
"Siapa ini?."
"Ga tau, aku juga tidak kenal dengannya?."
"Oh maaf, perkenalkan namaku Silvana Fitri."
Silva terlihat mengulurkan tangan kanannya ke depan Lulu. Silva juga tidak tau siapa gadis ini mengapa bisa bersama dengan Alex. Ia juga penasaran dengan hubungan mereka saat ini.
"Aku Lulu Ayunda, biasa temanku memanggilnya Lulu."
Lulu terlihat begitu kesal dengan Silva, ia sedikit lebih keras menggenggam tangannya untuk berusaha mengingatkan Silva agar tidak boleh lagi berani-berani mendekati Alex tanpa seizinnya.
Alex hanya bingung melihat mereka saling bertatapan seperti sedang memperebutkan hal yang berharga bagi mereka. Mereka juga terlihat tidak begitu akrab satu sama lain. Alex berusaha memisahkan mereka agar tidak melanjutkan ke hal serius.
Lulu dan Silva terlihat menyimpan tangan mereka ke belakang untuk menyembunyikan rasa sakit setelah bersalaman tadi. Silva juga tidak mau menyerah karena Lulu sudah berani mengatakan perangnya secara tidak langsung padanya.
Mereka saling bertatap-tatapan melampiaskan rasa kesalnya, terlihat begitu penuh kobaran api. Alex yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa, ia juga berusaha menarik tangan Lulu agar secepatnya pergi dari sini karena ia malu di lihat banyak orang.
"Awas kamu kalau ketemu lagi."
Lulu dengan penuh emosi memalingkan wajahnya untuk memperingatkan Silva agar tidak macam-macam dengan kepunyaannya ini. Semuanya adalah miliknya jangan berani-berani untuk berpikir untuk mengambil darinya.
"Emmm.."
Silva hanya tersenyum karena hal ini membuatnya semakin bersemangat untuk mengambil Alex dari Lulu, ia juga tidak sabar ingin melihat ekspresi Lulu setelah ia berhasil mengambil miliknya itu.
--
"Lulu sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?."
"Kakak? Siapa gadis itu?."
"Dia hanya satu sekolahan denganku."
"Lebih baik kamu menjauh darinya, dia itu sepertinya ingin berbuat tidak baik denganmu."
"Iya, nanti aku akan hati-hati kok. Kamu jangan khawatir lagi ya."
Dengan tersenyum Alex secara tidak sadar memperlakukan Lulu seperti anak kecil, ia terlihat menyentuh kepala Lulu agar bisa menenangkan adiknya itu. Lulu langsung terdiam dan terlihat wajahnya yang sedikit memerah ketika tangan Alex menyentuh kepalanya itu.
"Lulu Ayunda [Kesukaan 77% sangat suka]."
Alex tersenyum melihat Lulu yang sangat menyukai jika ia menyentuh kepalanya itu, ia juga mencoba mengelus-elus kepala Lulu dan benar saja wajah Lulu semakin memerah memandangi Alex.
"Wah kamu sangat suka di sentuh di kepala ya?."
"Hah? Siapa yang suka?."
Lulu sedikit kesal karena Alex tidak menyadari perasaannya, ia terlihat sedikit menambah langkah kakinya berjalan mendekati mobil untuk segera pulang. Alex yang melihatnya masih merasa bingung tentang dimana ia berbuat salah dengannya.
--
"Mereka satu mobil bersama? Apakah mereka emang pasangan atau keluarga?."
Silva terlihat begitu penasaran dengan hubungan Lulu dan Alex, ia sangat ingin mengetahui tentang hubungan mereka. Ia juga tidak jadi membeli apapun di dalam mall karena sudah merasa senang bisa mendapatkan hal baru.
"Nona Silva, mana barang-barangnya?."
Levy penasaran kenapa Silva tidak membawa apapun dari dalam mall. Tapi ia juga tidak mau membuat kesalahan ia terlihat membukakan pintu mobil belakang untuk Silva.
"Tolong ikuti mobil hitam di depan itu?."
"Kenapa nona?."
"Sudah ikuti saja."
"Baik."
Silva sedikit penasaran di mana mereka tinggal, ia begitu senang mengikutinya dari kejauhan. Ia juga ingin tahu apa Lulu itu adalah keluarga Alex atau pasangannya.
*****
"Sepertinya nona terlihat senang hari ini."
"Ah, kamu seperti tidak pernah bahagia saja."
"Apakah itu seorang cowok yang nona suka?."
"Tidak, aku sangat membencinya?."
"Apakah dia pernah berbuat jahat kepada nona?."
