
Gadis itu terlihat penuh luka mulut dan kakinya juga di ikat sangat kencang. Alex mencoba melepaskan ikatannya ia juga memeriksa keadaan gadis itu. Alex sedikit khawatir setelah memeriksa denyut nadinya yang sudah mulai melemah kemungkinan gadis ini tidak akan bertahan lama lagi. Ia segera mengikat gadis itu di belakangnya agar bisa menaiki jurang itu lagi.
Ia juga sedikit mulai lelah setelah berusaha menaiki jurang yang lumayan tinggi bersamaan dengan membawa seorang gadis yang masih tidak sadarkan diri yang di ikat di belakangnya. Ia terus berusaha agar bisa menyelamatkan gadis ini meskipun kecil harapannya nanti. Setelah Alex berhasil naik ia masih terlihat terengah-engah untuk mengambil nafas terlebih dulu.
"Semoga kamu baik-baik saja."
Sedikit menambah kecepatan mobilnya ia berusaha membawa gadis itu untuk pergi ke rumah sakit terdekat, ia juga terlihat khawatir karena kejadian ini sedikit mengingatkannya tentang kegagalannya dulu saat menjalani operasi untuk menyelamatkan seorang gadis, keadaannya persis seperti keadaan gadis yang di bawanya kali ini.
--
"Dok tolong, keadaannya sudah memburuk."
Alex terlihat menggendong gadis itu masuk kedalam rumah sakit sambil berteriak-teriak memanggil dokter di sana. Akibat jam yang sudah pukul 12.00 malam, dokter di sana sedang beristirahat di ruangan masing-masing, kemungkinan perlu waktu untuk mereka pergi untuk memeriksa keadaan gadis yang di bawahnya itu.
"Tolong ikuti saya untuk membawanya keruangan."
Seorang suster mencoba mengarahkan Alex untuk membawa gadis itu keruangan untuk menunggu dokter datang. Alex yang merasa kasian karena tidak akan bisa gadis ini menunggu lebih lama lagi. Jadi ia mencoba mengobati gadis itu sendiri.
"Apa yang kamu lakukan?."
"Aku hanya membantu gadis ini."
"Sebentar lagi dokter akan datang?."
"Dia tidak akan bisa menunggu dokter itu?."
"Apa kamu pernah melakukannya?."
"Tentu saja, nanti aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan mbak suster."
Alex terlihat memasangkan alat bantu pernapasan untuk gadis itu, ia juga menginfus gadis itu dengan sangat lancar. Suster yang melihatnya sangat kagum bahkan dokter disini tidak pernah terlihat seperti yang Alex lakukan saat ini, ia begitu mahir menggunakan alat-alat yang ada diruang itu.
Beberapa menit kemudian...
"Semua lukanya sudah aku obati, detak jantungnya juga sudah mulai normal."
"Ah, untungnya kamu berhasil. Jika tidak aku bisa dalam bahaya."
"Tenang saja aku akan mengurus semuanya jika terjadi sesuatu terjadi padamu."
Alex sangat terlihat begitu senang karena kemampuannya tidak hilang sama sekali, ia juga sedikit khawatir karena sudah berani menggunakan alat-alat rumah sakit tanpa izin dari pihak rumah sakit. Tidak berselang lama dokter di sana akhirnya datang, ia sangat terkejut karena melihat keadaan pasien itu sudah di tangani dengan sangat rapi.
"Dokter mana yang sudah menangani pasien ini?, Kalau begitu aku akan kembali keruanganku."
"Dokter, tolong periksa dulu keadaannya."
"Baiklah."
"Bagaimana dok?."
"Semuanya baik-baik saja, perawatan ini sangat hebat dan sangat detail bahkan ini seperti dilakukan oleh ahli."
"Makasih dok."
Dokter itu segera pergi setelah memeriksa keadaan pasien, ia sangat kagum dengan dokter yang sudah merawat pasien itu, ia juga memuji-muji pekerjaannya. Suster di sana tidak bisa berbicara sama sekali ia sangat ketakutan jika ketahuan bahwa tidak melarang Alex menggunakan alat-alat rumah sakit itu, ia juga sangat bingung pekerjaan yang Alex lakukan tadi di puji oleh dokter itu.
