Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 7 Perasaan



"Apa yang sudah terjadi padamu, kenapa kamu berada di hutan sendirian?."


Ibunya Alex sedikit menanyakan apa yang sudah terjadi dengannya, mengapa ia bisa berada di hutan ini. Alex yang melihat ibunya menanyakan itu ia juga sedikit penasaran.


"(....)."


Ia hanya terdiam dan terlihat sangat takut mengingat apa yang sudah terjadi padanya, badannya begitu gemetar sambil menundukkan kepalanya seperti ada hal yang sangat menakutkan terjadi padanya.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau bercerita, kami besok akan mengantarkanmu keluar hutan nanti. Jadi kamu boleh tidur di tenda kami untuk malam ini."


"Sebenarnya aku di culik sama seseorang yang tidak aku kenali, dan aku berhasil kabur ke dalam hutan. Setelah itu aku jatuh ke dalam sebuah jurang yang lumayan tinggi dan sepertinya aku juga hanyut ke sungai saat itu."


"Terus dimana orang tua kamu berada? Mungkin mereka akan khawatir jika kamu belum pulang ke rumah."


Ayahnya Alex sedikit khawatir dengan orang tuanya jika tahu anak mereka tidak kunjung pulang dari rumah. Namun gadis itu menangis setelah mendengar pertanyaan dari ayahnya Alex. Ibu dan Alex langsung melirik ayahnya yang tidak begitu berperasaan menanyakan tentang orang tuanya saat masih berada di hutan. Intinya harus tahu tempat dan waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang begitu sensitif.


"Maafkan aku sudah membuatmu begini."


Dengan rasa bersalah ayahnya Alex minta maaf atas perkataannya yang sudah membuatnya sedih. Namun gadis itu semakin menangis, air matanya tidak dapat ia pendam lagi, ia terus menangis meskipun ibunya Alex juga sudah memeluknya untuk mencoba menenangkannya.


"Om tidak salah. Sebenarnya kedua orang tuaku sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Kami mengalami kecelakaan. Setelah itu aku tinggal di panti asuhan sampai aku berumur 15 tahun saat ini. Ketika aku keluar untuk pergi ke rumah teman sebuah mobil hitam menarik aku kedalam dengan menutup mulutku dengan sebuah kain putih yang kemungkinan sudah mereka oles dengan bius. Saat itu aku terbangun ketika mobil mereka sudah berhenti di sebuah gudang, aku tidak tahu gudang apa itu. Aku langsung berusaha kabur dari sana bagaimanapun caranya. Akhirnya aku sampai di dalam hutan ini namun aku tergelincir dan terguling-guling kebawah dan akhirnya aku terjatuh kedalam sungai di hutan ini setelah itu aku tidak tahu apa yang sudah terjadi seterusnya."


Setelah Alex mendengarnya ia merasa tidak kuat untuk menahan air matanya karena gadis itu bernasib sama di kehidupannya dulu menjadi yatim piatu tanpa kedua orang tua. Mereka melihatnya sedikit bingung mengapa Alex menangis bahkan ayah dan ibunya hanya bersimpati dengan gadis itu.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa menahannya."


Alex berusaha mengusap air matanya yang terus membasahi seluruh wajahnya. Ia tidak sanggup mengingat kehidupannya dulu tanpa memiliki orang tua. Meskipun memiliki teman yang banyak di rumah panti hal itu tidak bisa menggantikan sosok kedua orang tua.


"Sebentar ya, om dan tante ingin bicara ke sana dulu."


Terlihat ibunya Alex menarik suaminya menjauh dari mereka. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang sangat rahasia. Alex bahkan terlihat bingung kenapa orang tuanya tidak mau mengajaknya juga malah meninggalkan dirinya bersama gadis ini.


Beberapa menit kemudian...


"Maaf membuat kalian menunggu."


"Tidak apa-apa om dan tante."


