
" Ya Allah terimakasih engkau sudah menggirimkan hamba pertolongan disaat waktu yangtepat. " ( Batin lia )
Ia merasa bersyukur kerena Allah masih mau mendengarkan doanya, mau membantunya mungkin dengan cara mengirim kevin kepadanya. Walaupun dengan rasa sakit yang harus diterimanya tapi setidaknya dia bersyukur tidak jadi diperkosa dan dibunuh oleh para preman - preman tadi.
*****
Lia bergegas memasuki gerbang rumahnya dan berjalan secara perlahan. Setelah sampai
didepan pintu utama Lia membukanya karena kebetulan pintu tidak dikunci, sebelumnya memang lia
sudah berpesan pada bik sumi untuk tidak mengunci pintu karena dia akan lembur
kerja. Lia berani melewati pintu utama karena ia pikir ayahnya tidak sedang berada dirumah karena tadi pagi ia tak mendapati sang ayah.
Jadi Ia pikir akan lebih cepat lewat pintu utama dari pada harus melewati pintu belakang yang lumayan jauh jaraknya.
****
Bik Sumi adalah salah satu ART dirumah keluarga Atmaja, bagi keluarga Atmaja Bik Sumi adalah orang kepercayaan dan sudah termasuk bagian keluarga karena ia sudah bekerja disana selama hampir 20 tahun dan hanya bik Sumilha yang sayang tulus dengan Lia seperti anaknya sendiri.
Sambil berjalan mengendap – ngedap dan hati – hati untuk tidak membangunkan penghuni
rumah yang lain tiba – tiba saja Lia dikagetkan dengan suara barito seseorang.
“ DARI MANA SAJA KAMU, JAM SEGINI BARU PULANG?”, Tanya Ardi sedikit membentak lia.
Yaa.. Suara yang menggelegar tadi adalah suara milik Ardi
Atmaja, sang ayah kandung Natalia Atmaja CEO Atmajaya grup yang memiliki banyak anak cabang perusahan.
Entah mengapa hatinya seakan tertutup untuk menyayanggi lia, padahal lia adalah anak
kandungnya sendiri darah dangingnya sendiri.
“ Maa-maa.. afff pa Lia lembur kerja.” jawab lia dengan penuh ketakutan.
“ HhhALLLAHH ALASAN.”
“ Bilang saja kamu kelayaban kan,?”
“ Dasar tak tau diuntung seenaknya pulang pergi bahkan selarut ini, mau jadi apa
kamu???”
" Kamu Pikir rumah Saya Hotel !!. Sesuka hati kamu keluar masuk. HAAHH.!!!"
“ MAU JADI ****** KAMU....” Bentak ardi penuh emosi.
Lia ketakutan dengan bentakan ardi, ia hanya bisa tertunduk diam mendengar bentakan
ardi, papa kandungannya sendiri.
Sekeras apapun Lia menjelaskan, itu tak akan ada gunanya, ardi takkan begitu mudahnya
percaya.
“ Tiidakk Ppa, lia nggak bohong.”
“ Lia beneran habis pulang kerja lembur, dan tadi dijalan sempat dicegat sekelompok preman pa.” Jelas lia kepada ardi
Ia masih berharap ardi percaya padanya. Namun ardi justru tak menggubris ucapan lia.
“ Ckk...mana ada preman yang gangguin kamu ( ucapnya meremehkan).”
“ PERGI SANA DARI HADAPKANKU, MEMBUAT JIJIK SAJA.”
“ DAN SATU HAL jangan pernah sekalipun kamu memanggilku dengan sebutan PAPA !!! karena aku tak sudi jadi
orang tuamu!!!.” Ucap ardi.
“ CAMKAN ITU.., Jangan pernah kamu membuat malu keluarga ini dengan perbuatan - perbuatan burukmu,
kalau sampai kamu pulang tenggah malam begini lagi, lebih baik kamu keluar saja dari
rumah ini!!”, Ancam ardi.
DUaARRRR…DUAARRRR…DUARRR
Bak disambar petir disiang bolong, papa kandung yang selama ini ia kagumi, yang selama ini ia harapkan kasih sayangnya tega melontarkan kata – kata
yang tak pantas dilontarkan orang tuan kepada anak kandungnya sendiri sungguh malang.
Hikkss...hikksss
Pecah sudah tangis lia, entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat sampai – sampai
membuat keluarganya bahkan orang tua kandungnya sendiri membencinya, benar –
benar membencinya seakan kehadirannya bagaikan debu yang tak pernah dilihat dan dianggap.
Hikkksss...Hiksss.....
" Iii-..iyaa Tua-ann maafkan saya, saya janji tak mengulanggi lagi.” Jawab lia dengan suara
serak menahan tangisnya.
Sakit memang rasanya hancur sudah hatinya bagaimana tidak orang tua kandunganya tega
berbicara seperti itu, memperlakukan ia tak layak seperti pada umumnya orang
tua menyayanggi anaknya.
Dari Lia Kecil tak pernah sekalipun ardi menunjukan kasih sayangnya pada lia, hanya rasa benci
yang terlihat pada sorot matanya yang tajam. Padahal Lia berharap ada sedikit rasa sayang dari ayahnya tapi
apa yang didapat hanya makian dan hinaan, bahkan menanyakan kondisinya saat ini
tidak.
Sungguh miris memang di saat anak - anak sultan yang lain mendapatkan kasih sayang, cinta dari
keluarga bisa kumpul sana sini menghamburkan uang orang tuannya justru lia
harus berjuang.
Berjuang kerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau bisa
memilih dia mungkin akan keluar dari rumah itu namun lia belum cukup keberanian
untuk tinggal sendiri diluar sana ia juga tak tau harus berbuat apa diluar sana karena baginya seenggaknya dirumah itu masih ada Bik Sumi yang tulus sayang padanya, Ia juga tak tega Jika meninggalkan Bik Sumi.
Dan bagi Lia sekalipun perlakukan ayahnya seperti itu ia masih tetap menyaganggi keluarganya walaupun sudah diberlakukan kejam, karena lia yakin suatu saat nanti keluarganya mau menyayanggi dan menerimanya.