
"Terpaksa harus ganti ponsel lagi."
Terlihat Alex sudah membuka paketannya yang berisi sebuah ponsel baru, ponsel yang lama tidak sengaja ia jatuhkan ke jalan raya dan di lendas sebuah mobil membuat ponselnya hancur berkeping-keping tidak tersisa di saat ia berjalan pulang ke rumah pagi itu.
"Untung saja nomor penting masih ada di dalam laptopku."
Ia sedikit lega karena nomor-nomor penting masih di simpan. Ia segera menyalinnya ke ponsel barunya agar bisa di hubungi lagi oleh pihak perusahaan dan keluarganya. Ia sedikit kepikiran tentang gadis yang bernama Alice yang baru pagi tadi ia berikan nomornya. Ia tidak tahu bagaimana membalas pesannya jika nomor yang dulu sudah rusak bersamaan dengan ponselnya.
Keesokan paginya...
"Aku berangkat dulu."
"Pagi sekali? Aku saja belum makan?."
"Aku ada urusan di sekolah jadi sedikit pagi."
Lulu sedikit penasaran kenapa Alex begitu pagi berangkat sekolahnya, ia juga mulai curiga kalau Alex sedang ketemuan dengan seorang gadis di sekolah. Ia mulai marah namun tidak bisa berbuat apa-apa karena sekolahan mereka berbeda bahkan sekolahan mereka lumayan jauh.
"Ayo Lulu makan, apa kamu tidak takut terlambat juga kalau berdiri saja di sana?."
"Hehe, iya mah."
Ia sedikit kaget karena ibunya sedang memanggilnya, ia segera duduk dan sarapan pagi bersama ibu dan ayahnya. Ia masih saja memikirkan Alex yang sedang bersama dengan Silva di sekolahan berduaan, ia membayangkan mereka sedang berduaan di dalam kelas dan tertawa bersama seperti pasangan.
"Argh!! Tidak mungkin itu terjadi."
"Lulu apa yang sedang terjadi. Apa kamu baik-baik saja?."
"Iya, apa kamu sedang sakit."
"Hehe, aku baik-baik saja kok pah."
Ia sedikit malu karena ayah dan ibunya sedang memperhatikannya. Ia segera menyantap makanannya dengan lahap agar bisa secepatnya pergi ke sekolah karena ia sudah mulai tidak tahan dengan bayangan-bayangan Silva yang terus muncul di kepalanya jika ia memikirkannya.
*****
"Wah kamu tepat waktu."
"Iya-iya, aku sudah janji sama kamu."
"Nah gitu dong. Kalau gitu kita mulai ya."
"Hah? Belajar lagi? Bukankah 1 minggu ini masih belum cukup?."
"Gimana bisa 1 minggu sudah selesai, aku akan mengambil jurusan kedokteran jadi kamu harus membantuku menjadi nomor 1 di sekolahan ini."
"Heh, tapi bukankah kamu ingin menjadi perawat saja, kenapa sekarang ingin menjadi dokter?."
"Aku ingin jadi dokter sekarang, apa tidak boleh."
"Iya-iya baiklah."
Alex sedikit kesal karena ia menjadi budak Silva sudah 1 minggu lamanya, ia juga mulai bosan karena terus di paksa untuk membantu Silva memahami materi untuk menjadi dokter. Karena Silva tahu bahwa Alex sangat pintar dan sangat berpengetahuan seperti seorang dokter profesional.
Mereka terus belajar di perpustakaan sebelum jam pertama di mulai. Alex sudah berjanji untuk membantu Silva agar menjadi pintar dan paham tentang materi kedokteran yang ingin ia pelajari. Alex sudah mulai bosan karena Silva tidak bisa memahami tentang penjelasannya yang sudah ia perjelas berulang kali.
"Kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh sih?."
"Aku tidak bodoh, aku ini kurang mengerti saja dengan penjelasanmu itu?."
"Apa? Bukankah aku sudah persingkat (ringkas) agar kamu bisa dengan mudah memahaminya?."
"Tapi tetap saja penjelasannya terlalu sulit di pahami."
"Hah! Kapan aku bisa bebas menjadi budaknya, padahal aku hanya ingin bersantai di kehidupanku kali ini. Mengapa begitu sulit."
