ONE MINUTE

ONE MINUTE
47



Hayyyy....readers maaf bgt yaa aku


enggak bisa upload tiap hari...huhuhuuuuu :(


Aslinya pngen bgt lhoo...tp apa


daya.......


Ini bisa upload karena pinjem


komputer kantor.


Itupun kalau ada waktu kosong .....


:(


Kalau up pakai HP, HPku memorinya


belum cukup.....


Harap bersabar yaaa


gyuss......Insyaallah aku usahaan up kok...


Dan Doain yaaa....semoga dpt rejeki


buat bisa beli lepi....hehheheh....


Makasiii semuaa....love u


allll...................


 * NB : MAAF BGT YAA KALAU ADA BANYAK TYPO


************


Hiks…hikss….hikss….


Tangis lia pecah, sosok kakak yang


selama ini bersikap dingin & kasar berubah lembut,


bahkan berubah menjadi sosok rayhan yang dulu begitu sayang dengan adiknya lia.


“ Kak…Ray…...Hikss…hikss…Liaa...ka..ngen kak.. (


Hikss.... hiksss )” Ucap Lia lirih disela tangisannya.


Lia seakan seperti mimpi dan tak menyangka rayhan


memperlakukannya dengan lembut seperti dulu. Bahkan terlihat khawatir dengan kondisi


adiknya saat ini


“ Hey….heyy…sayang..kenapa…ada yang


sakit dek??? “ Panik Rayhan khawatir.


" Mana yang sakit dek??..Sabar


ya sayang…sebentar lagi dokter datang.” Ucapnya cemas


 Bagaimana rayhan tidak cemas, saat ini adiknya yang baru saja siuman malah menanggis


tersedu - sedu.


Rayhan sangat khawatir terjadi sesuatu dengan adiknya itu. Bahkan terlihat berulangkali


ia menekan tombol emergency berharap dokter segera datang.


Tak selang beberapa lama


dokter  dan dua orang suster datang berbondong - bondong menghampiri Lia dan dengan cekatan dokter sebut


memeriksa kondisi Lia.


Rayhan masih setia menemani adiknya bahkan raut wajahnya terlihat


cemas dan khawatir dengan kondisi adiknya.


" Apa yang terjadi dok?", Apa yang membuat adik saya menangis?" Tanya Rayhan khawatir.


" Mas tenang saja, dari hasil pemeriksaan syukurlah pasien dalam keadaan baik dan stabil, selanjutnya tinggal


pengobatan pemulihan luka – luka luar pasien saja”. Terang dokter


“ Terimakasih dok.” Ujar Rayhan.


Ia merasa bersyukur dan lega


mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Lia saatini.


Tak lama setelah itu sang dokter pamit meninggalkan ruangan Lia.


Grebbbb...


Rayhan tiba - tiba memeluk Lia secara


erat seakan rasa khawatir dan semua kerinduan ia curahkan saat ini.


Begitupun dengan  lia, ia membalas pelukan sang kakak tak kalah eratnya.


“ Tuhan….jika ini mimpi tolong jangan bagunkan aku, tapi..jika ini memang kenyataan aku


ingin tetap seperti ini, Terima kasih ya Allah engkau kembalikan kak Ray seperti dulu.” Ucap lia dalam hati.


“ Sayang…maafin kak ray yaa., selama ini kakak sudah jahat sama adek…kak ray janji sekarang


bakal jagain lia." Ucap Rayhan tulus, bahkan air matanya pun berhasil


lolos dari matanya


“ Kak…udah yaa jangan nangis ..…Lia


nggak apa – apa kok…Lia udah maafinkak ray..... Lia sayang sama Kak ray dulu kak ray yang selalu ngajarin


Lia buat jadi cewek strong, Tuh ..lihat nggak apa – apakan? “ Ucap Lia terkekeh berusaha


untuk menghibur Rayhan yang masih nampak terlihat wajah sedih yang mendalam.


Lia begitu sangat menyanyanggi


kakaknya itu, bahkan lia sudah memaafkan semua perlakuan rayhan.


Lia tak ingin melihat rayhan sedih dan merasa bersalah padanya,


Lia tahu bukan maksud Rayhan


meninggalkannya atau menyakiti lia, tapi karena yang kejadian yang dulu


membuat Rayhan harus membenci dan pergi meninggalkan Lia.


Rayhan tersenyum tulus melihat tingkah adiknya berusaha menghibur dirinya, padahal ia tahu


selama ini adiknya amat sangat menderita.


“ Maaf........Maaaffff....Maafff ya dek." Ucapa Rayhan lagi


" Udah Ahh masak cowok nangis kak, enggak pantes buat tampang kak ray yang sok cool itu." Ucap Lia sambil memperlihatkan senyum indahnya


" Lagiankak ray daritadi maap…maap melulu deh…inikan bukan lebaran....hehehe.” Ucap


Lia disela candanya.


“ Tapi bener dek…kakak minta maaf


sama kamu, dan satuhal yang harus kamu tahu, Sebenarnya kakak nggak ada maksud untuk melukai


atau menyakiti Lia sama sekali, kakak cuma belum bisa menahan ego kakak saat dulu.” Terang Rayhan.


“ Udah yaaa kak…semua udah berlalu,


Lia tahu kok…lagian kak ray kan sekarang sama Lia lagi.” Ujar Lia dengan senyum manisnya.


*****


Massion Atmaja


Sementara di kediamannya yang megah


seolah Ardi tak memperdulikant perlakuannya semalam


terhadap Lia, Bahkan bagaimana


kondisi Lii saat ini ia tak perduli, tak ada niat untuk menghampiri anaknya itu


digudang. Seakan Ardi lupa dengan perbuatannya semalam.


Padahal semalam ia baru saja dengan


tega menyiksa


Lia tanpa ada rasa kasihan dan


bersalah.


Dengan tenang Ardi menyantap


hidangan yang sudah


tersedia dimeja makan.


“ Pagi papa ganteng “ Sapa Clara


menghampiri Ardi dimeja makan.


“ Pagi sayang.” Balas Ardi. Tak lupa


ia mendaratkan ciumannya dipucuk kepala Clara sebagai tanda kasih sayang ayah


dan anak.


Ardi begitu sayang dan perhatikan


terhadap Clara


namun berbeda perlakuaannya terhadap


Lia, padahal bagaimanapun juga ada darahnya yang mengalir ditubuh Lia.


“ Mau kemana cantik, pagi – pagi kok


udah dandan cantik begini ? “ Tanya Ardi


“ Issshhh…papa gombal aja ahh…Clara tuh mau kesekolah pa…yaa...ada acara gitu deh di sekolah dan wajib banget pada dateng sih." Ucap Clara.


" Lho emang acara apa nak?" Bukannya kamu hari ini libur." Tanya Ardi


" Emmmm...Kalau nggak salah sih…ada lomba apa gitu


Clara lupa. Nah sekolahnya Clara yang jadi tuan rumahnya gitu. Ya …itung – itung cuci mata lha pa….bosen


dirumah…Hhaahahahha. “ Jelas Clara.


“ Ohhh.....ceritanya anak gadis papa ini udah gede ya…” Goda Ardi pada Clara.


“ Isshhhh…papa, kan emang Clara udah gede tau …( Wlekkkk )” Ujar Clara membalas godaan sang papa.


“ Hahahhah…..iyaa..iyaaa…sayang.” Ucap Ardi yang begitu bahagia mengoda putrinya itu.


Clara dan Ardi melanjutkan sarapannya,


Ditengah – tengah sarapannya, Clara seakan memperhatikan sekelilinya.


“ Lho…pap…kak ray nggak ikut sarapan? “ Tanya Clara.


“ Papa juga nggak tahu sayang, Mungkin masih tidur.” Jawab Ardi.


“ Tumben bener belum nonggol,


biasanya pagi - pagi buta udah keliyaran." Ujar clara.


Pasalnya Clara tahu kalau sang kakak


itu selalu bangun pagi hanya untuk sekedar berolah raga.


 Ardi hanya mengeleng menanggapi ucapan Clara.


“ Kamu habisin dulu sarapanmu…habis itu kamu nanti biar diantar mang udin ya.” Ucap Ardi.


“ Iyaa deh…pap…....padahal aku tuh mau minta anter kak ray sekaliyan


mau pamer ketemen - temen...hehehhehe...Lumayan


punya kakak ganteng yaa dimanfaatin...hehehhehe..” Ucap Clara.


“ Kamu yyaaa...ada - ada.. aja.." Timpal Ardi


“ Ohh ya sayang siang nanti papa mau kesingapur ada kerjaan disana, sama mau sekaliyan nenggok oma sama opa, Kamu nanti minta dibeliin oleh – oleh apa sayang?.” Tanya Ardi.


“ Ehhmmmmm apa ya pa??? “ Ucap clara


seakan memikirkan keinginannya.


“ Emmmm...Papa..bawaain oleh – oleh clara cowok bule aja deh tapi yang ganteng


yaaa….hehehehe.” Ujar clara bercanda.


“ Hussss…kamu ini masih kecil….cowok aja yang dipikirin…emang papa ini masih kurang ganteng ? “ Goda Ardi terhadap putri yang ia manjakan.


“ hahahhaha…iyaa...iyaa....…papa Clara tuh super ganteng kok,.” Ucap clara sambil


memperlihatkan dua jempolnya kepada Ardi.


Dengan penuh canda tawa mereka mengabiskan sarapannya pagi ini.


Bahkan tak ada gambar raut wajah menyesal Ardi. Seakan lupa atau memang sengaja Ardi


melupakan keadaan Lia saat ini.


Mungkin baginya Lia adalah sebutir debu yang tak pernah terlihat keberadaannya.