Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 36 Sebuah Pendekatan



"Ale-? Eh maksudnya Andra. Kenapa ponselmu tidak aktif?."


"Aku banyak kesibukan di rumah."


"Oh begitu ya, aku mau ajak kamu ke apartemen baruku saja kok, apakah kamu mau, sekalian kita ajak juga Alena?."


"Apakah kamu tidak bisa dengan Alena saja, soalnya aku masih ada kesibukan."


"Sebentar doang kok, lagi pula saat selesai bekerja juga kita berangkatnya. Nanti jam 9.00 malam tunggu saja aku ya!."


"Dimana kamu nunggunya?."


"Nanti saja aku akan ke ruanganmu lagi oke!."


"Iya-iya, keluar sana aku masih sibuk."


"Siap bos!."


"Ah, bukannya musuhan malah makin akrab saja aku dengan Silva, ini semua gara-gara atasanku, rupa-rupanya dia adalah pamannya Silva. Terpaksa aku harus baik kepadanya!."


Terlihat Alex sedang memegangi kepalanya dengan kedua tangannya karena pusing memikirkannya karena selalu gagal untuk menjauh dari Silva, ia tidak tahu mengapa bisa bertemu dengan Silva, atau ini sudah takdirnya yang tidak bisa pergi dari Silva.


--


"Silva tunggu!."


"Oh Alena? Kenapa kamu terengah-engah?."


"Aku sedang olahraga! Pakek nanya lagi? Ini lagi ngejar kamu!."


"Salah aku apa?."


"Banyak banget!! Eh, bisa tidak dengerin aku dulu?."


"Oh, oke-oke. Ada apa emangnya?."


"Aku tidak jadi ikut, soalnya aku ada kesibukan yang mendadak, jadi kalian saja berdua ya?."


"Ya sudah, kamu jangan cemburu ya?."


"Awas saja kamu macam-macam dengan senior, aku cincang-cincang kamu! Dia itu sudah jadi milikku?."


"Haha..Lagipula aku tidak sendirian di apartemen, pembantuku juga ada."


"Bagus deh kalau begitu. Aku jadi tenang dengarnya."


Alena juga percaya dengan Silva. Ia tahu Silva sudah berjanji kepadanya untuk tidak menyukai Alex, dan mendukungnya bersama Alex untuk selamanya. Sekarang Alena dan Silva sudah berteman baik, mereka tidak bertengkar lagi seperti dulu.


Silva juga sudah menganggap Alex sebagai temannya saja, ia tidak mau berhubungan dengan lelaki manapun karena ia sudah pernah dikhianati oleh tunangannya. Semua itu sudah membuatnya tidak percaya lagi dengan laki-laki manapun terutama Alex yang sudah ia kenal sendiri dari lama.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya! Masih banyak tugasku yang belum selesai."


Alena terlihat sedang terburu-buru pergi setelah memberi tahukannya, ia juga tidak khawatir dengan Silva. Ia sangat percaya Silva tidak akan merebut Alex darinya, ia juga sudah mengatakan kepada Silva bahwa ia sangat menyukai Alex.


"Iya-iya, semangat kerjanya ya!."


Silva dengan tersenyum melihat pertemanannya dengan Alena sudah membaik, ia juga kepikiran dengan Lulu yang selalu marah dengannya bahkan sangat membencinya ketika mereka bertemu. Ia bingung memiliki salah apa kepada Lulu, ia juga berusaha meminta penjelasan dari Lulu, namun ia terus di abaikan sampai sekarang.


--


Jam 08.00 malam.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?."


Silva menghampiri Alex yang baru saja ingin keluar dari ruangan pribadinya, ia tidak sabar untuk mengajak Alex untuk pergi ke apartemennya yang baru, ia bingung harus mengajak siapa lagi, ia hanya memiliki Alex dan Alena sebagai temannya di rumah sakit itu.


"Belum, masih banyak! Kamu ngapain berdiri di dekat pintu ruanganku?."


Alex sedikit kesal karena Silva sudah berada di depan pintunya, ia juga terlihat melihat jam tangannya untuk mengecek apakah sudah jam pulang. Ia sedikit kesal karena jamnya masih menunjukkan pukul 08.10, tapi Silva sudah siap di depan pintunya.