"Suster kamu bisa kembali keruanganmu, jika terjadi sesuatu kepadamu, kamu bisa hubungi aku sesegera mungkin, aku akan bertanggungjawab sepenuhnya."
"Baik."
Terlihat Alex memberikan kartu namanya agar suster itu lebih terlihat tenang. Suster itu segera pergi meninggalkan Alex yang masih di ruangan. Alex juga tidak lupa memberi kabar kepada orang tuanya karena tidak bisa pulang dulu, ia beralasan ada hal penting yang masih ia selesaikan.
Keesokan paginya...
"Siapa lelaki ini?, Mengapa dia tidur disini?, Dimana aku?."
Gadis itu sudah terbangun bahkan itu masih sangat pagi, ia juga sedikit bingung dengan ruangan yang tidak tampak asing baginya, ia juga terkejut melihat Alex yang masih tertidur di samping tempat tidurnya dengan keadaan masih duduk di atas kursi.
"Heii..kamu! Cepat bangun?."
Gadis itu berusaha membangun Alex dengan mendorong-dorong pundaknya berulang kali. Alex sangat terkejut sampai-sampai ia terjatuh dari kursinya.
"Aduh, kamu bisa pelan-pelan mendorongnya tidak apa kamu- hah? Kamu sudah bangun??."
Alex sangat terkejut melihat gadis itu sudah terbangun, ia mengetahui luka yang di deritanya begitu parah kenapa bisa-bisanya gadis itu terlihat begitu sehat apa yang sudah terjadi kepadanya. Alex juga segera memeriksa luka-luka di tubuh gadis itu tanpa sadar, semua itu ia lakukan hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Eh-eh Ap-apa yang ka-kamu lakukan dengan menyentuh tubu-h-ku?."
Gadis itu terlihat sangat malu karena Alex yang dari tadi terus menyentuh tubuhnya hanya untuk memeriksa luka-luka yang kemarin malam ia obati. Alex sangat terkejut melihat luka yang begitu besar kini sudah mulai sedikit sembuh, ia juga bingung kenapa penyembuhannya begitu sangat cepat apa yang sudah terjadi sebelumnya.
"Eh lepaskan aku!!."
Dengan sekuat tenaga gadis itu kembali mendorong Alex dengan sangat keras karena terus menyentuh tubuhnya begitu leluasa tanpa izin sama sekali. Ia sangat malu lelaki yang tidak di kenalnya begitu tidak tahu malu melakukan hal mesum di rumah sakit.
Gadis itu sangat kesal setelah mendorong Alex ke lantai, wajahnya juga memerah karena malu karena Alex sudah menyentuh tubuhnya. Ia juga baru kali ini melihat lelaki yang tidak tahu malu melakukan hal mesum ini bahkan itu di rumah sakit.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mengontrolnya."
"Dasar laki-laki, itu alasan setelah menyentuhku begitu lama."
Wajah Alex juga sedikit malu karena baru sadar bahwa tangannya tadi sudah menyentuh seluruh tubuh gadis itu dengan sangat bebas, ia juga terlihat terus memandangi tangannya yang begitu beruntung.
"Dasar kamu!!."
"Aduh!."
Bantal itu langsung melayang ke wajahnya Alex. Gadis itu melemparnya setelah melihat wajah Alex yang begitu nafsu sedang memandangi tangannya yang sudah menyentuh tubuhnya tadi.
"Tunggu sebentar, apakah kamu yang sudah membawaku ke rumah sakit?."
"Iya, kamu kemarin malam di buang oleh seseorang ke jurang."
"Hah? Bukan kah aku hanya berada di gudang?."
"Hah? Gudang?."
"Iya, aku di kurung dan aku pingsan."
Setelah mendengarnya Alex berusaha menjelaskan semua yang telah ia lakukan tadi malam untuk menyelamatkannya yang hampir mati itu. Gadis ini bernama Rika umurnya 15 tahun lebih muda 1 tahun dari Lulu, ia sangat terkejut setelah mendengar cerita dari Alex, ia masih tidak percaya kenapa ia dibuang ke jurang.
