
"Kakak, ayo kita berangkat bersama!."
"Kamu duluan saja, kan kuliahnya baru di mulai jam 08.30, ini baru jam 07.00 pagi loh?."
"Kita bisa jalan-jalan dulu, kan."
"Malas ah, aku ingin di rumah saja nunggu jamnya."
"Hmph.."
Terlihat Lulu begitu kesal menyantap makanan di depannya, ia juga kesal setiap kali ingin bersama dengan Alex terus saja di tolak secara langsung. Ia mulai kesal beberapa hari ini Alex terlihat malas sebelum masuk kuliah, ia bingung apa yang sudah terjadi dengannya.
"Alex apa yang sudah terjadi kepadamu? Kenapa kamu tidak mau bersama dengan Lulu."
"Aku hanya sedikit kesal dengan seseorang mah. Dia juga masuk kuliah di tempatku dan di kelas yang sama."
"Siapa dia kak? Apakah itu Silva lagi?."
"Iya, Silva baru saja mengirim sebuah pesan kepadaku bahwa kami berada di kelas yang sama mulai pagi ini."
Setelah mendengarnya Lulu sedikit kesal karena Silva sudah mulai berani mengganggu kakak kesayangannya. Ia akan memberi pelajaran yang tidak di lupakan oleh Silva nantinya, karena sudah berani mengganggu kakak yang selalu ia jaga sekuat tenaga sampai saat ini.
"Aku sedikit malas kalau bertemu dengannya."
"Apakah kalian bertengkar? Kenapa kamu begitu tidak suka dengan Silva."
"Aku tidak suka dengannya, karena dia selalu mengganggu waktuku mah."
"Tinggal bilang saja dengannya untuk tidak mengganggumu lagi."
"Sudah berulang kali aku bilang kepadanya seperti itu tapi tetap saja dia mengganggu."
"Mungkin dia menyukaimu."
"Hah?."
Alex dan Lulu seketika terkejut setelah mendengar ucapan ibunya. Alex juga tidak menyukai Silva, karena selalu mengganggu waktunya. Lulu juga terkejut mendengarnya, ia sangat tidak suka kalau mendengar bahwa Silva menyukai Alex.
*****
"Lulu kamu datang bersama siapa?."
"Oh, bersama kakakku. Kata dia tadi ingin ke toilet."
"Ayo, sebentar lagi dosennya akan datang."
Terlihat Lulu, Alice, dan Alena kini memasuki kelas kedokteran yang sudah mereka pilih. Lulu juga sudah kesal karena Silva sudah berada di dalam kelas menunggu kedatangan mereka sedang duduk di paling belakang. Lulu terlihat kesal, ia langsung saja duduk di kursi di depan untuk menjauh dari Silva.
"Bukankah itu Silva yang pernah kita temui di rumah sakit itu?."
"Iya aku baru ingat, ternyata kita satu kelas dengannya."
Alice dan Alena begitu senang karena mereka satu kelas bersama musuh yang selalu membuat Lulu marah. Mereka terlihat duduk di kursi belakang Lulu saja dari pada duduk bersama Silva.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa tidak ada yang menyapaku."
Silva terlihat bingung kenapa Lulu dan teman-temannya tidak menyapanya padahal mereka saat ini dalam kelas yang sama. Ia juga ingin mendekati mereka tapi dosen sudah memasuki kelas untuk memulai pelajaran pertama.
"Emmm..baiklah anak-anak muda, kini kalian sudah mengambil jurusan kedokteran. Tapi semua itu tidak semudah seperti kalian pikirkan, sebelumnya bapak ingin menyampaikan sesuatu tentang masa depan kalian. Jika kalian tidak ada peningkatan dalam 1 tahun pertemuan kita maka kalian akan di nyatakan tidak lulus di mata pelajaran denganku."
Semua mahasiswa sedikit takut, mereka juga terlihat terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari dosen itu. Sebelum dosen itu melanjutkan ucapannya tiba-tiba Alex memasuki kelas.
"Maaf pak, saya sedikit terlambat."
"Wah!! bukankah itu cowok tampan."
"Apa dia benar-benar di kelas ini."
"Cih, dasar cewek gatel."
"Kalau gatel ya di garuk! Apa susahnya sih."
Beberapa pujian terdengar sedikit keras di ruangan itu setelah Alex memasuki kelas. Ada juga yang sedikit kesal melihat tingkah laku gadis-gadis di sana yang hanya suka memandang fisik saja. Lulu juga terlihat menggenggam tangannya karena ia tahu bahwa di dalam kelas ini sangat banyak wanita yang mulai tertarik dengan kakaknya.
"(Apakah kita satu kelas sekarang. Apakah aku mimpi)."
Alice juga terlihat bengong setelah melihat cowok yang selama ini ia cari sekarang berada di kelas yang sama dengannya. Jantungnya berdetak sangat kencang hanya dengan memandang wajah Alex yang sangat tampan.
"(Apa aku mimpi, apa ini sudah takdirnya)."
Alena juga tidak menyangka bahwa ia bisa bertemu dengan cowok yang sudah menjadi pahlawannya, ia tidak sabar untuk segera berteman dengannya bagaimanapun caranya.
