
"Sebas tolong jaga rumah ya?, Jangan lupa tolong carikan beberapa pembantu untuk merawat rumah nanti."
"Baik, semoga liburan kalian menyenangkan."
Keluarga Alex sudah memasuki hutan untuk melakukan hal yang sangat menyenangkan. Mungkin karena ini adalah kebiasaan dulu membuat mereka tidak takut sama sekali memasuki hutan dengan hanya mereka bertiga saja. Alex sedikit gugup karena baru pertama kali ia liburan kedalam hutan, biasanya ia liburan hanya ke pantai atau keluar negeri.
"Kita akan membangun tenda di mana?."
Alex dengan penasaran menanyakan tempat dimana mereka akan membangun sebuah tempat berteduh atau tempat menetap di dalam hutan. Ayah dan ibunya hanya terlihat menahan tawa karena baru juga masuk hutan sudah mikirin tempat menetap.
"Sayang. Bukankah ini masih terlalu dekat dengan pemukiman, kita harus berada jauh dari pemukiman dulu. Sambil berjalan masuk ada baiknya kita menandai jalan dulu agar kita pulang nantinya tidak salah arah. Alex tolong kamu tandai pohon-pohon di sekitar sini dengan pisau ini."
"Baik bu, serahkan semuanya kepada Alex."
Dengan penuh kegembiraan mereka menyelusuri kedalaman hutan, banyak hal baru yang Alex rasakan. Ia juga sangat merasa kehidupan di alam liar lebih seru dari pada kehidupan di kota. Alex juga banyak menemukan hal-hal baru yang tidak pernah ia alami selama masa hidupnya bertemu dengan beberapa hewan liar yang tidak berbahaya seperti burung, rusa, monyet, kadal dan masih banyak lainnya.
Beberapa jam kemudian...
"Kita harus istirahat sebentar, perjalanan kita masih jauh."
Ayahnya yang merasa sedikit kelelahan berusaha memerintahkan mereka untuk beristirahat terlebih dulu agar stamina mereka kembali lagi. Mereka memilih tempat dimana tempatnya berada tidak jauh dari sungai kecil yang dangkal dan airnya juga sangat terlihat jernih.
"Tolong Alex kamu cari beberapa ranting pohon yang sudah jatuh untuk di jadikan bahan bakar kita nanti. Ingat jangan memotong pohon yang masih hidup ya?."
"Kenapa yah? Apa itu di larang?."
"Tidak, tapi lebih baik kita juga menjaga lingkungan agar tidak merusaknya."
"Oh begitu. Baiklah Alex akan segera pergi untuk mencari kayu bakarnya."
Alex langsung berjalan menjauh dari tempat peristirahatan mereka, ia berusaha mengumpulkan beberapa ranting kecil yang sudah berjatuhan di tanah. Dengan senangnya Alex menikmati semuanya itu namun Alex lumayan sedikit takut karena bisa saja ia akan bertemu dengan hewan buas di dalam hutan ini.
Alex tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah berjalan terlalu jauh dari tempat kedua orang tuanya. Ia juga sedikit bingung ke arah mana ia berjalan ini, namun dengan sedikit ingatannya ia mengingat tempat itu berdekatan dengan sebuah sungai. Ia mencoba mendengarkan suara air mengalir dengan menyentuhkan telinganya di atas tanah.
Setelah lama akhirnya Alex menyadari sungai itu tidak terlalu jauh darinya. Ia langsung berjalan untuk menyelusuri suara aliran sungai itu. Dengan tekad keberanian untuk mencoba akhirnya ia berhasil menemukan sungai itu namun ia tidak menemukan ayah dan ibunya. Mungkin ia berada di tempat yang lain.
Dengan sedikit kepercayaan ia menyelusuri arus itu untuk mencoba mencari keberadaan ayah dan ibunya. Ia terus berjalan mengitari aliran sungai itu sambil melihat arah kedalam hutan. Tiba-tiba Alex terdiam melihat sesuatu yang janggal di aliran sungai. Ia menemukan seorang yang terlihat seperti gadis kecil dengan keadaan tengkurap di pinggir sungai. Ia langsung segera mencoba melihatnya apakah dia masih hidup atau tidak.
"Apa dia baik-baik saja?."
Alex segera memeriksa denyut nadinya dan juga memeriksa detak jantung gadis itu. Beruntungnya gadis itu masih hidup Alex segera menekan-nekan dadanya untuk mengeluarkan air yang mungkin sudah masuk di tubuhnya. Tidak berhenti di sana Alex juga memberikan nafas buatan agar membuat gadis itu lebih cepat bangun.
"Hugh!!."
Tiba-tiba gadis itu langsung memuntahkan air sungai yang sudah masuk kedalam tubuhnya itu. Dengan sedikit lemas ia terus memandangi Alex dengan sedikit merasa takut namun akibat tubuh yang di penuhi dengan luka seperti terbentur dengan sesuatu yang keras membuat ia harus pingsan lagi.
"Alex..dimana kamu??."
"Apa kamu baik-baik saja?."
Dengan sedikit tersenyum Alex akhirnya bisa mendengar suara ayah dan ibunya yang sudah mencarinya. Alex berusaha menggendong gadis itu untuk membawanya ketempat ayah dan ibunya itu berada. Ia hanya tersenyum melihat wajah gadis itu yang beruntung masih bisa hidup.
