
Dengan cukup keras Rafa menurunkan Raquell ditempat tidur miliknya. Kemudian lelaki jangkung itu memerangkap tubuh Raquell dengan kedua tangannya berada dikedua sisi gadis itu.
Berada diposisi seperti itu membuat Raquell bisa melihat dengan jelas sorot mata Rafa yang bagaikan elang mendapatkan mangsanya, begitu tajam. Sehingga membuat siapa saja yang melihatnya akan menggigil ketakutan.
"Apakah harus dengan cara kayak gini supaya kamu mau dengerin penjelasanku, hm?"
Raquell terlihat ketakutan saat kedua mata tajam itu menatapnya dingin, amarah yang sedari tadi ingin dikeluarkan oleh gadis itu tertahan begitu saja. Oh ayolah, Rafa terlihat sangat menakutkan. Selama ini dia tidak pernah melihat sisi Rafa yang dalam mode menyeramkan. Rafa selalu sabar dan mengalah dalam menghadapinya, mau semenyebalkan apapun Raquell terhadapnya.
Tapi hanya dengan dia mengucapkan kata sakral yang sangat dibenci oleh laki-laki itu, membuat dirinya berakhir dibawah kukungkungan Rafa yang sedang dikuasai oleh amarah.
Haiss!! Raquell begitu kesal pada dirinya sendiri yang tidak mempunyai nyali menghadapi Rafa yang sedang dalam Auto sangarnya. Raquell bernapas lega saat sang kekasih terlihat menjauhi tubuhnya. Untung saja lelaki itu cepat menyingkir, karena kalau tidak bisa dipastikannya bahwa dia akan kehabisan napas. Sedari tadi Raquell menahan napasnya dengan jantung yang berdetak begitu kencang.
Rafa duduk di sofa kecil yang ada dikamarnya itu. "Kemarilah!!" Ucapnya dengan nada perintah yang tidak ingin dibantah. Dengan patuh gadis itu bangun dari tempat tidur Rafa dan mendekat kearah pacar dinginnya itu.
'Kenapa kamu mengikuti perintahnya, bodoh? kemana keberanianmu yang tadi sempat mengumpat kekasih tampanmu itu, Raquell Princessa Wagner?'
Dengan lembut Rafa menarik tangan kekasihnya dan membawa gadis itu duduk diatas pangkuannya. Walaupun Rafa memperlakukannya dengan sangat lembut tapi lelaki itu masih menatapnya dingin.
Huh, Dasar laki-laki es!!
'Berhentilah menatapku dingin. Bisa-bisa aku membeku hanya dengan tatapanmu itu' teriak gadis itu dalam hati. Dia tidak akan berani jika harus berteriak langsung dihadapan pacar kesayangannya itu.
"Kamu harus dengerin penjelasanku dulu baru beramsumsi, Princessa. Sebelum kamu ngambil keputusan bodoh yang membuat aku sangat marah ketika mendengarnya"
lelaki dingin itu memeluk pinggang Raquell dengan possessive, dan membenamkan kepalanya diceruk leher gadisnya itu. Menghirup aroma stawbery yang melekat ditubuhnya. Sungguh dia sangat ketakutan tadi mengingat gadis dipelukannya akan meninggalkan dirinya.
Raquell mendengus, lalu melepaskan pelukan Rafa. "Lima menit!!" ucapnya dengan menunjukan lima jarinya. Rafa mengangkat sebelah alisnya mendengar seruan gadis yang ada dipangkuannya sekarang. Kemudian laki-laki itu menghembuskan nafas pelan ketika tau maksud dari gadis itu.
Mata yang beririskan cokelat itu menatap Raquell dalam."Dia adikku"
ADIKKK??!!
Apa pendengarannya sedang bermasalah? Atau Rafa yang ngaco?
Rafa terkekeh melihat ekspresi menggemaskan Raquell. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi gadis cantik itu. Rafa sangat suka melakukan itu pada kekasihnya. Dia sangat suka mengelus pipi gadis eropa itu, apalagi saat pipi mulus itu sedang merona merah karena ulahnya. Mood Rafa kembali membaik berada sedekat ini dengan Raquell.
"Ayumi adalah adikku, Sweetheart. Dan sepertinya tadi dia sengaja mengerjaimu." Tiba-tiba saja Raquell merasa otaknya bleng, sehingga tidak bisa mencerna penjelasan Rafa dengan baik.
"Ayumi sialan!!" umpat Raquell tanpa menyadari seseorang dihadapannya merasa terganggu dengan umpatan gadis itu.
"Laguage, Princessa!!" Mendengar sentakan dingin tersebut sontak saja membuat Raquell memukul bibirnya.
Raquell Princessa Wagner benar-benar salah jika melakukan hal tersebut, karena sikap refleknya itu membuat Rafa yang melihatnya sangat terganggu.
"Aku nggak suka yah, kamu nyakitin diri kamu sendiri."
Raquell cemberut dengan bibir yang dimanyunkan, saat mendengar Rafa menegurnya seperti anak kecil.
Gadis itu melotot saat tiba-tiba saja sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Rafa mengecup singkat bibir ranum gadisnya itu, dan Raquell merasa sangat shock dengan perlakuan Rafa.
Huaaaa, My Firts Kiss!!!
Itu adalah ciuman pertamanya dan Rafa telah mencurinya. Selama ini Rafa tidak pernah melakukan hal lebih dari mencium pipi dan dahi. Sekarang? Oh astaga bibirnya sudah tidak suci lagi.
"Itu hukuman untuk mulutmu yang sudah lancang hari ini, sweetheart. Aku nggak mau lagi denger kamu ngeluarin perkataan yang bermaksud untuk mengakhiri hubungan kita. Aku sangat tidak suka mendengarnya!! Itu juga hukuman untuk kamu yang sudah berani mengumpat, apalagi umpatan itu ditujukan pada kekasihmu ini" ucap Rafa otoriter dengan nada santai seolah apa yang dia lakukan tadi tidak berefek apa-apa untuk Raquell.
Rafa tidak tau saja jantung Raquell sudah menggila dengan degup yang begitu cepat.
Rafa menggenggam tangan Raquell yang kali ini tidak ditepis oleh gadis itu, kemudian membawa tangan itu kerah bibirnya. "Kita harus segera turun untuk makan malam, kita sudah sangat terlambat, Princessa. Mama, papa dan Ayumi pasti sudah menunggu."
"Dasar menyebalkan!! aku akan memberikan pelajaran padamu yang sudah mencuri ciuman pertamaku disaat-saat seperti ini, humph!! lihat saja nanti. Sebelum itu aku harus memberikan perhitungan pada sahabat nakalku yang sudah berani-beraninya membuat aku menangis pada pertama kali bertemu dengannnya sebagai adik Ax. Ini sungguh perkenalan yang luar biasa Ayumi. Dan kamu harus menghabiskan malam berhargamu untuk menjelaskan soal kamu adalah adiknya Ax. Aku tidak mau jika meminta penjelasan dari lelaki kejam itu, bisa-bisa aku dicium lagi sama dia huaaa!" ucap gadis itu dengan bahasa Jerman, setelah Rafa sudah lebih dulu keluar dari kamarnya. Tanpa Raquell tau sang kekasih sedang mencoba mendiamkan jantungnya yang terus berdebar dengan kuat, itu juga adalah ciuman pertama dari seorang Axelle Rafardhan Ellard.