ti-tidak ada apa-apa kok."


Alex terlihat sangat malu ketika memandangi wajah Lulu, ia juga merasa bahwa adiknya kini semakin menjadi seorang wanita yang sangat cantik dari siapapun.


"Apakah kamu sudah mulai terpikat dengan wajahku yang sangat cantik ini."


"Hah!! Kata siapa? Siapa juga yang mau sama kamu yang manja, mudah marah, suka jahili orang seperti itu?."


Lulu terlihat sedih ketika mendengar perkataan Alex yang tidak menyukainya, ia tahu bahwa Alex hanya menganggapnya sebagai adiknya saja. Ia sadar cintanya hanya bertepuk sebelah tangan (cinta sepihak).


Ia juga terlihat tidak bisa menahan kesedihannya, ia sekarang terlihat menyilangkan kedua tangannya di jendela mobil dan hanya memandangi jalan untuk meredakan rasa sakit di hatinya.


Alex juga sedih karena harus berbohong kepada Lulu kalau ia tidak menyukainya, ia tahu kalau cintanya tidak akan berjalan lancar jika ia mengatakan sejujurnya. Ia juga tahu Lulu hanya mencintainya sebagai kakaknya saja.


*****


"Wah, Lulu apa ini pacarmu?."


"Aku-?."


"Dia kakakku."


Alex hanya bisa senyum karena Lulu langsung memotong omongannya ketika ingin menjawab pertanyaan dari Tiara, ia juga semakin yakin bahwa Lulu hanya menganggapnya sebagai kakaknya saja. Ia juga terlihat langsung duduk ke kursi pelanggan.


"Kakakmu sangat tampan. Kenapa kamu baru kasih tahu aku. Apakah yang lainnya juga tahu?."


"Iya, mereka juga baru saja mengetahuinya."


"Sepertinya kakakmu sudah sangat lapar."


"Iya, dia sudah lapar. Lihat saja wajahnya yang begitu sedih haha."


"Nih, pilih saja menunya. Nanti kalau sudah panggil saja aku." Ucap Tiara meninggalkan Lulu untuk pergi ke dapur.


Lulu terlihat duduk dan memberikan Alex buku menunya untuk memilih makanan yang ingin ia makan. Alex menunjuk dengan jari telunjuknya untuk memberi tahukan kepada Lulu. Ia tidak terlihat begitu mood (bersemangat) lagi untuk berbicara.


--


"Pelan-pelan makannya nanti kamu keselek."


Lulu dengan perhatian membersihkan sisa makanan yang masih menempel di pipi Alex dengan tisu, ia juga terlihat biasa saja membersihkannya. Wajah Alex terlihat mulai merah ia juga tidak menyangka kenapa Lulu tiba-tiba perhatian dengannya di saat seperti ini.


Alex terus memandangi wajah Lulu yang terus berbicara dengannya, ia hanya fokus dengan wajah dan bibirnya yang terus bergerak-gerak itu. Bahkan suara Lulu yang sedang memperhatikannya tidak begitu terdengar lagi di telinga Alex.


"Ih..apa yang kamu sedang pikirkan? Kenapa kamu tidak mendengarkanku."


Lulu terlihat kesal dan mendorong wajah Alex saat ia sedang membersihkan sisa makanannya tadi. Ia juga marah karena Alex tidak peduli dengan apa yang sedang ia katakan untuknya.


"Apa yang kamu katakan tadi?."


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepadamu? Aku sudah banyak berbicara kepadamu tapi kamu tidak mendengarkannya sama sekali."


"Maafkan aku."


"Begitulah kamu, menyelesaikannya dengan hanya minta maaf saja."


"Maaf ya. Aku tadi sedikit kepikiran sesuatu jadi tidak mendengarkan perkataanmu lagi."


"Kata-katanya tidak bisa di ulang lagi."


"Baiklah kalau begitu."


"Kamu pulang saja duluan, aku masih ingin berbicara dengan Tiara disini."


Lulu terlihat tidak sadar membuat hati Alex semakin sakit, ia tidak tahu kata-katanya tadi sudah memberikan jawaban kepada Alex bahwa ia tidak peduli sama sekali dengannya.


--


"Aku harus membuang perasaan ini. Aku harus bisa menganggap Lulu sebagai saudaraku yang sebenarnya."


Di perjalanan setelah lumayan jauh Alex berhenti di tengah jalan, ia ingin memantapkan hatinya untuk tidak menyukai Lulu lagi, ia sudah tahu bahwa Lulu benar-benar tidak peduli dengannya. Bahkan dari ucapan Lulu di dalam restoran tadi tidak terdengar sedikitpun di telinganya bahwa Lulu sedang mengkhawatirkannya.


--


"Lulu apa yang sebenarnya terjadi denganmu."


