
Dilain tempat Raquell tampak berjalan menelusuri setiap sudut luar kapal pesiar yang besar milik Ellard Group. Gadis yang terlihat anggun pada malam pertunangannya, sedang mencari keberadaan Ayumi yang tidak terlihat oleh kedua matanya kala acara bertukar cincin selesai. Dan sebentar lagi pesta pada malam penuh kehebohan akan segera berakhir. Karena calon ayah mertuanya hanya membatasi pesta sampai pukul 01.00 dini hari.
"Seneng yah bisa tunangan sama Rafa Ellard. Secara Rafa layaknya pangeran tampan yang diidamkan semua perempuan." Nada menyindir itu terdengar dari seorang gadis yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Raquell.
"Kamu?" Raquell nampak mengingat-ingat gadis cantik yang sedang menatapnya tajam dan penuh permusuhan.
"Lo gak ingat gue?" gadis itu menatap Raquell tidak suka. "Gue KA-NA-YA!!"
Oh ya! Raquell ingat sekarang. Gadis itu yang selalu mengganggu Rafa dengan sikap 'sok' manjanya, walaupun sering mendapat ucapan pedas dari laki-laki itu dan para sahabatnya.
"Kamu mau apa?" tanya Raquell ketika melihat Kanaya berjalan mendekatinya.
"Lo itu cuman cewek gak jelas yang tiba-tiba ngaku pacaran sama Rafa. Dan sekarang lo tunangan sama dia!!" Kanaya terus saja mendekat kearah Raquell, "Kenapa sih lo harus hadir? Kenapa harus lo yang berdiri disamping Rafa? Kenapa bukan gue? Lo tau gak, gue suka sama Rafa dari zaman kita masih remaja. Lo hanya orang baru yang datang gangguin semua rencana pedekate gue sama Rafa. Padahal gue udah capek-capeknya nyingkirin para perempuan gak tau diri yang nekat dekatin pangeran gue!! Tapi kenapa gue susah banget nyingkirin lo? Udah banyak orang yang gue suruh buat nyelakain lo, tapi gak pernah berhasil. SIAPA SIH LO SEBENARNYA?!!"
Kanaya berteriak marah dan melampiaskan semuanya pada Raquell. Dia begitu kesal karena selalu gagal mencelakai gadis kesayangan Rafa Ellard. Selalu ada orang yang melindunginya dan menggagalkan semua rencanya. Tapi kali ini dia tidak akan membiarkan rencananya gagal.
Kanaya menatap sesuatu yang ada dibelakang Raquell kemudian gadis itu menyeringai licik.
"Kamu gak bisa seperti ini, Kanaya! Aku udah ketemu berbagai macam gadis yang suka sama Ax, tapi aku gak pernah ketemu sama orang yang agresif kayak kamu. Kamu hanya terobsesi sama dia. Dan harus kamu ingat, bahwa Axelle is mine!! Aku gak pernah mempermasalahkan cewek-cewek diluar sana yang mengagumi Ax. Tapi aku gak bakalan membiarkan siapapun ngambil Ax dari aku. Sekalipun cewek gila kayak kamu!!" Raquell menatap berani pada Kanaya yang tampak mengepalkan kedua tangannya. Wajah gadis itu terlihat memerah, menahan emosi.
"Kamu tanya kenapa Ax bisa sama aku? Dan bukan sama kamu?" Raquell terkekeh kecil, "Seharusnya kamu tau jawabannya apa. Liat kamu kayak gini aku bisa ngambil kesimpulan bahwa Kamu gak pernah menghargai namanya ketulusan.
Udah berapa banyak yang kamu kecewain? Udah berapa banyak orang yang kamu sakitin? Kamu--Aww!" Raquell tiba-tiba meringis saat kepalanya terasa pening dan sekilas bayangan sebuah kejadian melintas diingatannya.
Raquell mencoba mengfokuskan kembali tatapannya pada Kanaya. Dia mengernyit saat melihat Kanaya kembali menyeringai. Dan Raquell tau apa yang akan dilakukan gadis itu saat kedua tangan Kanaya terangkat mengarah padanya.
"Lo terlalu berisik untuk ukuran orang yang udah diambang kematian. Byebye"
"Rachel!!" bertepatan dengan itu, seseorang meneriaki gadis yang didorong oleh Kanaya.
Dejàvu.
Raquell merasa pernah mengalami kejadian seperti ini. Secara spontan dia memegangi dadanya dengan tangan kirinya, karena tangan kanan Raquell bergelantungan dipagar pembatas kapal yang tingginya tidak sampai dada gadis itu. Hal itu membuat Kanaya gampang membuat Raquell jatuh dari lantai atas kapal kalau saja Raquell tidak punya refleks yang baik.
"KANAYA LO GILA?!!" laki-laki itu berteriak marah pada Kanaya yang masih terpaku ditempatnya, tidak percaya dengan keberadaan laki-laki tersebut. Ditambah lagi panggilannya pada gadis yang dia dorong.
Setelah kembali menguasai dirinya, Kanaya tertawa. Jenis tawa miris dan menyedihkan bagi yang melihatnya.
"Jadi lo Rachel?" Kanaya tersenyum sinis pada gadis yang berusaha naik keatas,"Pantes aja gue familiar sama wajah lo. Cewek tomboy yang disukai Rafa remaja. Gak dulu gak sekarang lo selalu jadi pengganggu!!"
Raquell mengernyit. Dia tidak mengerti dengan ucapan Kanaya, ditambah lagi laki-laki yang Raquell lihat di Cafe waktu itu memanggilnya Rachel. Bukannya itu nama cinta pertamanya Rafa? Terus kenapa laki-laki itu memanggilnya dengan nama tersebut. Kepala Raquell rasanya ingin pecah, ditambah lagi dia tidak kuat jika terus menopang berat badannya dengan hanya mengandalkan kedua tangan mungil miliknya.
Laki-laki yang meneriaki Raquell melangkahkan kakinya sedikit tergesa, ketika melihat wajah kesakitan gadis kecilnya. "Ra, lo tenang yah. Gue bakal nyelamatin lo dari cewek gila kayak Kanaya" Dia mencoba membantu Raquell untuk naik melewati pagar pembatas tersebut. Dan usaha mereka berhasil kalau saja Kanaya tidak menggigit tangan laki-laki itu dan spontan melepaskan pegangannya pada Raquell.
"Aaaaaaaa!!"
"RACHEL!!!!"
Byur.
Sekali lagi kejadian beberapa tahun terulang, bedanya tidak ada luka tembak pada dada gadis malang itu.