"Bisa di bilang seperti itu."
"Apa aku harus membuat pelajaran untuknya."
"Emang kamu bisa bertarung Levy? Kamu itukan wanita?."
"Aku ini bukan wanita sembarangan loh."
"Oh, tapi aku saja yang akan menyelesaikan masalahku sendiri."
"Baiklah."
Di pinggir jalan di sebrang halaman rumah Alex. Terlihat Silva terus memandangi mereka dari dalam mobil, ia sangat terkejut melihat halaman rumah yang begitu besar dari miliknya, ia juga mulai ragu tentang kehidupan Alex setelah melihat halaman rumah yang begitu sangat besar itu.
"Levy, apa kamu tau siapa pemilik rumah ini.?"
"Maaf nona, aku belum mengetahuinya lain waktu aku akan mencari tahu tentang tempat ini."
"Baiklah, kita pulang sekarang Levy."
--
Alex terlihat keluar dari mobil ia juga tidak sengaja menoleh ke jalan raya melihat sebuah mobil hitam yang sudah pergi, ia juga sedikit penasaran dengan mobil itu.
"Kakak, apa yang sedang kamu lihat?."
"Tidak apa-apa kok, mari kita masuk."
Sambil berjalan menuju pintu rumah ia kembali menoleh. "Mungkin itu hanya perasaanku saja." Ia juga tidak peduli lagi dengan apa yang ia rasakan dan segera memasuki rumah untuk beristirahat karena sudah lelah pulang dari mall.
--
Ia begitu sangat puas menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur untuk membuat tubuhnya menjadi lebih santai, ia juga ingin tidur untuk menghilangkan rasa lelahnya tadi. Namun semuanya tidak sesuai harapannya tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Ting..tong..ting.."
"Iya, ada apa? Hah? Kecelakaan?."
Ia langsung berdiri setelah mengangkat telepon itu, ia juga segera keluar kamar untuk memberi tahukan ibunya dan Lulu untuk segera pergi ke rumah sakit. Mereka segera berangkat ke rumah sakit bersama-sama.
*****
"Apa papa baik-baik saja?."
Lulu sedikit khawatir dengan keadaan ayahnya yang baru saja mengalami kecelakaan ringan, ia hanya mengalami sedikit luka memar di tubuhnya akibat kecelakaan itu. Namun tidak dengan supir pribadinya ia harus di rawat lebih lama karena mengalami luka yang sedikit serius.
"Papa baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir."
"Apa papa ditabrak atau bagaimana?."
"Itu hanya kecelakaan tidak di sengaja, tiba-tiba tadi seorang anak kecil menyebrang jalan jadi supir papa terpaksa membelokkan mobilnya kesamping setelah itu kami menabrak sebuah pohon."
"Untunglah kamu tidak apa-apa sayang, jika tidak aku akan sedih sekali."
"Kamu tidak perlu khawatirkanku. Aku baik-baik saja sekarang, palingan besok juga bisa pulang."
"Papa istirahat saja dulu disini."
"Iya, benar kata kakak."
"Baiklah anak-anakku tercinta."
Ayahnya sangat senang melihat Lulu dan Alex kini sudah terlihat baikan, ia juga terlihat memeluk mereka berdua di atas kasur dengan ke adaan duduk. Alex dan Lulu juga senang karena ayah mereka baik-baik saja.
"Emmm..Alex keluar sebentar ya."
"Mau kemana kamu Alex?."
"Ingin keluar ada yang ingin di beli."
"Ya sudah, nanti jangan lupa kesini lagi."
"Iya mah."
Lulu sedikit penasaran kemana Alex ingin pergi, ia juga minta izin kepada kedua orangtuanya untuk pergi keluar, ia secara mengendap-endap mengikuti Alex, ia ingin tahu mengapa Alex tiba-tiba ingin pergi.
"Hah? Kemana perginya dia? Cepat sekali menghilang?."
Lulu sangat terkejut karena di persimpangan jalan rumah sakit tiba-tiba Alex menghilang. Ia bingung kemana Alex pergi padahal ia ingin mengikutinya. Terlihat Alex sedang bersembunyi di sebuah kamar di rumah sakit, ia sudah menyadari bahwa Lulu sedang mengikutinya dari belakang.
"Untung saja aku tepat waktu untuk bersembunyi."
Alex sedikit terlihat tenang karena berhasil bersembunyi dari Lulu. Ia juga sedikit terkejut ruangan yang ia masuki ternyata adalah ruangan mayat. Namun ia tidak begitu takut dengan mayat-mayat di sana karena ia juga sudah biasa keruangan seperti ini di kehidupannya dulu.
"Krik.."
Suara pintu terdengar dari dalam. Alex sedikit takut karena seseorang akan masuk kedalam ruangan itu. Ia segera pergi kebawah kasur tempat salah satu mayat yang meninggal di sana. Sebuah langkah kaki melangkah mendekat di mana Alex bersembunyi. Alex berusaha menutupi mulutnya agar tidak bisa di dengar orang kalau ia sedang bersembunyi di bawah.
"Sayang, kenapa kamu meninggalkan aku sendirian."
Terdengar suara wanita sedang menangisi mayat pria yang berada di atas tempat kasur Alex bersembunyi. Ia juga sedikit sedih melihat seorang istri yang sangat sayang di tinggal oleh suaminya.
"Padahal aku belum sempat mewarisi semua harta kamu. Kamu cuman memberikanku sebuah rumah kecil saja, itu tidak cukup buatku nanti."
"Hah?."
Alex terlihat bingung di bawah kasur setelah mendengar wanita itu sedang mengeluh dengan suaminya yang sudah meninggal itu. Ia juga kesal kenapa istrinya itu hanya mementingkan hartanya saja.
"Tolong katakan di mana kamu menaruh semua uang dan aset-aset berharga lainnya?."
"Bruh!."
Bukannya nangis wanita itu terus memaksa suaminya yang sudah meninggal itu untuk mengatakan dimana ia menyimpan semua harta berharganya. Alex juga terlihat menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya karena sudah tidak tahan dengan sifat sang istri dengan suami yang sudah meninggal itu.
"Semua hartaku ada di berangkas rahasiaku cari saja di sana."
Alex tidak tahan dan mencoba membuat suaranya sedikit berat untuk menipu wanita itu agar segera pergi dari ruangan ini, ia juga sudah terlihat kepanasan karena terlalu lama berada di bawah kasur.
"Terima kasih sayang."
Wanita itu langsung pergi setelah mendengar suara Alex, ia juga terlihat sangat senang karena ia akan menjadi kaya raya.
"Oh akhirnya bebas juga. Panas sekali di bawah. Aku harus keluar dari sini, padahal aku ingin keluar dari rumah sakit kenapa jadi malah nyasar kesini sih." Alex juga berusaha membantu menutupi mayatnya lagi dengan kain putih karena istrinya tadi lupa untuk menutupi kembali suaminya itu.
"Swiss!!."
Sebuah keajaiban terjadi setelah salah satu tangan Alex tidak sengaja bersentuhan dengan tubuh mayat itu. Ia seketika melihat sebuah bayangan seperti masa lalu sebelum pria ini meninggal.
"Hah? Apa itu tadi?."
Ia sedikit bingung dengan sentuhan tumbuhnya, ia juga bingung kenapa sesuatu seperti itu bisa terjadi dengannya. Dengan sedikit memberanikan diri, ia kembali menaruh tangan kanannya di atas dahi mayat itu untuk memastikan bahwa yang ia rasakan tadi bukan kebetulan.
"Swiss!!!.."
"Kemana istri aku pergi? Apa dia tidak peduli lagi denganku yang sakit-sakitan ini. Sayang dimana kamu. Ugrh..ugrh..sayang?. Mana obatku, aku harus kuat..Argh..!!"
Sebelum pria ini meninggal ia sudah mempunyai penyakit yang begitu parah yang tidak dapat di sembuhkan lagi, bahkan ia hanya sendiri di rumah. Istrinya bahkan tidak peduli lagi dengannya, dan ia hanya bergantung dengan obat-obatan yang di berikan oleh dokter di rumah sakit ini. Namun karena takdir sudah sampai akhirnya ia meninggal dunia.
"Ah..ah..argh..!!."
Terlihat Alex berusaha bernafas setelah melepas tangannya, ia juga masih belum sanggup menahan rasa sakit ketika ia berusaha melihat ingatan dari mayat pria itu, ia juga masih terlalu lemah hanya bisa bertahan sekitar 20 menit saja, itupun sudah membuat tubuhnya penuh dengan keringat dingin.
"Argh..sepertinya energi tubuhku terasa terkuras habi-."
Ia sudah terlihat berusaha menahan kakinya untuk selalu tegak (lurus), tapi tubuhnya mulai melemah bahkan ia hanya bisa berdiri dengan kedua lututnya saja. Ia tidak kuat lagi untuk menahannya tubuhnya semakin lemah, pandangan yang mulai buram kepala mulai pusing dan akhirnya ia jatuh pingsan di ruangan mayat tanpa ada seorangpun di sana.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya.