
Dua bulan kemudian...
"Kakak cepat. Nanti aku bisa terlambat ke sekolahnya?."
"Iya sebentar."
Alex dan Lulu segera memasuki mobil untuk pergi ke acara kelulusan sekolah Lulu, ia sekarang sudah lulus SMP dan hari ini adalah acara kelulusannya. Ibu dan ayahnya ada kesibukan sedikit di kantor jadi mereka mungkin sedikit terlambat pergi ke sekolah nanti. Di perjalanan Alex dan Lulu saling mengobrol untuk menghilangkan rasa sepi di jalan.
"Kakak ayo kita taruhan bagaimana?."
"Taruhan apa?."
"Kalau aku masuk rangking 3 besar kakak harus mewujudkan satu permintaanku."
"Kalau kamu tidak masuk gimana?."
"Kakak bisa minta satu permintaan apapun itu?."
"Wah sepertinya seru. Baik, aku setuju."
Alex sedikit tersenyum karena Lulu mengajaknya untuk taruhan, ia sangat yakin Lulu pasti di bawah rangking 3 besar itu. Lulu juga sedikit malu memikirkan apa yang akan ia minta nanti jika taruhannya ini menang, ia juga sedikit yakin bahwa di kelasnya hanya Alice dan salah satu cowok pintar di kelasnya, jadi kemungkinan besar Lulu bisa mendapatkan rangking di 3 besar.
"Kakak, saat sekolah SMP dulu apakah kamu pernah menyukai seorang cewek?."
"Cewek ya? Emmm..sepertinya tidak ada."
"Kenapa?."
"Karena tidak ada yang secantik kamu."
Alex bahkan sambil bercanda mengatakannya padahal ia tidak mengingat kehidupannya di waktu sekolah dulu, ia hanya fokus dengan belajar dan mencapai cita-citanya menjadi dokter. Meskipun banyak wanita yang menyukainya, ia selalu menolak mentah-mentah perasaan wanita itu. Bahkan sekarang Alex belum ada tertarik sama seorang gadis seumurannya saat ini, ia juga hanya ingin menjalani kehidupan keduanya sekarang dengan bebas.
"Emmm..benarkah?."
Lulu terlihat sangat malu ketika Alex memujinya. Namun Alex masih terlihat fokus menyetir mobilnya. Iya hanya tersenyum untuk membalas pertanyaan dari Lulu. Lulu sedikit lega karena Alex belum menyukai siapa-siapa.
"Ada apa? Apa kamu ada sesuatu yang ingin di sampaikan kepadaku."
"Tipe-tipe cewek kesukaan kakak apa?."
"Rajin, pintar, pintar masak, tidak suka malas-malasan di rumah, baik kepada orang tua, pokoknya itu deh."
"Emmm..begitu ya."
"Terus apa lagi?."
"Tidak ada apa-apa lagi!!."
Lulu segera memalingkan wajahnya karena merasa sangat malu, ia sangat senang tipe kakaknya itu sangat mirip dengannya meskipun masih kalah dengan kepintaran yang Alex punya. Wajahnya sangat memerah hanya memikirkannya saja, ia tiba-tiba membuka kaca mobil untuk mengambil nafas untuk menenangkan perasaannya itu.
"Apa kamu pusing? Kita hampir sampai loh ini."
"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin memandangi jalan saja."
"Oh baiklah."
Alex tidak mengerti sama sekali dengan tingkah laku Lulu yang sedikit berbeda dari biasanya. Ia juga sedikit bingung kenapa Lulu membahas tentang cowok saat hampir kelulusan sekolahnya.
"Eh, kamu tidak boleh pacaran dulu, awas saja kamu dekat-dekat sama cowok."
"Hah? Kapan aku bilang suka sama cowok."
"Tadi itu bahas suka-suka kalau tidak ada mana mungkin kamu membahasnya."
"Ti-tidak ada kok, aku hanya penasaran dengan masa lalu kamu saat di SMP saja."
"Yang benar. Sangat mencurigakan?."
"Iya, buat apa juga aku bohong."
Lulu sedikit kesal karena Alex tiba-tiba melarangnya menyukai seorang cowok, ia juga sudah dewasa kenapa Alex terlihat sangat tidak suka kalau Lulu menyukai seorang cowok.
"Kamu harus fokus sekolah dulu, aku tidak mau kamu di sakiti sama cowok itu, cowok itu kalau masih sekolah dia hanya ingin bersenang-senang saja, dia tidak akan berani bertanggung jawab jika terjadi sesuatu sama kamu nanti, jadi lebih baik kamu sekolah dengan benar. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, aku tau pikiran cowok itu kek mana kalau sudah dekat sama cewek kalau berduaan."
"Emmmm."
Lulu hanya terdiam mendengar semua ucapan Alex yang begitu menghawatirkan dirinya. Ia sangat senang bahwa Alex sangat peduli dan ingin ia tetap aman. Ia terlihat sangat malu ketika Alex sangat serius berbicara kepadanya saat itu.
"Iya-iya aku mengerti."
Dengan malu Lulu memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari kontak mata dengan Alex yang terlihat sambil menyetir mencuri-curi pandang kepadanya.
"Apa sih yang maunya dia?, kenapa aku tidak boleh suka sama cowok. Apa aku sangat berharga baginya atau apa?."
Lulu sedikit marah memikirkan semua ucapan Alex tadi, ia juga sedikit mengeluh sambil menyilangkan kedua tangannya di jendela pintu mobil sambil memandangi jalan.
--
"Kita sudah sampai."
"Kakak aku duluan. Jangan lupa dengan taruhan kita."
