
"Kakak, aku tidak ada melihatmu berada di SMA Taman Indah? Apa kamu masih tidak mau sekolah?."
"Aku sekolah, tapi tidak di sekolahan itu."
"Hah? Kenapa? Kita bisa berangkat bersama kalau satu sekolahan."
Lulu sedikit kecewa setelah mendengar ucapan Alex yang tidak mau satu sekolahan dengannya, ia juga tidak tau apa alasannya kenapa Alex tidak mau ke sekolahan yang sama. Alex masih terlihat sibuk dengan ponselnya duduk di atas sofa diruang tamu.
"Kalau kita satu sekolahan, bagaimana kalau teman kamu menyukaiku, nanti kamu bisa marah lihatnya."
"Hah? Siapa yang marah. Malahan aku sangat senang bisa terus bersamamu."
Lulu mulai kesal karena Alex mencoba mengejeknya, ia juga tanpa sengaja sedikit mengatakan perasaannya bahwa bersama dengan Alex adalah kesenangannya. Alex yang mendengarnya sedikit terkejut ia juga menoleh kearah Lulu yang masih berdiri di depan sofa.
"Kita ini satu rumah masih saja belum puas. Dasar anak manja."
"Kamu tidak mengerti, aku benci sama kamu."
Terlihat Lulu sangat marah sampai-sampai ia menghentakkan kakinya ke lantai untuk memberi tahukan Alex bahwa ia sedang kesal dengannya, ia juga pergi meninggalkan Alex sendirian duduk di ruang tamu.
"Apaan sih maunya dia?, Nanti juga baik lagi."
Alex sama sekali tidak peduli dengan tingkah laku Lulu terhadapnya, ia juga tau bahwa Lulu tidak akan kuat marah-marah dengannya. Karena Alex sudah kenal dengan sifat yang Lulu miliki.
"Papa pulang."
"Siang pah."
"Kemana yang lainnya."
"Ada, di kamar mungkin."
"Bagaimana pendaftaran sekolah barumu."
"Nanti Sebas yang ngurus, jadi aku menunggu kabar darinya saja."
"Allend Candra [Kesukaan 95% cinta ayah]."
Alex sedikit tersenyum karena kesukaan ayahnya sedikit kurang 5% dari ibunya, namun itu tidak mempengaruhi sama sekali. Ia juga sudah senang memiliki orang tua yang sangat sayang dan cinta kepadanya.
"Kenapa kamu senyum senyum sendiri?."
"Tidak apa-apa kok pah, aku itu senyum melihat papa yang sudah berhasil menjalankan sebuah bisnis."
"Ini semua karena kamu dan Sebas sudah mengajarkan papa."
Terlihat Alex dan ayahnya mengobrol membahas tentang perusahaan yang sudah ayahnya jalani beberapa bulan ini, mereka juga terlihat sambil bercanda, membicarakan tentang perusahaan yang terus berjalan baik.
"Papa sudah pulang ya?."
"Lulu, kamu semakin cantik saja semenjak tidak bertemu."
"Haha, papa terlalu memuji Lulu."
Lulu masih kesal dengan Alex, ia bahkan tidak melirik kearah Alex duduk, ia hanya peduli dengan ayahnya yang baru datang dari kantor. Alex yang melihat sedikit bingung ia juga mencoba tidak memperdulikan apa yang ingin Lulu lakukan kepadanya.
"Pah!! Kakak tidak mau satu sekolah denganku."
"Hah? Kenapa Alex tidak mau?."
"Sekolahannya kurang aku sukai."
"Hanya itu alasan kakak?."
"Alex, kenapa kalian tidak satu sekolahan saja?."
"Aku tidak mau ke sekolahan itu, kalau tidak Lulu saja yang mengikutiku ke sekolahan lain."
Alex kesal karena ia tidak mau bertemu dengan kakak kelas Jessi tapi ia tidak menceritakannya kepada mereka, ia hanya pergi setelah mengatakan alasannya itu.
"Kenapa dia begitu kesal."
