ONE MINUTE

ONE MINUTE
18



Bagai disambar petir mendengar penjelasan sang dokter, Ardi pun seakan lemas seperti tak ada tulang,


Rasanya dunianya hancur. Bagaimana tidak, sekarang istrinya harus berjuang hidup dan mati sementara baru


beberapa menit yang lalu mereka menghabiskan waktu bersama merayakan kelulusan


anak mereka.


Masih tergambar jelas senyum cantik Ayu dipikiran Ardi. Namun saat ini senyum itu hilang,  Ardi hanya


bisa memandangi istrinya dibalik kaca, terlihat seorang Wanita cantik yang


selama ini setia menemaninya terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat – alat medis ditubuhnya.


“ Dok…Saya mohonn...lakukan yang terbaik untuk Istriku.” Pinta Ardi dengan suara sedikit bergetar


“ Berapapun biayanya akan saya bayar, saya ingin istri saya selamat.” Ucap Ardi lemas dan dengan air mata yang membasahi pipinya.


“ Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda, Namun apapun hasilnya hanya Tuhan yang berkehendak.” Jawab dokter itu.


“ Bantu kami dengan doa pak.” Ucap sang dokter pada Ardi


Ardipun mengangguk menanggapi jawaban sang dokter.


“ Dok, bolehkah saya masuk sebentar menemui istri saya?? Sebentar saja dok..” Pinta Ardi.


“ Boleh tuan, namun anda hanya memiliki waktu lima menit, karena kami akan segera mempersiapan operasi pasien.” Jawab sang dokter


“ Baik,….Terimakasih banyak dok.” Jawab Ardi


Ardi pun segera bergegas memakai baju khusus dan menemui istrinya, Hatinya begitu hancur sekarang melihat kondisi istrinya terbaring lemah. Tak ada tutur kata lembut serta senyum manis dari wajah istrinya.


Perlahan Ardi berjalan mendekati brangkar Ayu. Sesekali Ia meyeka air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


“ Sayang….Ayoo bangun!!!!...Anak – anak khawatir sama kamu.. “ Ucap Ardi lirih.


“ Kamu harus berjuang ya sayang!!!, kamu harus hidup!!!! Kami semua sangat merindukanmu. “ Pinta Ardi


“ Aku tak tau hidupku akan seperti apa tanpamu.” Tangis Ardi seketika pecah, air matanya tak terbendung lagi, bahkan air matanya sampai menetes membasahi pipi Ayu.


Entah mukjizat apa yang terjadi,  Ayu yang  seakan mendengar serta merasakan tangisan Ardi


tiba – tiba terbangun.


Ardi kaget melihat Ayu yang perlahan - lahan membuka mata.


“ Sayang…..kamu dengar aku….kamu…bangun.” Pekik Ardi kaget.


“ Sayang…..aku panggil dokter ya.” Ucap Ardi lembut.


Namun saat Ardi hendak memangil dokter, tiba – tiba tangannya dicekal oleh Ayu. Ardi pun mendekatkan


wajahnya ke wajah Ayu.


“ Iya sayang….ada apa???” Tanya Ardi lembut


“ Apa yang kamu rasakan?? Apa ada yang sakit,?”, Tanyanya lagi.


Ayu hanya mengeleng tipis menjawab semua pertanyaan Ardi.


Ayu memegang tanggan Ardi dengan kuat, dan sekuat tenaga Ayu ingin menyampaikan sesuatu untuk Ardi. Ayu


sudah merasa ini lah saat terakhirnya dengan suami tercintanya.


“ Maa…ss…to…- tolong…sa..yanggi….Lia..” Ucap ayu lirih dan terbata – bata.


Ardi masih bisa mendengar kalimat itu dengan jelas sekalipun Ayu mengucapkan kalimat itu dengan terbata - bata.


Namun saat mengucapkan kalimat itu tiba – tiba Ayu tertidur kembali dan seketika layar monitor detak


jantung Ayu memperlihatkan tanda – tanda melemahnya detak jantung Ayu.


Ardi yang panik langsung memangil – mangil dokter.


Para tim Dokter dan perawat  yang mendengar suara teriakan Ardi. datang dengan tergesah – gesah.


“ Dok……..dokter…tolong istri saya, Hiksss…..hiksssss…”.


“ Tolonngg selamatkan istri saya.” Ucap Ardi penuh iba.


Ardi menanggis memohon kepada dokter untuk mnyelamatkan Ayu.


“ Baik tuan, silahkan tuan


menunggu diluar, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien.” Jawab Dokter.


Ardi sebenarnya menolak untuk keluar karena ia ingin tetap berada disisi istrinya, namun ia terpaksa harus keluar


dari ruanngan perawatan istrinya.


Ardi pun keluar dengan tanggis dan wajah yang lemah.


“ Pa …Papa kenaapa menanggis???" .apa yang terjadi pa,???? Bagaimana kondisi mama…Paa?? ” Tanya Clara pada Ardi.


Ardipun hanya memeluk Clara sambil menangis.


Lia dan Rayhan yang melihat itu semakin takut sesuatu terjadi kepada ibu mereka.


Selang sekitar tiga puluh menit, dokter keluar menyampaikan kondisi Ayu bahwa Ayu telah tiada. Berbagai


upaya sudah dokter lakukan namun Tuhan berkehendak lain. Ayu pergi untuk


selamanya.


Bagai disambar petir Ardi langsung jatuh terduduk lemas hatinya hancur berkeping - keping tangisannya pun pecah.


Clara yang tak kuasa mendengar berita itu pingsan untung saja ada Rayhan yang sigap


menangkapnya.


Sedangkan Lia, Ia sudah terduduk lemas dengan air mata yang membanjiri pipinya.


“ Maa…hikss….hiksss….kenapa mama tinggalin lia…..mama….Ma-maaf. Hiksss…hiksss.” Ucap lia