Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 26 Perasaan Cinta



"Kenapa sih kamu senyum-senyum sendiri?."


"Ada deh, hee."


"Kasih tau aku dong ya."


"Iya-iya deh."


Alice sangat penasaran ketika baru saja masuk ke rumah, ia sudah melihat Alena senyum-senyum sendiri duduk di atas sofa sambil memegangi ponselnya. Ia begitu sangat senang hanya dengan memandangi ponselnya saja. Alice sangat penasaran kenapa Alena bertingkah seperti itu.


Alena menjelaskan kepada Alice tentang kebahagiaannya itu karena sudah bertemu dengan seseorang yang selama ini ia cari-cari, ia juga menceritakan keberuntungannya kepada Alice karena sudah mendapatkan nomor ponselnya. Alice yang mendengarnya ikut senang namun ia juga sedikit sedih karena tidak seberuntung Alena.


Alena juga sedih melihat kakaknya itu, ia juga menawarkan untuk memberikan nomor ponsel cowok itu kepada Alice, ia tidak ingin melihat kakaknya sedih hanya gara-gara cowok yang ia suka. Alice tidak menerima tawarannya itu karena cowok yang disukainya berbeda, ia hanya tersenyum atas semua kebaikan yang Alena berikan kepadanya. Ia juga tidak tahu bahwa cowok yang disukai mereka adalah cowok yang sama.


"Itu milikmu kenapa kamu memberikannya padaku, lagipula dia bukan cowok yang ku sukai."


"Tapi dia juga cowok, ambil saja dia juga lumayan tampan kok."


"Tidak, itu milikmu. Aku bisa cari sendiri nanti."


"Ya sudah, jangan menyesal nanti ya."


"Siapa yang menyesal. Dia bukan orang yang ku suka juga."


Alice meninggalkan Alena yang masih duduk di atas sofa. Ia juga ingin segera mandi karena sudah bau keringat. Alena masih bingung ingin menghubungi Alex atau tidak, ia juga malu kalau menghubunginya duluan. Ia juga takut kalau mengganggu waktunya Alex saat ini.


Ia hanya ingin menanyakan namanya saja karena dari pertama kali bertemu sampai sekarang ia belum tahu namanya Alex. Namun ia malu untuk menghubungi Alex duluan, ia terlihat tidak berani menekan tombol kirim pesannya yang sudah banyak ia ketik untuk berkomunikasi dengan Alex.


"Ah aku malu sekali, apa dia mau membalasnya nanti?."


Alena sangat gugup, terlihat jarinya yang masih ragu untuk menekan tombol kirim pesan kepada Alex, ia masih takut dan merasa ini terlalu cepat untuk berkenalan, ia juga bingung harus berbicara apa nantinya kalau pesannya sudah di balas.


*****


"Alex pulang."


"Bagaimana olahraga paginya? Apakah itu menyehatkan?."


"Tentu saja, makanya kamu itu harus olahraga juga."


"Malas ah gerak-gerak kalau libur gini."


"Terserah kamu sajalah."


Alex terlihat meninggalkan Lulu yang sedang duduk di sebuah kursi di depan rumahnya (Teras). Lulu sedikit kesal karena Alex sudah tidak bisa meluangkan sedikit waktunya lagi bersama dengannya. Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa diam, ia juga marah karena kakaknya itu sudah mulai di dekati oleh seorang gadis yaitu Silva.


Lulu sangat kesal hanya dengan memikirkannya saja, ia tidak mau kalau Alex sampai jadian sama Silva, ia tidak akan pernah menyetujuinya sampai kapanpun, ia harus menjauhkan Alex dari Silva bagaimanapun caranya. Ia hanya ingin Alex menjadi miliknya seorang.


"Permisi nona."


"Iya paman, ada apa?."


"Ini tadi ada kiriman paket di depan untuk tuan Alex."


"Oh, makasih ya."


Tukang kebun rumahnya itu segera pergi setelah memberikan paketnya. Lulu sedikit penasaran dengan paket yang baru saja sampai atas nama Alex, ia juga mulai memeriksa apa yang ada di dalamnya itu, tapi ia juga tidak mau merusaknya karena Alex bisa saja marah. Ia segera masuk kedalam rumah untuk memberikan paketnya kepada Alex.


"Kakak? Paketanmu sudah sampai."


"Taruh saja dulu, aku masih mandi nih."


"Baiklah, aku taruh di atas kasur ya."


Lulu masih terlihat duduk di atas kasurnya Alex, ia ingin tahu apa isi di dalam paket ini. Ia sengaja menunggu Alex selesai mandi sambil bercermin-cermin. Ia juga sengaja melihat beberapa pakaian Alex di lemari, ia juga terlihat ingin mencobanya dan sangat suka mencium aromanya itu.


"Hei? Apa yang sedang kamu lakukan dengan membuka lemariku?."


"Aku- Argh!!!!..."


"Kenapa berteriak?."


"Pakai dulu bajumu itu."


Lulu melempari Alex dengan baju-baju yang ada di lemari, ia juga sengat gugup karena mulai merasakan panas di tubuhnya jika matanya terus memandangi tubuhnya Alex. Ia juga memalingkan badannya agar tidak melihatnya lagi. Alex sedikit tersenyum karena Lulu terlihat begitu malu ketika melihatnya tidak memakai pakaiannya, ia sedikit ingin mencoba menjahilinya.