"Aku hanya kesal kepadanya karena dari tadi ia hanya bengong dan tidak mendengarkan perkataanku."


"Mungkin dia banyak pikiran, apakah ada akhir-akhir ini yang mungkin ada sesuatu mengganggunya?."


"Emmm..dia hanya kesal dengan seseorang wanita di kampus."


"Nah mungkin itu yang membuat pikirannya terganggu."


"Makasih Tiara, kamu emang teman yang terbaik."


Terlihat Tiara dan Lulu sedang mengobrol untuk bertukar pikiran satu sama lainnya. Lulu juga terlihat lebih banyak curhat kepada Tiara tentang masalah yang selama ini mengganggu pikirannya. Ia mengatakan sejujurnya tentang hubungannya dengan Alex yang hanya sebatas kakak angkat tidak ada hubungan darah sama sekali.


Ia juga mengatakan kepada Tiara bahwa ia sangat mencintai kakaknya itu, tapi kakaknya hanya menganggapnya sebagai adiknya saja. Mendengar hal itu Tiara sedikit sedih karena temannya sekarang di posisi yang sangat menyiksa. Ia tahu bahwa Lulu sangat menyukai kakaknya sangat lama dan ia juga mendengar bahwa Alex menganggap Lulu sebagai adiknya saja.


Ia hanya menyarankan Lulu untuk mencoba mengatakan perasaannya itu sejujurnya kepada Alex, untuk mengetahui sejujurnya bagaimana nanti tanggapan Alex tentang perasaannya itu. Mendengar hal itu Lulu sedikit bersemangat dan juga merasa sulit.


"Tiara, aku harus bagaimana untuk-?."


"Wah nak Lulu, dengan siapa kamu kemari?."


"Dengan kakakku om."


"Kemana bos pergi?."


"Baru saja dia pulang."


"Oh begitu ya. Maaf mengganggu waktu kalian secara tiba-tiba ya."


"Tidak apa-apa kok."


Beberapa jam sudah berlalu. Hari semakin sore tokonya hampir tutup. Lulu juga sudah terlihat ingin pulang dan ingin meminta maaf kepada Alex karena sudah bersifat egois kepadanya. Ia tahu bahwa perilakunya tadi salah dan ia sangat menyesal karena tidak memperdulikannya.


*****


"Lulu pulan-? Mah kenapa kamu terlihat begitu sedih?."


"Alex pergi dari rumah ini."


"Hah? Kenapa dia tidak bilang kepadaku."


"Kata dia tadi sudah bilang kepadamu."


"Kemana dia akan pergi mah?."


"Dia akan pergi keluar negeri untuk kuliah di sana."


"Di sana? Kemana?."


"Dia tidak mau mengatakannya."


Ibunya terlihat sedih melihat anaknya kini sudah pergi meninggalkan mereka, ia juga tidak bisa melarang Alex lagi karena itu sudah keputusannya. Ia juga mencoba mengerti sebagai seorang ibu untuk membiarkan anaknya menjalani kehidupan yang Alex pilih sendiri.


Lulu juga terlihat langsung pergi keluar untuk menyusul kepergian Alex, ia segera menyuruh sopir pribadinya untuk pergi ke bendara pesawat secepat mungkin untuk menyusul Alex di sana.


Sesampainya di bendara ia segera berlari ke meja loby untuk mencari nama Alex di sana, kemana tujuan Alex dan kapan keberangkatannya. Namun pihak petugas berulang kali mengatakan bahwa nama yang sedang di cari Lulu tidak ada dalam daftar manapun.


Ia begitu bingung bendara pesawat mana lagi selain ini. Ia kembali berlari ke mobilnya untuk mengajak supir pribadinya mencari bendara pesawat selain di kota ini.


--


"Semoga perjalanan anda menyenangkan tuan Alexius Chandrawinata."


Alex sudah tahu bahwa suatu saat nanti keluarganya pasti akan mencari namanya di bendara ini, ia terpaksa mengubah namanya untuk menipu mereka. Ia sudah membulatkan tekad untuk melupakan perasaannya ini dan fokus menekuni cita-citanya lagi menjadi dokter.


Terlihat Lulu berpapasan dengan Alex yang sudah selesai registrasi di meja loby. Mereka saling tidak menyadari satu sama lain karena Alex memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya.


"Mbak tolong cari nama ini."


"Maaf mbak. Nama yang anda cari tidak ada di bendara kami ini."


"Tolong periksa sekali lagi."


Lulu merasa bingung kemana lagi ia harus mencari Alex, ia tidak tahu kemana Alex pergi meninggalkannya padahal ia sudah ingin mengatakan perasaannya ini sejujurnya tapi kini Alex sudah pergi dengan hati yang sedikit kecewa.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.