Nothing'S Gonna Change

Nothing'S Gonna Change
Hati Yang Meragu



"Ssttt Auhh, pelan-pelan princess!!" Ringisan seorang laki-laki terdengar di dalam mobil lamborgini berwarna merah.


"Ax sih nakal, jadinya kek gini kan" Raquell menatap Rafa kesal. Saat dia sedang menerima materi kuliah, dia mendapat pesan WhatsApp dari Rafa yang menyuruh dia untuk pergi ke parkiran.


Sedangkan Rafa, setelah dia masuk kekamarnya yang ada di 'ruangan khusus' dia sempat tertidur tanpa mengobati lukanya. Ketika laki-laki dingin itu terbangun dan keluar dari kamarnya, dia tidak lagi mendapati ketiga sahabatnya. Rafa pun memilih untuk bertemu dengan princessnya.


Dan disinilah mereka sekarang. Dalam mobil milik Rafa, dengan Raquell yang sedang mengobati memar diwajahnya.


"Gak ikhlas?" Rafa menatap gadisnya dengan senyum yang tidak bisa dia tahan. Gadisnya itu terlihat sangat imut dengan muka cemberutnya. Yah, gadisnya. Miliknya. Dan dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti fisik maupun hati gadisnya, sekalipun itu sahabatnya sendiri.


"Bukan gak ikhlas Axelle sayaaang, aku tuh gak suka aja liat muka kamu bonyok kayak gini. Ngeri tau lihatnya. Lagian kamu berantemnya sama siapa sih? Bukannya gak ada yah yang berani sama kamu dikampus ini?" Raquell menatap Rafa dengan pandangan menuntut penjelasan.


Sudah dari tadi dia bertanya pada pacarnya itu tentang memar diwajah tampannya. Tapi Rafa selalu mengalihkan pembicaraan.


"Ekhmm.. Mom pengen ketemu sama kamu. Hari ini kamu nginep aja dirumah aku. Nanti aku yang bilang sama Alvaro"


Kan, benar apa yang dipikirkan Raquell. Rafa mengalihkan pembicaraan. Tapi yasudahlah, toh nanti dia akan tau sendiri. Gadis cantik itu pun memutuskan untuk tidak bertanya lagi.


Raquell menghembuskan nafas pelan kemudian menyimpan kotak P3K yang tersedia dimobil Rafa. "Yaudah, karena berhubung aku juga udah kangen banget sama Mom Aiko, kali ini aku gak bakal banyak tanya. Jangan pikir aku gak tau yah kamu ngalihin pembicaraan. Humpt!"


Tiba-tiba saja Rafa mendekat memeluk gadis yang ada disampingnya kemudian mengecup singkat pipi gadis itu.


Raquell melotot karena serangan tiba-tiba Rafa. Jantungnya berdegup dengan cepat. Ini bukan kali pertama Rafa mencium pipinya, tapi selalu saja membuat dia tidak bisa berkata apa-apa.


Rafa terkekeh geli melihat ekspresi princessnya itu. Dia sudah sangat gemas dengan Raquell dan tidak bisa menahan diri untuk menciumnya.


"Princessnya aku gemesin banget sih. Tadinya tuh pengen gigit pipi kamu, tapi nanti kamunya kesakitan. Yaudah jadinya aku cium aja"


"Aku malu tau" Raquell terlihat memalingkan wajahnya kearah luar jendela mobil. Rafa bisa melihat rona merah dipipi Raquell yang putih. Terlihat cantik. Dia mengelus pipi yang merona itu kemudian tersenyum. Merasa bersyukur memilik Raquell disampingnya. Menghapus kesedihannya. Menempati hatinya yang sempat terluka oleh pahitnya kehilangan.


Dia tidak pernah ingin gadisnya pergi dari hidupnya. Mereka sudah menjalani hubungan selama kurang lebih 2 tahun. Kalau saja dari pertama Raquell menerimanya saat Rafa meminta gadis itu untuk jadi pacarnya, maka mereka akan menjalin hubungan selama 3 tahun. Karena kurang lebih tiga tahun yang lalu dia dan Raquell bertemu. Dan tidak perlu waktu lama untuk dirinya jatuh cinta pada gadis baik hati itu.


Selama ini mereka LDR dan hanya keluarga masing-masing yang mengetahuinya. Itu sebabnya sahabat-sahabat mereka kaget ketika mengetahui mereka berdua berpacaran.


♡♡♡


Flashback, Jerman (Berlin). Dua tahun yang lalu...


Seorang laki-laki muda dan tampan nampak sedang duduk di salah satu cafe yang ada di Jerman, lebih tepatnya di kota Berlin.


Dia menatap jam rolexnya yang ada ditangan sebelah kiri. Lalu pandangannya jatuh pada sosok gadis berkacamata yang baru saja tiba direstoran tersebut. Iris mata abu-abu dibalik kaca mata yang tidak minutes itu nampak menelusuri seisi cafe, mencari seseorang yang memintanya datang lebih tepatnya mengancamnya untuk datang ketempat itu.


Tatapan mata gadis itu terhenti pada sosok lelaki tampan yang sedang duduk sendiri sembari menyesap minumannya.


"Kamu telat princess"


"Katakan apa maumu. Ich habe nicht viel Zeit (aku tidak punya banyak waktu)" kata perempuan itu ketus.


Dia mengatakan yang sebenarnya karena sampai kapanpun gadis itu tidak akan mau membuang waktu berharganya pada laki-laki yang kini sedang menatapnya dengan senyum menawan milik laki-laki tersebut.


"Keine Notwendigkeit zu eilen (tidak perlu terburu-buru)"


Ekspresi wajah laki-laki itu berubah serius. Dia menatap dalam gadis dihadapannya.


" I miss you so much, Raquella Princessa Wagner"


Deg


*Deg


*Deg**


Jantung gadis itu berdetak dengan cepat. Dia merasakan perasaan hangat menyelimuti hatinya.


Laki-laki itu menyentuh tangan gadis dihadapannya dengan lembut."Apakah perjuanganku hampir setahun ini belum cukup untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu? Bahkan saat kamu memintaku untuk pergi sebulan yang lalu, Akupun menurutinya. Karena aku tidak tega melihat kamu yang memintanya sambil berurai air mata. Bukannya aku ingin berbangga diri, tapi selama ini aku berjuang buat kamu sampai harus rela home schooling untuk sementara waktu. Karena aku harus pulang-pergi antara Jerman dan Indonesia untuk merebut hati kamu. Kamu selalu tidak mau jika aku mengajak kamu untuk ke Indonesia bertemu dengan nenek kamu. Apa segitu tidak maukah kamu untuk bersama denganku?"


"Axelle, bukan seperti itu. Aku hanya merasa tidak nyaman didekatmu. Kamu punya seseorang yang special dihati kamu. Dan kamu juga pernah bilang, bahwa namanya masih tersimpan rapat dihati kamu. Bagaimana bisa aku menerima kamu dihidup aku, Ax? Aku merasa kita gak akan bisa bersama. Kamu dengan masa lalu kamu akan menjadi boomerang untuk aku dikemudian hari, dan aku tidak akan pernah siap dengan hal itu"


Raquell menatap sendu pada laki-laki dihadapannya. Sebulan yang lalu gadis berkacamata itu berniat menerima perasaan laki-laki tampan yang duduk dihadapannya sekarang, sebelum dia mendengar kenyataan pahit dari mulut Rafa sendiri.


Awalnya dia mendapati Rafa yang sedang menatap kearah ponsel genggamnya sambil berbicara sendiri, yang Raquell yakini bahwa diponsel itu terdapat foto seorang gadis yang Rafa cintai. Dengan sisa keberanian Raquell pun meminta kejujuran dari Rafa yang ternyata benar bahwa didalam hatinya masih tersimpan nama gadis lain. Terus kenapa Rafa memintanya menjadi kekasih lelaki itu, jika bukan Raquell yang Rafa cintai?


Rafa mengecup tangan gadis dihadapnya yang terlihat sangat rapuh. Sikap jutek dan ketusnya pada orang lain hanyalah cangkang untuk melindungi diri dari semua hal yang berpotensi menyakitinya.


"*P*lease trust me, baby. Aku janji kamu akan menjadi perempuan satu-satunya dihati aku. Dan aku akan berusaha untuk membuat hubungan ini baik-baik saja, walaupun kita saling berjauhan. Aku akan menemukan cara agar kita selalu bersama. Beri aku kesempatan, Hmm?"


Gadis itu melepaskan pegangan tangan Rafa. Dia memalingkan wajahnya merasa tidak sanggup menatap mata Rafa yang terlihat penuh harap.


"Maaf Axelle, aku tetap gak bisa" Raquell berdiri dari tempat duduknya sembari menghapus air matanya yang entah sejak kapan membasahi pipinya. Dia sungguh tidak kuat, dia harus segera pergi.


"Princess!!"


Panggilan itu tidak dihiraukannya. Gadis itu tetap melangkahkan kakinya keluar dari cafe tanpa melirik sekitarnya lagi. Dia terus berjalan. Dan kejadian itu begitu cepat terjadi, saat mobil dari arah kiri melaju tanpa bisa dia hindari. Dapat dirasakannya seseorang mendorong tubuhnya.


Saat dia melihat kebelakang, gadis itu tercengang melihat orang yang dicintainya tergeletak tak berdaya dijalan beraspal itu.


"AXELLEEEEE!!!"