
"Terima kasih nyonya dan tuan atas bantuannya."
Bibi selaku ketua sangat senang dengan pemberian sumbangan yang lumayan banyak dari keluarga Alex untuk panti asuhan. Alex juga berkeinginan merenovasi bangunan ini agar lebih layak untuk di tinggali. Setelah itu keluarga Alex meninggalkan panti bersama Lulu yang sudah sah menjadi anak angkat mereka.
"Sebas kita akan mampir ke toko baju dulu, untuk memilih beberapa pakaian untuk Lulu pakai nanti."
"Baik nyonya."
Mobil yang perlahan menjauh dari panti membuat Lulu sedikit sedih karena banyak kenangan yang sudah ia habiskan bersama dengan semua adik-adik dan bibi panti di tempat itu. Alex yang melihatnya sangat memahami apa yang sudah dirasakan oleh Lulu saat ini. Ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya memberikan sebuah tisu untuknya agar lebih tenang.
"Om dan tante akan terus menjagamu dengan baik mulai sekarang, jadi kamu tidak perlu merasa sedih lagi, sekarang kita adalah keluarga."
Sedikit bujukan ibunya Alex membuat Lulu dan yang lainnya terlihat sangat senang sebuah kebahagiaan kini hadir di kehidupan Alex yang tidak pernah ia rasakan. Mungkin dengan kesempatan ini ia memikirkan bahwa ini adalah sebuah pemberian dari tuhan untuk membalas kebaikannya kepada orang-orang yang sudah ia rawat dan obati selama hidupnya dulu.
"Apa boleh aku memanggil kalian papa dan mama?."
"Tentu saja, kami akan senang mendengarnya iyakan yah?."
"Benar itu, jangan sungkan panggil aku papa ya."
"Makasih om dan tante. Eh maksudnya makasih papa dan mama."
Obrolan kecil di dalam mobil membuat mereka sedikit bisa merasakan kebahagiaan. Namun tidak dengan Alex, ia masih sedikit curiga dengan Lulu, takutnya nanti ia mau berbuat jahat dengan keluarganya ini. Lulu yang menyadari Alex sedang mencuri-curi pandang dengannya ia hanya membalas sedikit tersenyum kepada kakak barunya itu.
"Hmph.."
Alex terlihat kesal setiap kali melihat Lulu terus tersenyum jika ia mencoba memandanginya. Ia langsung segera memalingkan wajahnya ke depan untuk menghindari kontak mata dengan Lulu.
--
"Kita sudah sampai di toko baju."
"Hah? Bukankah ini salah satu cabang kita?."
Alex langsung menyadari salah satu cabang penghasilannya. Namun Sebas hanya tersenyum melihatnya yang sedang kebingungan. Ia tetap keluar dan membukakan pintu-pintu mobil untuk kedua orang tuanya Alex.
"Selamat datang tuan dan nyonya silahkan pilih yang mana kalian suka?."
Beberapa pelayan di sana dengan cepat menyambut kedatangan mereka. Bahkan di toko tidak ada sama sekali pelanggan yang masuk. Karena Sebas sudah mempersiapkan ini semua hanya untuk keluarga Alex agar bisa menikmati berbelanja dengan aman dan nyaman.
"Wah mantap kamu Sebas."
Alex yang baru menyadari tentang pikiran Sebas yang begitu cemerlang (cerdas). Ia sangat kagum kenapa Sebas begitu banyak berubah saat ia sudah meninggal. Padahal waktu dulu Sebas begitu dingin kepadanya berbicarapun sangat jarang.
"Sebas bagaimana perasaanmu ketika mendengar bos besar meninggal?."
"Dulu kami sangat panik. Tapi untungnya masalah itu dapat kami selesaikan."
"Apa yang sudah terjadi dengan bos besar."
"Alex kenapa kamu tidak kemari juga? Bukankah kalian yang menyarankan kami untuk pergi belanja."