Alex juga sedikit sedih karena mendengar cerita dari Rika saat menjadi seorang pelayan dari anak pengusaha yang sedikit nakal terhadap semua pelayannya. Anak bosnya itu baru saja berumur 6 tahun namun dengan terus di manja membuat ia sangat bahagia dan bebas melakukan hal yang ia inginkan.
--
"Hari ini, kita periksa dulu keadaannya?."
Seorang dokter baru saja masuk keruangan itu, ia juga sedikit terkejut bukan kah dari laporan, pasien mengalami luka yang sedikit serius. Tapi tidak dengan apa yang ia lihat sendiri semuanya tampak biasa saja. Setelah pemeriksaan menyeluruh ia dinyatakan sembuh total dan di izinkan untuk pulang hari ini.
Alex juga sedikit masih bingung kenapa luka Rika begitu cepat sembuhnya bukankah lukanya lumayan parah, perkiraan Alex bisa memakan waktu 1 minggu lebih untuk pemulihan total. Tapi harapannya sangat berbeda dengan apa sudah terjadi. Alex juga sedikit teringat dengan kejadiannya waktu dulu saat ia mengobati luka dari seorang bocah yang jatuh dari sepeda.
Rika terlihat sedih karena kemana lagi ia akan tinggal, karena sudah di buang jadi tidak mungkin ia akan kembali lagi ke sana. Alex yang melihatnya sedikit bingung apa yang sedang dipikirkan Rika jadi terlihat seperti itu.
"Apa kamu baik-baik saja?."
"Kalau pulang, kemana aku harus pergi? Bukankah aku sudah dibuang."
"Bagaimana kamu pergi ke rumahku saja?."
"Tapi aku masih 15 tahun, tidak boleh dulu melakukan hal itu, tunggu aku lebih dewasa lagi."
"Hah??."
Alex dan dokter di sana terlihat bingung setelah mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Rika. Ia mungkin sedang salah paham dengan ajakan Alex untuk membawanya ke rumah. Kemungkinannya karena Alex tadi sudah begitu berani menyentuh tubuhnya jadi ia memandang Alex begitu menyukai tubuhnya itu.
"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan tentangku?."
"Bukankah kamu begitu tidak sabar dengan tubuhku ini?."
Dengan santainya Rika menjawab ucapan Alex, ia juga terlihat malu sambil memegangi buah dadanya itu. Ia juga malu karena Alex begitu tidak sabaran untuk membawanya ke rumah.
"Hah??."
"Dokter pamit dulu, masih ada pasien yang harus di urus ."
Dokter itu segera pamit melihat pasangan muda yang begitu agresif tanpa peduli dengan orang dewasa di dekatnya. Ia juga sedikit malu melihat Rika yang begitu tidak tahu malu menunjukkan kelebihannya.
"Apa yang sedang gadis ini pikirkan tentangku?."
Alex sedikit bingung memikirkan tentang apa yang sedang gadis ini maksud dengan menyentuh buah dadanya itu tanpa malu sama sekali. Ia juga terlihat malu-malu menampilkan kelebihannya itu kepada Alex.
"Sudah-sudah mungkin hanya salah paham, aku mengajakmu ke rumah bukan melakukan hal yang sedang kamu pikirkan itu, aku ingin mengajak kamu menjadi pelayan di rumahku bagaimana?."
"Apa kamu tidak tertarik dengan tubuhku ini."
"Sangat tertarik, eh maksudnya bukan begitu. Aku ini laki-laki wajar itu sangat normal tapi kita- heh? Apa yang sedang aku pikirkan sih."
"Pokoknya apa kamu mau atau tidak jadi pelayan di rumahku."
"Kalau itu tidak merepotkan, tolong jaga aku sebagai pelayanmu mulai saat ini."
Akhirnya pembicaraan mereka selesai. Alex juga sudah menyelesaikan pembayaran rumah sakitnya dan mereka juga sudah terlihat memasuki mobil untuk segera pergi kekediaman Alex. Rika juga sedikit masih malu karena ia juga tidak punya pilihan lain karena ia tidak punya tempat tinggal lagi.
Bersambung...
Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.