Ia sudah mulai mengeluh dengan kehidupannya yang sangat membosankan yang hanya ia habiskan dengan menjadi guru Silva setiap hari dan setiap ada waktu luang, ia hanya ingin berhenti dan ingin segera menjauh dari gadis yang bodoh (Silva).
"Silvana Fitri [Kesukaan -30%]."
Alex sedikit terlihat tidak begitu semangat karena sudah 1 minggu ia terus bersama dengan Silva yang sangat bodoh menurutnya, ia juga tidak bisa istirahat sebentar saja di sekolah, bahkan jam istirahat saja ia harus kembali lagi ke perpustakaan untuk mengajari Silva lagi, ia juga kesal karena kebencian Silva tidak berkurang banyak.
Ia juga bingung kenapa Silva begitu membencinya padahal itu hanya tabrakan yang tidak di sengaja, ia juga bingung harus melakukan apa lagi agar kebencian Silva bisa berkurang, ia sangat ingin pergi jauh sekali ketika kebenciannya itu sudah hilang.
3 tahun kemudian...
"Silvana Fitri [kesukaan 10%]."
"Akhirnya selesai sudah tugas untuk bersama dengannya."
Alex sangat senang karena beberapa tahun ini ia sudah berhasil menghilang rasa benci Silva kepadanya, ia juga terlihat memegang tangan Silva dan mengucapkan selamat tinggal, ia tersenyum bahagia sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Kenapa kamu sangat bahagia?."
"Tentu saja, kamu sudah paham dengan penjelasanku, jadi janjiku sudah selesai."
"Hah? bukankah sampai kita lulus sekolah?."
"Hei..kata siapa? Perjanjiannya saat kamu berhasil memahami materi ini ya."
Alex terlihat menunjukkan buku tentang kedokteran yang sudah selesai Silva pahami semuanya. Ia juga kesal karena Silva terus mencoba menahannya seperti ingin terus bersamanya.
Terlihat Alex dengan tersenyum keluar dari perpustakaan, ia sangat senang sekarang terbebas dari belajar bersama Silva, ia juga sudah mulai bosan mengulang-ulang pelajaran yang sudah dari dulu ia pahami.
Ia juga tidak peduli lagi dengan kebencian Silva jika kembali, yang penting ia bisa menikmati kehidupannya kali ini untuk bersantai sambil menunggu lulus sekolah saja. Ia hanya ingin menikmati hari-harinya dengan bersenang-senang seperti yang ia inginkan.
*****
"Mah, apa kakak sudah pulang?."
"Belum katanya tadi dia masih ada hal yang di urus untuk ujian kelulusan sekolah nanti."
"Oh gitu, sepertinya dia sangat sibuk akhir-akhir ini, dia juga sering keluar rumah tanpa memberi tahukan kepada kita."
"Ciee apa kamu takut kalau kakakmu itu punya pacar ya?."
"Hah? bukan seperti itu mah."
"Dia juga sudah berumur 20 tahun jadi mama sangat ingin punya menantu yang cantik juga, mama ingin cepat-cepat punya cucu hee."
"Hah!! Bukankah ka-kakak ingin kuliah dulu mah?."
"Kan ada juga yang punya istri sambil berkuliah."
"Tapi lebih baik kalau belum sih mah, bagaimana kakak terganggu, pasti dia pusing."
"Benar juga ya."
"Oh.."
Lulu sedikit lega karena berhasil menahan keinginan ibunya yang ingin menikahkan kakaknya. Ia juga tidak mau kakaknya menikah dengan orang lain selain pilihannya dan ia juga ingin kakak lebih baik menjomblo (sendiri) saja seumur hidup.
"Kakak pulang."
"Alex kenapa kamu baru pulang, baru saja mama dan Lulu membahas tentang perni-?."
"Haha..kakak, kamu tidak mandi. Sekarang sudah sore kamu itu sudah bau keringat loh."
"Iya-iya?."
Terlihat Lulu dengan sangat cepat menutupi mulut ibunya yang ingin membahas tentang pernikahan kepada Alex, ia tidak mau Alex tau tentang kalau ibunya ingin Alex segera menikah, ia sangat tahu sifat Alex yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.
