ONE MINUTE

ONE MINUTE
42



HALLO READERS, MASIH SETIA ENGGAK YA SAMA INI NOVEL


YANG ACAK ADUL????....HEHEHEHHE


SEMOGA MASIH YAAA.. 😊


TETEP JANGAN LUPA SELALU DUKUNG ME YAA…BIAYAR SEMANGAT


45’ UPLOADNYA..HEHEHHEHE...


Maa...Aku mau Minta MAAF kalau Up-nya udah mulai jarang - jarang banget.


tapi aku bakal usahin semoga bisa ke up 1 ep tiap hari... :)


                                                                        *******


Rayhan, bik sumi dan mang Udin membawa Lia kerumah sakit.


Didalam mobil Rayhan tampak khawatir dengan kondisi lia saat ini.


Hati dan pikirannya seakan berkecambuk serta penuh tanda tanya, sebenarnya apa yang dialami adiknya selama ini. Hatinya terus berdoa agar tak terjadi apa – apa dengan adiknya itu.


Dengan lembut Rayhan membelai kepala Lia yang ia tidurkan dipangkuannya.


“ Aku..mohon kamu bertahan ya dek.. adik kak ray kuat...maafin kakak ya yak…kakak nggak bisa jagain Lia” Ucapnya lembut.


“ Ma…Ray udah gagal jagain Lia ma.. maaf ma.” Lirih Rayhan.


Tak terasa air matanya lolos dari sudut matanya.


                                                                        ******


“ Bodohhh…. ( Bugh ) .” Tak sadar ia memukul kepalanya sendiri.


" Gua memang bodoh...gua tak becus jagain adek gue sendiri." Ucapnya dalam hati.


“ Tuhan…tolong berikan dia kekuatan, kamu adik kakak


yang paling kuat Lia, Kamu harus bertahan. “ Tak henti – hentinya Rayhan terus


berdoa.


Keadaannya pun terlihat kacau, tak hentinya ia selalu


menyalahkan dirinya, mungkin selama ini caranya sudah salah.


Salah karena tak seharusnya ia menyakiti adiknya seperti


ini, salah ia harus membiarkan adiknya terluka seperti ini, salah tak seharusnya ia mengabaikan adiknya hingga terjadi seperti ini.


Rayhan mulai tersadar betapa bodohnya ia saat itu.


Satu hal yang terlambat ia sadari, bagaimanapun juga


hati kecil Rayhan masih menyayanggi dan mengkhawatirkan Lia.


Hatinya sakit melihat Lia terbaring tak berdaya seperti saat ini.


“ Den Rayhan…sabar ya den kita doakan non Lia ya den ( Hiksss..Hiksss… ) “ Ucap bik Sumi yang menghampiri Rayhan.


" Rayhan jahat bik...Rayhan salah sama Lia...Rayhan takutt bik takut lia ninggalin Ray...... ( Hiksss...hikssss... ). Ujar Rayhan.


Tumpah sudah semua isi hati yang selama ini ia pendam, bahkan ia tak malu mengelurkan air matanya didepan semua orang, padahal Rayhan termasuk laki - laki yang jarang sekali menggis meraung seperti itu.


Bik Sumi memeluk dan mencoba menenangkan majikannya itu.


" Aden jangan bicara seperti itu, kita doakan non Lia... Non Lia pasti kuat den. " Ucap bik sumi


" Non...non harus kuat yaa...disini bibik sama den rayhan nungguin non." Ujar bik sum dalam hati.


                                                                        *******


Saat rayhan dan bik sumi cemas menunggu kabar Lia yang


pintu UGD yang terbuka.


Krieett…


“ Keluarga pasien ?”, Ujar seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Mendengar suara itu sontak saja membuat Rayhan segera


bangun dari duduknya dan bergegas mengampiri dokter itu.


“ Dok…saya keluarga pasien, saya kakaknya


dok..bagaimana keadaan adik saya dokter? “ Tanya Rayhan cemas.


“ Kondisi pasien saat ini sudah melewati masa


kritisnya pak, kami juga sudah memberikan obat pereda demam dan cairan infus untuk membantu


pemulihan pasien. Mungkin sore nanti pasien akan sadar, biarkan pasien


istrirahat dulu untuk saat ini. “ Jelas dokter itu.


“ Apakah kami bisa menemuinya dokter?” Ujar Rayhan.


“ Iya boleh, tapi nanti setalah kami pindahankan pasien keruanga perawatan. “ Ucap sang dokter.


“ Terimakasih dokter.” Ujar Rayhan.


“ Sama- sama pak. Saya permisi dulu.” Ucap sang dokter.


Rayhan pun menunggu lia diluar, dan tak berselang lama


para suster memindahkan Lia keruang perawatan.


                                                                                    ******


Kini Lia sudah dipindahkan diruang perawatan, namun


kondisinya belum sadarkan diri. Ya rayhan tahu dokter memang sengaja memberikan


obat kepada Lia agar dapat istirahat dengan baik.


Sementara Bik sumi kembail ke massion untuk  menyiapkan perlengkapan Lia dan dirinya selama Lia dirawat di rumah sakit.


Dengan setia Rayhan terus duduk disamping tempat tidur Lia,


dipandanginya wajah Lia yang penuh lebam, mungkin hal itu dikarenakan tamparan


Ardi yang begitu keras.


“ Pasti sakit ya dek? “ Tanya Rayhan lirih, tangannya


mengusap lembut pipi Lia yang masih tercetak jelas keunguan.


Hati rayhan terasa sesak melihat dengan jelas luka – luka yang selama ini didapat oleh Lia.


Tak terasa air matanya kembali lolos dari sudut mata rayhan.


“ Cantiknya kakak maafin kakak ya….kakak janji kakak


akan jaga Lia…cepet sembuh adiknya kakak yang paling kuat.” Ucap Rayhan.


Nampak sekilas ia mencium lembut pucuk kepala Lia.


Rasa sayang kakak dan Adik kini sudah mampu mengalahkan rasa ego dihatinya


Ingin rasanya ia tebus semua rasa penyesalannya pada Lia.


Bahkan Ia berjanji mulai saat ini akan menjaga dan melindungi adiknya itu.


" Kamu tenang ya sayang...kakak janji nggak akan ninggalin Lia lagi, Nggak akan mengabaikan Lia lagi...Kakak akan jagain Lia terus." Ucap Rayhan Lembut tangannya mengenggam kuat tangan Lia seoalah tak ingin melepaskan gengamnya.