Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 32 Pekerjaan



"Pak! Bolehkah aku bertanya sesuatu?."


"Boleh? Kamu bisa panggil saja Andra agar lebih mudah di ingat."


"Oh baiklah."


Alena sedikit malu untuk menanyakan tentang hal yang menyangkut masalah pribadi Alex, ia tidak tahu apakah Alex sudah punya pasangan atau tidak, ia hanya takut jika suatu saat nanti kedekatannya menjadi gosip di rumah sakit ini.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?."


"Emmm..Apakah senior Andra sudah punya pasangan? Maksudnya aku itu, aku takut kalau kita berduaan di ruangan ini menjadi gosip yang tidak baik. Jadi aku hanya bertanya saja kok tidak bermaksud apa-apa."


"Haha..kamu itu lucu ya."


"Hah?."


Alena terlihat bingung setelah Alex menertawainya tentang pertanyaannya itu, ia tidak tahu mengapa Alex tertawa setelah ia bertanya tentang masalah hubungan pribadinya.


"Maaf-maaf, aku tidak bisa menahannya. Kamu tenang saja aku belum ada pasangan sama sekali. Aku juga masih muda umurku masih 28 tahun, jadi perasaanku ini masih terlalu cepat untuk memikirkan hal seperti itu."


"Hah? Senior Andra belum punya? Padahal dia sangat tampan dan juga menjadi dokter terhebat di sini? Mengapa belum ada yang memilikinya ya."


Dengan sedikit terlihat bengong Alena terus memikirkan Alex, ia juga sedikit tenang karena Alex masih jomblo (sendiri). Ia juga sedikit mulai menyukai Alex sebagai seniornya. Alex juga sedikit merasa aneh karena terus di pandangi oleh Alena yang sedang duduk di depan meja kerjanya.


"Dokter Alena?."


Terlihat Alex terus memanggilnya. Ia juga sedikit berteriak untuk menyadarkan Alena yang masih memandangi wajahnya. Ia mulai sedikit kesal karena Alena belum sadarkan diri. Ia sedikit mencipratkan air di gelasnya ke wajah Alena.


"Ah, hee maafkan aku senior."


"Apa yang sedang kamu pikirkan?."


"Ti-tidak ada apa-apa kok."


"Ya sudah kalau begitu. Kita akan segera mulai wawancaranya, apakah kamu sudah siap."


Alex dengan sedikit semangat menanyakan hal-hal yang membuat sudah penasaran dari dulu. Ia menanyakan hal yang berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari sebelum pergi ke Amerika. Alena menceritakannya dengan sangat santai, ia juga sedikit senang karena bisa bersama dengan seniornya di ruangan yang sama.


Beberapa jam kemudian...


"Terima kasih atas semua waktunya, kamu bisa istirahat sekarang."


"Apakah senior tidak ada lagi pertanyaan?."


"Iya sudah selesai wawancaranya."


"Beneran tidak ada lagi?."


"Iya, kamu bisa pergi."


"Baiklah, saya mohon pamit."


Alena sedikit kecewa karena tidak bisa bersama dengan seniornya lagi, padahal ia masih ingin mengobrol dengan Alex, tapi ia juga tidak bisa memaksa karena Alex adalah pemimpin di rumah sakit ini, jika ia membuat Alex kesal bisa saja ia di pulangkan ke Indonesia.


--


Setelah kepergian Alena. Alex sedikit tersenyum setelah mengetahui tentang keluarganya yang baik-baik saja dalam 7 tahun ini. Ia juga senang bahwa adiknya Lulu sudah menjadi dokter spesialis kandungan. Ia juga tidak menyangka kepergiannya juga berdampak dengan mereka semua.


Ia juga mengetahui bahwa Lulu tidak peduli dengannya, bahkan tidak pernah membicarakan dirinya lagi kepada teman-temannya setelah ia pergi. Ia tahu hubungannya dengan Lulu hanya sebatas kakak dan adik angkat saja, ia juga sedikit menyesal karena meninggalkan mereka begitu sangat lama.