"Baik, lain kali kamu tidak boleh terlambat lagi, karena ini masih hari pertama jadi bapak maafkan."
"Terima kasih pak."
"Iya, silahkan duduk."
"[Kenapa dia memilih duduk dengan Lulu]."
Alice, Alena, dan Silva sedikit kesal melihatnya karena Alex duduk di sampingnya Lulu. Mereka sangat iri karena hal itu belum pernah mereka rasakan duduk di dekat Alex. Alice dan Alena juga belum tahu bahwa Alex adalah kakaknya Lulu.
"Ting..nong..ting.."
"Baiklah anak-anak pembahasan ini kita akan lanjutkan di pertemuan kita selanjutnya. Semoga kalian bisa akrab dengan teman-teman baru kalian kali ini. Karena di pertemuan selanjutnya kita akan membentuk sebuah tim untuk tes praktek. Bapak mohon pamit, oh iya nanti materi yang lain akan di jelaskan oleh ibu dosen di hari esok."
--
"Ayo kita pulang, aku sudah lapar."
"Hah??."
Alice dan Alena sangat bingung kenapa Alex mengajak Lulu untuk segera pulang, apakah Alex dan Lulu sudah menjadi pasangan. Alex juga sedikit bingung karena melihat wajah yang tidak asing baginya sedang memandanginya bersama dengan adiknya itu.
"Oh perkenalkan ini teman-temanku."
"Hai salam kenal."
Dengan sedikit canggung Alice melambaikan tangannya untuk menyapa Alex yang sudah ia kenal sejak lama. Alena juga masih penasaran tentang hubungan Alex dengan Lulu, ia dengan tidak sabar menanyakannya tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"Apakah kalian pasangan?."
Alex dan Lulu sedikit menahan tawanya setelah mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Alena kepada mereka. Alice juga penasaran tentang hubungan Alex dan Lulu, mereka sangat terlihat begitu akrab.
"Ini kakakku Alex."
"[Wah benarkah]."
Alice dan Alena begitu terlihat senang di wajahnya, mereka tidak menyangka bahwa selama ini cowok yang mereka sukai ternyata kakak temannya sendiri. Alice sedikit khawatir setelah ia melihat ekspresi dari Alena yang terus memandangi Alex.
"Alena apakah kamu mengenalnya?."
"Ya, dia adalah orang yang pernah aku ceritakan kepadamu."
Alice terlihat tidak begitu senang, ia juga berusaha untuk selalu tersenyum karena adiknya juga menyukai Alex, ia hanya ingin melihat Alena bahagia, ia tidak mau perasaannya ini membuat Alena sedih.
"Wah kalian kembar ya?."
Alex terlihat tidak begitu ingat dengan Alice dan Alena karena terakhir bertemu saat 3 tahun yang lalu. Ia hanya merasa tidak asing melihat wajah mereka, ia juga sedikit kesal karena Silva juga sedang berjalan mendekat.
"Apa kalian pernah bertemu dengan kakakku."
"Oh dia hanya pernah menyelamatkanku saat perpisahan sekolah waktu itu."
"Apa Alice pernah ketemu juga?."
"Haha tidak pernah sepertinya, aku tidak ingat."
Alice terlihat begitu gugup untuk mengatakan kejujurannya, ia lebih mementingkan perasaan adiknya daripada perasaannya sendiri. Ia hanya ingin hubungan saudaranya tidak hancur hanya gara-gara laki-laki yang sama.
"Wah sepertinya seru sekali kalian mengobrolnya? Ajak aku juga dong."
"Si nenek sihir datang."
"Hei!! mulutmu itu bisa di jaga sedikit ga Alex!!."
"Tidak bisa sudah dari sana seperti ini."
"Maaf ya suasananya jadi berubah karena mulutnya itu emang seperti itu."
Silva meminta maaf karena sudah berprilaku tidak sopan di hadapan mereka yang sedang serius mengobrol. Alena terlihat tidak senang karena Silva sudah terlihat akrab dengan Alex, ia saja belum bisa seakrab itu, ia juga kesal karena Silva sudah sedikit mendahuluinya.
"Aku mau pulang saja, kamu ikut aku atau tidak?."
Alex terlihat sudah tidak tahan dekat-dekat sama Silva, ia hanya ingin pulang meninggalkannya dan menarik tangan Lulu secara tiba-tiba. Ketika Alice dan Alena yang melihat Lulu dan Alex sudah pergi jauh mereka langsung kesal menatap Silva yang sudah mengganggu mereka.
"Hei? Kenapa kalian memandangku seperti itu?."
"Kau itu Ape?."
"Aku nih manusia lah."
"Kenapa mereka pergi setelah melihat batang hidungmu itu?."
"Entahlah aku pun juga bingung."
Silva juga terus berjalan pergi meninggalkan Alice dan Alena yang masih terlihat berdiri di depan pagar kampus. Mereka juga kesal karena sudah membuat Alex meninggalkan mereka tanpa pamit. Alice juga tidak mau kalau Alex di rebut oleh Silva yang tidak tahu malu itu. Alena sedikit terlihat marah terus memandangi Silva yang sudah berjalan menjauh menuju mobil pribadinya.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.