"Apa yang kalian bicarakan di sana, kenapa Alex tidak boleh ikut?"


"Kalau boleh tahu nama kamu siapa?"


"Nama aku Lulu Ayunda tante."


"Wah nama yang bagus, sekarang umur kamu 15 tahun. Berarti kamu lebih muda dari Alex anak kami 1.5 tahun. Mungkin kalian bisa akrab suatu saat nanti."


Alex yang mendengarnya sedikit merasa merinding karena ibu dan ayahnya terlihat mencoba akrab dengannya. Ia hanya berpikiran mungkin ada sesuatu hal yang orang tuanya rencanakan yang tidak boleh diketahuinya.


"Maukah kamu menjadi anak angkat om dan tante?."


"Hah? Apa?."


Alex dan gadis itu langsung kaget setelah mendengar tawaran yang di ucapkan oleh ayahnya. Alex mungkin merasa nasibnya sama dengan gadis itu mempunyai kemiripan tapi ia juga tidak mau gadis itu menjadi adiknya, karena ia tidak mau memiliki adik nakal yang sudah berani memfitnahnya itu.


"Kamu setujukan Alex?."


Dengan sedikit tatapan mengancam ibu dan ayahnya memandangi wajah Alex yang masih terlihat kebingungan. Alex sambil melihat gadis itu dengan sedikit terpaksa mencoba mengikuti apa yang di inginkan kedua orang tuanya itu. Alex hanya mencoba membuat orang tuanya bahagia bersamanya dalam hidupnya kali ini.


"Bagaimana denganmu Lulu apa kamu mau?."


"Apa kalian serius ingin mengadopsiku?."


"Iya, nanti kami akan ke panti asuhan bersamamu untuk mengurus semuanya. Kamu tidak perlu khawatir."


"Emmm..makasih banyak om dan tante."


Lulu tidak bisa menahan air matanya ia menangis bahagia sambil memeluk ibunya Alex. Ia juga sedikit melirik ke arah Alex yang dari tadi memandanginya, ia langsung tersenyum membuat Alex sedikit curiga apa yang ingin di rencanakan gadis itu dengan keluarganya.


"Peluk om juga dong."


Dengan irinya ayahnya juga ingin di peluk oleh gadis itu namun sialnya ia langsung di tatap istrinya dengan penuh emosi jika berani-berani mengambil kesempatan ini.


"Lah ngapain, Alex merasa kepanasan jadi tidak perlu di peluk segala."


"Alex kamu tega sekali sama ayahmu ini. Hiks..!!."


Semuanya terjadi begitu saja tanpa di rencanakan sama sekali. Seorang keluarga baru hadir di kehidupan Alex saat ini. Alex hanya berharap bahwa gadis itu tidak ada niatan untuk merusak keluarganya, jika hal itu terjadi Alex akan melakukan apapun untuk tetap menjaga orang tuanya bagaimanapun caranya meskipun harus mengorbankan nyawanya sekali lagi.


Keesokan pagi...


"Maaf tuan dan nyonya. Siapa gadis kecil ini mengapa mereka bersama kalian keluar hutan?."


Di dekat pinggiran jalan Sebas sedikit penasaran dengan gadis yang mereka bawa saat keluar hutan. Ibu dan ayahnya hanya tersenyum kepada Sebas dengan itu Sebas meminta maaf dan langsung membukakan pintu mobilnya untuk mengantarkan mereka langsung menuju panti asuhan.


"Tolong selidiki nanti gadis ini, cari semua informasi tentang dirinya bagaimanapun caranya."


Alex mencoba berbisik-bisik dengan Sebas di kursi depan agar ibu dan ayahnya tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Alex ingin mencari tahu tentang kebenaran gadis ini sebelum ia benar-benar menjadi keluarganya nanti.


"Baik bos, tapi siapa gadis itu?."


"Nanti juga kamu akan tahu setelah kita sampai di panti asuhan."