"Oh nanti saja, aku ada urusan bersama Sebas. Kalian nikmati saja waktu selama disini."
Terlihat Alex berusaha mengajak Sebas untuk berbicara secara pribadi. Ia mengajak Sebas berbicara menjauhi keluarganya. Sebas berusaha menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan bos besar ketika malam itu.
"Semuanya bermula 5 tahun yang lalu-."
"Hah? 5 tahun yang lalu?."
"Iya, kecelakaan itu sudah 5 tahun lamanya. Apa kamu tidak tahu sebagai hak waris?."
Alex langsung kaget ketika mendengar bahwa kecelakaannya waktu itu sudah berlangsung lama. Padahal pertama kalinya ia terbangun di tubuh bocah ini seperti baru beberapa hari saja. Ia sedikit bingung karena perasaan reinkarnasinya itu seperti baru saja terjadi.
"Siapa pelakunya yang sudah membuat bos besar itu kecelakaan."
"Dia adalah salah satu dokter di rumah sakit itu juga- tapi tenang saja dia sudah di bunuh oleh kami, jadi dendam bos besar sudah terbalaskan."
"Siapa namanya?."
"Zecky Renald."
"Apa? Kenapa Zeck melakukan ini kepadaku. Padahal kita satu panti bahkan rumah sakitpun sama, kenapa ia tega merencanakan ini semua."
Alex sedikit termenung karena merasa tidak percaya bahwa yang sudah membunuhnya itu teman masa kecilnya di dalam panti. Meskipun ia juga akhirnya mati rasa kekecewaannya masih ada tersisa untuk Zeck.
"Tuan Alex. Kenapa kamu bengong?."
"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku tidak menyangka bahwa tuan Zack adalah teman kecilnya dulukan."
"Aku juga tidak mengerti, tapi dari informasi yang kami dapat dulu. Zack sangat iri dengan popularitas yang didapatkan oleh bos besar waktu itu."
"Alex, cepat pilih pakaian buat kamu. Kalian mengapa berada di pojokan sana?."
"Iya mah, Alex akan segera ke sana. Sebas makasih tentang informasinya, lain kali ceritakan lagi?."
Alex segera pergi meninggalkan Sebas di pojokan dekat pintu toko. Ia juga masih terlihat memikirkan tentang kecelakaannya dulu karena kejadian itu sudah terjadi 5 tahun lamanya. Sebas hanya terlihat sedih karena mengingat bos besar yang selama ini terus bersama dengannya saat muda, ia sangat setia dengan bos besarnya tapi ia sudah meninggalkan Sebas sendiri untuk selamanya dan ia akan berjanji untuk menjaga bos muda yang sudah di percayakan oleh bos besar saat ini, ia akan berusaha menjaga dan melindungi apapun yang terjadi dengan nyawanya sendiri.
--
"papa mama apakah ini sudah terlihat bagus di badan Alex?."
"Wah Lulu kamu sangat cantik sekali. Itu terlihat bagus ketika kamu memakainya."
"Terima kasih."
"Bukankah aku anak kalian?. Kenapa dia yang baru datang malahan dimanjakan."
Dengan wajah datar Alex merasa kecewa karena sudah di cuekin oleh orang tuanya sendiri. Bahkan ia tidak di perhatikan sama sekali setelah memakai beberapa pakaian baru. Mereka malahan memuji dan memanjakan Lulu yang bukan anak kandung mereka sama sekali.
"Kamu itu harus mengalah jadi kakak? Itu saja marah gimana bisa jadi kakak yang baik buat Lulu."
"Hah? Kok aku yang salah mah. Apa kalian tidak menyayangi aku yang tampan ini?."
"Sudah-sudah Alex kamu jangan sedih dulu, saat ini ibumu masih sedang menikmati bersama anak perempuannya. Waktu saat dia awal hamil juga ingin seorang anak perempuan tapi malahan yang keluar laki-laki."
