
Rafa Berharap bahwa Raquell akan selalu disampingnya, berada dalam pelukannya apapun yang terjadi. Bisakah dia menjadi pria egois?
"Aku sendiri yang akan menjelaskannya padamu, jika aku sudah benar-benar siap, sweetheart. Tunggu sedikit lagi hmm." Bisiknya, dengan pikiran yang berkecamuk. Nyatanya waktu yang tepat itu tidak akan benar-benar Ada, kalau bukan dari kita sendiri yang menentukan kesiapannya.
Raquell sebenarnya merasa penasaran dan tidak mengerti dengan jalan pikiran sang kekasih. Rafa hanya menjelaskan saja kenapa dia merahasiakan Ayumi sebagai adiknya, selesai. Apa salahnya jika dia tau, apa segitu tidak percayanyakah Rafa padanya? Tanpa sadar sedikit rasa kecewa terselip disudut hatinya.
"Lo apa-apaan sih kak? Seharusnya lo jelasin ke dia semuanya. Gue udah bela-belain buat drama nyebelin diantara kalian berdua agar lo gak menunda-nunda lagi untuk jelasin. Dan sekarang apa? Kesempatan itu hilang gitu aja. Anehnya lagi sahabat gue yang terlalu baik itu, gak nuntut penjelasan dari lo. Malah dia menyikapinya secara dewasa. Huh!!Raquell benar-benar spesies langkah"
Suara omelan Ayumi menggema dalam ruang keluarga yang sering menjadi tempat mereka Family Time.
Setelah Raquell tertidur dalam pelukannya, Rafa segera turun kebawah menemui orang tua dan juga adiknya yang sedari tapi menunggu cerita dari Rafa. Nyatanya bukan hanya Raquell yang kecewa tapi keluarga Ellard pun merasakan hal yang sama. Semuanya akan semakit rumit jika Rafa terus diam.
Ketika makan malam berlangsung suasana tampak biasa saja, Mereka tidak menyangka bahwa Raquell akan bersikap santai seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang membuat dia menangis sebelum makan malam.
Gadis itu tampak biasa saja ketika mengobrol dengan keluarga Rafa. Bahkan Ayumi sampai ternganga tak percaya, merasa Raquell lupa ingatan. Suasana hatinya berubah dengan cepat.
Apa yang telah terjadi sebenarnya dikamar Rafa? Ouh mereka tidak akan mendapatkan jawabannya kalo sang pemilik kamar tidak menjelaskan. Dan disinilah mereka berada-ruang keluarga, membicarakan sesuatu tentang Raquell.
"Sorry gue belum siap dek. Tadi aja dia mau ketemu sama lo, buat minta penjelasan. Tapi gak gue izinin. Lo tau sendiri semuanya gak segampang itu"
"What the hell, Brother*. Lo... aduh gue gak tau lagi yah mau ngomong apa. Kakak gue yang cerdas tiba-tiba jadi *** kayak gini. Kesel gue jadinya" gerutu Ayumi pada kakak satu-satunya itu.
"AYUMI. Your language!!" Jonathan Ellard menatap Ayumi tajam. Sedangkan yang ditatap hanya melempar cengiran bodoh andalannya.
"Peace Dad"
Rafa pun mendengus dan menatap datar sang adik, "Gue butuh waktu. Gue belum siap liat respon dia seperti apa. Dan gue lebih gak siap lagi harus ngungkit masa lalu gue. Karena penjelasan tentang lo berhubungan dengan dia. Gue gak mau buat binar di mata Princess meredup dan digantikan kesedihan"
Ayumi menatap tajam kakaknya yang terlihat frustasi.
'Nyatanya lo udah buat dia sedih, kak'
"Sampai kapan lo mau lari dari masalah lo? Sampai kapan lo harus terus terusan kayak gini kak? Berpura pura seolah-olah masa lalu lo itu gak pernah ada? mau nggak mau lo harus hadapin semuanya. Raquell akan lebih tersakiti lagi kalo lo terus saja seperti ini."
"Raf, bener kata adik kamu. Kamu gak bisa loh pura-pura nutup mata kamu dengan kebahagiaan yang gak akan selamanya ada. Raquell harus tau semuanya, jangan sampai dia dengar dari orang lain. Karena itu akan jauh lebih menyakitkan, nak" sela mom Aiko sembari mengusap kepala anak laki-lakinya yang duduk tepat disebelahnya.
Wanita paruh baya itu tau masalah apa yang coba disimpan anak lelakinya selama ini, dan dia tidak ingin sang anak terus memendam semuanya dan juga tidak ingin sampai terjadi apa-apa pada Raquell. Dia sudah sangat menyayangi gadis blasteran itu selayaknya anak sendiri.
"Rafa, laki-laki itu harus bersikap gentle. kamu harus menerima apapun resikonya nanti. Dad yakin Raquell akan mengerti dengan masa lalu kamu, yang coba kamu tutupin itu"
Rafa merasa tenang sekarang, Mendengar semua nasehat dari orang-orang terdekatnya, membuat dirinya jauh lebih baik.
"Ayumi yang akan jelasin semuanya ke Raquell, Mom, Dad, kak"
"No!!"
"Just about me and you, brother!! Nothing else!! Gue hanya ingin jelasin kenapa sampe gue gak ngomong apa-apa ke dia tentang gue, saudara lo. Gue tau didalam hatinya pasti nyimpan kekecewaan sama gue, karena udah rahasiain masalah ini. Walaupun Raquell gak ngomong apa apa dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi."
Ayumi menatap dalam kakak lelakinya. Mencoba meyakinkan sang kakak bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tapi semua itu saling berhubungan, Ayumi!!"
"Kak..."
"Lo gak perlu jelasin apa-apa, Ayumi Clareesa Ellard. Gue gak izinin lo ngomong apa-apa ke Princess" tegas Rafa dan tidak ingin dibantah. Dia tidak ingin mengambil resiko, dan hubungannya jadi taruhannya.
Wajah Ayumi berubah sendu. Sedangkan kedua orang tuanya tidak bisa melakukan apa apa selain mendukung semua keputusan anak laki-laki mereka.
Rafa berdiri dari sofa yang didudukinya. Dia butuh pelukan Raquell sebagai obatnya untuk meredakan emosi yang sedang menguasainya.
Saat lelaki itu akan melangkah pergi, ucapan Ayumi menghentikan niatnya dan membuat percikan api yang tadinya akan mereda menjadi berkobar.
"Lo pengecut kak. Bukannya hari ini lo bakal ngomong semua rahasia yang lo simpan selama ini ke Raquell? Tapi kenapa tiba-tiba jadi berubah pikiran kayak gini? Apa kakak gue sekarang nggak bisa memegang omongannya sendiri? atau lo takut Raquell akan kambuh mengetahui kalau Rachel ternyata masih-"
"Shut up your fucking mouth, Ayumi!!"
♡♡♡
**Gaes, kalo kalian jadi Rafa, kalian bakal ngapain?
Jujur aja sih, toh tinggal jelasin doang. Ribet banget sih lo, thor.
Nunggu waktu yang tepat. Karena ngejelasin sesuatu yang berpotensi berpisah itu gak segampang lo ngasih poin buat cerita ini. Tinggal di pencet doang. eaaaa..
Semua benar.
Isi jawaban sendiri** (.......)