Ia terlihat mulai meneteskan air matanya ketika mengingat masa-masa mudanya dulu ketika bersama keluarganya. Membuat Lulu ketakutan di hari ulang tahunnya dan masih banyak lagi kenangan seru lainnya yang sedang ia pikirkan saat ini.


*****


Sore hari...


"Tuan anda sudah mau pergi lagi? Padahal anda baru saja pulang ke rumah?."


"Oh bibi, aku hari ini tidak makan di rumah dulu. Kalian bisa memakannya bersama. Aku ingin keluar mungkin sedikit malam pulangnya jadi jaga rumah baik-baik."


Terlihat Alex sedikit terburu-buru berjalan menuruni tangga sambil berbicara dengan pembantu rumahnya. Ia juga menggunakan baju kaos biasa untuk pergi keluar di sore hari, ia hanya ingin jalan-jalan sebentar untuk membuat pikirannya menjadi lebih tenang.


"Baik tuan."


Namun ia juga harus menyelesaikan tugasnya terlebih dulu sebelumnya, ia harus menemui seorang klien yang sudah atasannya atur untuk ia temui hari ini. Ia juga tidak tahu siapa yang akan ia temui hari ini secara tiba-tiba tanpa ada janji terlebih dulu.


Alex segera keluar rumah. Ia terlihat memasuki sebuah mobil pribadinya untuk pergi ke suatu tempat yang sudah atasannya pesan bersama klien rumah sakit lainnya yang akan ia temui. Ia belum mengetahui siapa orang yang akan ia temui itu. Kata atasannya, Alex harus menghormatinya dan berbicara sopan kepada orang yang akan ia temui nanti.


Ia sangat penasaran tidak biasanya atasannya itu mengatakan hal yang biasa sudah ia lakukan kepada siapapun. Namun kali ini ia tahu bahwa yang akan ia temui kali ini adalah pihak yang sangat penting bagi rumah sakit yang ia pimpin saat ini.


--


"Apakah ini nomor kamarnya yang di kirimkan oleh atasan ku?."


Alex sedikit gugup karena harus masuk kedalam kamar, ia tidak tahu seperti apa orang yang berada di dalam kamar itu. Nomor kamar yang sudah di kirimkan atasannya sangat membuatnya penasaran.


"Tok..tok..tok.."


"Sebentar!."


Terdengar suara wanita dari dalam. Alex yang mendengarnya sedikit berpikiran negatif apakah atasannya menyuruhnya untuk bersenang-senang kali ini. Wajahnya mulai memerah memikirkan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia hanya pernah mencium gadis itupun dengan Lulu di saat ia masih muda.


"Apa yang sedang aku pikirkan ini!!."


Ia terlihat menepuk kedua belah pipinya untuk membuatnya sadar agar tidak memikirkan hal-hal negatif. Ia mencoba untuk selalu berpikir positif agar tidak menggangunya dalam melaksanakan tugasnya kali ini.


"Maaf membuatmu lama menunggu?."


Sebuah pintu kamar terbuka. Terlihat wanita yang lumayan cantik dengan rambut yang terurai setelah selesai mandi. Wangi tubuhnya yang harum membuat Alex sedikit tidak tahan, wajahnya langsung berubah menjadi merah memandangi body (tubuh) wanita yang sedang mengajaknya masuk.


Dengan salah satu tangan yang berada di wajahnya, ia berusaha menutupi matanya agar tidak memandangi tubuh wanita itu yang masih berjalan membimbingnya menuju kursi yang sudah tersedia di ruangan kamar.


