Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Lelaki Dingin



"Ke Cafetaria, yuk" Ajak Raquell sembari menarik Ayumi untuk berdiri tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya itu. Dia sudah sangat lapar mengingat dia tidak sempat Breakfast. Dan jika kedua orang tuanya tau bisa habis dia kena omelan dari ayahanda Raja dan ibunda Ratu. Mengingat Raquell memiliki penyakit Mag akut.


Sesampainya di kantin fakultas, Raqueel langsung pergi ke arah stand makanan khas Indonesia. Lalu memesan makanan yang menjadi kesukaannya ketika dia berkunjung ke Indonesia.


Gadis cantik itu melepaskan pegangan tangannya pada Ayumi. Ayumi hanya bisa melongo melihat tingkah sahabat satu-satunya itu. Ya ampun apakah itu benar-benar sahabatnya? Rutuknya dalam hati.


Raquell sangat bersemangat tak peduli dia akan tersesat mengingat ini pertama kali baginya berada ditempat itu. Toh, ini zaman Teknologi, tinggal menghubungi Ayumi dan bertanya dimana sahabatnya berada yang terpenting sekarang dia harus bisa mendapatkan makanan yang sudah lama tidak dimakannya yaitu Bakso.


Lagian tadi Ayumi sudah menjelaskan pada Raquell tempat-tempat beradanya stand makanan yang ada di kantin tersebut.


Setelah selesai memesan, Raquell mencoba mencari Ayumi. Ada begitu banyak orang ditempat itu, dia jadi tidak bisa menemukan keberadaan Ayumi. Lagian, Raquell merasa sangat risih dengan orang-orang yang sedari tadi menatapnya. Apakah ada Sesuatu yang salah di wajahnya?


Saat matanya menangkap sosok yang sedari tadi dicarinya. Dia berseru riang seperti anak kecil. Dengan langkah mantap dia menuju tempat yang menampakan sosok Ayumi.


Huffttt... akhirnya pulsanya tidak jadi berkurang. Pikirnya senang.


♡♡♡


Prang


Benar-benar hening.


Raquell menolehkan pandangannya kearah pintu masuk Kantin karena suara tadi berasal dari arah sana. Raquell begitu penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Di depan pintu masuk Kantin dapat dilihatnya seorang gadis memakai slim fit dress simple berwarna maroon dipadukan dengan denim jacket, sedang menundukkan kepalanya karena merasa takut berhadapan dengan keempat orang laki-laki yang menatapnya tajam.


Ralat, hanya lelaki beririskan mata cokelat yang berdiri didepan tiga orang lainnya. Sedangkan ketiga temannya yang ada dibelakang lelaki tersebut hanya bersikap acuh dan tidak peduli.


Wajah lelaki itu terlihat dingin tanpa ekspresi. Walaupun begitu wajahnya yang tampan bisa membuat gadis mana saja akan merasa tertarik. Tapi dengan aura menakutkan dan mengintimidasi, mana ada yang berani mendekatinya. Sama saja mereka mencari masalah. Lebih baik mencari aman dengan hanya menatap dari kejauhan. Pikir mereka memutuskan.


Lelaki itu berdiri dengan angkuh dihadapan gadis yang menumpahkan minumannya. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana jeans hitamnya yang dipadukan dengan jacket kulit berwarna senada.


Menatap gadis dihadapanya yang berani-beraninya menyentuhnya dengan mencoba untuk membersihkan tumpahan orange juice di jacket yang dikenakan lelaki dingin tersebut, tapi segera di tepis kasar olehnya.


Dia merasa tidak suka ada yang menyentuhnya sembarangan. Dia yakin perempuan dihadapanya ini sengaja menumpahkan minuman dengan niat untuk mendekatinya, dan mengambil kesempatan untuk menyentuhnya. Karena gosip yang mengatakan bahwa sang pangeran kampus tidak 'Tersentuh' itu bukanlah omogan semata.


Raquell menatap lekat lelaki dingin itu, dan tak lama kemudian senyum sumringah terlihat menghiasi wajah cantiknya. Gadis yang menggunakan sweatshirt berwarna pink berdiri dan berlari kearah laki-laki dingin tersebut, yang tak lain adalah Axelle Rafardhan Ellard.