"Apa tadi pagi dia dapat masalah di sekolah."
"Aku tidak bertemu dengannya di sekolah pagi tadi. Jadi aku tidak tau pah."
"Ya sudah, apa kamu mau mengikutinya atau bagaimana?."
"Emmm..tapi teman-temanku bagaimana?."
"Itu terserah kamu saja. Papa mau mandi dulu ya."
"Oke papa."
Lulu sedikit bingung harus memilih apa, ia juga ingin bersama Alex tapi di sisi lain teman-temannya juga sudah mendaftar, ia sangat bingung harus memilih siapa di antara kakaknya atau teman-temannya. Ia juga terlihat menggaruk-garuk kepalanya karena sedikit bingung.
Satu minggu kemudian...
"Mah pah, Lulu berangkat dulu ya."
"Hati-hati di jalan ya."
"Dah, kakak."
Terlihat Lulu sudah berdiri dari kursi makan, sifatnya begitu dingin kepada Alex yang terlihat sedang masih makan dengan seragam sekolah yang berbeda dengan yang di pakai Lulu. Alex di terima di SMA Langit Biru lumayan jauh dari sekolahan Lulu.
"Apa yang terjadi dengannya, seperti dia terus kesal terhadapku, emangnya apa salahku kepadanya."
"Kamu itu tidak mengerti tentang perasaan seorang adik, dia itu ingin bersama kamu."
"Tapi dia yang tidak mau ikut, ke sekolahan yang aku pilih."
"Itu pilihan dia pah, kenapa dia marah sama aku coba?."
Alex juga sudah selesai menghabiskan makanannya, ia juga tidak lupa untuk bersalaman kepada ayah dan ibunya sebelum pergi ke sekolah. Ibu dan ayahnya sangat bahagia melihat anak mereka yang sudah berubah.
*****
"Selamat pagi semuanya murid-murid baru, selamat datang di SMA Langit Biru. Bapak harap kalian bisa beradaptasi dengan tempat dan bisa berteman baik dengan yang lainnya. Berhubung ini hari pertama kalian, jadi kita perkenalan nama dulu sebelum pelajaran dimulai. Jadi masing-masing nanti maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya."
"Baiklah, ini yang terakhir silahkan maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya kepada teman-teman."
Alex segera maju ke depan, ia juga sedikit gugup melihat tatapan dari semua gadis tertuju kepadanya, namun tatapan laki-laki juga sedikit terlihat kesal karena sudah mencuri perhatian gadis-gadis di kelas. Intinya murid laki-laki iri melihat Alex yang begitu populer (terkenal).
"Namaku Alexander Candra, umurku 17 tahun, semoga kita bisa akrab kedepannya."
"Wah, tampan sekali."
"Iya, baru kali ini deh aku lihat cowok setampan dia."
"Tidak nyesel aku daftar sekolah sini."
"Cih, gitu saja sombong."
"Masih kalah dia, tampanan juga ayahku di rumah."
"Baiklah, anak-anak mohon tidak ribut (berisik) ya. Alex bisa kembali ke kursinya lagi."
"Baik pak."
Alex juga sedikit kesal memikirkan tatapan dari laki-laki di kelasnya, saat ia berjalan kembali ke kursinya, namun Alex tidak takut hanya saja ia ingin menjalani sekolahan ini dengan damai tidak memiliki masalah dengan siapapun itu.
"Ting..ting..ting."
Jam istirahat sudah berbunyi. Alex yang terlihat sedikit lapar ia mencoba berjalan ke kantin untuk mengisi perutnya. Namun hal yang tidak terduga datang ketika ia mulai melangkah keluar dari pintu kelasnya, semua gadis-gadis termenung melihat Alex yang berjalan begitu keren.
Ia juga terlihat mencoba menahan malu ketika semua murid-murid memandangnya. Ia berusaha tidak peduli dan terus melanjutkan langkah kakinya itu menuju kantin. Ia juga bingung di mana kantinnya berada.
"Hai, apakah kamu tahu letak kantin disini."