Alex melihat banyak lembaran surat di atas meja membuatnya semakin yakin bahwa pikiran negatifnya ini salah. Ia tahu ini adalah benar sebuah bisnis bukan hal negatif yang sedang ia pikirkan tadi. Ia sedikit terlihat kecewa karena tidak jadi membuat keperjakaannya hilang. Ia sedikit kesal memikirkan atasannya karena sudah mencari tempat ketemuan yang salah.


"Silahkan duduk. Apa kamu mau minum sesuatu?."


"Boleh!."


"Teh atau susu?."


"Air putih saja!."


"Hah?. Kamu itu sedikit ribet ya?."


"Tidak, aku hanya ingin hidup sehat. Dengan meminum air putih maka tubuh kita bisa terjaga dengan stabil jadi tidak kekurangan cairan berlebihan saat beraktivitas."


"Susu juga sehat?."


"Su-su yang mana?."


Alex sedikit gugup karena wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berbicara kepadanya yang sudah terlihat duduk di atas sofa. Ia tidak tahu apa niat wanita ini berpose seperti itu, apakah wanita itu dengan sengaja memperlihatkan gunungnya (payudara) atau itu dilakukannya untuk mengujinya saja.


"Tahan Alex, ini hanya ujian"


Alex berusaha membuat pikirannya tetap terjaga, ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak berhasil bersifat baik kepada wanita yang tidak ia kenali sama sekali. Ia juga menggunakan matanya untuk melihat kesukaan wanita itu terhadapnya untuk memastikan apakah ada tanda bahaya atau tidak.


"Silvana Fitri [Kesukaan 20%]."


Ia langsung terkejut setelah melihat nama di atas kepala wanita itu, namun ia berusaha untuk tenang terlebih dulu, mungkin nama mereka bisa saja sama. Ia juga merasa sifat Silva tidak seperti yang di lakukan wanita ini, ia tahu betul Silva tidak suka memperlihatkan tubuhnya kepada laki-laki yang tidak ia kenal.


"Kenapa kamu bengong melihatku? Apakah kamu suka denganku?."


"Bu-bukan itu maksudnya, aku hanya bingung kenapa kita ketemunya di dalam hotel seperti ini, bukankah lebih baik di cafe atau restoran."


"Di sini kita bisa bersenang-senang. Jadi kamu akan lebih puas berada di sini."


"Ki-ta be-lum mengenal satu sama lain."


Terlihat Alex sangat gugup ketika Silva mencoba menggodanya dengan mengelus-elus pahanya. Silva juga terlihat duduk di sampingnya untuk memberikan sedikit tubuhnya agar memudahkan Alex untuk menyentuhnya.


"Ini di larang undang-undang!!."


"Hah?."


Alex langsung berdiri menjauh dari Silva, ia juga secara tidak sadar mengatakan tindakan itu di larang undang-undang karena belum nikah tidak boleh melakukan hal seperti suami istri. Alex juga tidak sadar bahwa ia sekarang berada di luar negeri bahwa peraturan itu biasanya hanya berlaku di Indonesia.


Silva juga kaget kenapa negara bebas seperti ini melarang hubungan yang seperti itu, ia juga sedikit senyum karena laki-laki yang ia temui ini ternyata masih perjaka (belum menikah). Ia juga tersenyum sambil duduk di atas sofa.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan kepadaku Silva?."


"Pruss!!."


Silva langsung menyemburkan minumannya yang belum sempat ia teguk, ia terkejut mengapa laki-laki yang belum pernah ia temui mengetahui namanya. Bahkan ia juga sudah berpesan kepada atasan Alex untuk tidak memberi tahu apapun tentangnya.


"(!!!)."


Wajah Alex terlihat sangat gugup karena ia tidak sengaja mengatakan namanya, ia juga tahu bahwa mereka belum berkenalan sama sekali. Ia sedikit terlihat gugup di pandangi Silva dengan penuh curiga terhadapnya. Kaki Alex terlihat sedikit gemetar, ia harus berusaha mencari cara agar bisa menjelaskan apa yang sudah ia ucapkan itu.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.