
BUGH
BUGH
"*******! Maksud lo apa mukulin gue, Raf?!" Teriakan marah itu menggema dalam 'Ruangan Khusus Pangeran Kampus'. Ruangan dengan dekorasi mewah layaknya apartemen itu hanya diperuntukan bagi mereka berempat. Tidak ada yang bisa masuk ke tempat tersebut tanpa izin dari mereka. Bahkan dosen dan rektor sekalipun.
"Lo gila Raf!! Reagan baru aja masuk, dan langsung lo pukulin. Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Gio yang berusaha melerai Rafa dan juga Reagan yang akan mengambil ancang untuk membalas memukul Rafa.
"Apa ini soal sikap Reagan ke Raquell tadi?" Pertanyaan datar Kavin membangkitkan api kemarahan Reagan. Cih jadi semua ini karena tu cewek? Pikir Reagan dalam hati.
Rafa menatap dingin ketiga sahabatnya, dan tatapannya berhenti pada Reagan. "Gue udah pernah bilang sama lo waktu dia pertama datang kesini. Jaga sikap lo!!"
"******! Jadi benar lo mukulin gue karena tu cewek!!"
BUGH
"JAGA BICARA LO *******!!" Rafa berteriak marah. Wajahnya terlihat memerah dengan rahang yang mengeras. Dia tidak suka Reagan berbicara seperti itu pada gadisnya.
BUGH
Reagan membalas pukulan Rafa. Dia tidak terima dengan sikap Rafa yang tiba-tiba memukulnya.
Kavin terlihat kesal dengan kedua sahabatnya yang seperti anak kecil itu. Bisa dilihatnya Gio yang berusaha melerai kedua orang itu tanpa Kavin membantunya. Awalnya dia berpikir untuk membiarkan mereka berdua untuk melampiaskan emosi masing-masing, dan tidak mau ikut campur. Karena dia berpikir kedua sahabatnya tidak akan bersikap berlebihan seperti yang dilihatnya saat ini.
Tapi sepertinya perkelahian kali ini tidak akan berhenti. Kavin memutuskan membantu Gio yang sudah kewalahan melerai kedua sahabatnya, dengan cara memukul kedua orang itu. Sedangkan Gio hanya bisa menganga tidak percaya melihat kelakuan Kavin yang diluar ekspektasi.
Rafa dan Reagan menatap Kavin dengan tatapan membunuh. "Kalian berdua ****! Nyelesain masalah kayak gini gak perlu pake otot. Kalian berdua itu sahabatan sudah seperti saudara, seharusnya mikir dulu sebelum bertindak." Ucap Kavin tenang. Dia tidak merasa bersalah karena sudah memukuli kedua sahabatnya itu.
Tatapan Kavin jatuh pada Rafa, "Lo Raf, mau jelasin apa ke Raquell dengan muka lo bonyok kayak gitu. Mau bilang habis berantem sama Reagan karena dia? Bisa-bisa Raquell gak mau ngomong sama lo"
Rafa menghembuskan nafas kesal. Benar kata Kavin apa yang harus dia jelaskan pada gadisnya? Raquell sudah pernah mengingatkan, bahwa Rafa tidak perlu mempermasalahkan sikap Reagan terhadapnya. Karena gadis itu tidak mau Reagan akan semakin membencinya.
"Cih, Gue gak nyangka lo bisa lakuin ini sama sahabat lo sendiri. Lo bisa aja gak peduli atau bahkan udah lupain Rachel tapi gue sahabat lo, man. Orang yang ada disamping lo dari lo kecil, selalu nolongin lo saat lo butuh bantuan. Dan lo mukulin sahabat lo hanya karena perempuan gak jelas itu. Lo selalu terbuka ke kita semua tapi kenapa soal Raquell lo gak ngomong apa-apa? Lo tau gak betapa kaget dan gak nyangkanya kita semua saat seorang perempuan asing tiba-tiba datang dan lo bilang itu pacar lo. Dengan sekejap saja menggantikan posisi Rachel di hati lo. Dan parahnya sahabat-sahabat lo ini gak tau apapun soal hubungan kalian. Gimana gue gak kesal dan see hari ini lebih membuat gue yakin, bahwa tu cewek hanya bawa masalah doang"
Deg
Nama itu lagi. Rafa tidak pernah suka ada yang mengungkit namanya lagi. Dia tidak mau mengingat masa lalunya lagi. Dan Reagan adalah satu-satunya orang yang selama ini selalu mengungkit nama itu. Dan kali ini dia sudah keterlaluan.
"Lo gak tau apa-apa, FATHAAN REAGAN GIOVANNI!!!" Ucap Rafa dingin penuh penekanan. Kalo Rafa sudah menyebutkan nama lengkap seseorang itu artinya Rafa benar-benar marah dan tidak ingin dibantah.
Rafa berdiri dan menaiki tangga menuju kamar miliknya yang ada diruangan khusus mereka. Ruangan yang lebih cocok disebut sebagai apartemen pribadi. Memiliki empat kamar, ruang tamu, dan juga dapur. Semua orang pasti tidak akan menyangka bahwa 'Ruangan Khusus Pangeran Kampus' yang selama ini membuat mereka semua penasaran dan menganggap hanyalah ruangan pada umumnya, malah adalah sebuah tempat beristirahat layaknya rumah kedua.
Sebelum benar-benar mencapai tangga paling atas, Rafa mengucapkan Sesuatu yang membuat ketiga orang itu terpaku.
♡♡♡
"Gue bilang juga apa, Rafa berubah. Dan semua ini karena tu cewek gak jelas itu."
Kavin menatap datar sahabatnya yang sedang menggerutu, "Mending lo obatin dulu muka lo yang bonyok itu. Dan gue juga gak membenarkan perlakuan lo hari ini. Lo juga bersalah apalagi ngomong kayak tadi ke Rafa"
Reagan menghembuskan nafas kesal tanpa mau membantah ucapan Kavin, karena jujur dalam hati kecilnya dia membenarkan ucapan sahabatnya yang sebelas duabelas dinginnya dengan Rafa.
Reagan pun beranjak dari sofa besar yang ada dalam ruangan khusus untuk mereka. Dia menuju ke sebuah nakas berwarna putih yang terletak di ujung ruangan, kemudian membuka laci paling atas untuk mengambil kotak P3K. Setelah mendapatkan apa yang diperlukannya dia kembali ketempat dimana kedua sahabatnya berada.
"Perlu bantuan?" Tawar kavin dengan ekspresi datarnya.
"Gak! Gue bisa sendiri" Kavin mengangkat bahunya acuh, tidak peduli dengan jawaban ketus Reagan. Toh, dia juga hanya basa-basi. Dia memalingkan wajahnya dari Reagan pada Gio yang sedari tadi melamun, lebih tepatnya sedang memikirkan sesuatu.
Kavin mengambil bantal sofa yang ada disebelahnya kemudian melemparkannya pada Gio. Sontak saja Gio yang sedari tadi tidak fokus pada sekitarnya, kaget luar biasa. Jujur saja jika Kavin sejenis Gio yang gampang mengekspresikan apa saja, mungkin saat ini dia sedang terbahak, menertawakan wajah kaget Gio yang sangatlah lucu.
Gio menatap kedua sahabatnya bergantian. Pada awalnya pandangannya tertuju pada Reagan yang terlihat sibuk dengan memar diwajahnya tanpa peduli tatapan membunuh Gio bak serigala yang sedang mencari mangsannya. Kemudian tatapannya berpindah kearah Kavin yang menatapnya terang-terangan dengan alis terangkat satu. Dia sangat yakin pasti manusia patung itu yang melemparinya dengan bantal sofa. Untung hanya bantal kalo batu gimana? Bisa abis muka Gio yang ganteng mengalahkan Cha Eun Woo itu.
"Rese banget sih lo Kav. Iseng banget jadi orang, gue tuh lagi serius mikirin sesuatu yang gak bisa gue pikirin. Eh?" Gio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa bingung dengan ucapannya sendiri.
Kavin pun mengernyit bingung, "Ngomong yang jelas!!"
"Gue lagi mikirin gadis kesayangan Rafa" ujar Gio yang mendapatkan tatapan tidak suka dari Reagan yang juga menyimak pembicaraan kedua sahabatnya. "Lo juga suka sama tu cewek gak jelas?"
Kavin diam. Menunggu kelanjutan dari perkataan Gio. Tidak seperti Reagan yang langsung merespon, Kavin dengan sabar menunggu manusia pecicilan dihadapannya melanjutkan maksud dari ucapannya barusan.
"Wah, omongan lo ngaco!! Bisa habis gue kalo sampai kedengeran sama Rafa." Gio bergidik takut membayangkan wajah dingin Rafa yang mengamuk. Melihat Reagan saja sampai dipukuli karena bersikap sinis pada Raquell, membuat Gio tidak ingin merasakannya juga.
"Gue lagi mikir aja sama wajah cantik Raquell yang terlihat familiar. Gue seperti pernah ketemu dia sebelum di kantin waktu itu. Tapi gue bingung ketemunya itu dimana."
Kavin dan Reagan saling berpandangan mendengar kelanjutan dari perkataan Gio. Mereka tau bahwa Gio tidak mungkin salah mengenali orang. Karena dari mereka berempat ingatan Gio lebih tajam dalam mengingat wajah seseorang yang pernah bertemu dengannya baik secara langsung ataupun hanya melihat dari foto saja. Apalagi mengingat wajah gadis cantik.
Mereka berdua membulatkan mata ketika mendengar menuturan Gio selanjutnya yang blak-blakan tanpa tau apa yang dia katakan sendiri.
"Kalo diperhatikan dengan jelas, wajah Raquell mirip...
.
.
.
....Rachel versi Bule-nya."