"Alex apa yang dari tadi kamu bisikan dengan Sebas, ibu jadi risih (terganggu) melihatnya?."


"Tidak apa-apa kok bu, Alex cuma bertanya bagaimana kalau kita nanti mampir ke sebuah toko baju setelah dari panti asuhan."


"Wah sepertinya menyenangkan, sekalian kita belikan juga untuk Lulu ya?."


"Makasih tante. Maaf sudah ngerepotin."


Akhirnya Alex bisa bernafas lega setelah berhasil mengalihkan pembicaraannya. Ia juga sangat terkejut karena dari tadi gadis itu terus melihatnya dari sebuah cermin di atas kemudi mobil (kaca spion).


--


Mereka tiba di depan panti asuhan Lulu. Semua anak-anak yang berada di halaman panti langsung terdiam melihat mobil mewah berhenti secara tiba-tiba di depan halaman mereka. Salah satu bibi yang bertugas merawat anak-anak di sana langsung menyambut kedatangan keluarganya Alex.


"Lulu?. Akhirnya kamu pulang kemana saja kamu 2 hari tidak pulang-pulang. Teman-teman di sekolahmu juga mencarimu disini?."


Bibi itu langsung memeluk Lulu yang baru saja keluar dari pintu mobil, ia sangat terkejut karena Lulu sudah hilang 2 hari tanpa ada kabar sama sekali. Melihat itu Alex sedikit percaya karena perkataan gadis saat di hutan ternyata bukan kebohongan.


"Oh maaf, tuan dan nyonya."


Bibi itu langsung meminta maaf karena sudah berprilaku tidak sopan di depan mereka. Ia langsung menawarkan untuk masuk kedalam panti meskipun pantinya terlihat kecil.


"Terima kasih, kalau begitu kami tidak sungkan untuk masuk."


Mereka memasuki ruangan tamu yang sudah di khususkan kepada pihak-pihak orang yang mau dengan ikhlas membantu biaya kehidupan di panti. Mereka juga menerima orang-orang yang berkeinginan untuk mengambil seorang anak angkat di sini.


"Silahkan diminum. Maaf kami hanya memiliki air putih saja."


"Tidak apa-apa kok. Ini sudah lebih dari cukup."


Beberapa bibi di sana memberikan jamuan kecil kepada keluarganya Alex yang sudah duduk di kursi tamu yang sudah tersedia. Alex yang melihatnya sangat sedih karena panti asuhan ini lebih kecil dari panti asuhan yang pernah ia tinggali.


"Langsung saja kita ke intinya. Maksud kedatangan kami ini, kami ingin mengangkat Lulu menjadi anak kami."


Tanpa basa-basi lagi ibunya Alex langsung mengutarakan semua keinginan yang sudah mereka bicarakan sebelumnya. Bibi yang selaku ketua di sana tampak sangat senang mendengarnya dan ia juga langsung meneteskan air mata dengan sangat bahagia karena beban sudah berkurang. Eh maksudnya bibi itu senang karena sekarang Lulu punya keluarga baru.


"Apa kakak Lulu akan pergi?."


Sedikit kebisingan diluar. Adik-adik yang masih kecil mendengar bahwa kakak mereka akan diambil, mereka langsung terlihat sangat sedih. Alex yang melihatnya langsung segera berdiri dan menghampiri mereka dengan senyuman.


"Kakak Lulu tidak pergi kok, dia hanya tidur di rumah kami saja, nanti kalau sudah siang dia sering kok kesini. Jadi kalian jangan sedih ya?."


"Apa itu beneran kak?."


Adik-adik di sana langsung merasa senang. Setelah mendengarkan penjelasan dari Alex. Lulu yang melihatnya langsung merasa senang karena apa yang sudah ia pikirkan ternyata salah. Ia tahu Alex mempunyai hati yang sangat baik, ketika ia melihat Alex tahu bagaimana cara berhadapan dengan adik-adik pantinya saat ini.


Bersambung...


...Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya....