
"Tok..tok..tok.."
"Oh kalian sudah datang. Hah? Kenapa kamu bisa kesini?."
"Aku cuman ingin menjenguk temanku?."
"Ada apa Lulu, kenapa kamu teriak-teriak di luar?."
"Ini mah, gadis nakal datang kesini."
Lulu terlihat kesal memperkenalkan Silva kepada ibunya, ia juga bingung kenapa silva bisa berada disini. Alice dan Alena jadi bingung melihatnya kenapa Lulu begitu marah ketika bertemu dengan gadis itu. Alice mencoba bertanya kepada Lulu tentang gadis yang mereka tidak kenali.
Di luar ruangan kamar. Lulu terlihat begitu ribut, ia sangat ingin sekali mengusir Silva agar segera pergi dari sana. Namun karena sifat ibunya yang baik ia di perbolehkan untuk menjenguk Alex yang sedang tertidur. Alice dan Alena hanya duduk di kursi tunggu bersama Lulu yang masih kesal melihat Silva yang sudah memasuki ruangan kamar Alex.
"Lulu kenapa kamu terlihat begitu marah dengannya? Apa yang sudah terjadi dengan kalian."
"Iya, aku juga penasaran."
"Aku hanya kesal dengannya, dia sepertinya mempunyai niat jahat kepada kakakku."
"Wah kalau begitu kita harus menjauhkan dia dari kakakmu."
Alice begitu semangat ingin membantu Lulu untuk menjauhkan Silva dari Alex. Alena juga terlihat senang karena ia bisa bermain dengan seseorang kali ini. Lulu tidak tahu bahwa si kembar temannya ini sangat suka mempermainkan seseorang (menjahilinya).
"Apa dia satu sekolah dengan kita?."
"Tidak, dia satu sekolah dengan kakakku."
"Yah bagaimana dong kita bisa bermain dengannya."
Lulu juga bingung bagaimana caranya ia bisa menjauhkan Silva dengan Alex. Alice dan Alena juga merasa kecewa karena sekolahan mereka berbeda. Namun Alice punya sebuah ide menyarankan untuk berpura-pura mencoba berteman dengan Silva dan bisa mengajaknya ketemuan di lain waktu. Jadi mereka bisa mengerjainya nanti.
"Ide itu juga bagus."
"Setelah dia keluar nanti jangan lupa meminta nomor ponselnya agar kita lebih mudah akrab dengannya."
"Wah aku tidak sabar menantikannya."
Alena tersenyum begitu lebar, ia tidak sabar lagi untuk segera bermain dengan mainan baru. Lulu juga tidak sabar ingin membuat Silva menyesal karena sudah berani mengganggu ketenangannya bersama kakaknya. Alice juga tidak sabar bagaimana nantinya.
--
"Terima kasih tante sudah mengizinkanku masuk."
"Iya sama-sama."
Terlihat Silva sudah keluar ruangan. Ia di sambut hangat di luar oleh Lulu dan kedua temannya. Silva sedikit bingung kenapa Lulu tiba-tiba bersifat baik kepadanya, ia mulai curiga dengan tingkah laku Lulu yang ia tunjukkan. Ia juga sedikit senang dan berpura-pura mengikuti apa yang sedang di rencanakan Lulu.
"Maaf sebelumnya, aku sudah sedikit kasar kepadamu."
Lulu mencoba meminta maaf kepada Silva tentang kesalahannya di waktu pertama kalinya mereka bertemu di sebuah mall saat itu. Silva juga dengan senang hati memaafkannya, ia juga tidak lupa memperkenalkan dirinya lagi kepada teman-temannya Lulu.
"Kalau aku namanya Alice, dan ini adikku Alena."
"Aku Alena salam kenal."
"Aku Silva."
Semuanya terlihat tersenyum setelah perkenalan itu. Silva juga ingin segera pulang karena sudah terlalu lama berada disini lagipula Alex juga tertidur jadi tidak bisa juga ia mengobrol dengannya. Sebelum Silva ingin pergi Alice menahannya ia ingin menambahkan kontak telepon Silva, ia begitu senang memintanya. Alena dan Lulu juga ingin menambah kontak Silva.
Silva juga mulai percaya bahwa mereka benar-benar ingin berbuat baik kepadanya, ia dengan senang hati memberikan nomor ponselnya untuk berteman dengan mereka, ia juga terlihat senang akhirnya bisa memiliki teman meskipun sekolahan mereka berbeda.
"Aku pulang dulu ya."
Silva meninggalkan mereka yang masih berdiri di depan ruangan kamar Alex. Mereka terlihat senang karena sudah berhasil mendapatkan nomor ponsel Silva, mereka tidak sabar untuk mengerjainya nanti.
"Akhirnya dia percaya dengan akting kita."
Terlihat mereka sedang menyatukan genggaman (kepalan tangan) mereka untuk merayakan keberhasilan yang sudah berhasil membuat Silva percaya untuk memberikan nomor ponselnya itu. Mereka juga sudah membahas tentang rencana mereka untuk mengerjai Silva.
"Lulu apa kamu tidak mengajak teman-temanmu masuk juga."
"Oh iya, aku hampir lupa. Ayo masuk."
Alice dan Alena memasuki kamar, mereka juga tidak dapat melihat wajah Alex di karenakan ia sedang berbaring ke samping, membuat mereka tidak dapat melihat wajahnya. Alice dan Alena juga tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa melihat wajah kakaknya Lulu.
Beberapa jam kemudian...
"Makasih sudah mau mampir kesini."
"Tenang saja, kita ini teman."
"Lain kali mampir lagi ke rumahku, kita ajak juga Tiara."
Lulu terlihat mengantarkan Alice dan Alena sampai depan rumah sakit, ia juga ingin mengajak mereka lagi untuk mampir ke rumah. Alice dan Alena juga sudah terlihat memasuki mobil pribadi mereka. Terlihat Alice melambaikan tangannya untuk salam perpisahan kepada Lulu yang masih berdiri di depan pintu masuk rumah sakit.
--
"Mah apa kakak sudah bangun."
"Kenapa kalau aku sudah bangun, kecewa kalau aku bangun heh."
"Eh? Sudah bangun ternyata."
"Emangnya harapan kamu apa?, Aku tidak bangun lagi selamanya?."
"Sudah-sudah jangan bertengkar terus kalian, nanti di marahin petugas rumah sakit kalau kalian terus berisik seperti ini."
"[Maaf mah]."
"Lah kok aku di salahkan."
"Ya emang kamu siapa lagi coba."
"Hadeh. Baru di tegur malah mulai lagi."
Terlihat ibunya menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya karena melihat anak-anaknya yang mulai bertengkar lagi. Ia juga berulang kali menegur mereka agar segera menghentikan perdebatan yang tidak penting itu.
Satu minggu kemudian...
"Mah kakak mana? Kok dia tidak ada di kamarnya?."
"Dia sedang lari pagi."
"Oh lari pagi. Pantas saja hari ini minggu"
"Iya, hari minggu dia selalu olahraga kalau sekolah libur."
Terlihat ibunya sedang berada di ruangan tamu sambil menonton TV. Lulu juga terlihat masih berjalan menuruni tangga, ia juga malas dengan hari minggu ini karena tidak bisa bertemu dengan teman-temannya di sekolah. Ia begitu kecewa harus berada di rumah seharian tidak melakukan apapun.
*****
"Hai, bolehkah aku duduk disini juga."
"Silahkan."
"Apa kamu biasa olahraga sepagi ini."
"Ini sudah jam 07.00 pagi, aku sudah berlari dari jam 04.25 pagi tadi."
"Wah pagi sekali? Apa kamu tidak lelah?."
"Aku sudah biasa melakukannya. Oh iya namaku Alex."
"Sepertinya kamu lupa denganku. Aku Alice."
"Hah? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?."
Alex terlihat bingung setelah mendengar ucapannya Alice. Ia juga sedikit tersenyum karena tidak mengingatnya sama sekali. Mungkin Akibat mereka hanya pernah ketemu satu kali membuat Alex melupakannya.
Alice mencoba mengingatkan kejadiannya waktu itu ketika pertama kalinya mereka bertemu di taman ini juga. Alex yang mendengarnya sedikit mengingatnya meskipun tidak terlalu banyak karena saat itu mata Alex sedikit buram akibat tubuhnya yang masih lemah.
"Maafkan aku tidak mengenalimu, saat itu aku tidak terlalu jelas melihatmu."
"Tidak apa-apa, wajarlah itu juga pertama kalinya kita bertemu."
Alice sedikit malu karena ia pertama kalinya mengobrol dengan seorang cowok seumurannya, ia juga mulai bingung bagaimana caranya untuk menyusun kata-kata untuk bisa terus berbicara dengan Alex. Ia sedikit gugup terlihat jari-jari tangannya yang terus bergerak tidak karuan (jelas).
"Aku harus pulang, aku duluan ya."
"Emmm..ya"
Terlihat Alice sedikit kecewa karena Alex sudah pergi meninggalkannya meskipun ia sudah mengetahui namanya namun mereka tidak sempat bertukar kontak. Ia juga malu kalau memintanya duluan tapi ia juga merasa tidak mungkin kalau Alex yang minta duluan nomor ponselnya.
"Ih..kok jadi seperti ini sih."
Ia terlihat kesal karena tidak dapat apa-apa selain nama saja, ia juga sangat kecewa, dengan kedua telapak tangannya ia menutupi wajahnya yang mulai menyesal karena tidak meminta nomor ponsel Alex duluan tadi. Ia juga tidak tau kapan lagi bisa ketemu dengan Alex.
--
"Pak ini satu berapa?."
"Rp. 5.000 saja."
"Ini pak, ambil saja kembaliannya."
"Makasih ya."
Alex terlihat sedang meminum minuman yang baru saja ia beli di toko dekat rumah Alice dan Alena. Ia juga terlihat terus melanjutkan perjalanannya untuk segera pulang ke rumah sambil berjalan kaki. Ia juga tidak sengaja bertemu dengan Alena yang terlihat sedang mencari-cari sesuatu di dekat pagar tembok rumahnya.
"Apa yang sedang kamu cari?."
"Oh, ponselku tadi jatuh di dini, tapi aku tidak bisa menemukannya karena rumputnya terlalu panjang."
"Apa kamu tau nomor ponselnya?."
"Tentu saj- hah?kamu?."
"Wah!! cepat juga kamu sudah di sini ya?."
Mereka sama-sama terkejut setelah melihat wajah masing-masing. Alena juga tidak menyangka bisa ketemu dengan Alex di dekat rumahnya. Alex juga sangat terkejut bahwa gadis yang tidak lama ia temui tadi sudah berada di sini, ia tidak tahu bahwa itu bukan Alice melainkan adiknya yang bernama Alena.
"Ini pakai saja ponselku untuk memanggil ponselmu."
"Maaf ya merepotkan."
"Tidak apa-apa."
"Tong..ting..tong.."
Tidak begitu lama akhirnya Alena dapat menemukan teleponnya yang berada di rerumputan itu, ia sangat berterima kasih dengan Alex. Ia juga meminta izin untuk menyimpan nomornya itu untuk menjalin hubungan pertemanan. Alex dengan senang hati mengizinkannya karena ia juga sangat berterima kasih karena sudah menolongnya waktu itu saat ia kesusahan.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.