
"Alice, dia tidak ada apa-apa kok! Dia hanya malu mengatakannya. Maafkan aku Alena!."
"Ya sudah tidak apa-apa, lagi pula aku tidak mau juga melihat kakakku begitu khawatir kepadaku."
"Apa yang sebenarnya yang kamu rahasiakan kepada kakakmu itu?."
Lulu juga sedikit penasaran tidak biasanya Alena merahasiakan sesuatu kepada Alice, ia selalu jujur jika memiliki masalah, baik itu yang kecil ataupun yang besar. Ia tidak tahu mengapa Alena sangat malu mengatakannya dan hanya ingin merahasiakannya.
"Sebenarnya aku sudah menyukai seseorang di sana. Tapi aku belum tahu apakah dia juga menyukaiku atau tidak."
Alena sudah mulai terbuka kepada mereka sambil mengobrol di ruang tamu yang sudah tengah malam. Mereka sampai lupa untuk beristirahat, padahal Alena dan Silva juga masih lelah akibat perjalanan yang jauh.
"Kalian mengapa belum tidur? Sudah jam 12 malam ini? Sebaiknya kalian tidur! Jika masih ada yang ingin di bicarakan sebaiknya di lanjutkan besok saja, kasian mereka baru pulang loh, mereka butuh istirahat."
"[Iya mah]."
"Maaf ya tante mengganggu tidurnya."
"Sudah-sudah kalian istirahat sana."
"[Iya]."
"Ayo kita istirahat dulu, besok kita lanjutkan lagi."
Lulu juga tidak enak telah mengganggu tidur orang tua Alice dan Alena, ia segera mengajak mereka untuk segera beristirahat ke kamar. Setelah itu mereka segera berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan masing-masing.
*****
"Ting...tong..ting."
Suara telepon berbunyi sangat keras di ruangan tamu di rumah kediaman keluarga Alex, terlihat di sana masih menunjukkan pukul 01.00 malam. Karena perbedaan waktu yang sangat jauh membuat telepon itu tidak ada yang mengangkatnya.
Telepon itu terus berbunyi berulang kali, namun keadaannya masih sama, telepon itu tidak ada yang mengangkat akibat masih malam. Pembantu di sana juga tidak mendengar suara teleponnya. Bahkan ayah dan ibunya Alex terlihat begitu pulas tertidur.
--
"Mengapa tidak ada yang mengangkat teleponku? Apa mereka marah kepadaku sampai-sampai mereka tidak ingin menjawab panggilanku ini. Aku juga tidak tahu nomor mereka, ponsel yang dulu yang menyimpan nomor mereka terjatuh ke laut saat aku pergi memancing dulu. Aku hanya memiliki nomor telepon rumah saja."
Terlihat Alex sudah berada di bendara pesawat Amerika, ia berkeinginan untuk pulang secara rahasia dan hanya ingin melihat keadaan keluarganya secara diam-diam. Ia menelepon hanya ingin mengetahui kabar dari mereka.
Ia sudah memesan tiket pesawat untuk segera pulang ke Indonesia untuk memastikan keluarganya dalam keadaan baik-baik saja. Ia masih tidak sanggup bertemu secara langsung, karena ia sudah merasa malu dan tidak berani menemui mereka karena sudah pergi meninggalkan mereka begitu lama.
"Mungkin Lulu sudah memiliki seseorang yang kini dia cintai. Aku sebagai kakak seharusnya merasa senang melihat adik perempuanku bahagia."
Alex terlihat sedih melihat sebuah foto keluarga di ponselnya sambil menunggu keberangkatan pesawatnya. Ia bergumam sambil memandangi kenangan-kenangan lama semasa ia berada di Indonesia bersama keluarganya. Ia sedikit merasa menyesal karena sudah meninggalkan keluarganya.
"Pesawat IndoSpot akan segera berangkat, bagi penumpang yang termasuk dalam daftar untuk segera memasuki pesawat sebelum lepas landas."
"Baiklah aku harus kuat, kebahagiaan keluarga lebih penting daripada kebahagiaanku sendiri."
Alex terlihat sudah berjalan membawa kopernya untuk segera menuju pesawat, ia sudah meminta izin kepada atasan untuk berlibur satu bulan untuk mendapatkan liburannya yang pernah tertunda. Ia juga merasa senang karena tidak sabar ingin melihat kedua orang tuanya meskipun hanya dari kejauhan.
*****
Keesokan paginya...
"Kita mau kemana sepagi ini? Padahal lebih baik kita tidur saja di rumah."
"Hah? Kok kamu jadi malas semenjak berada di Amerika?."
Alice sedikit kesal karena melihat adiknya kini menjadi wanita yang pemalas, meskipun dari dulu sudah malas tapi ia merasa kemalasannya semakin bertambah seiring bertambah umurnya.
"Bilang saja karena tidak ada pak Andra di sini kan."
"Apaan sih kamu Silva! Bikin mood pagiku hancur saja."
"Kita akan pergi belanja di mall, pergi ke salon, perawatan, pokoknya kita habiskan hari ini untuk bersenang-senang."
"[Hah?]."
Alice terlihat senang membahas kebiasaan wanita yang bahkan ia belum pernah melakukannya. Seketika mereka kaget setelah mendengar ucapan Alice itu, mereka juga bingung sejak kapan Alice suka seperti hal itu, mereka sudah mengenalnya cukup lama dan mereka juga tahu bahwa Alice belum pernah sama sekali pergi ketempat biasa wanita lakukan untuk mempercantik diri.
"Apa kamu sedang sakit? Kita seharusnya pergi ke rumah sakit saja terlebih dulu sebelum ketempat tujuan."
Lulu mulai khawatir dengan keadaan Alice yang tiba-tiba bertingkah aneh dari biasanya. Ia sangat yakin bahwa ia pernah mengajak Alice ketempat seperti itu, yang ada ia malah di tolak dan Alice malah marah-marah kepadanya. Alice juga mengatakan kalau ia tidak butuh dengan hal seperti itu.
"Aku sehat-sehat saja kok, kita harus mempercantik diri agar laki-laki di bumi ini naksir dengan kita-kita."
"Sepertinya kita harus ke rumah sakit. Sepertinya Alice sudah kemasukan setan."
"Kurang ajar kamu Lulu! Aku baik-baik saja oke! Kalau aku kesurupan sudah aku belokin stir mobil ini ke jurang biar kita mati sama-sama."
"Hei! Sepertinya aku turun saja? Aku belum mau mati loh?."
"Kau tidak boleh turun dari mobilku Silva!."
Alice sedikit mulai kesal melihat temannya yang mulai tidak mempercayai perkataannya, ia hanya ingin mengajak temannya untuk bersenang-senang. Namun yang lainnya begitu bingung dengan apa yang baru ia katakan kepada mereka.
Beberapa jam kemudian...
Hotel kota.
"Ah! Aku lupa bawa baju kaos lagi? Semuanya setelan dokter gimana ini? Terpaksa aku harus beli."
Terlihat Alex sudah berada di sebuah hotel, namun ia sedikit kesal karena melupakan baju kaos untuk hariannya di Indonesia, ia juga segera bersiap pergi kesebuah mall terdekat dari hotel untuk membeli beberapa pakaian untuk 1 bulan berada di Indonesia.
Ia segera pergi keluar kamar untuk membeli beberapa keperluan juga seperti makanan, ia terpaksa harus menggunakan setelan dokter karena hanya itu yang ia bawa saat ini. Padahal ia bisa memesan secara online tapi ia takut pesanannya tidak sesuai dengan seleranya.
--
"Selamat datang dokter!."
"Silahkan masuk tuan, semoga hari anda menyenangkan."
"Iya, terima kasih."
Terlihat Alex sudah di depan pintu masuk sebuah mall, ia di sambut dengan sopan oleh petugas yang berjaga di depan pintu. Petugas itu juga mengenali setelan yang hanya bisa di pakai oleh dokter yang berpangkat tinggi, ia juga sedikit terkejut baru kali ini melihat seorang dokter berkunjung ke mall yang baru di bangun (baru diresmikan).
Alex segera masuk dengan sedikit tersenyum menghormati petugas yang menjaga pintu, ia juga sedikit malu karena masuk menggunakan setelan dokter ke dalam mall membuat ia menjadi pusat perhatian bagi orang-orang di dalam mall.
*****
"Lulu apa kamu sudah memilih beberapa barang yang kamu suka di sini?."
"Belum, aku masih bingung! Barang-barangku masih banyak yang baru?."
"Begitu ya?."
Lulu, Alena, dan Silva sedang berada di depan toko tas. Mereka juga sambil menunggu Alice yang sedang pergi ke toilet. Lulu juga masih bingung tentang membeli sesuatu, ia juga tidak mau membuat kamarnya terlalu banyak barang yang tidak terpakai. Ia sangat ingat apa yang sudah di ajarkan tentang sikap yang sederhana yang di lakukan keluarganya.
--
"Hah? Bukankah itu Silva dan Alena? Apa yang di lakukan mereka di sini? Terus siapa yang berada di samping mereka itu terlihat tidak asing bagiku?."
Alex tidak sengaja melihat Silva dan Alena saat ia berada di toko baju yang tidak begitu jauh dari toko tas itu. Ia juga sedikit takut bahwa keberadaannya bisa saja ketahuan jika terlalu lama berada di sana. Namun ia juga penasaran dengan seorang wanita yang terlihat tidak asing baginya, ia segera mengunakan kekuatan yang dapat melihat nama orang lain.
