
*****
Skip acara makan – makannya ya guysss..
POV Natalia
Saat berada dipintu keluar restorant, tiba – tiba aku melihat seekor kucing yang akan menyebrang ketenggah jalan, karena sifatku yang penyayang binatang aku pun berlari mendekati kucing itu tanpa menghiraukan keadaan sekitar bahkan aku seakan tuli akan teriakan dari keluargaku.
Saat aku ingin mengambil kucing itu, tiba – tiba dari ujung jalan ada sebuah mobil menggarah kearahku
dengan kecepatan tinggi.
Aku pun terkejut dan tak bisa bergerak seakan tubuh ini menempel tak mau bergerak, akupun hanya mampu menutup mataku mungkin difikirannku saat ini adalah hari terakhirku bersama dengan keluargaku.
DUUUUAARRRRR……………..
BUGGHHHH…….
Terdengar suara benturan keras ditelinggakku, ku coba membuka mataku dengan perlahan dan betapa kagetnya aku.
“ MAAAAMAAAA. “
Seketika detak jantungku berhenti, tangiskupun pecah.
Kulihat mamaku tergeletak bersimbah darah, ku berlari menghampiri mama, terdengar samar suara papa, Clara dan abang memangil - mangil nama mama.
“ Ma….Bangunnn….maaa.!!!”
“ Buka mata mama…!!!”
“ Jangan buat Lia takut.”
Hiksss…..hikssssss….Hikssss…
Tangisku pecah, seseorang yang selama ini begitu mencintaiku tergeletak bersimbah darah demi menyelamatkanku.
Aku pun semakin takut tak ada respon dari mama, seakan tak mendengar teriakanku mama terus memejamkan matanya.
Papa mengampiri kami, dengan sigap beliau mengendong mama dan langsung membawa mama kerumah sakit.
Papa melajukan mobil begitu cepat tak ada diantara kami yang saling
berbicara semua terdiam dalam tangis dan terus berdoa untuk keselamatan mama.
Kami kalut dengan pikiran kami masing - masing, terlebih aku yang menyebabkan semua ini terjadi.
" Hikss.....mama....maa-maafin Lia...ini salah Lia, Mama harus bertahan ya ma. " Doaku dalam hati.
Sesampainya dirumah sakit, Mama langsung dibawa keruang perawatan, suasana tegang menyelimuti kami.
Bahkan kulihat tatapan mata papa mengarah kearahku seakan ingin membunuhku. Tak kuasa aku menatapnya.
Clara menangis meraung – raung, sedangkan Abang Rayhan mencoba menenangkan Clara.
Aku menanggis sendirian rasa takut terus menyelimutiku, aku hanya bisa berdoa semoga mama baik – baik saja.
Aku memang anak bodoh yang tak berguna, jika aku tak menolong kucing itu pasti mama tak seperti ini.
“ Ya Allah, tolong selamatkan Mamaku ”.
“ Ini semua salahku, Aku rela melakukan apapun asal mama baik – baik saja.” Doaku dalam hati.
Akupun tak tau harus berbuat apa lagi, aku pun tak sanggup
membayangkannya jika sesuatu terjadi pada mama.
Setelah beberapa menit kami menunggu, seorang dokter keluar dari ruang Tindakan.
“ Keluarga Ibu Ayu.???” Tanya dokter itu kepada kami.
“ Saya dok, Suaminya. “ Jawab cepat Ayahku yang sudah cemas dengan kondisi mama saat ini.
“ Bapak bisa ikut saya kedalam melihat kondisi pasien, tapi yang lain harap menunggu diluar.” Terang
dokter itu.
Ayah dan dokter itupun masuk kedalam ruang perawatan mama. Kami hanya bisa menunggu diluar dan
berharap mama dalam keadaan baik – baik saja.
*******
POV Natalia And
Didalam ruangan perawatan Istrinya Ardi hanya bisa memandang Istrinya terbaring lemah dari balik kaca, terlihat kesedihan yang mendalam diwajah Ardi.
Saat dalam kekhawatirannya tiba - tiba seorang dokter yang merawat Ayu mengampiri Ardi dan menjelaskan kondisi Ayu saat ini.
Saat ini Ayu mengalami cedera kepala berat, dimana terdapat gumpalan darah yang menyumbat saluran otak Ayu yang harus segera dilakukan tindakan operasi, namun dengan tingkat resiko yang tinggi.
Dan saat ini dokter meminta ijin Ardi untuk melakukan operasi besar itu, karena tanpa persetujuan Ardi dokter tak akan bisa melakukan tindakan apapun pada Ayu.
Bagai disambar petir mendengar penjelasan sang dokter, Ardi pun seakan lemas seperti tak ada tulang,
rasanya dunianya hancur. Bagaimana tidak, sekarang istrinya harus berjuang hidup dan mati sementara baru beberapa menit yang lalu mereka menghabiskan waktu bersama merayakan kelulusan anak mereka.
Masih tergambar jelas senyum cantik Ayu dipikiran Ardi. Namun saat ini senyum itu hilang, Ardi hanya bisa memandangi istrinya dibalik kaca, terlihat seorang Wanita cantik yang selama ini setia menemaninya terbaring
lemah tak berdaya dengan berbagai alat – alat medis ditubuhnya.
“ Dok…lakukan yang terbaik untuk Istri saya.” Ucap Ardi lemah.
“ Berapapun biayanya akan saya bayar, saya ingin istri saya hidup.” Ucap Ardi lemas dan dengan air mata yang
membasahi pipinya.
“ Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda, Namun apapun hasilnya hanya Tuhan yang berkehendak.”
Jawab dokter itu.
“ Bantu kami dengan doa pak.” Ucap sang dokter pada Ardi