"Sudah aku pakai nih."


"Nah gitu- Argh!!!!."


"Hahaha."


"Katanya sudah, kenapa masih pakai handuk, kamu sudah menjahiliku ya. Awas saja kamu nanti aku balas, cepat pakai pakaiannya sekarang juga."


Dengan sedikit berteriak Lulu mencoba memaksa Alex untuk segera memakai pakaiannya itu, ia juga masih terlihat memalingkan badannya agar tidak melihat Alex sama sekali. Ia juga sangat malu karena sudah berada di kamar berduaan saja.


"Sudah nih, cepat bereskan pakaianku yang kamu berantakan ini."


Terlihat Alex mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai karena Lulu, ia juga sedikit kesal karena Lulu hanya duduk di atas kasurnya dengan wajah yang masih di tutupinya dengan kedua telapak tangannya.


"Argh..Aduh."


"Emmm.."


Terlihat Alex tidak sengaja menginjak pakaiannya yang masih tergeletak di lantai membuat ia harus terjatuh menimpa Lulu. Ia mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak terlalu menindih Lulu. Ia mencoba bangun namun kakinya sedikit kram membuatnya sedikit kesusahan untuk bangun.


Lulu merasa malu karena wajah mereka terlalu dekat bahkan hembusan nafas Alex mengenai wajahnya. Ia juga sedikit memiringkan wajahnya untuk sedikit menyembunyikan perasaan malunya itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa dalam posisinya kali ini, ia hanya terdiam sedikit melirik wajah Alex yang baru selesai mandi, ia juga mulai tidak tahan dengan wangi tubuh Alex yang begitu tercium olehnya.


Alex sedikit gugup jantungnya berdetak kencang, ia juga tidak tau apa yang sudah terjadi dengannya, ia sangat malu karena belum bisa mengangkat tubuhnya itu. Dengan sedikit paksaan Alex membaringkan tubuhnya kesamping tubuh Lulu.


Lulu terlihat memiringkan badannya karena tidak berani memandangi Alex lagi, ia sangat malu karena berada di situasi yang sedikit membuat tubuhnya mulai panas. Alex juga malu memandangi Lulu, ia berusaha menganggap Lulu sebagai Adiknya namun hal itu belum bisa meyakinkannya karena dari dulu ia tahu bahwa Lulu hanya adik angkatnya saja.


"Lulu Ayunda [kesukaan 84% cinta]


"Maafkan aku, tadi beneran tidak sengaja."


Alex sedikit menyadari bahwa Lulu mulai mencintainya sebagai kakak, ia tidak ingin rasa cinta Lulu itu hancur dengan tingkah lakunya sebagai kakak yang mulai menyukai adiknya sendiri. Ia juga padahal mulai suka dengan Lulu tapi ia tidak mau hubungan mereka hancur hanya karena perasaan yang saling berbeda.


"Tidak apa-apa, kakak pasti tidak sengaja. Lulu minta maaf karena sudah melempari semua pakaiannya tadi."


"Tidak apa-apa, kamu itu adik aku yang paling cantik."


"Lulu Ayunda [Kesukaan +1 cinta].


Alex sedikit tersenyum karena ia tahu bahwa setelah menyebutnya adik rasa suka Lulu bertambah. Ia berdiri dan membereskan lagi pakaiannya yang masih berserakan itu. Lulu juga segera keluar dan meninggalkan Alex sendirian di kamarnya.


"Aku harus menjadi kakak untuknya, aku tidak boleh menyimpan perasaan ini kepadanya."


Alex terlihat memegangi dadanya yang sedikit sakit karena ia tau bahwa Lulu hanya ingin menjadi adiknya saja. Ia juga bersandar di samping kasurnya karena baru kali ini ia merasakan sesuatu yang membuat hatinya sedikit sakit lagi.


Di kehidupannya dulu, ia juga pernah menyukai seseorang wanita namun ia juga menganggap Alex sebagai kakak senior di rumah sakit, semua itu membuat Alex sedikit frustasi (kecewa) dan memutuskan untuk tidak menyukai siapapun lagi sampai ia berumur 54 tahun, meninggal akibat kecelakaan.


Ia juga berniat kehidupannya kali ini akan sama di kehidupannya dulu, ia berusaha tidak menyukai siapapun juga, karena ia takut akan membuat hatinya tersakiti lagi dengan perasaan yang bertepuk sebelah tangan (cinta sepihak).


--


"Ada apa dengan perasaanku ini. Mengapa begitu bahagia ketika aku berdekatan dengannya."


Terlihat Lulu bersandar di pintu kamarnya, ia merasa sangat senang ketika Alex berada di dekatnya membuat hatinya seperti berbunga-bunga. Namun ia juga sedih karena Alex hanya menganggapnya sebagai adiknya saja. Tapi ia sangat ingin jujur dengan perasaannya ini.


Ia bingung dan sangat takut perasaannya ini membuat keluarganya akan berantakan (hancur), bahkan ayah dan ibunya bisa kecewa jika ia mengatakan perasaannya kepada Alex. Ia sangat takut jika hal itu terjadi nanti. Padahal ia juga sudah bahagia dengan kasih sayang yang mereka berikan kepadanya. Di sisi lain ia juga sudah mulai mencintai Alex lebih dari sekedar kakaknya.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.