Professor Reinkarnation

Professor Reinkarnation
Bab 39 Keadaan Kritis



"Aku mau pulang duluan ya? Ada hal yang penting aku lakukan di rumah."


Lulu segera meminta izin kepada teman-temannya untuk segera pulang untuk memeriksa keadaan di rumahnya saat ini. Ia juga ingin mengecek apakah kakaknya benar-benar pulang atau tidak.


"Apa kamu yakin tidak apa-apa Lulu?."


Alice masih terlihat begitu khawatir setelah melihat Lulu yang biasanya tersenyum bahagia sekarang terlihat begitu sedih, ia tidak tahu alasan yang jelas mengapa Lulu ingin segera pulang.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak perlu, aku naik taksi saja. Kalian lanjutkan saja bersenang-senangnya, lain kali kita akan kumpul-kumpul lagi ya."


"Baiklah jika itu mau kamu. Aku tidak dapat memaksanya."


Alice hanya bisa pasrah dengan keputusan Lulu yang ingin segera pulang sendirian, ia juga tidak ingin menambah kesedihannya karena ikut campur tentang masalahnya.


"[Hati-hati di jalan ya! Jika terjadi apa-apa jangan lupa hubungi kami]."


Alena dan Silva juga khawatir melihat Lulu yang begitu sedih. Mereka juga berusaha untuk tidak memaksa Lulu untuk bercerita terlebih dulu, mereka hanya bisa mendoakannya agar Lulu baik-baik saja.


*****


"Aku pulang! Mama? Papa? Apa kalian sudah pulang?."


"Nona muda! Tuan dan nyonya belum pulang, apa nona ingin makan siang dulu?."


Salah satu pembantu rumah Lulu menyambut kedatangannya, ia juga kaget karena melihat wajah Lulu yang terlihat tidak begitu baik, ia sedikit khawatir tentang apa yang sudah terjadi kepada Lulu.


"Nanti saja aku makan, kalau ayah dan ibu sudah datang kasih tahu aku ya."


"Baik nona."


Lulu segera menaiki tangga untuk memeriksa hal yang sudah membuatnya penasaran, ia juga terlihat masih memegang gantungan kunci yang ia yakini adalah itu milik Alex. Ia juga segera memeriksa kamar Alex yang selama ini masih kosong.


"Krik."


"(???)."


"Dia belum pulang, aku yakin ini milik kakak. Aku sangat ingat memberikan ini kepadanya waktu itu."


Di dekat pintu kamar Alex. Lulu masih terlihat memandangi gantungan kuncinya untuk memastikan bahwa ini benar-benar milik Alex. Ia sangat yakin hanya ini kenangan yang ia miliki bersama kakaknya.


Lulu sedikit sedih pergi menuju kamarnya untuk menyatukan gantungan kunci itu, ia tahu gantungan ini sudah di pastikan milik Alex. Ia terlihat sudah memasuki kamarnya dan berusaha mencari ke dalam lemarinya sesuatu yang ia simpan sudah lama.


Terlihat Lulu mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil di dalam lemarinya, ia juga segera berjalan mendekati kasurnya untuk membuka kotak yang sudah sedikit berdebu karena tidak pernah ia buka sampai saat ini.


"Apakah ini benar-benar nyata! Kakak sudah ada di Indonesia."


Lulu sedikit senang dan tidak bisa menahan air matanya yang mulai keluar karena sudah lama rindu ingin bertemu dengan Alex. Ia mulai menangis melihat gantungan kuncinya menyatu dengan magnet terlihat rubah jantan dan betina itu sedang berpelukan.


"Hiks..hiks..Kakak kenapa kamu tidak menemuiku jika kamu sudah pulang?."


Lulu tidak bisa menahan air matanya karena sudah terlalu rindu dengan Alex, bahkan ia tidak tahu harus bagaimana untuk menemui Alex saat ini. Jalan satu-satunya hanyalah memeriksa Cctv di mall tadi pagi.


"Apa aku harus ke mall itu lagi? Apa aku minta bantuan Zero saja! Tapi kalau kakak tidak ingin di cari bagaimana? Dia pasti akan marah kepadaku."


Lulu terlihat masih bingung harus berbuat apa, ia hanya ingin bertemu dengan Alex dan mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Ia sudah bertekad untuk tidak melepaskan Alex lagi untuk kedua kalinya karena Lulu juga sudah pernah mengatakan perasaannya kepada kedua orang tuanya dan mereka pun juga setuju dengan hubungan itu.


"Aku harus pergi mencarinya sendiri."


Lulu terlihat terburu-buru keluar rumah lagi, ia bahkan belum makan sampai siang ini. Padahal kesehatan Lulu sedikit terganggu akhir-akhir ini karena terlalu lelah dalam pekerjaannya. Liburan saat ini dokter pernah menyarankan kepada Lulu untuk istirahat full dan tidak melakukan aktivitas terlalu berat.


--


Lulu sudah berada di jalan raya. Ia juga sedikit menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari Alex, karena ia tahu kakaknya sangat suka olahraga dengan berjalan kaki dari pada naik mobil.


Tiba-tiba.


"Argh? Kenapa kepalaku terasa sakit?."


"Tot..!!."


