Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 19 Kekuatan



Satu bulan kemudian...


"Kakak, apa kamu tidak mau ikut pendaftaran siswa SMA baru?. Mendingan kamu pergi ke sekolah bisa punya banyak teman nantinya, katanya ingin jadi dokter."


Lulu mencoba mengajak Alex yang sedang sibuk dengan laptopnya di dalam kamar. Alex juga sedikit menoleh kearah Lulu yang berdiri di dekat pintu kamarnya. Ia juga terlihat memikirkan sesuatu tentang ajakan Lulu tadi kepadanya.


"Aku hampir lupa dengan cita-citaku, nanti aku pergi, kamu pergi saja duluan."


"Ya sudah kalau begitu."


Lulu terlihat sedikit kecewa karena tidak bisa berangkat bersama, ia juga langsung pergi dari sana dengan wajah kesal sambil bergumam mengejek kakaknya itu.


"Aduh, sakit sekali."


Ia tidak sengaja jatuh kelantai dekat pintu kamarnya Alex, ia juga tidak sengaja melukai sikunya karena mencoba menopang tubuhnya yang tergelincir akibat lantainya licin. Alex yang mendengarnya segera memeriksa ke luar kamar.


"Apa kamu baik-baik saja."


"Aku baik-baik saja cuman sedikit memar di siku ini."


"Sini aku periksa. Oh tunggu aku mengambil obatnya dulu dikamar, kamu sekalian masuk juga."


"Makasih."


Lulu terlihat sedikit menahan rasa sakitnya. Alex masih terlihat mengumpulkan beberapa obat untuk mengobati luka memar itu, ia juga sedikit khawatir kalau Lulu kenapa-kenapa.


"Tahan sedikit ya."


"Aaawww..!!."


"Dah, lain kali hati-hati kalau jalan."


"Ma-makasih kakak."


"Sama-sam-? Lulu Ayunda [ Kesukaan 70% ]."


"Ada apa kak? Kenapa kamu tiba-tiba terdiam."


"Ada tulisan di atas kepalamu?."


"Tulisan, coba aku periksa."


Lulu segera berdiri dari kasur, ia mencoba memeriksanya di cermin punya Alex namun ia tidak melihat apa-apa di atas kepalanya. Terlihat ia terus mengusap-usap kepalanya agar bisa melihat sesuatu yang Alex lihat.


"Tidak ada apa-apa kok?."


"Hah? Itu masih ada. Ini!! di kepala kamu."


Ia terlihat mencoba menyentuh kepala Lulu untuk memastikan apa yang ada di atas itu, namun tulisannya tidak dapat di sentuh malahan tangan Alex menyentuh kepala Lulu. Saat tangannya menyentuh kepala Lulu, ia terlihat terdiam malu karena Alex tiba-tiba menyentuh kepalanya.


"Lulu Ayunda [Kesukaan +5%]."


"Hah, apa yang sedang terjadi sebenarnya?."


Alex terus mengusap-usap tulisan itu agar menghilang di atas kepalanya Lulu, ia juga bingung kenapa tulisan itu mendadak muncul, ia juga langsung turun kebawah untuk memastikan hal tersebut bahwa ini bukan kebetulan saja ataupun mimpi.


"Kakak, kenapa kamu tiba-tiba pergi?."


Lulu sedikit bingung kenapa Alex terlihat begitu terburu-buru pergi keluar, ia kaget bahwa hari ini sudah janjian untuk menjemput Tiara untuk sama-sama mendaftar ke SMA pagi ini.


"Fin [Kesukaan 20%], Villa [kesukaan 35%], Rika [kesukaan 40% kagum]."


Alex terus melihat-lihat semua pelayan di rumahnya dan benar saja semua di atas kepala mereka ada tulisan, ia mencoba berpikir untuk sejenak apa yang sudah terjadi dengan penglihatannya.


"Alex, kamu lihat ponsel mama tidak?."


Ibunya tiba-tiba keluar dari kamar dan ingin bertanya kepada Alex yang sedang duduk di atas sofa ruangan tamu, ia juga melihat tulisan itu di atas kepala ibunya.


"Lestri Candra [Kesukaan 100% cinta ibu]."


"Mungkin di dapur, tadi Alex sepertinya melihatnya di sana."


Alex mulai bingung melihat hal ini, ia segera pergi keluar untuk memeriksa matanya yang menurutnya sedang sakit. Ia juga melihat kesukaan beberapa orang di halaman depan rumahnya, membuatnya tambah pusing.


*****


"Apa yang sedang terjadi dengan mataku dok?."


"Matanya sehat, bahkan ini bisa di bilang sangat-sangat sehat."


"Baiklah, makasih bu dokter."


Alex masih bingung kenapa tiba-tiba di atas kepala orang yang ia lihat terdapat tulisan yang memberi tahukan tentang kesukaan. Ia masih bingung bagaimana caranya ia menghentikan penglihatannya ini. Ia ingin mengontrol penglihatannya terlebih dulu agar ia bisa lebih tenang.


"Akhirnya hilang juga."


"Oh, ada lagi. Ternyata seperti itu."


Alex sedikit menyadari bahwa keinginannya adalah tombol untuk menghentikannya untuk melihat tulisan itu, ia juga masih bingung tentang tulisan di atas kepala orang, tulisan itu tiba-tiba bisa muncul jika ia ingin melihatnya.


"Oh iya, tadi Lulu mengajakku ke SMA untuk pendaftaran murid baru."


Alex bergegas ke parkiran untuk pergi ke sekolahan untuk mencoba mendaftar. Ia juga masih bingung tentang apa yang sudah terjadi baru-baru ini, pertama mengobati orang bisa cepat sembuh, kedua ia bisa melihat nama dan kesukaan orang kepadanya yang ingin ia lihat.


"Apa ini kekuatan yang biasa di film-film luar negeri itu ya, mungkin ini bonus untuk seorang yang sudah bereinkarnasi."


Alex mencoba memikirkannya di dalam mobil, ia juga sedikit tersenyum dengan kelebihan ini sangat bermanfaat bagi masa depannya nanti. Ia juga kurang tau yang tuhan berikan kepadanya tentang kekuatan ini. Ia hanya bisa mengucapkan terima kasih.


--


"Wah..banyak sekali murid-murid yang akan mendaftar tahun ini."


Alex sedikit terkejut melihat orang-orang yang akan mendaftar sekolah. Ia juga sambil berjalan menuju tempat pendaftaran untuk mengambil kertas untuk mengisi formulir sebagai murid baru. Sebelum ia sampai di sana Alex mencoba-coba melihat sekitarnya untuk mencari nama Alena Putriani untuk mengembalikan kalungnya yang pernah ia temukan. Namun ia tidak menemukan namanya di keramaian orang-orang itu.


"Bagi yang sudah mengambil kertas formulir di sarankan untuk memasuki kelas yang sudah disediakan untuk mengikuti sedikit ujian seleksi untuk semua murid yang datang untuk mendaftar, mereka akan diterima di sekolah ini jika dapat menjawabnya dengan benar."


Sebuah pengumuman untuk semua murid-murid baru, akibat murid yang terlalu banyak, terpaksa pihak sekolah menjalankan sebuah ujian agar bisa menerima murid-murid baru tidak melebihi kapasitas ruangan kelas nantinya.


Mendengar hal itu, murid-murid yang berada di sana sedikit merasa kecewa dan ada juga merasa senang dengan kemampuan yang mereka miliki. Namun tidak dengan Alex, ia sangat tidak peduli apapun karena ujian itu tidak begitu berdampak dengan kemampuannya. Jika ia tidak dapat di terima maka ia bisa pergi ke sekolahan lain.


--


"Baiklah, jawab ini dengan hati-hati ya. Jangan sampai kalian menjawabnya dengan asal-asalan."


Terlihat kakak kelas 3 membagikan kertas-kertas ujian yang sudah berada di ruangan kelas yang sudah di siapkan. Alex masih terlihat sedang mencari nama yang ia ingin cari. Akhirnya ia menemukan nama itu sedang berada di kelas yang sama sedang duduk di kursi depan.


"Jawab dengan baik-baik ya!."


Suara yang sedikit mencoba untuk menggodanya, sambil memberikan kertas ujian untuk Alex kerjakan. Ia juga terlihat mengedipkan salah satunya ketika memandangi Alex.


"Emmm..iya."


Alex sedikit bingung tentang tatapan kakak kelas terhadapnya ketika memberikan kertas ujian itu, ia mencoba memeriksa kesukaan kakak kelas itu dan benar saja Alex sedikit takut, karena tulisannya berwarna merah tidak berwarna pink.


"Vievi Jessi [Bahaya! Kesukaan 60% tergoda]."


Melihat warna merah itu Alex sedikit takut, karena tulisan itu menandakan sebuah bahaya, ia segera menunduk wajahnya dan mencoba menyelesaikan kertas ujian itu secepat mungkin agar bisa pergi dari ruangan ujian.


"Hah? Soalnya mudah, apa jangan-jangan kakak kelas itu yang memberikan kemudahan ini."


"Ciks."


Saat Alex mulai curiga dengan soalnya ia kembali menoleh untuk mencoba melihat kakak kelas yang sudah terlihat duduk di kursi guru, kakak itu menyadari bahwa Alex sedang melihatnya ia segera mengedipkan matanya lagi untuk memberikan jawaban.


"Apaan dah nih cewek, sakit atau gimana?."


Alex sedikit takut memikirkan kakak kelas itu yang terus memandanginya tanpa menoleh ke murid lain. Kakak kelas itu juga terlihat menopang kepalanya dengan kedua tangannya agar bisa terus memandangi Alex yang sedang mengerjakan tugas yang diberikannya tadi.


Beberapa menit kemudian...


"Akhirnya sudah selesai, aku mau kabur dari sini."


Alex terlihat berdiri dari kursinya untuk menuju meja guru untuk segera memberikan kertas ujian kepada kakak kelas itu, namun sialnya setelah ia mengumpulkan tugas itu, ia di tahan untuk tetap berada di kelas dan duduk di kursinya lagi.


"Hah? Apaan ini? Ada yang tidak beres dengan kakak ini."


Terlihat Alex menoleh ke kiri dan ke kanan karena merasa sangat tidak enak, ia juga kembali lagi melihat perkembangan kesukaan kakak itu untuk memastikan itu hanya bahaya kecil.


"Vievi Jessi [Bahaya! Kesukaan 70% sangat tergoda]."


Terlihat Alex semakin ketakutan, ia ingin kabur dari sana, karena bahayanya bertambah 10% dengan sangat cepat, ia takut di apa-apain oleh kakak kelas itu. Meskipun Alex tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia berdekatan dengannya. Lebih baik menghindarinya terlebih dulu dari pada harus berdekatan.


Bersambung...


Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.