Alex juga bingung kenapa Lulu terlihat aneh ketika ibunya ingin berbicara sesuatu tentangnya, namun ia juga sudah merasa lelah setelah pulang dari sekolah karena ia di tugaskan sebagai ketua di kelasnya untuk membantu persiapan kelulusan sekolah SMA yang tinggal beberapa hari lagi.
"Ah aku mau tidur saja jadinya, nanti sajalah mandi."
Alex terlihat sudah berbaring di atas kasurnya ia sangat lelah dan merasa tidak berdaya lagi untuk bergerak ke kamar mandi. Ia hanya ingin tidur mengistirahatkan tubuhnya yang dari tadi pagi sudah lelah menyiapkan acara untuk hari kelulusannya.
*****
Beberapa bulan kemudian...
"Sekarang aku sudah lulus SMA, akhirnya bisa mendaftar kuliah kedokteran, kini perjalananku menjadi dokter akan di mulai lagi. Aku pasti akan menjadi dokter terhebat seperti sebelumnya."
Alex dan Lulu kini terlihat sedang mendaftar di universitas ternama di kota. Lulu memutuskan untuk kali ini ia akan mengikuti kemana Alex akan berkuliah, ia tidak mau lagi terpisah dari kakaknya. Ia hanya ingin terus bersama dengan Alex kapanpun dan di manapun.
--
"Wah Lulu kamu juga mendaftar ke universitas di sini?."
"Wah kalian juga kesini?."
Terlihat semua teman-teman Lulu datang secara bersamaan, mereka bertemu di depan ruangan kelas untuk mengikuti ujian pendaftaran kuliah. Mereka kebetulan tergabung di kelas tes yang sama.
"Semoga kita bisa satu kelas ya?." Ucap Alice dengan tersenyum kepada teman-temannya.
"Yah mungkin tidak, aku akan mengambil jurusan keguruan."
"Wah, kenapa kamu tidak kedokteran juga Tiara?."
Lulu sedikit penasaran kenapa Tiara mengambil jurusan yang berbeda dari mereka pilih, ia juga bingung apakah Tiara ingin berpisah dengan teman-temannya.
"Haha. Itu sedikit mahal, ayahku tidak akan sanggup membayarnya nanti, kalian itu orang kaya mana bisa aku seperti kalian. Meskipun ayahku sudah bekerja di toko kakakmu Lulu. Tapi aku tidak mau juga terus merepotkan ayahku."
"Dasar anak yang selalu berbakti kepada orang tua. Tapi kita akan terus bersama,kan kalau terpisah nanti." Ucap Alice sambil merangkul tangan Tiara.
"Iya dong, kita ini teman selamanya."
Mereka terlihat sangat senang di depan pintu kelas, mereka segera memasuki kelas ujian pendaftaran kuliah. Tiara juga pamit karena ruangan tes untuk jurusan keguruan ada di kelas lain. Ia juga sedih karena mulai saat ini mereka kurang punya waktu bersama lagi.
--
"Terima kasih atas antusias kalian karena memilih universitas ini untuk masa depan kalian nanti. Pengumuman untuk penerimaan mahasiswa baru akan di umumkan lewat ponsel kalian masing-masing nanti, jadi tunggu saja pesan masuk di ponsel kalian, bagi yang tidak menerima pesan tersebut di harapkan kalian tidak berkecil hati dan bisa mengikuti ujian seleksi ke 2 pada hari yang akan di tentukan, sekian terima kasih. Semoga hari kalian menyenangkan, kalian bisa pulang sekarang."
Mereka terlihat tidak sabar menantikan pengumuman itu, mereka juga terlihat senang karena bisa terus bersama-sama. Alice dan Alena juga memilih jurusan kedokteran seperti Lulu, mereka dari dulu sudah ingin menjadi seorang dokter. Sedangkan Lulu hanya ingin bersama Alex dan ia tidak ingin kakaknya itu di ambil oleh siapapun. Mulai saat ini Alice, Alena, dan Lulu akan berada di kelas yang sama. Alice dan Alena juga tidak tahu bahwa Alex akan mengambil jurusan seperti mereka pilih.
Bersambung...
Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.