Lulu terlihat sedikit berlari setelah keluar dari pintu mobil, ia juga tidak lupa menoleh untuk mengingatkan Alex tentang taruhan mereka. Alex yang melihatnya sedikit malas, ia sangat bosan berada di tempat orang-orang banyak yang sedang berkumpul.
"Sepertinya ibu dan ayah sebentar lagi mereka akan kesini, tapi aku ingin mampir ketempat lain dulu untuk sarapan pagi."
Sebuah mobil hitam berhenti di depan mobil Alex, ia sangat kesal karena sudah menghalanginya untuk pergi. Ia ingin sedikit memarahi supir itu, tapi tiba-tiba seorang gadis yang tampak tidak asing baginya keluar dari pintu mobil belakang.
Alex hanya terlihat bingung ia seperti mengenali gadis itu tapi ia sudah lupa dimana ia pernah ketemu. Ia terus mengingat-ingat namun hal buruk terjadi. Sebuah truk besar tiba-tiba berbelok menuju gadis yang tadi baru keluar mobil. Alex segera berlari secepat mungkin agar bisa menolongnya.
"Wussh..!!."
"Hah??."
"Ah..oh..ah.."
Sambil terengah-engah Alex berhasil menyelamatkan gadis itu, ia berhasil menyelamatkannya di waktu yang sangat tepat dan menggendong gadis itu pergi kesamping jalan. Truk itu tetap melaju seperti tidak tahu apa yang sudah terjadi. Alex sedikit marah karena supir truk itu tidak memiliki sopan santun dalam menyetir mobilnya di jalan raya.
"Apa kamu baik-baik saja?."
"Emmm..eh aku baik-baik saja, makasih sudah menolongku."
"Iya sama-sama, lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi."
"Iya, maaf aku sedang terburu-buru. Aku mungkin sudah di tunggu kakakku."
"Iya silahkan."
Dengan sedikit gugup gadis itu pergi meninggalkan Alex yang baru saja menyelamatkannya, ia juga terlihat berulang kali menoleh kepada Alex. Ia juga sedikit terlihat malu ketika Alex membalasnya dengan senyuman.
"Makasih sudah menyelamatkan nona kami."
Supir pribadinya berterima kasih lagi kepada Alex yang sudah bersusah payah untuk menolong. Ia juga ingin memberikan sedikit imbalan kepada Alex karena sudah menolong anak bosnya itu.
"Tidak perlu, aku ikhlas menolongnya kalau begitu aku pamit dulu ya."
"Makasih sekali lagi."
Alex meninggalkan supir itu yang sangat terlihat ketakutan karena hampir saja nona mudanya mengalami kecelakaan atas kelalaiannya sendiri. Setelah Alex di perjalanan ia tersadar karena sudah melupakan niatnya untuk memarahi supir itu yang sudah menghalanginya tadi.
--
"Alena kenapa kamu telat. Bukankah kamu biasa barengan sama Alice kakak kamu?."
"Dia lupa menaruh bajunya, jadi aku duluan berangkat."
"Oh gitu, Lulu kamu datang sama siapa tadi?."
"Sama kakakku, mungkin dia sudah pergi soalnya tadi pagi dia belum makan."
"Kalau ibu dan ayahmu, apa mereka akan datang?."
"Kamu itu banyak tanya Tiara, bisa diam ga acaranya sudah dimulai."
"Hehe..Biar panjang ngobrolnya."
Alice sudah kesal melihat kelakuan Tiara yang ingin mengetahui urusan orang lain terus kek emak-emak arisan saja. Ia juga langsung menarik adiknya dan Lulu untuk segera meninggalkan Tiara di kelas.
"Siapa cowok tadi pagi ya, apa dia punya adik di sekolahan ini? Sepertinya dia masih muda. Dia sangat keren wajahnya juga sangat tampan, Alice pasti iri jika dia melihatnya hee."
"Woii, dari tadi bengong mikirin apaan sih?."
"Iya nih, di ajak bicara cuman diam saja?."
"Hah? Tidak ada apa-apa kok, aku hanya takut dapat rangking berapa aku nanti."
"Oh gitu saja, aku yang sering masuk 20 besar biasa saja."
"Heh? Emang sejak kapan kamu masuk 10 besar, Tiara sepertinya kamu kek ga sadar saja dari kelas 1 sampai naik kelas 3 ini tetap saja mentok di 20 besar."
Alice sangat kesal bahkan ia ingin mencubit Tiara yang terus membuat ia kesal. Tidak tau mengapa Lulu juga bingung melihat Alice yang begitu emosian hanya karena beberapa kata dari mulut Tiara.
"Acara kelulusan akan segera kita mulai, bagi orang tua yang masih di luar silahkan sesegera masuk kedalam ruangan dan duduk di kursi yang sudah tersedia."
Kepala sekolah yang berada di atas panggung memberikan sedikit kata-kata mutiara kepada orang tua murid yang akan lulus. Ia juga memberikan sedikit kabar gembira karena setelah acara kelulusan ini mereka bisa pulang kerumahnya masing-masing. Mendengar hal itu orang-orang sedikit tertawa dengan candaan kepala sekolah.
*****
"Nak Alex, kamu mampir kesini lagi."
"Bukankah bapak punya anak perempuan yang akan lulus hari ini, kenapa tidak pergi ke sekolah?."
"Bapak masih ada kerjaan tidak bisa pergi, maaf ya bapak harus pergi beres-beres dulu kedalam."
"Oh baiklah."
Alex tidak sengaja bertemu dengan ayahnya Tiara yang sedang membuang sampah di luar, ia juga sedikit tidak enakan karena bapak itu tidak di izinkan untuk libur sehari saja di acara kelulusan anaknya. Karena Alex lapar ia segera masuk dan memesan beberapa makanan untuk mengisi kekosongan yang dari tadi terus berbunyi.
Bersambung...
Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.