
Massion Atmaja
Pagi ini di kediamannya yang megah, Ardi seolah tak memperdulikan bagaimana kondisi Lia saat ini.
Padahal semalam ia baru saja dengan tega menyiksa Lia tanpa ada rasa kasihan dan iba.
bahkan diwajahnya tak nampak sama sekali rasa bersalah.
Dengan tenang Ardi menyantap hidangan yang sudah tersedia dimeja makan.
begitu banyak hidangan yang istimewa tersaji dimeja makan.
“ Pagi papa ganteng “ Sapa Clara menghampiri Ardi dimeja makan.
“ Pagi sayang....( Emmcuah ).” Balas Ardi. Tak lupa ia mendaratkan ciumannya dipucuk kepala Clara
sebagai tanda kasih sayang ayah dan anak.
Ardi begitu sayang dan perhatikan terhadap Clara namun berbeda perlakuaannya terhadap
Lia, padahal bagaimanapun juga lia adalah darah daging ardi.
*****
“ Mau kemana cantik, pagi – pagi kok udah dandan cantik begini ? “ Tanya Ardi menggoda putri kesayangannya itu.
“ Issshhh…papa gombal aja ahh… ( Hehehhehe…), Clara tuh mau kesekolah
pa.....soalnya di sekolah ada acara gitu." Ujar Clara.
" Tumben banget sayang..biasanya juga kamu paling mager sama acara sekolah." Ujar Ardi yang memang sudah tau tabiat putrinya itu.
" ( Heheheh ) Aslinya sih males pa...yahh...karena sekolah bilang kalau wajib banget pada dateng sih....jadinya yaa...harus dateng dong...kan Clara juga murid baru, jadi harus jadi murid baik - baik dong..." Ujar Clara pada Ardi.
" Emang acara apa sih nak, kok pagi - pagi banget ?" Tanya ardi yang sedikit penasaran.
" Kalau nggak salah sih kayak pekan olah raga gitu pa.…ada lombanya juga, ..lomba apa gitu Clara lupa. Nah sekolahnya Clara yang kebetulan jadi tuan rumahnya gitu.......Yaa..sekalian Clara cuci mata pa..sapa tau kecantol cowok ganteng....hahahhaa..." Jelas Clara
" Dasar kamu yaa sayang tak pernah berubah." Ucap Ardi tersenyum.
“ Btw .....ceritanya anak gadis papa ini udah gede ya…” Goda Ardi pada Clara.
“ Isshhhh…papa kayak anak gaul aja...hahahhaa....tapii kan emang Clara udah gede tau …( Wlekkkk )” Ucap Clara.
“ Hahahhah…..iyaa..iyaaa…sayang.” Ucap Ardi yang begitu bahagia mengoda putrinya itu.
Begitu bahagianya Ardi melihat putri kesayangannya itu tersenyum, sungguh pemandangan yang membuat iri namun juga mengiris hati.
perlakuan Ardi terhadap Lia sungguh berbeda, entah apa yang membuat ia amat membenci Lia padahal sesungguhnya itu bukan kesalahan Lia semata, tapi takdirlha yang membuat ia hadir di tengah - tengah keluarga Ardi.
*******
Ditengah – tengah sarapannya Clara seakan memperhatikan sekelilinya. matanya memperhatikan setiap sudut ruang seolah mencari seseorang yang ia nantikan kehadirannya.
“ Lho…pap…kak ray nggak ikut sarapan? “ Tanya Clara.
“ Papa juga nggak tahu sayang, tapi sih tadi pagi banget papa lihat kakakmu udah jogging .” Jawab Ardi.
“ Masak..jam segini belum balik pa?” Tanyanya lagi.
Ardi hanya mengeleng menanggapi jawaban Clara.
“ Udah lah sayang enggak usah nyariin rayhan palingan juga dia beli bubur ayam
kesukaannya...Ya mungkin si ray lagi kangen kan kaliyan lama tinggal di singapur. “ Jawab Ardi
“ Kamu habisin dulu gih sarapanmu…habis itu kamu nanti biar diantar mang udin ya..!” Ucap Ardi.
“ Iyaa deh…pap…..Yaahhh sayang banget deh....padahal mau minta anter kak ray. soalnya sekaliyan
mau aku comblangin sama temen aku, kali aja ada yang nyantol....hehehhe..” Ucap Clara.
“ Ohh ya sayang siang nanti papa mau kesingapur, sama sekalian mau
nenggok oma sama opa, Kamu nanti minta dibeliin oleh – oleh apa sayang?.” Tanya Ardi.
“ Ehhmmmmm apa yaa pa??? “ Ucap clara seakan memikirkan keinginannya.
“ Papa..bawaain oleh – oleh clara cowok bule aja deh tapi yang ganteng
yaaa….hehehehe.” Ujar clara bercanda.
“ Hussss…kamu ini ,,,masih kecil….cowok aja yang dipikirin…emang papa ini masih
kurang ganteng ? “ Goda Ardi terhadap putri yang ia manjakan.
“ hahahhaha…iyaa..iyaa...…papa Clara tuh super ganteng kok,.” Ucap clara sambil
memperlihatkan dua jempolnya kepada Ardi.
" Ohh iyaa pa..titip salam sama oma sama opa ya pap, bilangin Clara kangen banget....." Ujarnya.
" Iyaa...sayang..." Jawab Ardi lembut
Dengan penuh canda tawa mereka melanjutkan sarapannya pagi ini.
Bahkan tak ada gambar raut wajah sedih di muka Ardi.
Ia seakan lupa atau memang sengaja Ardi melupakan keadaan Lia saat ini.
Mungkin baginya Lia adalah sebutir debu yang tak pernah terlihat keberadaannya.
*********
Di Rumah Sakit
Pukul
12.15 Wib
Hari sudah menjelang siang, namun Rayhan tak bergeming. Ia masih setia berada disamping brangkar Lia.
Rayhan terus menatap kearah adik tersayangnya itu, rasa penyesalan yang teramat besar
tergambar jelas diwajahnya.
Bahkan rasa lelah ia abaikan. Mungkin yang ia rasakan saat ini
hanya rasa penyesalan. Ia begitu tak menyangka Ardi tega melakukan itu terhadap lia.
Padahal selama ini Ardi memperlakukannya amat sangat baik seperti sesosok ayah yang penuh kasih sayang.
Rayhan terus setia berada disamping Lia, tak lupa ia berdoa yang terbaik untuk kondisi adiknya saat ini.
Rayhan merasa takut jika terjadi sesuatu dengan adik yang selalu ia abaikan selama ini.
Saat Rayhan melihat kondisi Lia yang terkapar tak berdaya, Ia sempat melihat bekas darah
yang mengering dihidung lia hal itu yang membuat ia begitu khawatir dengan kondisi Lia.
“ Sayang…tolong maafin kakak ya dek, Kak Ray janji akan selalu jagain lia
seperti dulu lagi.” Ujar Rayhan lembut tak lupa ia mengelus lembut pucuk kepala
Lia.
Namun Lia masih enggan untuk membuka mata cantiknya itu. Ia masih setia menutup kedua
buah matanya.
***