"Bukankah kamu bilang jam 09.00? Ini baru jam 08.10? Apa kamu tidak bisa telat sedikit saja? Aku tidak mau ikut kalau jam-nya tidak sesuai dengan yang telah di sepakati."


Alex segera meninggalkan Silva di depan pintu ruangannya, ia pergi keluar untuk mencari berkas-berkas yang tertinggal di ruangan Alena, ia sedikit menambah kecepatan langkahnya agar bisa menghindari Silva sebisa mungkin.


"Senior tunggu aku, ini berkasnya tadi ketinggalan."


Tiba-tiba Alena datang dari belakang. Alex yang melihatnya sedikit kecewa karena tidak jadi menjauh dari Silva, ia juga berusaha tersenyum sambil melirik-lirik wajah Silva yang sedikit mengejeknya. Alex tahu Silva sangat senang melihatnya tersiksa.


"Oh, Silva! Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu tidak ada pekerjaan hari ini?."


"Hehe..Aku kesini ingin mengingat dokter Andra untuk berkunjung ke apartemenku saja."


"Emmm..bukankah sudah kamu menyampaikannya? Apa ada hal yang lainnnya lagi yang belum kamu sampaikan?."


"(Bagus Alena, usir saja Silva ini!!)."


Alex sedikit tersenyum melihat Alena yang berusaha ingin membuat Silva menjauh dari tempat itu, ia juga tidak tahu mengapa wajah Silva sedikit terlihat ketakutan melihat wajahnya Alena yang sedang berbicara dengannya.


"Iya-iya, aku pergi dulu! Dokter Andra nanti jangan lupa ya?."


"Iya-iya, senior kita tidak akan lupa! Kamu cepat pergi dari sini!."


Alena berusaha mendorong Silva agar segera pergi meninggalkan mereka berdua. Ia juga ingin sebentar berduaan bersama Alex, ada hal yang ingin ia bicarakan dengan Alex secara berduaan. Alex juga ingin pergi keluar untuk mencari sedikit udara segar karena pekerjaannya sudah selesai.


"Senior kamu mau kemana? Bolehkah aku tahu?."


"Aku hanya ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar, aku sudah terlalu lama berada di ruanganku. Setidaknya aku bisa meregangkan semua otot-ototku yang sedikit mulai kaku ini."


"Bolehkah aku ikut juga, lagipula aku juga sudah menyelesaikan semua pekerjaanku! Nanti sisanya aku akan menyelesaikan lain waktu."


"Emmm..iya, makasih banyak senior."


Alena terlihat sangat senang mendengar ucapan Alex yang mulai perhatian dengannya, ia juga semakin menyukai Alex. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk mengambil hati Alex seutuhnya. Ia belum mengetahui Alex menyukainya atau tidak.


--


"Ini buat kamu!."


"Makasih senior."


Alex terlihat memberikan minuman kaleng rasa kopi kepada Alena yang sudah duduk menunggunya di luar rumah sakit. Ia juga segera duduk di samping Alena untuk beristirahat sambil menunggu jam 09.00 untuk pergi menemui Silva nanti.


Alena sedikit malu karena baru kali ini ia bisa bersama dengan Alex duduk bersama menikmati minuman kaleng. Ia juga ingin menanyakan tentang perasaannya namun ia masih malu, ia juga terlihat mencuri-curi pandang sambil meminum minumannya.


"Kenapa kamu terus melirikku? Apakah ada sesuatu di wajahku?."


"Eh! Ti-tidak ada apa-apa kok senior!."


"Bilang saja! Tidak perlu malu begitu."


"Siapa yang malu, aku cuma senang saja kita bisa ngobrol bersama."


"Oh, kalau boleh tahu apa kamu sudah punya pasangan?."


"Hah! Belum dong, aku masih sendiri! Ada apa senior menayangkan tentang itu?."


Alena terlihat bersemangat ketika Alex menanyakannya hal pribadinya, ia ingin memberi tahukan bahwa sekarang ia masih sendiri dan tidak memiliki pasangan. Ia sangat senang jika Alex mengungkapkan perasaannya kepadanya, ia senang hati akan menerimanya.


"Aku penasaran saja, bukankah kamu begitu cantik, kenapa tidak ada yang mendekatimu sampai saat ini?."


"Dulu aku pernah menyukai seseorang laki-laki semenjak aku sekolah SMA, tapi laki-laki itu pergi setelah kami masuk kuliah di universitas yang sama, aku tidak tahu apa alasannya dia pergi secara tiba-tiba seperti itu."


"Apa kamu tidak meminta nomor kontaknya?."


"Dulu aku sudah memilikinya tapi tidak tahu mengapa nomor itu tidak aktif sama sekali."


Alex sedikit bingung mendengar ceritanya, ia sedikit merasa ciri-ciri laki-laki yang di ceritakan oleh Alena hampir sama dengannya. Tapi ia berusaha berpikir positif mungkin hanya kebetulan ciri-ciri itu mirip dengannya.


"Apa sekarang kamu masih merindukannya?."


"Sebenarnya tidak lagi, karena aku sudah punya senior! Eh maksudnya aku sudah punya senior sebagai teman aku di sini hee."


"Emmm..sebenarnya kamu itu baik, mungkin suatu saat nanti ada laki-laki yang mencoba mendekatimu tunggu saja."


"Iya, semoga saja."


Alena sedikit terlihat kecewa karena melihat Alex yang tidak begitu peduli dengan perasaannya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar Alex menyukainya. Ia hanya berharap laki-laki yang akan datang itu adalah Alex.


"Ada apa denganmu? Apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan? Katakan saja jika kamu ingin curhat kepadaku mungkin nanti aku bisa membantu."


"Ti-tidak ada apa-apa kok, aku ingin masuk dulu ya! Soalnya masih ada tugas yang belum aku selesaikan."


"Iya, lagipula ini sudah jam 09.00 malam."


Alena segera berdiri dari kursi dan segera meninggalkan Alex. Ia juga terlihat menahan rasa sedihnya karena Alex tidak peduli sama sekali dengan perasaannya, ia terlihat sangat kecewa sambil berjalan dengan cepat masuk kedalam rumah sakit dan secara tidak sengaja ia juga berpapasan dengan Silva yang ingin keluar.


"Alen-? Ada apa dengannya?."


Silva terlihat kebingungan melihat Alena yang tidak merespon panggilannya, ia juga bingung apa yang sudah terjadi dengannya sampai-sampai Alena terlihat sangat sedih. Ia segera mendekati Alex yang masih duduk di kursi diluar rumah sakit sambil minum minuman kalengnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Alena?."


"Hah? Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kasar bertanya seperti itu kepadaku?."


"Aku tidak kasar, aku hanya ingin tahu apa yang sudah kamu lakukan dengan temanku itu?."


"Aku tidak melakukan apa-apa? Aku hanya mendoakannya agar mendapatkan pasangan yang baik untuknya."


"Apa itu saja?."


"Terus apa lagi? Hanya itu yang aku bicarakan dengannya?."


Alex sedikit kesal dengan tingkah laku Silva kepadanya, ia tidak tahu alasan Silva yang sedikit terlihat begitu memarahinya tanpa alasan apapun, ia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada Alena.


"Apa dia tidak mengatakan apapun kepadamu?."


"Mengatakan apa? Coba kamu jelaskan kepadaku?."


"Hah? Dasar kamu ini cowok perjaka! Apa kamu belum pernah berhubungan sama wanita manapun?."


"Wanita itu sangat menggangu! Aku tidak suka."


"Heh!! Maksudmu aku ini sangat menggangu?."


"Ya sangat menggangu, jika bukan karena pamanmu, aku tidak akan akrab denganmu!."


"Sudah-sudah! Bosan aku dengar alasan kamu itu, aku hanya ingin bilang bahwa Alena itu menyukaimu."


"Hah? Kenapa bisa?."


"Mana aku tahu? Tanya saja sendiri!."


Alex sangat terkejut dengan ucapan Silva yang tiba-tiba memberi tahukannya tentang perasaan Alena kepadanya, ia baru tahu bahwa Alena sudah menyukainya, ia juga baru sadar selama ini prilakunya Alena terhadapnya sangat berbeda dari biasanya saat pertama kali bertemu.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.