"Jadi ceritanya aku ini anak yang tidak diharapkan kalian begitu ya?."
Dengan sedikit kesal Alex mendengar perkataan ayahnya yang bukan menenangkannya malah menambah beban pikirannya.
"Hehe..bukan gitu kok, kamu itu anak keberuntungan kami."
"Iya-iya sangat beruntung sekali."
Alex langsung berjalan keluar toko karena hatinya sedikit merasa sedih, ia juga tidak tahu tentang perasaan yang baru saja ia rasakan setelah orang tuanya tidak tertarik lagi dengannya.
"Maaf pah. Tolong bilangin mama nanti, aku pulang duluan."
Sedikit memalingkan wajahnya ia langsung pergi keluar toko dengan kekecewaan yang baru saja ia rasakan saat itu. Ayahnya yang merasa bersalah langsung berusaha mengejar Alex namun tidak sempat karena ia sudah pergi dengan sebuah taksi yang baru saja ia naiki.
"Maafkan papa Alex, aku sudah berbicara yang tidak boleh dikatakan seorang ayah."
Terlihat wajah yang penuh dengan penyesalan kepada anaknya sendiri. Ia terus memandangi mobil taksi yang Alex naiki tadi. Ia juga langsung berjongkok didepan pintu masuk toko karena kesalahannya itu sudah membuat anaknya sendiri sedih.
"Sayang, dimana Alex?."
Wajah yang begitu ceria menanyakan anaknya yang sudah pergi setelah tidak di pedulikan. Ibunya terus tersenyum sambil memegangi beberapa pakaian wanita di luar pintu toko.
"Ia sudah pergi pulang duluan. Sepertinya kita sudah membuat ia sedih karena sudah tidak peduli dengannya."
"(....)."
Ibunya langsung terdiam ketika mengetahui Alex sudah meninggalkan mereka, ia sangat merasa menyesal karena sudah membuat anak kandungnya sedih karena ulahnya sendiri.
"Cepat kita pulang juga. Kita tidak boleh lagi berada disini."
Ibunya dengan panik langsung mengembalikan semua pakaian yang ada di tangannya. Mereka langsung terlihat sangat terburu-buru membereskan pakaian yang sudah mereka ambil. Sebas yang masih berada di ruangan itu di tarik paksa oleh ibunya Alex untuk segera pulang dari sini.
"Pelan-pelan nyonya. Apa yang sudah terjadi sebenarnya?."
"Kamu tidak perlu tahu. Kita langsung pulang saja."
"Bagaimana dengan pakaian yang kamu beli sayang?."
"Nanti kita urus lagi. Urusan ini lebih penting dari pakaian. Cepat Sebas jangan menunda-nunda lagi."
"Baik nyonya."
--
Mereka langsung bergegas memasuki mobil. Ibunya Alex terus-menerus menyuruh Sebas agar segera pulang. Baju Sebas terus ditarik-tarik olehnya karena sangat lambat membawa mobil dikarenakan jalanan yang sedikit macet.
"Tolong sabar nyonya. Ini jalannya sedang macet kita tidak bisa menerobos begitu saja."
"Apa tidak ada jalan lain?."
"Sayang kamu harus tetap tenang. Sebas sudah berusaha kamu harus bisa tenang. Kalau terus memaksanya seperti itu yang ada kita bisa mengalami kecelakaan bagaimana."
"Iya mah. Benar kata papah."
"Baiklah."
Akhirnya ibunya Alex berhenti memaksa sebas dengan bujukan dari suaminya ia mencoba mengerti pentingnya keselamatan bagi mereka. Ibunya masih terlihat khawatir tentang kesalahan yang baru saja ia lakukan dengan kesengajaannya. Ia sangat merasa menyesal membuat anak kandungnya kini sedih di rumah sendirian.
Bersambung...
...Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya....