
"Semuanya sudah selesai, silahkan keluar kecuali yang namanya Alexander Candra."
Mereka keluar setelah menyelesaikan soal ujian. Namun Alex merasa sangat takut mengapa hanya ia yang harus berada di ruangan ini sendirian. Kakak kelas itu terlihat berjalan mendekati Alex yang duduk di kursi paling belakang.
Ia tidak bisa apa-apa, terlihat wajah yang penuh dengan keringat dingin memandangi kakak kelas yang sedikit penuh nafsu berjalan mendekat. Ia sedikit gemetaran ketika kakak kelas itu sudah hampir sampai.
"Kenapa?, jangan takut? Kakak tidak ada pikiran jahat kok sama kamu."
"Oh, benarkah? Kakak baik, kan sama aku?."
"Oh tentu saja, kita ngobrol-ngobrol santai dulu di kelas ini."
"Di-di luar kelas, kan bisa?."
"Mana bisa seperti itu? Di kelas lebih seru."
"Ta-tapi?."
Kakak kelas itu mencoba mengelus-elus pundaknya Alex, ia mencoba meniup-niup telinganya. Alex sedikit gugup ia juga takut apa yang sedang dipikirkan kakak kelas ini kepadanya.
"Santai saja jangan tegang seperti itu, kalau di bawah yang tegang tidak apa-apa kok."
"Hah? Kakak bisa saja bercandanya."
Kakak kelas itu mencoba mengambil kursi di sebelahnya agar ia bisa duduk bersampingan dengan Alex, ia juga terlihat mengelus-elus paha Alex, ia begitu terlihat begitu nafsu dengan ketampanan yang Alex miliki. Alex tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam, ia juga sangat ketakutan bahkan ia belum pernah sama sekali berhubungan dengan seorang wanita di kehidupannya dulu.
"Jessi!! Kepala sekolah mencari!!."
"Iya sebentar, ganggu saja kamu?."
"Astaga? Lain kali saja mainnya nanti kepala sekolah kesini loh."
"Aduh kenapa sih, kakek itu ganggu saja."
Salah satu temannya Jessi memanggilnya karena kepala sekolah sedang mencarinya. Akhirnya Alex bisa bernafas lega karena tidak jadi di apa-apakan oleh kakak kelas itu.
"Cuppss."
"Sampai ketemu lagi tampan."
Alex tiba-tiba terkejut ketika pipi kanannya langsung di cium oleh kakak kelas itu, ia juga berpura-pura tersenyum sambil melambaikan tangannya juga, padahal di dalam hatinya paling dalam ingin memukul kakak kelas itu.
"Dadah..Murid baru yang tampan, lain kali main sama kakak juga ya."
Teman Jessi juga sedikit tertarik dengan Alex, ia juga memberikan ciuman jarak jauh dari pintu kelas. Setelah itu mereka pergi meninggalkan Alex yang masih berada di dalam kelas sendirian.
"Baru saja ingin daftar sudah ada masalah, susah ya kalau jadi tampan. Tapi kalau jelek juga tidak ada yang suka, semuanya jadi salah deh jadinya."
Ia terlihat lemas memikirkan hal yang baru saja terjadi, kaki yang masih terlihat gemetaran setelah di goda oleh kakak kelas yang sangat nafsu'an. Alex juga sangat kesal sambil mengusap-usap pipinya itu untuk menghilangkan bekas ciuman dari kakak kelas tadi.
"Ah, aku hampir lupa tentang kalungnya."
Ia segera keluar dari kelas untuk mencari Alena, ia juga mencoba berlari mengejar murid-murid yang kemungkinan sudah pergi jauh dari kelas. Ia juga terlihat tidak terengah-engah lagi ketika sampai di lapangan sekolah. Ia segera mencari nama Alena di keramaian orang-orang yang sedang berkumpul di lapangan.
"Ketemu. Hah? Kok ada Lulu juga? Gimana ini."
Ia bingung untuk mendekatinya karena Lulu sedang bersama Alena, mereka berdua sedang duduk di kursi panjang di dekat pohon. Ia tidak berani mendekati karena takut Lulu banyak tanya, jika ia mengembalikan kalungnya Alena.
"Oh iya, aku kirimkan orang saja ya."
Ia terpikir sebuah ide untuk mengembalikan kalung itu agar tidak di ketahui Lulu, ia mencoba menyuruh seseorang gadis di dekatnya untuk membantunya memberikan kalung ini bersama uang Rp 10.000, ia juga memberikan uang imbalan kepada gadis itu agar ia mau membantunya.
--
"Hai, kamu Alena Putriani, kan?."
"Iya, ada apa?."
"Ini ada titipan buat kamu dari seseorang tadi."
"Oh, makasih."
"Aku pergi dulu."
"Inikan kalungku? Ini Rp 10.000 uang siapa? Oh!! Aku baru ingat. Lah bukannya aku pakai masker saat ke warung ya. Mungkin dia menemukan kalung ini di depan toko itu."
Alena sedikit tersenyum karena cowok yang ia suka ada di sekitar sini, ia juga bahagia karena tahu cowok itu juga bersekolah di SMA ini. Ia juga melihat-lihat ke kiri dan kanan untuk mencari cowok yang sudah mengembalikan barang miliknya.
"Apa yang kamu cari?."
"Seorang cowok."
"Hah? Ngapain cari cowok?."
"Buat ngajak berantem (berkelahi), pakek nanya lagi."
"Eh..galak amat sih, aku cuman penasaran kenapa kamu cari cowok?."
"Heh, kepo (rasa ingin tahu) deh kamu."
Ia menjelaskan kepada Lulu sesingkat mungkin bagaimana ia bertemu dengan seorang cowok secara tidak sengaja, ia juga menceritakan saat pergi ke warung ketika membeli beberapa cemilan. Jadi intinya ia ingin mengucapkan terima kasih sudah mengembalikan kalungnya sebab itu ia mencoba mencarinya.
"Apa yang kalian bicarakan?."
Terlihat Alice dan Tiara sudah kembali setelah dari toilet, mereka juga sedikit penasaran apa yang dari tadi Alena dan Lulu bicarakan terlihat begitu serius.
"Ini, tadi ada yang mengantarkan kalung milikku."
"Wah, apakah cowok itu mengantarnya kesini?."
"Bukan dia yang mengantarkan ini, dia hanya menyuruh seseorang untuk mengembalikannya."
"Heh? Pengecut sekali cowok itu."
Tiara segera kesal setelah mendengar ucapan Alena, ia juga penasaran apakah itu cowok yang di sukai Alena atau apa. Ia juga mencoba menanyakan itu namun Alena tidak mau memberi tahukannya.
"Sudah-sudah mendingan kita pulang yuk."
"Benar kata Lulu, aku juga lapar nih."
"[Ayo]."
Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang, karena pengumuman untuk murid baru nanti yang akan di terima sekolah SMA Taman Indah ini, bisa datang kembali besok pagi, siapa yang lulus dan siapa yang tidak akan di umumkan dari hasil ujian tadi. Mereka juga sangat yakin menjawab soal-soalnya jadi kemungkinan mereka pasti akan di terima.
--
"Hah? Kemana mereka, bukankah tadi Lulu ada di sana?."
Alex terlihat tidak begitu kaget karena mereka sudah tidak ada di sana, ia juga tidak peduli soalnya barang itu juga sudah ia kembalikan jadi tidak perlu apa-apa lagi. Ia juga ingin pulang, sebelum itu ia ingin mampir terlebih dulu ke kantor untuk melihat bagaimana ayahnya mengurus perusahaan beberapa bulan ini.
"Hai, ini untuk kamu."
"Untuk aku? Apa ini?."
"Aku pergi dulu."
Seseorang gadis terlihat memberikan Alex sebuah surat, ia juga terlihat malu setelah memberikan surat itu. Alex juga bingung kenapa gadis itu memberikannya sebuah surat, ia juga terlihat segera membuka apa isi suratnya. Ia sedikit tersenyum karena suratnya berisikan untuk segera pergi ke taman sekolah ini.
Alex ingin memeriksa kesukaannya namun gadis itu sudah menghilang dari pandangannya, mungkin gadis itu malu dan langsung lari setelah memberikan Alex sebuah surat tadi. Karena Alex tidak mau membuat gadis itu menunggu ia segera pergi ke taman sekolah yang tidak terlalu jauh dari lapangan tempat para murid-murid baru berkumpul.
"Aku sudah berada disini, kenapa gadis tadi tidak ada?."
Ia terus melihat-lihat sekitarnya untuk mencari gadis itu, ia juga sedikit malu karena banyak pasangan muda yang juga bermesraan di taman ini. Ia juga mau menolak kalau gadis itu mengatakan perasaannya. Ia tidak mau masa depannya terganggu oleh yang namanya cinta-cintaan.
"Hah? Kenapa nenek sihir ini kemari?."
Ia sangat kaget melihat kakak kelas Jessi melambaikan tangannya dari kejauhan bersama dengan gadis yang sudah memberinya sebuah surat tadi. Ia juga sudah menduga bahwa surat itu dari kakak kelas Jessi untuk berusaha menemuinya.
"Aku harus pulang, kalau tidak! Ini bisa bahaya."
Ia terlihat segera berlari menjauh dari kakak kelas yang sudah terlihat berjalan untuk menghampirinya. Alex tanpa pikir panjang lagi ia terus berlari tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, ia segera menuju tempat mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan dekat pagar sekolah.
"Ah..ah..oh.."
Terlihat Alex sudah terengah-engah di dalam mobilnya, ia juga segera tancap gas dari sana agar bisa secepat mungkin menjauh dari kakak kelas yang berbahaya itu. Tidak jauh dari sekolah akhirnya Alex bisa bernafas lega karena ia sudah berhasil pergi dari sana.
"Sialan, apa-apaan kakak kelas itu?."
Ia sedikit takut memikirkan tentang kakak kelas yang menurutnya sangat berbahaya. Di dalam mobil pikirannya terus tercampur aduk (kacau) tentang masalah yang ia akan hadapi jika bersekolah di sana, ia sepertinya akan pindah saja dari sekolah itu daripada harus bertemu dengan kakak kelas itu lagi.
"Aku harus menelepon Sebas. Kira-kira apa masih ada sekolahan SMA selain itu. Aku tidak mau kedamaianku di ganggu oleh kakak kelas nafsu'an itu."
Ia terlihat mencoba menghubungi Sebas sambil menyetir mobilnya menuju kantor. Ia juga sangat kesal baru saja ingin mendaftar sekolah sudah ada masalah yang datang. Lebih baik ia mencari sekolahan khusus cowok daripada harus bertemu dengan gadis seperti kakak kelas yang ia temui itu.
"[Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan, cobalah lain kali]."
"Aduh!!, Malah sibuk, sepertinya aku harus segera ke sana saja."
*****
"Selamat siang, CEO Alex."
"Siang, apa ayah dan Sebas ada di atas?."
"Ada pak. Mereka sedang rapat di atas bersama beberapa klien (teman bisnis) perusahaan kita."
"Baiklah, aku akan menunggu mereka selesai saja."
"Apa anda perlu sesuatu?."
"Tidak usah, aku cuman sebentar saja kesini."
Terlihat Alex sedang duduk di atas sofa tempat khusus para tamu untuk menunggu. Ia juga sedikit penasaran bagaimana ayahnya mengurus bisnis di perusahaannya ini. Namun ia juga tidak mau membuat ayahnya terus bergantung kepadanya, ia ingin ayahnya bisa mandiri dan bisa menjalankan bisnisnya ini.
--
"Maaf tuan Alex sudah menunggu sangat lama?."
"Sebastian Michael [Kesukaan 100% setia]."
"Tidak apa-apa Sebas, oh iya kemana ayahku saat ini?."
"Masih di atas ada beberapa berkas yang harus tuan tanda tangani, jadi kata tuan meminta maaf karena belum bisa ketemu kali ini."
"Tidak apa-apa, oh aku mau tanya. Apa ada sekolahan selain SMA Taman Indah?."
"Ada, tapi sekolahannya lumayan jauh dari rumah tuan."
"Tidak apa-apa, intinya sekolahannya yang terbaik deh, biarpun jauh sekalipun."
"Baiklah, nanti aku urus semuanya, jadi tuan tunggu saja."
Alex sedikit senang mendengarnya karena ia menemukan sekolah lain, mungkin ia harus berpisah dari Lulu, ia juga tidak mau sekolahnya kali ini terganggu hanya gara-gara bertemu gadis yang seperti kakak kelas Jessi lagi.
Bersambung...
Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.