"[Lulu Ayunda. Keadaan Baik 80%]."
"Hah? Dia adikku? Aku harus segera pergi dari sini sebelum ketahuan oleh mereka."
Alex terlihat sangat terkejut setelah melihat nama yang sudah muncul di atas kepala yang ingin ia periksa, kekuatan Alex sudah berupdate bisa mengetahui kesehatan seseorang yang ingin ia ketahui tanpa harus menceknya dengan alat khusus atau dengan teknologi kedokteran.
Ia juga segera membayar pakaian yang sudah ia beli dengan tergesa-gesa, ia juga sedikit memaksa kasir itu untuk lebih cepat dalam membungkus pakaiannya yang sudah ia beli tadi, setelah selesai ia segera berlari keluar dengan sedikit berlari.
Tiba-tiba..
"Brukk!!."
"Argh..Aww..Aduh."
"I'm Sorry!."
Alex tidak sengaja menabrak wanita yang sedang berjalan di luar toko baju dan membuat wanita itu terjatuh, ia juga segera pergi setelah meminta maaf dan berlari menjauh seperti orang ketakutan.
"Aduh sakit sekali."
"[Hah? Alice apa yang terjadi kepadamu?]."
Teman-teman Alice segera menyadari suara Alice yang lumayan keras di depan toko baju, mereka segera pergi untuk memeriksanya karena mereka takut terjadi sesuatu hal yang buruk telah menimpa Alice.
"Tadi ada seorang laki-laki tiba-tiba keluar dari toko ini dengan tergesa-gesa terus menabrakku sangat keras! Ia bahkan langsung pergi setelah minta maaf begitu saja!."
"Mana laki-laki itu? Biar kupukul dia?."
Silva sedikit marah karena sudah menyakiti temannya, ia juga terlihat menoleh-noleh untuk mencari laki-laki yang sudah menabrak Alice bahkan tidak bertanggung jawab setelah membuat Alice kesakitan.
Lulu juga terlihat memungut sesuatu di lantai, ia sedikit terkejut sebuah gantung kunci yang terlihat berbentuk seekor rubah kecil berwarna putih yang warnanya sudah sedikit memudar. Ia segera menyembunyikan gantungan kunci itu kedalam saku celananya tanpa di sadari teman-temannya.
"(Bukankah ini gantung tas yang pernah ku berikan kepada kakak? Apakah kakak sudah pulang?)."
Lulu sedikit terlihat bengong memikirkan gantungan tas yang sangat mirip seperti barang yang telah ia berikan kepada Alex di saat pertama kali mereka membeli peralatan kuliah di sebuah mall.
*****
10 tahun yang lalu...
"Kakak lihat gantungan kunci ini sepasang! Mereka terlihat seperti rubah betina dan jantan. Apa aku boleh membelinya?."
"Jika kamu suka beli saja, aku akan membayar semuanya. Kamu tidak perlu khawatir pilih saja barang-barang yang kamu suka."
"Terima kasih kakakku yang sangat baik."
"Heh! Kamu bilang seperti itu ada mau-maunya saja."
"Hehe."
Di sebuah toko aksesoris Lulu membeli sebuah gantungan kunci dua ekor rubah yang sedang terlihat sedang berpelukan mereka melekat dengan menggunakan magnet di dalam aksesoris itu. Lulu sangat menyukai gantungan kunci itu dan memberikan salah satu gantungannya kepada Alex yang terlihat seperti rubah betina.
"Ini buat aku?."
"Iya, biar kakak selalu ingat aku sebagai rubah betina yang nakal seperti kakak mengasih gelar ke aku saat aku membuat keributan di rumah."
"Haha, kamu sudah menyadari sifat kamu sebenarnya ya?."
"Heh! Terserah kamu saja!."
Setelah Lulu memberikannya ia segera meninggalkan Alex di depan toko aksesoris itu, ia juga masih terlihat bingung dengan sikap yang di tunjukkan Lulu kepadanya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya Lulu inginkan darinya.
*****
"[Lulu! Apa yang kamu pikirkan?]."
Semua teman-temannya berusaha memanggil Lulu, mereka juga terlihat berulang kali menepuk pundaknya. Lulu terlihat terdiam kaku sedang termenung memikirkan kenangannya yang tidak pernah ia lupakan saat bersama kakaknya. Ia juga secara tidak sadar sudah meneteskan air matanya membuat teman-temannya semakin khawatir.
"Lulu! Aku tidak apa-apa kok? Kamu jangan menangis ya?."
Alice segera merasa tidak enak melihat Lulu yang tiba-tiba menangis, ia juga bingung bukankah yang jatuh adalah dia, kenapa yang nangis adalah Lulu. Ia sangat bingung apa yang harus ia lakukan untuk membuat Lulu berhenti menangis.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.