"Alex kamu dimana saja, apa kamu tadi tersesat?."
"Oh siapa yang kamu gendong itu?."
"Alex kita harus pindah dari tempat ini, hari sudah mulai sore. Kita harus menjauhi tempat ini, malam hari sangat berbahaya jika kita berada di dekat sungai semua hewan akan minum saat malam hari tiba. Apa lagi kita mempunyai seorang gadis yang masih pingsan."
"Benar kata ayahmu itu. Secepatnya kita harus mencari tempat aman agar terhindar dari bahaya."
Mendengar semua itu Alex sedikit takut karena kurangnya pengalaman ia tidak tahu larangan-larangan untuk tinggal di dalam hutan. Ia langsung membantu ayah dan ibunya membereskan tempat itu untuk berjalan lagi kedalam hutan sambil menggendong gadis itu yang masih pingsan.
Beberapa jam kemudian. Mereka mendirikan tendanya di tengah hutan dengan di sekitar mereka banyak pohon-pohon tinggi agar memudahkan mereka jika terjadi sesuatu yang tidak di sangka-sangka. Ayah dan ibunya adalah seseorang yang memiliki pengalaman beberapa tahun hidup di alam liar, jika belum memiliki pengalaman sama sekali jangan berani-berani untuk tinggal di hutan tanpa ada persiapan.
Hari semakin gelap mereka juga sedikit menyalakan api di sekitar wilayah mereka agar membuat hewan buas sedikit takut untuk mendekat. Tanpa di sadari gadis itu juga terbangun saat mereka membuat sarapan di malam hari. Gadis itu terlihat sangat ketakutan berdiri di dekat tenda, ia juga tidak berani kabur karena di sekitarnya hanya di penuhi dengan kegelapan.
"Apa kamu sudah bangun?."
Ibunya Alex mencoba mendekati gadis itu yang terlihat gemetaran memandangi mereka. Ibunya Alex juga memberikan sebuah selimut kepadanya karena takut gadis itu kedinginan. Gadis itu sedikit tenang melihat kebaikan ibunya Alex, ia juga terlihat berjalan mendekati api unggun yang mereka buat untuk memanggang atau membakar beberapa daging ayam yang sudah mereka bawa dari rumah.
"Apa kamu lapar? Ini makanlah."
Dengan cepat gadis itu memakan semua daging yang telah di berikan ayahnya Alex. Ia sangat terlihat masih lapar setelah memakan semua daging yang di bakar mereka itu. Untungnya mereka juga sudah membawa daging yang sangat banyak.
"Lebih baik kamu juga memakannya pakai nasi ini?."
Alex yang melihatnya sedikit kesal karena telah menghabiskan daging yang susah payah ia bakar bersama ayahnya. Gadis itu sedikit terkejut melihat wajah Alex, ia langsung berdiri menjauh dan berlindung di belakang ibunya Alex.
"Hah? Apa yang sudah aku lakukan kepadamu?."
Wajah Alex terlihat sangat kebingungan karena gadis itu langsung menjauh darinya. Ia juga terlihat kesal bukannya mengucapkan terima kasih malah kabur begitu saja setelah memakan semua dagingnya itu.
"Dia telah menciumku!!."
"Hah? Apa?."
Semuanya langsung terkejut setelah mendengar ucapan gadis itu. Ayah dan ibunya langsung memandang Alex dengan penuh kecurigaan tentang apa yang sudah di lakukan Alex kepada gadis ini.
"Eh..bukan seperti itu, aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong percayalah."
Alex langsung mencoba menjelaskan situasinya saat itu. Ia tidak mau ke salah pahaman ini terus berlanjut karena itu bisa membuat namanya menjadi jelek.
"Dia sangat menikmati mencium bibirku!."
Ayah dan ibunya sudah terlihat tidak sabaran ingin memukul anaknya yang sudah berani nakal dengan seorang gadis kecil yang mungkin masih di bawah umur. Alex langsung kesal karena gadis itu sepertinya sudah merencanakan semuanya ini agar membuat ia menjadi pelakunya.
"Ibu ayah ini hanya salah paham. Alex hanya memberikan nafas buatan saja untuk memberikan pertolongan pertama untuk dia. Itu saja kok tidak ada hal lebih, beneran sumpah."
Rasa takut Alex langsung keluar dan ia berusaha berkata sejujurnya ketika pertama kali menemukan gadis itu. Ia hanya berusaha membantu gadis itu tidak ada memiliki niat jahat. Dengan penjelasan itu ayah dan ibunya sedikit tenang karena hal yang mereka takutkan itu tidak terjadi. Mereka tidak mau anaknya menjadi seorang penjahat yang tidak bertanggungjawab.
"Sialan gadis ini, sepertinya dia sadar saat aku memberikan nafas buatan itu. Kalau sadar kenapa dia tidak bangun saja, apa dia sengaja menunggu untuk aku cium. Sialan."
Alex terus memandangi gadis itu dengan penuh kecurigaan karena sudah berani membuat ia masuk kedalam suasana yang sulit. Gadis itu sedikit melirik Alex dengan tersenyum. Saat itu Alex sudah membakar daging itu lagi dan berusaha untuk tidak mendekati atau membuat kontak mata kepada gadis yang sudah memfitnahnya.
Bersambung...
...Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya....