
Raquell memutar bola matanya, merasa kesal pada sang kekasih yang enggan melepaskan pelukan eratnya.
Sudah hampir sejam lebih setelah makan malam bersama kedua orang tua Rafa beserta adiknya selesai. Sebenarnya Raquell berencana untuk membalas perbuatan Ayumi terhadapnya. Tapi sayangnya lelaki dingginnya itu malah menyeretnya kembali ke kamar.
"Ax, Lepasin dulu ih tangan kamu. Aku ada perlu sama Ayumi"
"Gak!"
"Ayolah Baby, aku pengen ketemu sama Ayumi. Janji deh, gak bakalan lama"
"Gak!"
Raquell mendengus mendengar jawaban yang sama keluar dari mulut Beruang kutub kesayangannya.
Kalau seperti ini terus dia tidak bisa menjalankan rencananya. Mulutnya sudah gatal untuk segera mengomel semalaman. Angan-angannya itu sepertinya harus ditunda sampai esok hari, karena Rafa dengan seenak jidatnya menahan dia didalam kamar lelaki itu.
"Kamu disini aja, sweetheart. Jarang banget loh kita berdua kayak gini." Bisik Rafa ditelinga Raquell, yang membuat sang empunya bergidik. Darahnya berdesir dan jantungnya berdetak sangat kencang seperti habis lari marathon saja.
'Aduh kalo kayak gini terus, bisa-bisa jantungnya berhenti berdetak karena keseringan digunakan berlebihan. Bisa mati dong. Jangan deng, nanti Axellenya jadi duda. Amit-amit pikiran ngaco lo Raquell. Nikah aja belum.'
"Gak bisa kayak gitu dong. Keenakan kamunya. Aku gak mau yah harus tidur sekamar sama kamu. Kamu harus tidur dikamar lain." titah Raquell
Rafa mendengus kesal. Dia mengira Raquell akan lupa akan hal itu. Dia sudah sangat nyaman bisa tiduran sambil memeluk gadis kesayangannya, pasti tidurnya nanti akan sangat nyenyak. Selama ini mereka memang tidak pernah tidur di kasur yang sama, mengingat kebersamaan mereka lebih banyak dihabiskan melalui telephon saja, Karena mereka berada di negara yang berbeda.
"Kamu harus pindah loh yah kalau aku udah tidur." Ucap gadis itu memperingatkan lagi soal Rafa yang harus tidur dikamar lain.
"Iya-iya bawel. Lagian kan ini kamar aku, kok jadi kamu yang ngusir."
Raquell mengedikkan bahunya singkat, "bodo!! Siapa suruh kamu larang-larang aku buat ketemu sama adik kamu yang jail itu. aku kan pengen menghabiskan waktu dengannya."
"Menghabiskan waktu versi kamu benar-benar mengerikan, sayang. Aku tau kamu pasti gak akan ngebiarin Ayumi tidur nyenyak malam ini."
Bukannya marah akan tuduhan Rafa yang tepat. Gadis cantik itu malah terkikik geli, membayangkan Ayumi yang menggerutu kesal karena waktu tidurnya akan terusik oleh sahabatnya. Ayumi kan hobinya tidur dan sangat tidak suka jika hobinya terganggu.
Tanpa Raquell sadari, Rafa tersenyum hangat. Betapa senangnya laki-laki itu bisa menghabiskan waktu bersama gadis pujaannya. Memeluknya dan mendengar suara tawa yang terdengar sangat indah ditelinga Rafa.
"Apa sih yang aku gak tau tentang kamu"
"Gombal!!"
Rafa terkekeh "Idih. Bule kayak kamu tau aja kata gombal"
"Rese deh. Aku kan juga orang Indonesia."
"Iya-in deh"
Raquell membalikan badannya dan menatap Rafa sembari memicingkan mata. Rafa menaikan satu alisnya menunggu apa yang akan diucapkan oleh gadis itu. "Kamu lagi berusaha mengalihkan perhatian aku kan?"
"hah? Maksud kamu?"
Raquell tidak menjawabnya. Gadis blasteran Jerman-indonesia itu hanya mengedikkan bahunya acuh tah acuh, kemudian dia mengalihkan tatapannya kearah lain, raut serius nampak terlihat jelas diwajah cantiknya.
"Aku gak bodoh Ax, aku butuh penjelasan. Dan aku tau, aku gak akan dapatin itu dari kamu. Itu sebabnya aku pengen ketemu sama Ayumi dan meminta penjelasan darinya, dan sayangnya kamu pun tau itu. Itu sebabnya kamu nahan aku kan? Kenapa sih kamu selalu tau semuanya tentang aku? dan lucunya aku malah kebalikannya."
Tatapan Raquell kembali jatuh pada kedua iris mata berwarna cokelat itu.
"Seharusnya aku marah kan? Karena selama ini kalian nyembunyiin sesuatu dari aku. Aku gak tau tujuan sebenarnya kalian tuh apa? Aku gak tau kenapa dari awal kamu gak ngomong sama aku tentang Ayumi. Kamu hanya selalu bilang adik kamu diluar negeri, just that! gak lebih. Aku ngerasa kamu nutupin hal besar dari aku. Tapi aku akan berusaha untuk percaya sama kamu, menunggu kesiapan kamu untuk menjelaskan semuanya. Asalkan kamu tidak mengulur waktu terlalu lama, Ax"
Sejenak Raquell terdiam. Gadis itu menarik napas dalam dalam, kemudian mengeluarkannya secara perlahan.
"Karena aku gak tau apakah kepercayaan ini akan tetap utuh untuk kamu atau hancur berkeping-keping sampai aku pun tak mampu lagi untuk memperbaikinya."
Rafa terdiam cukup lama. Sejak kapan gadisnya menjadi begitu paham dengan apa yang dia pikirkan?
Memang benar apa yang dikatakan Raquell, Rafa sedang mengalihkan perhatian Raquell. Seharusnya dia sudah siap menjelaskan semuannya pada Raquell hari ini. Tapi kenyataannya dia belum benar-benar siap. Dia merasa begitu ketakutan akan respon Raquell tentang apa yang disembunyikannya selama ini. Dia benar-benar takut, sampai dia tidak sadar bahwa dengan terus mengulur waktu hanya akan menyakiti Raquell lebih dalam.
Semakin lama dia menyembunyikannya, maka akan besar juga resiko yang akan ditanggungnya.
Pada akhirnya pun Rafa memilih jadi pengecut dengan tidak berkata apa-apa. Sedangkan Raquell menahan kesedihannya dibalik tubuh jangkung yang sedang mendekapnya erat.o