Dengan di penuhi sinar matahari pagi dari jendela sekolahan dan muncul bunga-bunga bermekaran di belakang Alex membuat gadis yang ditanyainya itu tidak dapat menjawabnya dengan benar. Bukan hanya gadis yang di dekatinya, gadis lainnya juga melihat hal yang sama ketika kata-kata itu keluar dari mulut Alex. Mereka semuanya seperti terhipnotis dengan ke tampanan Alex.
"Ah..tampan sekali..?."
"Badanku terasa panas melihatnya."
"Pasti panaslah, badanmu itu kena sinar matahari bodoh."
"Ah, siapa sih, membuka gorden jendela ini?."
Alex sangat bingung apa yang sudah terjadi dengan gadis-gadis disekitarnya, bukankah ia hanya bertanya dimana tempat kantin itu berada. Ia segera menjauh dari sana dan tidak sengaja menabrak seorang gadis yang terlihat begitu banyak membawa buku.
"Ah, maafkan aku."
Ia segera minta maaf karena tidak sengaja menabraknya dengan begitu keras. Ia juga terlihat membantu gadis itu membereskan buku-bukunya yang berserakan di lantai.
"Apa kamu jalan pakai dengkul?."
"Maaf, ini salahku aku tidak sengaja melakukannya."
"Silvana Fitri [Kesukaan -45% benci]."
"Hmph.."
Silva tidak peduli dengan permintaan maaf dari Alex, ia segera pergi setelah membereskan semua buku-bukunya tadi. Ia juga masih marah kepada Alex kerena sudah membuatnya jatuh kelantai, ia juga masih merasakan sakit karena pantatnya yang terbentur ke lantai tadi.
"Hah? Baru itu dia sudah benci kepadaku."
Ia sangat terkejut melihat kebencian dari Silva yang lumayan besar. Padahal Alex sudah berusaha meminta maaf tapi kenapa kebenciannya sebesar itu, ia ingin sekali lagi untuk meminta maaf kepada Silva jika bertemu dengannya di lain waktu.
"Ting..nong..ting."
Bunyi bell terdengar jelas. Menandakan pelajaran sudah berakhir semua murid-murid terlihat sangat senang. Namun tidak dengan Alex, ia masih memikirkan Silva di kepalanya karena melihat kebenciannya yang begitu besar terhadapnya.
--
"Bolehkah aku bantu."
"Terima kasih. Hah? Kamu!!."
Silva masih saja kesal, karena ia bertemu lagi dengan seseorang yang sudah membuatnya kesakitan sampai saat ini. Ia kembali mengambil bukunya lagi dari tangan Alex setelah ia memberikannya tadi.
"Hai!! Tunggu!, aku sangat minta maaf tentang tadi siang. Aku beneran tidak sengaja menabrakmu."
Alex terlihat memegang tangan Silva untuk menghentikannya. Namun Silva masih marah karena mulai dari siang tadi ia tidak dapat fokus dalam belajar karena pantatnya yang masih sakit. Dengan wajah yang begitu kesal memandangi Alex untuk segera melepaskan tangannya itu.
"Ah, maaf."
Alex sangat takut dengan tatapan itu, ia juga masih berusaha agar Silva bisa memaafkan bagaimanapun caranya. Ia juga bingung apa yang harus ia lakukan agar Silva mau mendengarkan perkataannya.
"Aku akan melakukan apapun, asalkan kamu bisa memanfaatkanku."
"Benarkah?."
"Iya, aku janji asal kamu mau memaafkannya."
Silva sedikit tersenyum setelah mendengar ucapan Alex yang begitu serius. Ia juga terpikirkan sebuah ide untuk menjadikan Alex sebagai pembantunya nanti. Alex yang melihatnya sedikit takut, ia juga tidak tau apa yang sedang di pikirkan Silva kepadanya, namun ia juga tidak melihat tanda bahaya di atas kepala Silva membuatnya sedikit bernafas lega.
Bersambung...
Jangan Lupa Di Like, Subscribe, dan Share. Agar Thor Semakin Semangat Updatenya.