Sebuah klakson truk besar berbunyi sangat keras di depan mobil Lulu dari arah yang berlawanan. Lulu sedikit tidak sadar karena sudah mengambil jalan lain, ia segera membelokkan setirnya kesamping untuk menghindari tabrakan, namun hal itu semuanya sia-sia karena truk juga ikut berbelok dan akhirnya mereka bertabrakan satu sama lain.


"Brukk!!!."


Sebuah kecelakaan besar terjadi tidak jauh dari mall, kecelakaan itu terjadi tepat jam 02.00 siang. Stasiun berita juga mulai meliput kecelakaan itu setelah 20 menit berlalu. Teman-teman Lulu yang masih berada di mall sedikit terkejut setelah melihat beritanya dan nomor mobil itu sama dengan milik Lulu. Mereka segera pergi ke rumah sakit untuk memastikannya.


*****


"[Om dan tante! Bagaimana keadaan Lulu?]."


Mereka terlihat sudah benar-benar yakin karena orang tua Lulu sudah berada di luar ruangan UGD (Unit Gawat Darurat) dengan menangis. Mereka juga bertanya bagaimana keadaan Lulu sebelum di bawa ke ruangan ini.


"Dia tidak sadarkan diri dan banyak mengeluarkan darah! Tante juga sangat terkejut setelah Zero menelepon tante tadi."


"Apakah pelakunya sudah di tangkap?."


Alice sedikit penasaran dan mengira kecelakaan ini di lakukan dengan kesengajaan. Ia juga takut teman baiknya kenapa-kenapa.


"Kecelakaan ini terjadi kesalahan Lulu, ia mengambil jalan yang salah. Belum ada penjelasan yang pasti kenapa dia menyetir seperti itu."


"Apa dia menyetir sendiri?."


Alice terlihat kaget karena baru mengetahui informasi yang di berikan ayahnya Lulu, ia juga sedikit khawatir karena rahasia ini tidak di ketahui oleh orang tua Lulu. Ia pernah mengetahui kesehatan Lulu yang mulai memburuk namun Lulu memintanya untuk merahasiakan semua tentang penyakitnya kepada siapapun termasuk keluarganya.


"Maaf sebelumnya om dan tante! Aku ingin mengatakan sejujurnya! Aku juga sedikit bersalah kepada kalian semua. Rahasia ini sudah lama kami simpan, karena Lulu ingin merahasiakannya kepada kalian tentang kesehatan tubuhnya yang sudah mulai melemah."


"Hah? Kapan itu terjadi?."


Ibunya Lulu mulai penasaran mengapa baru hari ini Alice membicarakannya dan memilih untuk merahasiakannya. Ia juga sedikit terlihat memaksa Alice untuk segera berbicara sejujurnya.


"Sayang! Kamu tenang sedikit! Ini rumah sakit, kasian Lulu juga masih berjuang di ruangan ini."


Ayahnya Lulu mulai membujuk istrinya untuk lebih tenang dan tidak memaksa Alice seperti itu. Ia juga penasaran namun hal ini sudah terjadi dan ia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Krik!!."


Suara pintu terbuka. Semua terlihat takut dan sedikit penasaran bagaimana keadaan Lulu yang berada di dalam. Dokter itu sedikit gugup untuk menyampaikannya karena melihat keluarganya yang begitu banyak bahkan mengenakan jas mahal, semua bawahan Alex juga hadir untuk memastikan nona muda (Lulu) baik-baik saja.


"Maaf sebelumnya ibu dan bapak!."


"Dok apa yang terjadi dengan anak kami?."


Ibunya Lulu sangat terkejut dan mulai menangis setelah mendengar ucapan dokter yang meminta maaf kepada mereka, ia sangat takut putrinya sudah pergi meninggalkan mereka lebih dulu.


"Anak ibu dalam keadaan kritis! Kami sudah menghubungi dokter yang lebih ahli untuk membantu proses operasi ini, dan tolong sediakan darah untuk putri anda, dia sangat memerlukan banyak darah."


"Baik dok! Apa golongan darahnya?."


"Golongannya O, dan kalau bisa secepatnya agar operasinya segera kita lakukan."


"Tolong Zero bantu Lulu! Carikan siapa mempunyai golongan darah O berapapun harganya kita akan membayarnya."


"Mohon maaf tante! Apa golongan darah kalian tidak sama?."


Alice dan yang lainnya juga penasaran kenapa ibu dan ayahnya malah memerintahkan bawahannya untuk mencari golongan darah orang lain. Meskipun tidak sopan karena mereka juga dokter lebih baik darah keluarga dari pada darah orang lain.


"Om dan tante golongan darahnya B jadi berbeda, namun kalau tidak salah Ale-? Lupakan saja."


"Apa maksudnya om dan tante kakaknya memiliki golongan darah yang sama?."


Silva sedikit terkejut kerena mengetahui bahwa Alex memiliki golongan darah yang sama. Ia berkeinginan untuk memberikan informasi ini karena terkait nyawa temannya, mau tidak mau ia harus memaksa Alex untuk segera pulang ke Indonesia karena adiknya sedang kritis.


Bersambung...


Jangan Lupa di Like, Subscribe, dan Share. Oh iya Vote-nya juga. Agar Author Semakin Semangat Updatenya. Makasih.